:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9368101/original/063693200_1791378705-WhatsApp_Image_2026-10-07_at_7.59.39_PM.jpeg)
LokalStore88 Jumat,9 Oktober 2026.
Sebelum bel pertama berbunyi, sebagian anak di Flores sudah menempuh perjalanan panjang untuk sampai ke sekolah. Ada yang menyusuri jalan berbukit, ada yang menumpang apa saja yang bisa mengantar mereka. Bagi banyak orang, jarak seperti itu terdengar melelahkan dan cukup jadi alasan untuk bermalas-malasan. Namun anak-anak ini tetap datang, membawa buku, lalu duduk di ruang kelas sederhana. Di sanalah mereka membaca, berhitung, bertanya, dan berkenalan dengan hal-hal baru. Cerita semacam itulah yang tertangkap selama NYATA Foundation berada sepekan di Flores, Nusa Tenggara Timur.
Kunjungan tersebut memperlihatkan sesuatu yang jarang masuk pemberitaan harian: keterbatasan tidak otomatis mematikan rasa ingin tahu. Anak-anak tidak sekadar hadir mengikuti pelajaran formal. Mereka mencoba berbagai aktivitas yang disiapkan, mengajukan pertanyaan, dan berani memperlihatkan kemampuan ketika diberi kesempatan. Semangat itu muncul di tengah kondisi pascagempa dan sarana pendidikan yang masih terbatas. Bagi tim yang datang dari luar Flores, pemandangan tersebut menjadi semacam koreksi atas cara kita biasa membicarakan pendidikan di daerah terpencil.
๐ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »
Kondisi geografis dan sebaran fasilitas pendidikan yang belum merata memang sudah lama menjadi bagian dari keseharian anak-anak di sana. Tidak semua sekolah berdiri dekat rumah siswa. Tidak semua ruang kelas punya perlengkapan yang memadai. Ketimpangan seperti ini bukan hal baru, tetapi sering luput dari perhatian karena letaknya jauh dari pusat kota dan jarang jadi sorotan. Yang perlu dicatat, keterbatasan itu tidak membuat kegiatan belajar berhenti. Ruang kelas sederhana tetap dipakai untuk hal paling dasar sekaligus paling penting: membaca, berhitung, dan belajar berpikir.
Perjalanan selama tujuh hari membawa tim ke 11 sekolah partner sekaligus melakukan survei terhadap lima calon sekolah partner. Tim tidak datang, berfoto, lalu pulang. Mereka mengikuti proses belajar-mengajar, berbicara dengan guru, orangtua, dan anak-anak, serta mencatat kebutuhan masing-masing sekolah. Co Founder sekaligus CEO NYATA Foundation, Nicole Oeij Teng, menyebut kunjungan itu sebagai upaya mendengar dan melihat langsung kebutuhan para mitra, satu per satu, bukan sekadar mengandalkan laporan di atas kertas.
Apa yang ditemukan ternyata tidak seragam. Ada sekolah yang paling membutuhkan dukungan melengkapi sarana pendidikan. Sekolah lain justru bergulat dengan soal akses, karena perjalanan menuju lokasi menjadi tantangan tersendiri. Di sejumlah tempat, ketersediaan guru dan proses belajar-mengajar menjadi perhatian utama selama kunjungan berlangsung. Keragaman persoalan ini menegaskan satu hal: pendekatan seragam untuk semua sekolah kerap tidak tepat sasaran, karena setiap sekolah punya cerita dan kebutuhannya sendiri.
Yang Paling Membekas
Pamela Berliana, Co Founder sekaligus CMO NYATA Foundation, mengaku hal yang paling membekas dari perjalanan itu bukan soal keterbatasan. Menurutnya, yang tertinggal di ingatan justru besarnya semangat dan rasa ingin tahu anak-anak. Mereka tetap belajar, tetap mencoba, dan tetap berkarya meski kondisi tidak ideal. Ketika tim datang, anak-anak menyambut dengan gembira dan antusias menunjukkan kemampuan mereka dengan percaya diri. Kesaksian ini disampaikan Pamela saat jumpa pers di Jakarta.
Pengalaman itu membuat perhatian yayasan bergeser, atau setidaknya meluas. Kondisi fisik bangunan sekolah tetap penting, tetapi bukan satu-satunya hal yang menentukan. Perhatian diarahkan pada keseharian anak, para guru, dan lingkungan yang menopang proses belajar. Pandangan tersebut sejalan dengan apa yang terlihat di lapangan: dua sekolah dengan fasilitas setara bisa menghasilkan pengalaman belajar yang sangat berbeda, tergantung pendampingan dan suasana yang terbangun di dalamnya. Karena itu, cara pandang yang hanya menghitung jumlah bangunan atau buku dinilai belum cukup.
Nicole menegaskan bahwa pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh lengkap atau tidaknya fasilitas. Kalimat itu bukan berarti sarana tidak perlu dibenahi, melainkan bahwa ada faktor lain yang sama menentukan: kehadiran orang dewasa yang peduli, kesempatan anak untuk mencoba, dan ruang untuk keliru lalu memperbaiki diri. Dari situ, cerita di tiap sekolah menjadi berbeda meski tantangan yang dihadapi mirip. Tim melanjutkan perjalanan dari satu sekolah ke sekolah lain, dan setiap perhentian memberi gambaran baru tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan.
Medan yang Mengubah Cara Pandang
Perjalanan itu juga diikuti Irjen Jayadi, pelari lintas alam dan ultramaraton. Ia mengaku mengalami hal yang berbeda dibanding sejumlah kegiatan endurance yang pernah dijalaninya. Medan yang harus dilalui bukan satu-satunya tantangan. Kehidupan masyarakat dengan berbagai keterbatasan ikut meninggalkan kesan kuat selama ia berada di lapangan. Bagi seseorang yang terbiasa mengukur kemampuan dari jarak dan waktu, pengalaman ini menawarkan ukuran lain: ketahanan yang tumbuh dari keseharian, bukan dari garis start dan finis.
Dari pengamatan itu, perhatian kemudian diarahkan pada kemampuan yang dimiliki anak-anak. Sejumlah anak dinilai punya potensi yang bisa diasah lewat program pendampingan yang tepat. Di titik ini, guru memegang posisi penting. Mereka berinteraksi dengan siswa setiap hari, sehingga lebih dulu melihat minat yang mulai muncul, bakat yang menonjol, atau kebiasaan yang perlu dibentuk. Tanpa guru yang dilibatkan, potensi anak bisa lewat begitu saja tanpa pernah mendapat kesempatan untuk berkembang.
Membuka Ruang untuk Bakat
Karena itu, pendampingan guru menjadi salah satu gagasan yang disiapkan. Nicole menjelaskan bahwa pihaknya kemungkinan akan memberikan pendampingan bagi guru sekaligus menyusun program agar bakat anak-anak lebih terlihat dan bisa berkembang. Idenya sederhana: ada guru, ada kegiatan belajar-mengajar, dan ada pula kesempatan bagi anak untuk mencoba serta mengembangkan potensi mereka. Dengan begitu, dukungan tidak berhenti pada pengadaan barang, tetapi menyentuh cara belajar dan cara anak menemukan hal yang mereka sukai.
Olahraga menjadi salah satu bidang yang turut dipertimbangkan. Sejumlah anak dinilai memiliki potensi yang dapat diasah melalui program pendampingan. Kolaborasi dengan Irjen membuka pembahasan mengenai kegiatan olahraga yang tidak hanya berorientasi pada aktivitas fisik. Menurut Nicole, olahraga membawa manfaat lain, seperti sportivitas dan kerja sama tim. Nilai-nilai itu relevan bagi anak-anak yang sedang belajar berinteraksi, menerima aturan, dan bekerja bersama orang lain. Rancangan program ini masih dalam tahap pengembangan, termasuk soal bentuk kegiatan dan pembagian peran.
Pendekatan berbeda disiapkan melalui konsep one child one journey. Lewat skema itu, seorang Kakak Asuh mendampingi satu anak dalam perjalanan pendidikan yang lebih panjang, bukan sekadar bantuan sesaat. Pendampingan dirancang sejak jenjang taman kanak-kanak dan diteruskan hingga sekolah menengah. Nicole menyebut harapannya agar pendampingan dari TK, SD, SMP, hingga SMA itu membuahkan hasil. Pendekatan personal seperti ini memungkinkan pendamping mengenal anak secara utuh, memahami perubahan minatnya, dan menyesuaikan dukungan dari tahun ke tahun.
Kolaborasi dan Gambaran ke Depan
Kolaborasi juga dapat melibatkan perusahaan melalui program Corporate Social Responsibility atau CSR. Bentuk dukungan disesuaikan dengan kebutuhan pendidikan yang ditemukan di lapangan sekaligus tujuan masing-masing mitra. Kegiatan bersama dan dukungan terhadap kebutuhan sekolah menjadi beberapa bentuk kerja sama yang masih terbuka untuk dikembangkan. Bagi perusahaan, skema semacam ini menawarkan cara menyalurkan dana sosial yang lebih terarah karena berangkat dari temuan nyata, bukan asumsi. Bagi sekolah, dukungan yang datang pun bisa lebih tepat sasaran.
Tujuh hari di Flores menyisakan gambaran yang sulit diringkas dalam satu kalimat. Ada perjalanan panjang menuju kelas, ada ruang belajar sederhana, dan ada anak-anak yang tetap datang dengan rasa ingin tahu yang besar. Apa yang dilakukan NYATA Foundation belum selesai; sebagian program masih dalam tahap pembahasan dan pengembangan. Namun arahnya cukup jelas: memperkuat pendampingan, membuka ruang bagi bakat anak, dan melibatkan lebih banyak pihak. Kisah dari Flores ini mengingatkan bahwa kemajuan pendidikan di daerah sering bertumpu pada hal-hal yang tak terlihat di statistik, seperti kehadiran dan kesempatan.
Sumber: Liputan6 Lifestyle
Cerita-cerita dari lapangan seperti ini sering luput dari sorotan, padahal justru di situ banyak hal penting terjadi. Biar tidak ketinggalan kabar dan liputan berikutnya, mampir terus ke kanal LapakStore88 dan ikuti update terbarunya, ya. Kami akan terus merangkum hal-hal yang layak kamu tahu, tanpa basa-basi.
๐ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini
๐ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini
๐ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog
Baca juga:
Kata kunci terkait: NYATA Foundation, pendidikan Flores, sekolah di NTT, one child one journey, pendampingan guru, bakat anak, CSR pendidikan, keterbatasan fasilitas sekolah
#LapakStore88



