:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5088568/original/045737100_1736490041-Snapinsta.app_467540279_430810416740698_9154599653062856553_n_1080.jpg)
LokalStore88 Sabtu,10 Oktober 2026.
Detak jantung Fanny Ghassani tidak pernah melewati angka 130 sepanjang lima kilometer. Bukan karena dia kekurangan tenaga, melainkan karena ia memang memilih berlari santai, menyesuaikan kecepatan dengan suami dan asistennya yang ikut serta di lintasan. Fakta sederhana ini langsung membalik asumsi banyak orang bahwa ikut lomba lari berarti harus memacu diri habis-habisan. Padahal, bagi Fanny, menikmati prosesnya jauh lebih penting daripada mengejar catatan waktu.
Pandangan itu ia sampaikan saat menceritakan pengalamannya mengikuti ajang lari bertajuk Crystalin RunXperience. Baginya, persiapan menuju lomba 5K tidak perlu rumit, apalagi jika tubuh sudah terbiasa bergerak. Fanny mengaku sama sekali tidak melakukan persiapan khusus karena menganggap event tersebut sebagai fun run, bukan kompetisi yang menuntut performa puncak. Pendekatannya ini menarik untuk dicermati, terutama bagi pemula yang sering merasa terbebani target berlebihan.
๐ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »
Bukan Berarti Persiapan Diabaikan
Meski tampak santai, Fanny tidak lantas menyepelekan persiapan. Ia justru menekankan sejumlah kebiasaan yang ia anggap penting bagi siapa pun yang ingin rutin berlari. Ada tiga hal yang berulang kali ia sebut: konsistensi latihan, istirahat yang cukup, dan asupan makanan yang terjaga. Menurutnya, kombinasi ketiganya jauh lebih menentukan dibanding memaksakan latihan berat dalam waktu singkat. Dengan kata lain, kunci utamanya bukan seberapa keras, tapi seberapa teratur.
Poin pertama yang ia soroti adalah konsistensi. Fanny menyarankan agar latihan lari dilakukan sekitar dua sampai tiga kali dalam sepekan. Frekuensi itu dinilai cukup untuk membangun rutinitas tanpa membuat tubuh kelelahan berlebihan. Membiasakan diri berlari secara berkala, menurutnya, membuat kemampuan dan kebugaran tetap terjaga dari waktu ke waktu. Pendekatan bertahap semacam ini memang lebih ramah bagi tubuh dibanding latihan yang menggebu-gebu lalu berhenti.
Namun, Fanny mengingatkan bahwa berlari saja tidak cukup. Ia memasukkan latihan kekuatan, termasuk angkat beban, sebagai bagian dari rutinitas olahraganya. Tujuannya jelas: menjaga kondisi tubuh sekaligus mengurangi risiko cedera. Dengan otot yang lebih kuat, aktivitas berlari pun terasa lebih nyaman dan aman. Banyak pelari pemula mungkin melewatkan bagian ini, padahal latihan kekuatan berperan besar menopang performa di lintasan.
Tidur dan Makan Jadi Kunci
Menjelang hari perlombaan, perhatian Fanny beralih ke waktu tidur. Lomba lari umumnya dimulai pagi buta, sehingga peserta harus bangun jauh lebih awal. Fanny bahkan menyoroti tantangan tambahan yang kerap dialami peserta perempuan, yang kadang butuh waktu lebih panjang untuk bersiap. Mulai dari merias wajah hingga menata rambut, semuanya menyita waktu ekstra. Karena itu, tidur yang cukup menjadi bekal penting agar tubuh tetap prima saat kaki mulai melangkah.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5088568/original/045737100_1736490041-Snapinsta.app_467540279_430810416740698_9154599653062856553_n_1080.jpg)
Soal makanan, Fanny punya pandangan yang mungkin mengejutkan sebagian orang. Ia justru tidak menyarankan pelari mengurangi porsi makan menjelang lomba. Sebaliknya, ia menekankan pentingnya makan dalam jumlah cukup pada dua sampai tiga hari sebelum berlari. Menurutnya, asupan yang memadai membantu menjaga kondisi tubuh selama berlari. Ini mengingatkan bahwa bahan bakar tubuh tidak bisa diabaikan begitu saja, terutama saat hendak menempuh jarak yang menuntut energi.
Jika dirangkum, pendekatan Fanny pada dasarnya sederhana: latihan rutin, latihan kekuatan, istirahat cukup, dan makan yang cukup. Ia tidak melihat lari 5K sebagai ajang adu cepat yang menegangkan. Baginya, event semacam ini lebih tepat dinikmati sebagai aktivitas yang menyenangkan. Sikap itu seolah menjadi pengingat bahwa olahraga tidak harus selalu identik dengan penderitaan atau target ekstrem.
Konteks Tren Lari yang Semakin Ramai
Pandangan Fanny ini muncul di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap kegiatan lari. Berbagai event bertema fun run dan lari jarak pendek kini kerap digelar, menarik peserta dari kalangan pemula hingga yang sudah berpengalaman. Antusiasme yang tinggi ini membuat dunia lari di Indonesia terasa semakin hidup. Tak heran jika semakin banyak orang mencari cara memulai lari dengan nyaman, bukan dengan cara yang justru membuat mereka cepat menyerah. Di sinilah tips semacam yang dibagikan Fanny menjadi relevan.
Bagi banyak orang, jarak 5 kilometer sering dianggap sebagai titik awal yang ideal. Jarak ini terasa menantang tetapi masih terjangkau bagi pemula yang mau berlatih dengan sabar. Fanny sendiri menyebut 5 kilometer sebagai jarak yang biasa ia jalani dalam latihan. Artinya, baginya lomba tersebut hanyalah kelanjutan dari rutinitas yang sudah berjalan. Ini menunjukkan bahwa kesiapan datang dari kebiasaan sehari-hari, bukan dari persiapan dadakan menjelang hari-H.
Menariknya, latihan kekuatan lewat angkat beban yang disebut Fanny juga sejalan dengan banyak anjuran kebugaran. Latihan beban membantu memperkuat otot inti dan tungkai yang menopang tubuh saat berlari. Ketika otot lebih kuat, beban pada sendi dan jaringan ikat bisa berkurang, sehingga risiko cedera menurun. Fanny menegaskan bahwa hal ini penting agar aktivitas olahraga terasa lebih aman. Dengan begitu, pesan yang ia sampaikan bukan sekadar soal gaya hidup, melainkan juga soal pencegahan cedera.
Bukan Sekadar Soal Kecepatan
Ada satu pesan penting dari cara Fanny menjalani lomba: lari 5K tidak selalu tentang siapa yang paling cepat sampai garis finis. Menjaga pace santai dan detak jantung yang terkendali menunjukkan bahwa kenyamanan bisa jadi prioritas. Bagi sebagian orang, berlari bersama orang terdekat justru menjadi daya tarik tersendiri. Fanny menyebut ia menyesuaikan kecepatan dengan suami dan asistennya yang ikut berlari. Ini menegaskan bahwa pengalaman lari bisa menjadi momen kebersamaan, bukan hanya soal performa pribadi.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5088565/original/067374700_1736490035-Snapinsta.app_453471515_1182559622894655_6493659773610032063_n_1080.jpg)
Perhatian Fanny pada waktu tidur juga menyoroti satu hal yang sering luput dari perhatian pelari pemula. Selain soal fisik, kesiapan mental dan logistik menjelang lomba ternyata ikut berpengaruh. Mulai dari menyiapkan perlengkapan hingga mengatur waktu bangun, semua perlu diperhitungkan. Bagi peserta perempuan, tantangan itu bisa terasa lebih besar karena ada rutinitas persiapan tambahan. Karena itu, mengatur tidur lebih awal menjadi langkah praktis yang tidak boleh diabaikan begitu saja.
Di sisi lain, pesannya tentang makan justru melawan kebiasaan lama sebagian orang yang gemar mengurangi makan sebelum olahraga. Fanny menegaskan bahwa makanan tetap perlu dipersiapkan dengan baik beberapa hari sebelum berlari. Asupan yang cukup membantu menjaga energi dan kondisi tubuh saat melangkah di lintasan. Pendekatan ini menegaskan bahwa olahraga yang sehat dibangun dari keseimbangan, bukan dari pembatasan yang berlebihan.
Dukungan Komunitas yang Sedang Dibangun
Antusiasme peserta pada ajang lari ternyata disadari betul oleh pihak penyelenggara. Director & COO OT GROUP, Donny, menyebut bahwa pihaknya berencana membentuk sebuah komunitas lari bernama Crystalin Run. Komunitas ini ditujukan untuk pemula hingga pelari berpengalaman di Indonesia. Tujuannya, menjadi wadah yang memperluas kegiatan lari bersama. Rencana ini menunjukkan bahwa tren lari tidak berhenti pada satu event saja, tetapi berpotensi tumbuh menjadi gerakan yang lebih luas.
Kehadiran komunitas semacam ini bisa sangat membantu bagi mereka yang baru mulai berlari. Berlatih bersama biasanya lebih menumbuhkan semangat dibanding berlatih sendiri. Selain itu, pemula bisa belajar dari pengalaman pelari yang sudah lebih dulu menekuni aktivitas ini. Dengan dukungan lingkungan yang tepat, olahraga lari berpotensi menjadi kebiasaan yang bertahan lama. Donny menyebut antusiasme peserta tahun ini menjadi energi untuk terus mendukung perkembangan dunia lari.
Bagi pembaca yang tertarik memulai lari 5K, tips dari Fanny bisa menjadi pegangan awal yang masuk akal. Mulailah dengan frekuensi latihan yang teratur, tambahkan latihan kekuatan, jaga tidur, dan pastikan asupan makanan tetap cukup. Tidak perlu langsung menargetkan kecepatan tinggi atau catatan waktu ambisius. Yang terpenting adalah membangun kebiasaan secara bertahap agar tubuh bisa beradaptasi dengan nyaman. Dengan begitu, lari bukan lagi beban, melainkan aktivitas yang menyenangkan.
Ke depan, tampaknya semakin banyak orang akan menjadikan lari sebagai bagian dari gaya hidup sehat mereka. Event-event bertema fun run dan komunitas lari menjadi tanda bahwa aktivitas ini terus diminati. Pesan Fanny tentang persiapan yang tidak berlebihan menjadi pengingat bahwa olahraga seharusnya mendukung kesehatan, bukan menambah tekanan. Jika dijalani dengan bijak, lari 5K bisa dinikmati siapa saja, dari pemula hingga yang sudah terbiasa. Pada akhirnya, konsistensi dan keseimbangan tetap menjadi kunci, bukan sekadar kecepatan di garis finis.
Sumber: Liputan6 Kesehatan
Nah, biar kamu nggak ketinggalan cerita-cerita menarik soal gaya hidup sehat dan kabar terbaru lainnya, mampir terus ya ke kanal kami. Jangan lupa follow dan aktifkan notifikasinya supaya setiap update baru langsung sampai ke kamu. Sampai jumpa di artikel berikutnya!
๐ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini
๐ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini
โ๏ธ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.
Gabung Channel Telegram »๐ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog
Baca juga:
Kata kunci terkait: tips lari 5K, Fanny Ghassani, persiapan lari 5K, latihan lari pemula, fun run, latihan kekuatan lari, Crystalin Run, nutrisi sebelum lari
#LapakStore88
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9359580/original/055879500_1790564637-Gemini_Generated_Image_wj78pxwj78pxwj78.jpg)


