Selebritis 7 menit baca

Chika Jessica Ungkap Kondisi Ibu Usai Stroke, Selalu Cek Napasnya Saat Tidur

Trauma Usai Stroke, Chika Jessica Rela Terjaga demi Cek Napas Sang Mama

LokalStore88 Jumat,9 Oktober 2026.

Setiap kali ibunya terlelap, Chika Jessica belum benar-benar bisa ikut tenang. Ia mendekat, memandangi dada yang naik-turun, lalu memastikan satu hal yang terdengar sederhana sekaligus mengerikan: apakah napas sang mama masih ada. Kebiasaan itu tidak muncul tiba-tiba, melainkan tumbuh dari rasa takut yang sudah lama mengendap. Artis yang dikenal lewat berbagai judul sinetron dan film ini mengaku selalu memeriksa napas ibunya setiap kali perempuan itu tertidur. Baginya, momen tidur bukan waktu untuk beristirahat, melainkan jam siaga.

Alasan di balik kebiasaan itu cukup berat. Ibunya kini memakai oksigen terus-menerus, sehingga Chika merasa tidak punya ruang untuk lengah sedikit pun. Buat banyak keluarga yang merawat orang tua sakit, situasi seperti ini terasa akrab: ketenangan sering kali hanya bertahan beberapa jam sebelum kecemasan datang lagi. Ketika seseorang sudah bergantung pada alat bantu pernapasan, perubahan kecil pada tubuhnya bisa terasa seperti alarm. Itulah yang membuat pemeriksaan napas tadi berubah dari sekadar kebiasaan menjadi semacam ritual penenang.

๐Ÿ›’ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »

Latar Belakang: Trauma yang Tak Pernah Hilang

Cerita ini pertama kali mengemuka ketika Chika ditemui awak media di kawasan Warung Buncit, Jakarta Selatan. Ia tidak menyembunyikan kondisi sang mama, meski jelas tidak nyaman membicarakannya. Dengan nada hati-hati, ia menjelaskan bagaimana rutinitas harian keluarganya kini berpusat pada perawatan ibunya. Baginya, berbicara terbuka soal ini bukan cari perhatian, melainkan cara jujur menjawab pertanyaan yang datang. Pengakuan itu pun menyentuh banyak orang karena gambaran kecemasannya terasa sangat manusiawi.

Ketika ditanya soal kebiasaan mengecek napas itu, Chika mengaku merinding. Baginya, pertanyaan sesederhana itu menyentuh titik paling sensitif dari ketakutannya. Ia lalu menjelaskan bahwa setiap kali sang mama tertidur, pikirannya otomatis berjalan ke skenario terburuk. Ia akan menunggu, memperhatikan, dan baru bisa sedikit lega setelah yakin napas ibunya teratur. Pengakuan ini menunjukkan bahwa rasa waswas tidak selalu terlihat dari luar, bahkan pada orang yang biasa tampil ceria di layar kaca.

Ketakutan Chika bukan tanpa alasan. Ia mengaku sangat takut jika kondisi ibunya mendadak memburuk tanpa peringatan. Karena itu, ia memilih bertahan di sisi sang mama sampai perempuan itu benar-benar tertidur. Ada semacam kesepakatan batin: selama ia masih bisa mengawasi, ia akan mengawasi. Cara ini mungkin tidak menyelesaikan masalah kesehatan apa pun, tetapi setidaknya memberinya rasa kendali di tengah situasi yang sepenuhnya di luar kendalinya.

Trauma itu berakar dari peristiwa stroke yang menimpa ibunya beberapa waktu lalu. Saat itu, keduanya sedang berada di dalam mobil ketika serangan terjadi. Momen di ruang sempit itulah yang kemudian membekas dan mengubah cara Chika memandang hal-hal kecil. Bagi banyak orang, perjalanan naik mobil adalah rutinitas biasa; bagi Chika, ia berubah menjadi situasi yang membuat jantungnya berdebar. Pengalaman mendampingi orang terdekat saat kondisi darurat memang sering meninggalkan luka yang tidak kasatmata.

Detail soal posisi duduk di mobil pun ia ceritakan. Chika biasanya berada di belakang, tepat di sisi kanan atau kiri sang mama, sehingga keduanya duduk berdampingan. Dari posisi itu, ia punya akses langsung untuk memperhatikan gerak-gerik ibunya. Ketika sang mama menoleh atau sekadar berpindah posisi, Chika bisa langsung panik dan mengira ada sesuatu yang serius. Ia baru tenang setelah memastikan bahwa itu hanya gerakan biasa. Trauma, kata banyak orang, memang bekerja pada detail-detail kecil seperti ini.

Bukan Hanya Stroke: Beban Ginjal dan Jantung

Persoalan yang dihadapi ibunya ternyata tidak berhenti pada stroke. Chika menyebut sang mama mengidap penyakit ginjal sehingga harus menjalani cuci darah secara rutin. Perawatan itu menuntut jadwal yang tidak bisa ditawar dan energi yang besar, baik bagi pasien maupun keluarga. Bagi Chika, cuci darah menjadi agenda tetap yang harus ia antisipasi bersama rutinitas pekerjaannya. Kombinasi antara pemulihan stroke dan perawatan ginjal membuat kondisi sang mama jauh lebih rumit daripada sekadar satu penyakit tunggal.

Belakangan, beban itu bertambah. Chika mengatakan penyakit ibunya sudah menjalar ke jantung, dan jantungnya disebut mengalami pembengkakan. Kabar ini jelas memperpanjang daftar kekhawatiran yang sudah ada. Jika sebelumnya ia fokus pada pemulihan pasca stroke dan perawatan ginjal, kini ada organ vital lain yang harus dipantau. Dalam situasi seperti itu, pengawasan harian menjadi bukan pilihan, melainkan keharusan. Wajar jika kecemasan Chika terasa begitu intens.

Meski begitu, ada kabar yang lebih melegakan. Kondisi ibunya setelah stroke disebut membaik, meski belum kembali seperti sedia kala. Chika tidak memakai kata sembuh total, dan itu penting untuk dicatat. Pemulihan pasca stroke memang sering berjalan bertahap, dengan kemajuan yang datang perlahan. Baginya, perbaikan sekecil apa pun tetap patut disyukuri. Namun ia sadar, membaik tidak sama dengan selesai, sehingga kewaspadaan tetap harus dijaga.

Perawatan yang masih berjalan pun ia sebutkan. Fisioterapi disebut sudah selesai, sementara cuci darah dan konsumsi obat jantung masih harus dijalani. Artinya, rutinitas medis keluarga ini belum berakhir dan mungkin masih panjang. Chika tidak merinci lebih jauh soal jadwal atau jenis obatnya, dan itu bisa dimaklumi. Yang jelas, setiap tahap perawatan menuntut konsistensi, kesabaran, dan dukungan dari orang-orang terdekat. Di titik inilah peran keluarga menjadi sangat menentukan.

Penggunaan oksigen yang terus-menerus memberi gambaran betapa seriusnya kondisi yang dihadapi. Alat bantu itu bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari kebutuhan harian. Bagi keluarga pasien, hal seperti ini mengubah banyak hal: cara merawat, cara bepergian, sampai cara beristirahat. Ketergantungan pada alat medis juga sering memunculkan kecemasan baru, terutama saat malam tiba. Tidak heran bila Chika memilih mengawasi napas ibunya, karena napas adalah tanda paling sederhana yang bisa ia pantau sendiri.

Dampak, Reaksi, dan Peran yang Berbalik

Di tengah semua itu, Chika menyebut sekarang adalah gilirannya membalas kasih sayang sang mama. Ia mengingat bagaimana ibunya selalu hadir untuknya sejak dulu, menemani setiap proses tumbuh dan bekerja. Kini peran itu berbalik: ia yang ingin memberi dukungan, menemani, dan memastikan ibunya tidak merasa sendirian. Kalimat itu sederhana, tetapi menggambarkan pergantian peran yang dialami banyak anak ketika orang tua menua dan jatuh sakit. Baginya, merawat bukan kewajiban yang membebani, melainkan bentuk terima kasih.

Kisah Chika sebenarnya menyentuh pengalaman yang jamak di banyak rumah. Merawat anggota keluarga dengan penyakit kronis sering membuat seorang anak atau pasangan berubah menjadi pengawas penuh waktu. Mereka mengatur jadwal, mengingat obat, menemani berobat, sekaligus menutupi kelelahan sendiri. Beban itu tidak selalu terlihat oleh orang luar, karena banyak yang memilih bercerita seperlunya. Karena itu, cerita dari figur publik seperti Chika bisa membuat orang merasa pengalamannya diakui dan tidak sendirian.

Sisi lain yang muncul adalah beban mental. Trauma pasca peristiwa darurat bisa membuat seseorang waspada berlebihan terhadap hal-hal kecil, seperti gerakan tangan atau perubahan posisi tubuh orang yang dirawatnya. Kecemasan semacam ini melelahkan karena berjalan terus-menerus, bahkan ketika tidak ada masalah. Banyak perawat keluarga akhirnya mengabaikan kesehatan mentalnya sendiri karena merasa kebutuhan pasien lebih penting. Padahal, dukungan untuk pengasuh juga sama pentingnya agar perawatan bisa berjalan berkelanjutan.

Dari sisi publik, cerita semacam ini biasanya menuai simpati. Penonton yang mengenal Chika lewat layar kaca melihat sisi lain dari dirinya: bukan sebagai artis, melainkan sebagai anak yang sedang berjuang. Respons semacam itu wajar, mengingat topik kesehatan keluarga selalu dekat dengan kehidupan banyak orang. Meski begitu, ada pula yang mengingatkan pentingnya menjaga ruang pribadi keluarga yang sedang sakit. Keseimbangan antara terbuka dan menjaga privasi memang tidak selalu mudah, apalagi bagi figur publik.

Ke depan, perjalanan Chika masih panjang. Selama ibunya masih menjalani cuci darah dan pengobatan jantung, rutinitas pengawasan itu kemungkinan akan terus berlanjut. Yang bisa ia lakukan adalah menjaga keseimbangan antara pekerjaan, perawatan, dan kesehatan dirinya sendiri. Cerita ini juga menjadi pengingat sederhana bagi pembaca: perhatikan orang tua selagi ada waktu, dan jangan ragu mencari dukungan ketika merawat mereka terasa berat. Sebab di balik setiap pemeriksaan napas di tengah malam, selalu ada cinta yang tidak ingin kehilangan.

Sumber: Liputan6 Selebritis

Kalau kamu suka kisah-kisah hangat sekaligus kabar terkini dari dunia hiburan, jangan sampai ketinggalan update berikutnya. Pantengin terus kanal berita LapakStore88 supaya kamu selalu jadi orang pertama yang tahu. Yuk, ikuti dan simpan kanalnya biar tidak perlu mencari-cari lagi nanti.

๐Ÿ“˜ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini

๐Ÿ’ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini

๐Ÿ“ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog

Kata kunci terkait: chika jessica, ibu chika jessica, stroke, cuci darah, oksigen, kesehatan jantung, artis indonesia, selebritis

#LapakStore88

Sumber asli: Liputan6 Selebritis