LokalStore88 Jumat,9 Oktober 2026.
Gelar S.E. sudah lama di tangan, karier di dunia hiburan juga berjalan, tetapi Chika Jessica justru memutuskan duduk lagi di bangku kuliah. Kali ini ia menempuh pendidikan S2 di Sangga Buana Bandung. Yang membuat ceritanya menarik, ia tidak masuk kelas sendirian: Dwi Andhika, teman masa S1-nya, ikut serta. Keputusan itu ternyata tidak datang mulus. Chika sempat ragu sebelum akhirnya kembali bersemangat melanjutkan pendidikan.
Bagi banyak orang, kembali kuliah setelah bekerja terasa seperti mundur ke belakang. Apalagi bagi figur publik yang sudah punya nama dan penghasilan dari pekerjaan yang sama sekali berbeda dari dunia akademik. Karena itu, langkah Chika bukan cuma soal menambah gelar. Ia menunjukkan bahwa belajar bisa tetap jadi pilihan yang relevan kapan pun. Publik yang mengikuti perjalanannya pun mendapat gambaran bahwa keraguan sebelum memutuskan sesuatu itu hal biasa.
๐ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »
Cerita ini sebenarnya berakar dari masa kuliah mereka dulu. Chika dan Dwi Andhika menjalani pendidikan S1 bersama-sama, sehingga sudah saling mengenal ritme dan kebiasaan masing-masing. Ketika keduanya memutuskan melanjutkan ke jenjang magister, kebersamaan itu jadi modal tersendiri. Ada teman yang bisa diajak bertukar pikiran, mengingatkan tenggat, sekaligus menyemangati saat mulai lelah. Bagi Chika, kehadiran sosok yang sudah dipercaya sejak lama membuat proses kembali ke kampus terasa lebih ringan.
Keraguan Chika muncul dari hal yang sangat manusiawi. Ia mengaku sempat berpikir bahwa kuliah itu melelahkan, terutama untuk urusan berpikir. Gelar sarjana ekonomi yang sudah dimilikinya dianggap sudah cukup sebagai bekal. Pertanyaan yang muncul di kepalanya sederhana: apakah ilmu yang sudah didapat masih perlu ditambah? Perasaan seperti itu kerap dialami banyak orang yang sudah bekerja dan mempertimbangkan studi lanjutan.
Yang kemudian mengubah arah pikiran Chika adalah dorongan dari Dwi Andhika. Ia mengajak Chika memanfaatkan semangat yang masih ada, selagi keduanya masih merasa mampu. Ajakan itu sederhana, tetapi cukup menggugah. Chika pun mulai melihat sisi lain: sayang rasanya jika kesempatan seperti itu dilewatkan begitu saja. Dorongan dari orang terdekat memang sering jadi pemicu paling efektif, bukan nasihat panjang yang menggurui.
Pada akhirnya Chika memutuskan melanjutkan. Ia menyadari bahwa kemampuannya masih ada dan kesempatan itu sayang untuk disia-siakan. Keputusan tersebut bukan berarti ia menutup pintu pada pekerjaan lain; ia hanya menambah satu jalur yang ingin dituntaskan. Bagi Chika, ini soal memanfaatkan momentum saat energi dan niat masih menyala. Ketika semangat sudah tumbuh, hambatan yang tadinya terasa besar berubah jadi sesuatu yang bisa dijalani.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2896172/original/027452600_1567066873-61887578_145228489868598_1526820545378731381_n.jpg)
Satu hal yang memudahkan langkah Chika adalah sistem perkuliahan yang fleksibel. Kelasnya berjalan secara hybrid, sehingga sebagian pertemuan dilakukan lewat Zoom dan sebagian lagi mengharuskan kehadiran langsung. Model seperti ini memberi ruang bagi mahasiswa yang punya kesibukan lain di luar kampus. Untuk Chika, kombinasi daring dan tatap muka membantu menjaga ritme tanpa harus mengorbankan seluruh agenda harian. Kuliah tetap berjalan, meski jadwalnya tidak selalu seragam.
Kuliah Fleksibel dan Tantangan Menjaga Fokus
Sistem hybrid memang terdengar praktis, tetapi bukan berarti tanpa tantangan. Kuliah daring menuntut disiplin tinggi karena godaan untuk menunda atau mengalihkan perhatian jauh lebih besar. Sementara itu, sesi tatap muka menuntut kesiapan fisik untuk datang ke kampus. Bagi mahasiswa yang juga bekerja, kuncinya ada pada kemampuan mengatur waktu. Chika tampaknya menyadari hal ini, karena ia menekankan pentingnya menjaga semangat agar proses kuliah tidak berhenti di tengah jalan.
Kisah semacam ini punya relevansi yang lebih luas dari sekadar kabar selebritas. Banyak pekerja di berbagai bidang mempertimbangkan studi lanjutan, tetapi menunda karena merasa sudah cukup atau takut tidak sanggup membagi waktu. Pengalaman Chika menunjukkan bahwa keraguan itu wajar, dan yang menentukan adalah keputusan setelah ragu itu. Ia juga memperlihatkan bahwa kuliah tidak selalu harus berjalan di jalur cepat; sistem hybrid membuat pendidikan lebih mudah disesuaikan dengan kehidupan nyata.
Sisi Sedih di Balik Sosok yang Ceria
Di balik penampilannya yang selalu ceria, Chika mengaku menyimpan sisi sedih. Ia sadar dirinya sering jadi orang yang menghibur, tetapi ia juga ingin merasakan dihibur. Keinginan itu bukan sesuatu yang berlebihan, melainkan kebutuhan yang manusiawi. Menurutnya, tidak ada orang yang bisa bahagia terus-menerus. Perasaan sedih adalah bagian dari hidup yang tidak bisa dihindari siapa pun, termasuk mereka yang terlihat paling periang.
Bagi Chika, kesedihan biasanya datang ketika ada hal yang membuatnya khawatir di rumah. Ia mengaku sedih saat ibunya terlihat lesu atau sedang sakit. Kondisi seperti itu memang menyentuh sisi paling personal seseorang. Chika tidak berusaha menyembunyikan perasaan tersebut. Ia justru menganggapnya sebagai hal yang wajar dan tidak perlu ditutupi. Baginya, mengakui perasaan tidak enak adalah cara yang lebih sehat daripada memaksakan diri selalu tampak kuat.
Pengakuan itu menarik karena Chika dikenal sebagai sosok dengan energi tinggi. Ada semacam anggapan bahwa orang yang pandai menghibur tidak pernah mengalami hari buruk. Kenyataannya, kemampuan menghibur orang lain tidak menghapus perasaan sedih yang bisa datang kapan saja. Yang Chika lakukan adalah memberi ruang pada perasaan itu tanpa membiarkannya mengambil alih. Ia tetap menjalani pekerjaan dan kegiatannya, tetapi tidak memaksa diri untuk selalu berada dalam mode ceria.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4134974/original/059338200_1661391278-unknown_273638231_344345984203879_767710825323009459_n.jpg)
Ramuan yang ia pakai untuk menjaga semangat ternyata sederhana. Chika mengaku tidak punya tips khusus untuk selalu terlihat ceria. Ketika mulai lelah, ia cukup mengambil hal-hal kecil yang bisa menyegarkan diri. Hal-hal sederhana itu bekerja karena tidak menambah beban, bukan karena punya kekuatan luar biasa. Bagi sebagian orang, kesadaran seperti itu justru lebih berguna daripada daftar panjang kebiasaan yang sulit dijalankan.
Rahasia Sederhana untuk Kembali Bersemangat
Dalam sebuah wawancara, Chika memberi contoh dengan es teh manis yang ia pesan. Baginya, minuman itu sekadar cara untuk merasa segar kembali. Ia menyinggung soal energi dan daya tahan tubuh yang perlu dijaga agar aktivitas tetap berjalan. Cerita itu mungkin terdengar sepele, tetapi menggambarkan caranya mengelola kelelahan. Bukan lewat strategi rumit, melainkan melalui hal-hal kecil yang bisa dilakukan saat itu juga.
Menarik juga melihat bahwa jawaban Chika tidak berbentuk daftar aturan. Ia tidak menyebut rutinitas panjang, tidak juga menawarkan janji bahwa seseorang bisa bahagia setiap saat. Yang ia lakukan hanyalah mendengar kondisi tubuhnya sendiri. Ketika mulai capek, ia memberi diri izin untuk menikmati sesuatu yang menyenangkan. Pendekatan seperti ini terasa lebih jujur bagi banyak orang yang lelah dengan tuntutan untuk selalu tampil prima. Kebahagiaan, dalam pandangannya, lebih soal menjaga keseimbangan harian daripada memaksakan diri.
Kalau kelelahan sudah terasa berat, Chika memilih untuk beristirahat di rumah. Setelah tenaganya kembali, ia baru merasa siap untuk menghibur orang lain lagi. Langkah itu menunjukkan bahwa pemulihan energi bukan tanda lemah atau menyerah. Justru dengan memberi waktu bagi diri sendiri, ia bisa kembali bekerja tanpa membawa kelelahan berlebih. Menghibur orang lain memang sulit dilakukan kalau energi yang dipakai untuk dirinya sendiri sudah habis.
Pengakuan Chika tentang perasaan sedih dan cara menjaga energi menyentuh isu yang makin sering dibicarakan, yaitu kesehatan mental. Kesadaran bahwa setiap orang butuh jeda dan punya hari buruk membantu mengurangi tekanan untuk selalu tampil sempurna. Cerita seperti ini punya nilai karena datang dari seseorang yang pekerjaannya memang menghibur orang lain. Bagi penggemar, penuturan tersebut bisa jadi pengingat agar tidak menaruh harapan berlebihan pada orang lain. Semua orang, apa pun profesinya, punya batas yang perlu dihormati.
Ke depan, kombinasi antara kuliah magister dan pekerjaan hiburan akan menjadi babak baru bagi Chika. Dorongan Dwi Andhika menjadi titik balik yang membawanya kembali ke ruang kuliah, sementara sistem hybrid memberinya ruang untuk mengatur ritme sendiri. Yang tersisa adalah konsistensi, sebab pendidikan lanjutan menuntut ketekunan jangka panjang. Jika ia bisa mempertahankan semangat seperti yang ia ceritakan, langkah ini berpotensi membuka peluang baru. Dan bagi siapa pun yang sedang ragu melanjutkan pendidikan, cerita ini menawarkan satu pesan sederhana: keraguan tidak harus jadi akhir dari niat baik.
Sumber: Liputan6 Selebritis
Kalau kamu suka cerita perjalanan artis seperti ini, jangan ke mana-mana dulu ya. Terus pantau kanal kami supaya nggak ketinggalan kabar terbaru soal Chika Jessica dan selebritas lainnya. Gabung juga ke kanal resmi LapakStore88 biar setiap update berikutnya langsung sampai ke kamu.
๐ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini
๐ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini
๐ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog
Baca juga:
Kata kunci terkait: chika jessica, dwi andhika, chika jessica kuliah s2, sangga buana bandung, artis kuliah s2, kuliah hybrid, kesehatan mental artis, berita selebritis
#LapakStore88
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2896172/original/027452600_1567066873-61887578_145228489868598_1526820545378731381_n.jpg)


:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371088/original/071361900_1791737532-photo__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371066/original/091167800_1791733827-SnapInsta.to_797035967_18625755457015117_1342880810951080224_n.jpg)