
LokalStore88 Jumat,9 Oktober 2026.
Suasana malam di Gedung Kesenian Jakarta pada Rabu, 7 Oktober 2026, terasa jauh berbeda dari rutinitas pementasan biasanya yang kerap diisi alunan musik klasik atau lakon teater tradisional. Kali ini, bangunan bersejarah tersebut bertransformasi menjadi panggung peragaan busana megah yang mempertemukan warisan adibusana Nusantara dengan keagungan arsitektur kolonial. Publik mode tanah air disuguhi sebuah sajian koleksi busana batik bertajuk 'SMERTI' yang dipersembahkan secara khusus oleh rumah mode ternama Iwan Tirta. Peristiwa ini langsung mencuri perhatian para pengamat mode karena berhasil keluar dari zona nyaman presentasi busana komersial pada umumnya.
Aktivitas mode sebenarnya bukan hal yang benar-benar asing bagi gedung peninggalan era kolonial Belanda yang berdirikokoh sejak tahun 1821 itu. Dikenal memiliki karakter arsitektur neo-renaisans yang kuat dan karismatik, bangunan tua ini sering kali dipilih sebagai lokasi pemotretan eksklusif bagi berbagai majalah maupun jenama mode terkemuka. Kendati demikian, baru kali ini dalam sejarah panjang keberadaannya, sebuah peragaan busana secara utuh diselenggarakan di dalam ruang pertunjukan utama gedung tersebut. Langkah berani ini menandai babak baru bagaimana sebuah ruang publik bersejarah dapat dihidupkan kembali melalui medium seni busana kontemporer.
๐ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »
Filosofi Kata Smerti dan Alasan Pemilihan Lokasi
Di balik keputusan mementaskan koleksi di ruang publik yang sarat nilai sejarah itu, pihak manajemen memastikan bahwa agenda tersebut murni demi alasan estetika dan makna filosofis. Marketing Director Iwan Tirta, Rindu Melati, menegaskan bahwa pemilihan lokasi sama sekali bukan didorong oleh ambisi untuk memecahkan rekor atau sekadar mencari sensasi semata. Keputusan tersebut diambil karena pihak penyelenggara melihat adanya benang merah yang sangat kuat antara karakteristik ruang dengan esensi dari tajuk peragaan yang diusung. Setiap sudut ruang dipilih secara saksama agar mampu menyampaikan pesan secara utuh kepada seluruh undangan yang hadir di lokasi.

Mengambil akar dari bahasa Sanskerta, kata 'smerti' sendiri mengusung makna mendalam mengenai jejak langkah atau memori masa lalu yang terus hidup. Sebagai salah satu gedung pertunjukan seni paling tua di tanah air, pihak penyelenggara merasa prihatin karena sebagian masyarakat mulai melupakan keberadaan ruang publik ikonis tersebut. Melalui penyelenggaraan hajatan mode yang belum pernah ada sebelumnya di tempat itu, diharapkan tercipta sebuah memori kolektif yang indah di benak publik. Kehadiran para penikmat mode di gedung tua ini sekaligus menjadi pengingat bahwa warisan sejarah dan seni busana bisa berdampingan secara harmonis.
Kolaborasi Desain yang Responsif Terhadap Ruang
Konsep pementasan di gedung pertunjukan seni sebenarnya bukan sebuah gagasan yang sepenuhnya baru dalam kancah mode internasional. Rumah-rumah mode ternama dunia seperti Chanel dan Thom Browne sebelumnya pernah memanfaatkan kemegahan Palais Garnier di Paris, Prancis, untuk menggelar presentasi koleksi mereka. Walaupun demikian, peragaan bertajuk 'Smerti' ini tetap menawarkan pengalaman estetika yang sangat berbeda berkat keterlibatan tangan dingin Shadtoto Prasetio selaku art director dari Shadtoto Studio. Kolaborasi matang ini menghasilkan tata panggung yang benar-benar menyatu dengan atmosfer bangunan tua yang klasik dan sarat nilai historis.
Ide brilian untuk memanfaatkan gedung bersejarah tersebut justru datang dari sang art director setelah mendengarkan pemaparan konsep koleksi jauh-jauh hari. Keterlibatan ini merupakan kali ketiga bagi sang seniman visual bekerja sama dengan rumah mode tersebut setelah sukses di ajang perhelatan sebelumnya. Pendekatan yang digunakan dalam merancang tata panggung ini sangat memperhatikan karakter ruang secara menyeluruh tanpa merusak keaslian bangunan. Seluruh elemen pendukung seperti tata gerak penampil, pencahayaan dramatis, pilihan musik pengiring, hingga ritme jalannya acara dirancang khusus demi merespons bentuk fisik gedung secara maksimal.

Eksplorasi Motif Alam dan Teknik Pembuatan Tanpa Sogan
Memasuki sesi utama peragaan, para model terlihat melangkah keluar panggung dengan balutan busana yang memukau para penonton di sekitarnya. Rute pergerakan model dirancang melintasi koridor-koridor di antara barisan kursi tamu, memberikan kesempatan langka bagi undangan untuk mengamati detail busana dari jarak dekat. Sebanyak 50 set busana pria dan wanita ditampilkan secara bergantian, di mana keseluruhan rancangan tersebut menggunakan kain hasil proses batik tulis tradisional. Proses pengerjaan koleksi busana eksklusif ini bahkan memakan waktu hingga genap satu tahun penuh demi menjaga kualitas serta keaslian motifnya.
Inspirasi motif utama masih berpijak pada kekayaan arsip peninggalan sang maestro pendiri jenama, yang jumlahnya mencapai ribuan corak klasik. Kali ini, fokus eksplorasi lebih diarahkan pada elemen-elemen kehidupan alam semesta, khususnya ragam flora dan fauna yang ada di sekitar kita. Berbeda dari ciri khas kebanyakan, koleksi istimewa ini dikerjakan tanpa menggunakan warna sogan konvensional, sehingga menghasilkan nuansa monokrom yang elegan. Kolaborasi bersama Yayasan WWF-Indonesia turut mewarnai koleksi ini melalui kemunculan motif fauna langka seperti badak dan harimau yang tertuang apik pada busana.
Relevansi Gaya Modern dan Kepedulian Lingkungan
Sentuhan visual fauna langka tersebut tampak jelas menghiasi salah satu artikel busana berupa jaket bomber potong bergaya kontemporer. Motif serupa juga terlihat mempercantik balutan minidress bernuansa hijau yang dikenakan oleh figur publik ternama Cinta Laura saat menikmati jalannya peragaan. Dominasi siluet modern tampak jelas mewarnai sebagian besar koleksi, meskipun garis rancangan klasik seperti padanan blus elegan tetap mendapat tempat proporsional. Penggunaan palet warna tertentu juga tidak lepas dari makna filosofis mendalam yang ingin disampaikan oleh pihak rumah mode kepada para penikmatnya.

Warna merah dipilih secara khusus untuk merepresentasikan energi kehidupan, sementara hijau menyimbolkan komitmen terhadap prinsip keberlanjutan lingkungan. Pemilihan warna abu-abu sendiri dihadirkan sebagai representasi visual dari jejak sejarah serta memori yang ingin diabadikan melalui pergelaran tersebut. Perubahan selera konsumen, terutama dari generasi muda, turut menjadi pertimbangan penting dalam merumuskan konsep busana yang ramah lingkungan ini. Kesadaran konsumen masa kini tidak lagi sekadar melihat filosofi motif semata, melainkan sudah merambah pada aspek etika produksi dan dampak ekologisnya.
Refleksi Masa Depan dan Penutup yang Berkesan
Pergeseran cara pandang tersebut sangat disadari oleh pihak manajemen jenama setelah mengamati antusiasme masyarakat pada momen peringatan hari besar batik baru-baru ini. Konsumen dari kalangan muda kini lebih menghargai aspek di balik pembuatan sehelai kain, termasuk isu pemberdayaan perempuan serta pengolahan limbah produksi. Prinsip-prinsip keberlanjutan semacam inilah yang kini menjadi salah satu pertimbangan utama pembeli dalam menentukan pilihan produk fesyen berkualitas tinggi. Oleh karena itu, seluruh koleksi busana kali ini dibuat menggunakan bahan katun murni serta Tencel yang terbukti lebih bersahabat dengan kelestarian alam.
Puncak acara peragaan ditutup dengan penampilan spesial dari grup musik Efek Rumah Kaca yang sukses meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh tamu undangan. Kolaborasi antara pameran busana, musik kontemporer, dan lokasi bersejarah menciptakan pengalaman artistik yang sulit untuk dilupakan begitu saja oleh para pengunjung. Sebagaimana bangunan Gedung Kesenian Jakarta yang tetap berdiri kokoh menembus batas waktu, seni batik pun dituntut untuk terus beradaptasi. Melalui langkah inovatif yang berkelanjutan, warisan budaya leluhur ini diyakini akan senantiasa relevan dan bermakna di tengah dinamika dunia modern.
Sumber: Detik Wolipop
Jangan sampai ketinggalan berbagai update informasi menarik dan berita terkini lainnya dari dunia lifestyle dan fashion. Pastikan Anda selalu memantau kanal resmi kami agar tidak ketinggalan cerita inspiratif berikutnya.
๐ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini
๐ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini
๐ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog
Baca juga:
Kata kunci terkait: Iwan Tirta, SMERTI, Gedung Kesenian Jakarta, batik tulis, fashion show, Yayasan WWF Indonesia, Efek Rumah Kaca
#LapakStore88
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9359580/original/055879500_1790564637-Gemini_Generated_Image_wj78pxwj78pxwj78.jpg)


