:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369365/original/034444800_1791519895-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-09T112039.867.jpg)
LokalStore88 Sabtu,10 Oktober 2026.
Angka 88,5 persen itu bukan hasil survei kepuasan, melainkan tingkat keyakinan sebuah alat pendeteksi AI bahwa video yang sedang Anda tonton memang hasil rekayasa kecerdasan buatan. Video yang dimaksud menampilkan sosok Djoko Susanto, pendiri jaringan ritel Alfamart, seolah-olah sedang membagikan uang Rp 20 juta kepada siapa saja yang mau menghubunginya. Bagi Anda yang aktif di media sosial, terutama Facebook, tayangan semacam ini penting dikenali karena modusnya terus berkembang dan menyasar kelompok yang paling rentan, yakni mereka yang sedang membutuhkan bantuan ekonomi.
Kronologi dan Latar Belakang
Konten tersebut awalnya muncul di sebuah akun Facebook pada 29 September, dengan narasi bahwa Djoko Susanto merayakan akun media sosial pertamanya dengan cara membagikan uang. Dalam unggahan itu, tertulis ajakan bahwa bantuan ditujukan bagi orang yang sedang membutuhkan, lengkap dengan tombol yang mengarahkan pengguna ke pesan pribadi. Sejak pekan lalu, postingan serupa beredar di beberapa akun lain sehingga jangkauannya makin luas. Pertanyaannya sederhana: benarkah orang sekelas pendiri Alfamart membagikan uang puluhan juta hanya untuk merayakan akun media sosial?
๐ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »
Tim Cek Fakta Liputan6.com menelusuri jejak konten ini dan menemukan bahwa materi tersebut sebenarnya sudah beredar sejak dua tahun lalu. Artinya, ini bukan fenomena baru, melainkan hoaks lama yang didaur ulang dan kembali dipasarkan ke pengguna media sosial. Pola seperti ini lazim terjadi karena pembuat hoaks cukup mengganti nama, angka, atau platform, lalu menyebarkannya lagi ke audiens yang berbeda. Karena itu, kemampuan mengenali ciri-ciri hoaks lama menjadi penting bagi siapa pun yang aktif berselancar di internet.
Yang menjadikan kasus ini menarik adalah respons resmi yang sudah dikeluarkan pihak Alfamart melalui akun Instagram perusahaan pada 17 September 2024. Dalam pernyataannya, Alfamart menegaskan bahwa Djoko Susanto tidak memiliki atau menggunakan akun media sosial apa pun. Pernyataan itu sekaligus memperingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap akun penipuan yang mencatut nama sang pendiri. Dengan kata lain, sejak dua tahun silam, bantahan resmi sudah tersedia, tetapi konten palsu itu tetap saja muncul kembali.
Rekayasa AI dan Modus Penipuan
Penelusuran tidak berhenti pada bantahan perusahaan. Tim cek fakta kemudian menggunakan layanan pendeteksi konten AI, Hive Moderation, untuk menganalisis video tersebut secara teknis. Hasilnya cukup mengejutkan: video itu terindikasi 88,5 persen merupakan hasil modifikasi AI, sedangkan elemen suaranya mencapai 99 persen hasil rekayasa kecerdasan buatan. Angka-angka ini menjelaskan mengapa video tersebut bisa terlihat dan terdengar meyakinkan, meskipun sebenarnya penuh kepalsuan yang dirancang untuk menipu.
Selain soal rekayasa visual dan audio, ada satu detail yang justru paling mencurigakan: adanya permintaan untuk mendaftar melalui pesan pribadi Facebook. Pola semacam ini merupakan indikasi kuat penipuan karena pelaku berusaha memindahkan percakapan dari ruang publik ke jalur privat. Begitu korban masuk ke percakapan pribadi, pelaku bisa meminta data identitas, nomor rekening, atau mengarahkan korban ke aplikasi pinjaman online ilegal. Semua ini terjadi dalam balutan janji bantuan uang yang menggiurkan.
Modus pencatutan nama perusahaan besar dan tokoh terkenal memang bukan hal baru di dunia maya. Alfamart sendiri dalam pernyataannya mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai tautan phishing yang mengiming-imingi hadiah atau undian atas nama perusahaan. Pihaknya menegaskan bahwa segala bentuk program promo, hadiah, dan kuis resmi hanya bisa dicek melalui kanal media sosial resmi serta situs perusahaan. Pesan ini menjadi pengingat bahwa informasi yang sah selalu punya sumber yang bisa diverifikasi, bukan sekadar pesan berantai atau unggahan akun tak dikenal.
Dampak bagi Masyarakat dan Pembaca
Bagi masyarakat umum, hoaks seperti ini bukan sekadar gangguan kecil di beranda media sosial. Ketika seseorang percaya dan mengikuti instruksi pelaku, dampaknya bisa sangat nyata: data pribadi bocor, rekening terkuras, atau terjerat pinjaman online dengan bunga mencekik. Kelompok yang paling rentan adalah mereka yang sedang terdesak kebutuhan ekonomi dan melihat tawaran uang cepat sebagai jalan keluar. Ironisnya, justru kondisi mendesak itulah yang dimanfaatkan pelaku untuk melancarkan aksinya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3183855/original/046600000_1595123986-CEK_FAKTA1_300x-100.jpg)
Dari sisi industri ritel, pencatutan nama perusahaan besar bisa merusak reputasi yang dibangun bertahun-tahun. Alfamart harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk memberikan klarifikasi dan mengedukasi pelanggan agar tidak terjebak. Hal serupa juga dialami banyak merek lain yang namanya sering dipakai dalam penipuan berkedok hadiah. Karena itu, kolaborasi antara perusahaan, media, dan platform digital menjadi kunci untuk memutus rantai penyebaran hoaks semacam ini.
Bagi pembaca, kasus ini memberi pelajaran berharga tentang pentingnya literasi digital. Tidak semua video yang terlihat meyakinkan itu asli, terutama di era ketika teknologi AI mampu meniru wajah dan suara seseorang dengan tingkat kemiripan tinggi. Kebiasaan sederhana seperti mengecek akun resmi, mencari klarifikasi di media kredibel, dan tidak tergesa-gesa menyebarkan informasi bisa menjadi tameng pertama. Semakin cepat kita mengenali tanda-tandanya, semakin kecil peluang menjadi korban.
Reaksi dan Upaya Melawan Hoaks
Pihak Alfamart secara terbuka telah meminta masyarakat waspada terhadap akun-akun yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Mereka juga mengarahkan publik untuk memverifikasi segala informasi melalui saluran resmi perusahaan. Sikap tegas semacam ini penting agar masyarakat tidak ragu untuk mengabaikan tawaran yang mengatasnamakan perusahaan besar tanpa bukti yang jelas. Namun, bantahan resmi saja tidak cukup jika penyebaran konten palsu terus terjadi tanpa ada kesadaran dari pengguna.
Di sisi lain, lembaga cek fakta seperti Liputan6.com terus berupaya memberikan literasi media kepada masyarakat luas. Sejak 2018, kanal Cek Fakta mereka aktif memverifikasi informasi yang beredar, termasuk bergabung dalam International Fact Checking Network dan menjadi mitra platform digital besar. Keterlibatan ini menunjukkan bahwa melawan hoaks membutuhkan kerja sama banyak pihak, bukan hanya usaha satu lembaga. Independensi tetap dijaga agar hasil verifikasi bisa dipercaya oleh publik.
Upaya kolektif ini juga mengingatkan bahwa melawan hoaks pada dasarnya adalah melawan pembodohan. Setiap orang punya peran, mulai dari tidak menyebarkan konten yang belum terverifikasi hingga melaporkan akun mencurigakan kepada pihak berwenang atau platform terkait. Semakin banyak orang yang peduli, semakin sulit bagi pelaku penipuan untuk mendapatkan korban baru. Kesadaran kolektif adalah senjata paling ampuh menghadapi ancaman digital yang terus bermutasi.
Kesimpulan dan Langkah ke Depan
Kesimpulan dari penelusuran ini jelas: video yang mengklaim Djoko Susanto membagikan uang Rp 20 juta sebagai perayaan akun media sosial pertamanya adalah hoaks. Konten tersebut telah dibantah pihak Alfamart sejak dua tahun lalu, dan analisis teknis menunjukkan unsur rekayasa AI yang kuat. Tidak ada pembagian uang, tidak ada akun resmi, dan tidak ada program semacam itu. Yang ada hanyalah upaya penipuan berkedok kedermawanan untuk menjerat korban.
Ke depan, masyarakat perlu semakin waspada terhadap konten yang melibatkan tokoh terkenal dan janji keuntungan finansial. Teknologi AI yang makin canggih membuat video palsu semakin sulit dibedakan dengan yang asli, sehingga verifikasi menjadi semakin penting. Selalu cek sumber resmi, jangan mudah tergiur, dan jangan ragu melaporkan konten mencurigakan. Dengan begitu, kita tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga membantu menjaga ruang digital tetap sehat bagi semua orang.
Sumber: Liputan6 Cek Fakta
Jangan sampai ketinggalan informasi terbaru seputar hoaks dan penipuan digital yang makin canggih setiap harinya. Pantau terus kanal resmi LapakStore88 supaya kamu selalu jadi yang pertama tahu dan tidak mudah tertipu. Yuk, ikuti terus update-nya biar tetap aman dan cerdas dalam bermedia sosial!
๐ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini
๐ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini
โ๏ธ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.
Gabung Channel Telegram »๐ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog
Baca juga:
Kata kunci terkait: cek fakta, hoaks alfamart, djoko susanto, penipuan online, video ai, modus penipuan, cek fakta liputan6, phishing
#LapakStore88



