Nasional 6 menit baca

Pangkogabwilhan III sebut intelijen dukung operasi keamanan di Papua

Intelijen Jadi Kunci Operasi TNI di Maybrat, Tiga Pimpinan TPNPB-OPM Dilaporkan Tewas

LokalStore88 Sabtu,10 Oktober 2026.

Tiga nama itu kini menjadi sorotan dalam laporan operasi keamanan di Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya. Manfret Fatem, Anton Fatem, dan Yesias Fatem—yang disebut sebagai komandan operasi dan dua komandan batalyon kelompok bersenjata TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya—dilaporkan tewas dalam kontak senjata dengan pasukan gabungan TNI. Peristiwa ini bukan sekadar catatan operasi rutin; ia menunjukkan bagaimana informasi intelijen yang tepat bisa mengubah arah sebuah penindakan di lapangan, sekaligus menekan risiko jatuhnya korban dari kalangan sipil. Bagi publik di luar Papua, kejadian ini penting karena menyangkut cara negara menjalankan operasi keamanan di wilayah yang rawan konflik bersenjata.

Pesan Penting dari Pangkogabwilhan III

Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III, Letnan Jenderal TNI Lucky Avianto, menegaskan bahwa dukungan intelijen memegang peranan sentral dalam setiap operasi keamanan di wilayah Papua. Menurutnya, informasi mengenai keberadaan kelompok bersenjata sangat membantu aparat dalam menentukan sasaran operasi secara lebih presisi. Dengan begitu, risiko yang mengancam masyarakat sipil di sekitar lokasi penindakan bisa ditekan seminimal mungkin. Penekanan ini bukan tanpa alasan, mengingat operasi di medan seperti Papua kerap menghadapi tantangan geografis dan sosial yang rumit. Lucky menyampaikan hal tersebut dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta.

🛒 LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »

Ia juga menyoroti pentingnya sinergi antara Badan Intelijen Negara (BIN) dan satuan-satuan operasi TNI. Kolaborasi lintas lembaga ini dinilai sebagai bagian krusial dalam menghadapi ancaman kekerasan bersenjata yang terus menjadi perhatian di tanah Papua. Tanpa dukungan data intelijen yang akurat, operasi di lapangan berpotensi menghadapi kendala besar, mulai dari salah sasaran hingga eskalasi konflik yang tidak diinginkan. Karena itu, koordinasi yang rapi antara pengumpul informasi dan pelaksana operasi menjadi harga mati dalam setiap misi. Pesan ini seolah menegaskan bahwa kekuatan militer saja tidak cukup tanpa kecerdasan informasi.

Jejak Operasi di Maybrat

Sebagai contoh konkret, Lucky mengangkat keberhasilan operasi penindakan yang dijalankan pasukan gabungan dari Satgas Yonif Marinir 9 dan Denkul 4 Satgas Rajawali V Koops TNI Habema. Operasi tersebut menyasar kelompok bersenjata TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya di Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya. Target utamanya adalah Manfret Fatem, yang disebut sebagai Komandan Operasi kelompok tersebut, bersama dua komandan batalyon, Anton Fatem dan Yesias Fatem. Dalam laporan yang disampaikan, ketiganya dilaporkan tewas dalam kontak senjata dengan aparat TNI. Kejadian ini menjadi salah satu momen penting dalam rangkaian operasi keamanan di wilayah tersebut.

Menurut penjelasan Lucky, keberhasilan penindakan itu tidak lepas dari dukungan informasi intelijen bernilai A1 yang berasal dari BIN. Informasi sekelas itu diyakini memiliki tingkat akurasi dan keandalan yang tinggi, sehingga mampu mengarahkan pasukan ke lokasi persembunyian para target. Dengan bekal data tersebut, pasukan gabungan TNI berhasil menemukan tempat persembunyian Manfret Fatem bersama Anton Fatem selaku Komandan Batalyon Ayosami dan Yesias Fatem selaku Komandan Batalyon Mosata. Keberadaan intelijen yang tepat waktu dan tepat sasaran inilah yang kemudian menentukan jalannya operasi di lapangan.

Dalam peristiwa kontak senjata tersebut, ketiga orang itu disebut melakukan perlawanan dengan melepaskan tembakan ke arah pasukan TNI. Manfret Fatem dilaporkan tewas di lokasi kejadian, sementara Anton Fatem dan Yesias Fatem dilaporkan tewas saat berusaha melarikan diri menuju kawasan Sungai Frambu. Hingga kini, pencarian terhadap dua jenazah yang disebut tenggelam di sungai tersebut masih terus dilakukan. Situasi ini menunjukkan bahwa operasi di medan seperti Maybrat tidak hanya berhenti pada kontak senjata, tetapi juga melibatkan upaya pencarian dan evakuasi yang tidak sederhana.

Barang Bukti dan Prinsip Operasi

Dari lokasi kontak senjata, personel TNI dilaporkan berhasil mengamankan sejumlah barang bukti. Di antaranya adalah satu pucuk senjata api jenis AK-101, puluhan butir amunisi tajam, dan selembar bendera Bintang Kejora. Barang-barang tersebut menjadi bagian dari hasil operasi yang dijalankan pasukan gabungan. Keberadaan senjata api dan amunisi menegaskan bahwa kelompok yang dihadapi memang memiliki kemampuan bersenjata yang serius. Sementara itu, bendera Bintang Kejora menjadi penanda identitas kelompok yang selama ini menjadi sasaran operasi keamanan di Papua.

Meski demikian, Lucky menegaskan bahwa TNI akan terus menjalankan tugas pengamanan wilayah dan penegakan hukum terhadap ancaman kekerasan bersenjata secara profesional, tegas, dan terukur. Seluruh personel di bawah kendali Kogabwilhan III diwajibkan mengedepankan rules of engagement (ROE) atau aturan pelibatan, ketentuan perundang-undangan, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia dalam setiap pelaksanaan tugas. Penekanan ini penting untuk memastikan bahwa operasi tidak melampaui batas-batas yang telah ditetapkan. Dengan begitu, legitimasi operasi di mata publik tetap terjaga.

Ia juga mengutip prinsip salus populi suprema lex esto, yang berarti keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Prinsip itu, menurutnya, tetap menjadi pedoman utama dalam penyelenggaraan operasi. Keselamatan masyarakat sipil, perlindungan terhadap warga, dan pemeliharaan stabilitas keamanan di Papua disebut sebagai prioritas yang harus dijaga oleh seluruh personel TNI. Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap operasi militer, ada tanggung jawab besar untuk melindungi warga yang tidak terlibat konflik. Dalam konteks Papua, hal ini menjadi sangat sensitif dan menentukan penerimaan masyarakat terhadap kehadiran aparat.

Dampak dan Tantangan ke Depan

Keberhasilan operasi yang dilaporkan di Maybrat menjadi bagian dari upaya berkelanjutan TNI dalam menjaga keamanan wilayah Papua Barat Daya. Dukungan informasi intelijen dari BIN dan koordinasi antarsatuan diharapkan terus memperkuat efektivitas pelaksanaan tugas. Namun, tantangan ke depan tentu tidak berkurang, mengingat dinamika kelompok bersenjata di Papua yang kerap berubah dan beradaptasi. Diperlukan pembaruan informasi yang terus-menerus agar operasi tetap berjalan efektif dan tepat sasaran. Tanpa aliran intelijen yang segar, operasi berisiko kehilangan momentum.

Dari sisi lain, operasi semacam ini juga membawa konsekuensi bagi masyarakat setempat. Kehadiran aparat dan terjadinya kontak senjata bisa memengaruhi rasa aman warga di sekitar lokasi. Karena itu, komunikasi dan pendekatan sosial kepada masyarakat menjadi bagian yang tak terpisahkan dari setiap operasi. TNI dalam pernyataannya menekankan pentingnya menjamin akuntabilitas, kepatuhan terhadap hukum, serta perlindungan masyarakat. Semua ini menjadi kunci agar operasi tidak hanya berhasil secara militer, tetapi juga diterima secara sosial. Inilah yang membedakan operasi keamanan yang baik dari yang sekadar mengandalkan kekuatan.

Bagi publik luas, peristiwa ini menjadi cermin betapa kompleksnya persoalan keamanan di Papua. Di satu sisi, negara memiliki kewajiban menjaga stabilitas dan melindungi warga dari ancaman kekerasan bersenjata. Di sisi lain, setiap tindakan aparat selalu berada di bawah pengawasan, baik dari segi hukum maupun hak asasi manusia. Keseimbangan antara dua hal itu tidak mudah diwujudkan, terutama di medan yang penuh ketidakpastian. Namun, komitmen terhadap prinsip keselamatan rakyat sebagai hukum tertinggi setidaknya memberikan arah yang jelas.

Ke depan, sinergi antara intelijen dan satuan operasi akan terus menjadi tulang punggung upaya penanganan konflik bersenjata di Papua. Keberhasilan di Maybrat bisa menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya informasi yang akurat, eksekusi yang terukur, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi penerapan prinsip-prinsip tersebut di setiap operasi, tanpa terkecuali. Dengan begitu, upaya menciptakan Papua yang aman dan stabil dapat berjalan seiring dengan perlindungan terhadap warga sipil. Semua mata kini tertuju pada bagaimana langkah lanjutan setelah operasi ini.

Sumber: Antara News

Kalau kamu ingin terus mengikuti perkembangan operasi keamanan di Papua dan berita nasional lainnya tanpa ketinggalan, jangan lupa untuk selalu memantau kanal resmi LapakStore88. Semua update terbaru akan tersaji lengkap dan cepat untuk kamu. Gabung dan ikuti terus ya, biar tidak ketinggalan informasi penting berikutnya!

📘 Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini

💬 Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini

✈️ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.

Gabung Channel Telegram »

📰 Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog

Kata kunci terkait: operasi TNI di Papua, Kogabwilhan III, intelijen BIN, TPNPB-OPM Maybrat, Manfret Fatem, keamanan Papua Barat Daya, Satgas Rajawali V, konflik Papua

#LapakStore88

Sumber asli: Antara News