
LokalStore88 Jumat,9 Oktober 2026.
Kursi nomor satu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali menjadi arena tarung, dan nama terbaru yang muncul adalah Song Li. China resmi mengajukan pejabat senior kesehatan publiknya itu sebagai calon Direktur Jenderal, menyusul posisi yang akan ditinggalkan Tedros Adhanom Ghebreyesus. Kabar ini bukan sekadar dinamika internal Beijing: Indonesia sudah lebih dulu menaruh nama Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di bursa yang sama. Alhasil, dua negara Asia kini berdiri di garis start yang sama, memperebutkan pengaruh atas arah kebijakan kesehatan dunia untuk periode berikutnya. Bagi siapa pun yang peduli pada isu vaksin, kesiapsiagaan wabah, atau kerja sama kesehatan lintas negara, langkah ini layak dicermati sampai detailnya.
Kenapa penting? WHO bukan lembaga yang hanya sibuk rapat di kota besar dan jauh dari keseharian kita. Keputusan-keputusannya menyentuh hal-hal yang terasa di rumah sakit daerah, harga obat, sampai kesiapan sebuah negara menghadapi wabah berikutnya. Posisi Dirjen ikut menentukan nada diplomasi kesehatan: siapa yang didengar, prioritas program apa yang didanai, dan seberapa besar ruang bagi negara berkembang untuk bersuara. Karena itu, setiap pencalonan selalu dibaca bukan hanya sebagai soal figur, melainkan soal arah kebijakan. Ketika dua negara yang menonjol di kawasan sama mengajukan kandidat, pertanyaannya berubah: siapa yang lebih meyakinkan di mata negara-negara pemilih.
๐ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »
Siapa Song Li dan Kenapa China Memilihnya
Song Li bukan nama yang tiba-tiba muncul di peta kesehatan global. Biografi resminya mencatat pengalaman sekitar dua dekade di bidang kesehatan publik, terutama pada kebijakan kesehatan ibu dan anak serta kerja sama internasional. Dua ranah itu bukan bidang pinggiran: keduanya menyangkut program yang menyentuh langsung kehidupan perempuan dan anak di banyak negara, sekaligus menuntut koordinasi lintas pemerintahan. Pengalaman semacam ini biasanya menjadi modal utama dalam bursa kepemimpinan organisasi multilateral, karena menunjukkan kemampuan bekerja di antara beragam sistem kesehatan yang berbeda. Ia juga memberi gambaran bahwa yang diusung China adalah figur dengan portofolio teknis, bukan sekadar nama besar tanpa jejak kerja.
Yang membuat profilnya lebih menonjol adalah keterlibatan dalam sejumlah krisis kesehatan besar. Song Li tercatat berada di barisan terdepan ketika China menghadapi outbreak SARS, wabah flu burung, hingga pandemi COVID-19. Rentang pengalaman itu mencakup situasi yang sangat berbeda satu sama lain, dari wabah yang relatif terbatas sampai krisis yang melumpuhkan hampir seluruh dunia. Dalam bahasa sederhana, ia termasuk orang yang pernah mengambil keputusan saat tekanan tinggi dan informasi belum lengkap. Kemampuan seperti itulah yang selalu diuji dalam rapat-rapat darurat WHO, ketika waktu terbatas tetapi dampaknya menyangkut jutaan orang.
Satu catatan spesifik datang dari tahun 2020. Saat itu Song Li menjabat sebagai pemimpin redaksi dokumen panduan pencegahan dan pengendalian COVID-19, yang kemudian dijadikan standar nasional untuk pengelolaan kesehatan ibu dan anak di China. Artinya, ia bukan hanya terlibat merumuskan kebijakan di tingkat atas, tetapi juga menyusun pedoman operasional yang diikuti fasilitas kesehatan di lapangan. Bagi kubu yang mendukungnya, titik ini mudah dijadikan bukti bahwa ia mampu menerjemahkan keputusan politik menjadi panduan teknis yang bisa dijalankan. Sebaliknya, bagi pihak yang skeptis, rekam jejak itu justru membuka ruang pertanyaan tentang bagaimana kebijakan pandemi diambil dan dievaluasi.
Dan di sinilah politik bertemu keahlian. Pengalaman menangani pandemi di satu negara bisa dibaca sebagai kredibilitas teknis, tetapi juga bisa menjadi bahan perdebatan di forum internasional, terutama ketika penanganan COVID-19 masih menyisakan rasa sensitif di banyak ibu kota. Kandidat dituntut bukan hanya cakap menjelaskan kebijakan, melainkan juga meyakinkan negara-negara anggota bahwa ia akan bekerja untuk semua pihak, bukan untuk satu kepentingan tertentu. Keseimbangan itu tidak mudah dijaga, terutama di organisasi yang anggotanya punya pengalaman pandemi yang sangat berbeda-beda.
Pengumuman Resmi dari Beijing
Langkah China itu disampaikan secara terbuka. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, mengonfirmasi pengajuan nama Song Li sebagai sosok yang diproyeksikan meneruskan estafet kepemimpinan WHO. Konfirmasi tersebut dilansir kantor berita Reuters. Pilihan menyampaikan kabar lewat jalur kementerian luar negeri, bukan kementerian kesehatan, seolah menggarisbawahi bahwa pencalonan ini adalah langkah diplomatik yang diperhitungkan matang. Dalam praktik diplomasi, jalur penyampaian pesan sering kali sama pentingnya dengan isi pesannya sendiri.
Dalam pernyataannya, Mao Ning menyampaikan keyakinan Beijing bahwa Song Li dapat mendorong WHO tampil lebih aktif dalam memperjuangkan peningkatan kesehatan dan kesejahteraan umat manusia. Kalimat itu terdengar standar, sebagaimana lazimnya pernyataan resmi, tetapi pesannya cukup jelas: China ingin dilihat sebagai kontributor agenda kesehatan global, bukan sekadar peserta. Bagi negara-negara anggota, tawaran semacam ini selalu dibaca sebagai janji sekaligus pertanyaan, yakni seberapa besar komitmen yang benar-benar menyertainya nanti. Publik di banyak negara biasanya menunggu bukti, bukan hanya pernyataan di depan media.
Yang membuat momen ini menarik adalah konteksnya. Pencalonan Song Li datang di tengah dinamika geopolitik kesehatan yang sensitif, ketika isu pandemi dan kepemimpinan WHO masih menyisakan ketegangan antarnegara. Dalam situasi seperti itu, setiap nama yang diajukan akan dibaca sebagai sinyal politik, bukan semata kalkulasi karier individu. Beijing tampaknya sadar betul akan hal ini, sehingga pengumuman dibuat rapi dan berada di jalur resmi kenegaraan. Efeknya, perhatian publik pun langsung bergeser dari sosok Song Li ke pertanyaan yang lebih besar tentang arah pengaruh China di lembaga-lembaga multilateral.
Bayang-bayang Geopolitik di Balik Pencalonan
Tidak bisa dipungkiri, WHO belakangan ini sering berada di bawah sorotan keras pemerintahan Amerika Serikat. Kritik mengalir soal penanganan pandemi serta tuduhan adanya bias terhadap China dalam sejumlah keputusan organisasi. Tuduhan itu berulang kali ditepis dengan tegas oleh pihak terkait. Dinamika semacam ini membuat bursa Dirjen WHO tidak pernah benar-benar steril dari politik, sekalipun badan tersebut dibangun atas dasar kerja sama teknis antarnegara. Bagi banyak pengamat, persaingan kali ini akan menjadi ujian seberapa besar kepercayaan anggota terhadap netralitas lembaga itu.
Pembacaan itu diperkuat oleh penilaian seorang mantan pejabat senior WHO. Menurutnya, pencalonan Song Li berpotensi menjadi bagian dari strategi diplomasi Beijing. China, katanya, bisa memanfaatkan momen ini sebagai posisi tawar untuk memperoleh pengaruh yang lebih besar di dalam organisasi. Selain itu, ada kepentingan jangka panjang yang tak kalah penting, yaitu memastikan lebih banyak pejabat senior asal China menempati posisi-posisi strategis. Pandangan itu bukan tuduhan, melainkan cara membaca langkah politik yang lumrah dilakukan banyak negara besar di forum multilateral.
Cara membacanya sebenarnya sederhana. Dalam organisasi internasional, pengaruh tidak dibangun hanya lewat satu kursi. Ia tumbuh dari jaringan orang, kebiasaan bernegosiasi, dan kehadiran di posisi-posisi yang menentukan arah anggaran maupun prioritas program. Karena itu, langkah Beijing ini masuk akal jika dilihat sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar ambisi satu orang untuk memimpin sebuah lembaga. Dampaknya bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia, adalah bahwa ruang negosiasi akan semakin padat dan setiap dukungan akan dihitung dengan cermat.
Posisi Budi Gunadi Sadikin di Tengah Peta Baru
Bagi Indonesia, kehadiran Song Li di bursa pencalonan jelas mengubah peta. Sebelumnya, nama Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sudah lebih dulu ramai diperbincangkan sebagai salah satu kandidat. Kini ia berhadapan dengan sosok yang datang membawa pengalaman dua dekade dan rekam jejak krisis kesehatan publik yang panjang. Persaingan pun tidak lagi hanya soal visi, tetapi juga soal kemampuan membangun dukungan antarnegara. Dalam konteks ini, munculnya penantang baru membuat setiap langkah pendekatan diplomatik menjadi lebih berarti.
Mekanisme pemilihannya sendiri bergulir bertahap. WHO dijadwalkan merilis daftar lengkap seluruh kandidat setelah rangkaian rapat komite regional selesai pada awal November mendatang. Momentum itu penting karena di forum-forum regional inilah negara-negara mulai menjajaki siapa yang layak didukung. Nama yang muncul belakangan belum tentu kalah, tetapi ia harus bergerak cepat menyusun dukungan sebelum peta kekuatan mengeras. Sebaliknya, kandidat yang lebih dulu masuk pun tidak otomatis unggul, karena dukungan bisa berpindah mengikuti kalkulasi politik dan kepentingan masing-masing negara.
Sampai saat ini, sudah ada enam nama kandidat lain yang mewakili berbagai negara. Jumlah itu menunjukkan bahwa kursi Dirjen WHO tetap menjadi magnet bagi banyak pemerintahan, bukan hanya kekuatan besar. Dengan bertambahnya nama Song Li, bursa pencalonan otomatis makin padat dan negosiasi antarnegara berpotensi lebih rumit. Setiap kandidat harus meyakinkan negara-negara anggota dari kawasan berbeda bahwa kehadirannya menguntungkan, bukan sekadar memperkuat blok tertentu. Itulah mengapa kemampuan komunikasi lintas budaya menjadi sama pentingnya dengan rekam jejak teknis.
Ke depan, ada beberapa hal yang layak diikuti. Pertama, bagaimana komite regional menyikapi komposisi kandidat dan apakah muncul kesepakatan kawasan yang mengerucut pada satu nama. Kedua, seberapa kuat dukungan yang bisa dikumpulkan masing-masing kandidat, karena dalam pemilihan seperti ini dukungan biasanya bergerak pelan lalu mengumpul di menit-menit akhir. Ketiga, apakah isu penanganan pandemi dan tata kelola WHO kembali mencuat sebagai bahan debat terbuka antarnegara. Semua faktor itu akan menentukan siapa yang akhirnya dipercaya memimpin lembaga kesehatan paling berpengaruh di dunia.
Yang paling jelas, pertarungan memperebutkan kursi kepemimpinan WHO kali ini tidak lagi soal satu nama melawan nama lain. Ada dua negara Asia yang menaruh harapan besar pada panggung kesehatan global, dan keduanya berhadapan langsung dalam bursa yang sama. Hasil akhirnya baru akan terlihat setelah seluruh tahapan berjalan, tetapi satu hal sudah pasti: sorotan terhadap siapa yang memimpin WHO akan terus menguat, terutama dari negara-negara yang paling merasakan dampak kebijakannya. Bagi Indonesia, ini juga menjadi ajang untuk menunjukkan bahwa suaranya di panggung kesehatan global layak diperhitungkan.
Sumber: Detik Health
Peta persaingan kursi Dirjen WHO masih bakal bergerak dinamis dalam beberapa bulan ke depan, dan setiap perkembangan kecilnya bisa berdampak besar. Supaya kamu tidak ketinggalan kabar terbaru seputar isu ini dan berita penting lainnya, teruslah mampir dan pantau kanal resmi LapakStore88. Ada banyak update segar yang sayang kalau kamu lewatkan begitu saja.
๐ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini
๐ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini
๐ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog
Baca juga:
Kata kunci terkait: dirjen who, song li, budi gunadi sadikin, calon dirjen who, tedros adhanom ghebreyesus, kesehatan global, menteri kesehatan, pencalonan who
#LapakStore88



