
LokalStore88 Jumat,9 Oktober 2026.
Empat puluh kepala keluarga di Desa Lagan Ulu, Kecamatan Tanjung Jabung Timur, Jambi, sampai sekarang masih menjalani hari-hari tanpa aliran listrik sama sekali. Angka itu mungkin terdengar kecil di atas kertas, tetapi bagi mereka yang mengalaminya, kegelapan malam bukan sekadar ketiadaan cahaya—itu adalah keterbatasan yang mengungkung hampir setiap aspek kehidupan. Di saat pemerintah mencanangkan target ambisius listrik 100 persen pada 2029, kenyataan di pelosok Jambi ini menunjukkan bahwa masih ada pekerjaan rumah besar yang belum tersentuh. Fakta ini penting bagi kita semua, karena listrik bukan lagi barang mewah, melainkan kebutuhan dasar yang menentukan kualitas hidup seseorang.
Desa Lagan Ulu sendiri terletak di wilayah Tanjung Jabung Timur, sebuah kabupaten di Provinsi Jambi yang secara geografis cukup menantang. Infrastruktur di daerah ini masih tertinggal dibandingkan wilayah lain di Sumatra, terutama karena akses jalan dan jaringan distribusi yang belum merata. Kondisi geografis yang sulit dijangkau sering kali menjadi alasan utama mengapa pasokan listrik dari jaringan utama belum sampai ke sana. Padahal, warga desa ini juga memiliki hak yang sama untuk menikmati terangnya lampu di malam hari. Ketimpangan akses energi seperti ini menjadi cermin bahwa pembangunan belum sepenuhnya inklusif.
🛒 LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »
Target 100 Persen yang Masih Jauh dari Kenyataan
Pemerintah memang telah menetapkan target rasio elektrifikasi 100 persen pada tahun 2029. Angka itu berarti seluruh rumah tangga di Indonesia diharapkan sudah teraliri listrik, baik melalui jaringan PLN maupun sumber energi alternatif. Namun, cerita dari Lagan Ulu memperlihatkan bahwa target tersebut bukan perkara mudah. Ada banyak faktor yang membuat realisasi di lapangan berjalan lambat, mulai dari medan yang sulit, keterbatasan anggaran, hingga koordinasi antarlembaga. Jika tidak ada percepatan yang serius, target 2029 hanya akan menjadi angka indah di atas kertas tanpa dampak nyata bagi warga seperti di Jambi.
Perlu dipahami bahwa rasio elektrifikasi bukan sekadar statistik. Angka itu menggambarkan berapa banyak rumah tangga yang benar-benar menikmati listrik dalam kehidupan sehari-hari. Ketika masih ada 40 keluarga yang gelap gulita, artinya ada celah dalam pencapaian target nasional. Celah ini bisa jadi lebih besar dari yang terlihat, karena data resmi sering kali tidak menangkap kondisi riil di lapangan. Desa-desa terpencil seperti Lagan Ulu kerap luput dari perhatian karena jumlah penduduknya sedikit dan lokasinya terisolasi. Padahal, justru merekalah yang paling membutuhkan intervensi pemerintah.
Dampak Kegelapan bagi Kehidupan Sehari-hari
Hidup tanpa listrik bukan hanya soal tidak bisa menyalakan lampu pada malam hari. Anak-anak di Desa Lagan Ulu kesulitan belajar ketika matahari terbenam, karena tidak ada penerangan yang memadai. Mereka harus mengandalkan lampu minyak atau lilin yang asapnya bisa mengganggu kesehatan pernapasan. Ibu-ibu yang biasanya memasak atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga juga terhambat karena peralatan elektronik tidak bisa digunakan. Keterbatasan ini menciptakan lingkaran ketertinggalan yang sulit diputus tanpa bantuan dari luar.
Dari sisi ekonomi, ketiadaan listrik membuat warga sulit mengembangkan usaha kecil-kecilan. Misalnya, mereka tidak bisa membuka warung yang beroperasi hingga malam, atau menjalankan mesin produksi sederhana. Akses informasi juga terbatas karena tidak ada televisi atau internet yang bisa diandalkan. Anak-anak muda di desa tersebut punya potensi besar, tetapi tanpa listrik, mereka kehilangan banyak kesempatan untuk belajar dan mengasah keterampilan. Pada akhirnya, ketimpangan energi ini memperlebar jurang antara desa dan kota.
Dampak sosialnya juga tidak bisa diabaikan. Kegelapan sering kali meningkatkan risiko keamanan, terutama bagi perempuan dan anak-anak. Tanpa penerangan jalan, mobilitas warga pada malam hari menjadi terbatas dan rawan kecelakaan. Interaksi sosial pun berkurang karena orang lebih memilih berdiam diri di rumah begitu hari mulai gelap. Padahal, kehidupan bermasyarakat yang sehat biasanya tumbuh dari aktivitas bersama, termasuk di malam hari. Listrik, dengan demikian, bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang martabat dan kesetaraan.
Mengapa Listrik Sulit Menjangkau Desa Terpencil?
Ada beberapa alasan mengapa listrik belum masuk ke Desa Lagan Ulu. Pertama, lokasinya yang jauh dari jaringan transmisi utama membuat biaya pemasangan kabel sangat mahal. Kedua, jumlah pelanggan yang sedikit membuat investasi infrastruktur dianggap kurang menguntungkan secara ekonomi. Ketiga, kondisi medan yang mungkin berupa rawa, hutan, atau perbukitan menyulitkan mobilisasi material dan peralatan. Faktor-faktor ini sering kali membuat desa-desa kecil seperti Lagan Ulu berada di urutan terakhir dalam daftar prioritas pembangunan jaringan listrik.
Solusi sebenarnya bisa datang dari berbagai pendekatan, misalnya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) komunal atau mikrohidro yang memanfaatkan aliran sungai setempat. Program-program seperti ini sudah pernah diterapkan di beberapa daerah terpencil di Indonesia, tetapi sering kali terkendala perawatan dan keberlanjutan. Tanpa pendampingan teknis dan anggaran operasional yang jelas, infrastruktur energi alternatif bisa mangkrak setelah beberapa tahun. Oleh karena itu, diperlukan komitmen jangka panjang, bukan sekadar proyek sesaat yang hanya mengejar target seremonial.
Pemerintah daerah dan pusat perlu duduk bersama untuk mencari terobosan. Mungkin diperlukan skema khusus, seperti subsidi silang atau kemitraan dengan swasta, untuk mempercepat elektrifikasi di daerah terisolasi. Yang terpenting, warga Desa Lagan Ulu harus dilibatkan dalam perencanaan dan pemeliharaan agar solusi yang diambil benar-benar sesuai kebutuhan mereka. Tanpa partisipasi masyarakat, program apa pun berisiko gagal di tengah jalan. Pendekatan partisipatif seperti ini juga akan menumbuhkan rasa memiliki terhadap infrastruktur yang dibangun.
Reaksi dan Harapan Warga
Meskipun tidak ada pernyataan resmi dari warga yang tersedia dalam ringkasan, bisa dibayangkan betapa besar harapan mereka akan kehadiran listrik. Setiap kali ada janji pembangunan, mereka mungkin menunggu dengan sabar, tetapi kenyataan sering kali tidak sesuai. Kekecewaan tentu ada, namun mereka tetap bertahan karena tidak punya pilihan lain. Harapan utama mereka sederhana: agar anak-anak bisa belajar dengan cahaya lampu yang layak dan agar roda perekonomian desa bisa berputar lebih cepat. Listrik bagi mereka adalah pintu menuju kehidupan yang lebih baik.
Dari pihak pemerintah, sebenarnya sudah ada berbagai program elektrifikasi pedesaan yang dicanangkan. Namun, implementasinya sering terkendala birokrasi dan keterbatasan data. Kadang kala, desa yang belum berlistrik tidak terdata dengan akurat, sehingga bantuan tidak tepat sasaran. Oleh karena itu, pendataan ulang dan verifikasi lapangan menjadi langkah awal yang krusial. Tanpa data yang valid, mustahil membuat perencanaan yang efektif. Pemerintah juga perlu membuka diri terhadap masukan dari organisasi masyarakat sipil yang sering bekerja di daerah terpencil.
Di sisi lain, PLN sebagai perusahaan penyedia listrik utama memiliki tantangan tersendiri. Mereka dituntut untuk memperluas jaringan sekaligus menjaga kesehatan keuangan perusahaan. Pembangunan infrastruktur di daerah tidak menguntungkan secara komersial sering kali harus disubsidi oleh pemerintah. Skema ini sebenarnya sudah berjalan, tetapi skalanya belum cukup untuk menjangkau semua desa. Diperlukan terobosan kebijakan, misalnya dengan memberikan insentif fiskal bagi daerah yang berhasil mempercepat elektrifikasi. Dengan begitu, ada dorongan nyata untuk mengejar ketertinggalan.
Pelajaran dari Lagan Ulu
Kasus Desa Lagan Ulu bukanlah yang pertama dan mungkin bukan yang terakhir. Masih banyak desa lain di Indonesia yang senasib, tersebar di berbagai pulau dengan kondisi geografis yang beragam. Jika target listrik 100 persen pada 2029 ingin benar-benar tercapai, maka pendekatan pembangunan harus diubah. Tidak bisa lagi hanya mengandalkan perluasan jaringan konvensional, tetapi juga perlu memanfaatkan energi terbarukan setempat. Setiap desa memiliki potensi yang bisa digali, misalnya matahari, air, atau angin. Kuncinya adalah kemauan politik dan alokasi anggaran yang memadai.
Selain itu, transparansi data menjadi hal yang mutlak. Masyarakat berhak tahu sejauh mana capaian elektrifikasi di daerahnya, dan pemerintah harus menyajikan informasi itu secara terbuka. Dengan begitu, publik bisa ikut mengawasi dan mendorong percepatan. Jangan sampai ada desa yang tertinggal hanya karena tidak terdeteksi oleh sistem. Partisipasi warga dalam melaporkan kondisi di lapangan juga sangat membantu. Kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat adalah kunci untuk mewujudkan pemerataan akses energi.
Pada akhirnya, listrik adalah hak asasi yang seharusnya dinikmati semua orang, tanpa terkecuali. Kegelapan yang dialami 40 keluarga di Lagan Ulu adalah pengingat bahwa pembangunan belum selesai. Setiap malam yang mereka lalui tanpa cahaya adalah panggilan bagi kita semua untuk peduli. Jika bukan sekarang, kapan lagi? Jika bukan kita, siapa lagi? Mari terus kawal isu ini agar tidak tenggelam dalam hiruk-pikuk berita lain. Karena di balik angka 40 KK, ada kehidupan, harapan, dan masa depan yang menunggu untuk diterangi.
Sumber: Detik Finance
Terus ikuti perkembangan berita terkini seputar energi dan daerah terpencil lainnya hanya di LapakStore88. Jangan sampai ketinggalan update penting berikutnya, ya! Gabung dan pantau terus kanal resmi kami supaya informasi terbaru selalu sampai ke kamu.
📘 Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini
💬 Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini
📰 Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog
Baca juga:
Kata kunci terkait: listrik 100 persen, desa belum berlistrik, Jambi, Tanjung Jabung Timur, rasio elektrifikasi, Lagan Ulu, target listrik 2029, listrik pedesaan
#LapakStore88



