Bisnis 8 menit baca

Aplikator Diminta Kawal Perawatan Berkala Motor Mitra Ojol

Kemenhub Ingin Aplikator Ojol Ikut Awasi Perawatan Motor Mitra, Tak Cukup Andalkan Pengemudi

LokalStore88 Sabtu,10 Oktober 2026.

Bayangkan motor yang kamu tumpangi setiap hari sudah menempuh ratusan kilometer dalam sebulan, tapi belum tentu pernah masuk bengkel untuk perawatan rutin. Itulah kenyataan yang coba dibenahi Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi. Ia menegaskan bahwa kendaraan ojek online harus dijamin keamanannya, dan tanggung jawab itu tidak bisa hanya dibebankan ke pengemudi. Aplikator diminta turun tangan memantau perawatan berkala armada mitranya. Permintaan ini penting karena menyangkut keselamatan penumpang yang setiap hari mempercayakan nyawa mereka pada roda dua.

Keselamatan Jadi Alasan Utama

Menurut Dudy, menjaga keamanan kendaraan ojol adalah bagian dari upaya memastikan roda dua laik secara operasional. Apalagi jika ojol dipandang sebagai angkutan umum, maka standar minimal seperti helm dan perawatan berkala menjadi aspek keselamatan yang wajib dikawal. Ia menekankan bahwa kendaraan yang membawa penumpang selalu dipertanyakan kelayakannya. "Kita harus menjamin bahwa kendaraan yang digunakan itu layak," ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa keselamatan bukan sekadar formalitas, melainkan prasyarat utama.

๐Ÿ›’ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »

Pernyataan tersebut disampaikan Dudy di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, dan dikutip pada Sabtu (10/10/2026). Ia menyoroti bahwa selama ini pengawasan terhadap perawatan armada ojol belum diatur secara jelas. Padahal, sebagai moda transportasi yang mengangkut orang, ojol semestinya mengikuti standar yang setara dengan angkutan umum lain. Dalam pandangannya, ada rangkaian besar yang perlu dibenahi, mulai dari perawatan hingga pelatihan pengemudi. Semua itu demi menjamin keselamatan di jalan raya.

Skema Pengingat dan Laporan Perawatan

Salah satu ide yang muncul adalah skema laporan mitra pengemudi terhadap perawatan rutin kendaraan. Aplikator bahkan disebut bisa memberikan pengingat ketika sudah masuk waktu ideal untuk servis. Dudy menggambarkan bagaimana aplikator dapat memantau jumlah perjalanan yang dilakukan mitra. "Misalnya dalam satu hari, mungkin satu bulan, oh tiga bulan kamu diingetin," katanya. Aplikator bisa membuat alert agar pengemudi segera melakukan perawatan.

Setelah perawatan dilakukan, pengemudi diminta melampirkan bukti servis. Dengan begitu, ada jejak digital yang bisa diverifikasi oleh aplikator maupun regulator. Skema ini dinilai tidak sulit karena teknologi yang tersedia sudah memadai. Aplikator tinggal memanfaatkan data perjalanan yang mereka miliki untuk menentukan kapan sebuah kendaraan perlu masuk bengkel. Dudy menegaskan bahwa tujuan akhirnya tetap keselamatan operasional angkutan di jalan.

Kemenhub Ingin Aplikator Ojol Ikut Awasi Perawatan Motor Mitra, Tak Cukup Andalkan Pengemudi (2)
Foto: Liputan6 Bisnis

Konteks Regulasi yang Lebih Luas

Permintaan ini muncul di tengah rangkaian kebijakan baru yang mengatur ekosistem transportasi berbasis platform digital. Sebelumnya, biaya platform sebesar 8 persen untuk layanan ojol resmi masuk dalam Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026 tentang Perlindungan Ekosistem Transportasi Berbasis Platform Digital. Dudy menyebut ketentuan biaya platform itu juga telah dituangkan dalam Keputusan Menteri Perhubungan yang berlaku sejak 1 Juli 2026. Kebijakan ini menjadi salah satu yang paling ditunggu-tunggu oleh para pelaku industri.

Dalam konferensi pers di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (8/10/2026), Dudy menjelaskan bahwa pengaturan biaya platform 8 persen sudah tertuang dalam Kepmenhub dan Perpres. Selain biaya platform, Kementerian Perhubungan menjadi pihak yang mengatur tarif angkutan penumpang untuk ojol roda dua. Pengaturan tarif ini nantinya menjadi rujukan bagi kementerian lain, termasuk Kementerian Komunikasi dan Digital, dalam mengatur layanan pengangkutan barang dan makanan. Artinya, ada keterkaitan erat antara kebijakan tarif, biaya platform, dan standar keselamatan.

Jika dilihat dari rangkaian kebijakan tersebut, permintaan pengawasan perawatan motor bukanlah langkah yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari upaya besar untuk menata ulang ekosistem ojol agar lebih adil dan aman. Regulasi biaya platform dan tarif menjadi fondasi ekonomi, sementara pengawasan perawatan menyentuh aspek teknis keselamatan. Keduanya saling melengkapi. Tanpa kendaraan yang layak, tarif dan biaya platform sebagus apa pun tidak akan berarti banyak bagi penumpang.

Dampak bagi Pengemudi dan Penumpang

Bagi pengemudi ojol, aturan ini bisa berarti tambahan kewajiban, tetapi juga perlindungan. Dengan adanya pengingat dan laporan perawatan, pengemudi terdorong untuk lebih disiplin merawat kendaraan. Motor yang terawat tidak hanya lebih aman, tetapi juga lebih awet dan efisien. Dalam jangka panjang, biaya perbaikan besar bisa dihindari. Namun, tantangannya adalah memastikan skema ini tidak memberatkan mitra, terutama yang penghasilannya pas-pasan. Di sinilah peran aplikator untuk menyediakan mekanisme yang mudah dan tidak membebani.

Dari sisi penumpang, kehadiran kebijakan ini jelas kabar baik. Penumpang berhak mendapatkan kendaraan yang layak dan pengemudi yang kompeten. Ketika ojol diperlakukan sebagai angkutan umum, standar keselamatan menjadi hak, bukan sekadar bonus. Penumpang tidak perlu lagi ragu menaiki motor ojol yang tampak lusuh atau jarang diservis. Dengan adanya verifikasi perawatan, ada jaminan bahwa kendaraan yang beroperasi telah melalui pemeriksaan berkala. Ini meningkatkan rasa aman dan kepercayaan publik terhadap layanan ojol.

Kemenhub Ingin Aplikator Ojol Ikut Awasi Perawatan Motor Mitra, Tak Cukup Andalkan Pengemudi (3)
Foto: Liputan6 Bisnis

Dampak lainnya adalah terciptanya budaya keselamatan yang lebih baik di industri transportasi digital. Selama ini, persaingan antar aplikator sering kali berfokus pada harga dan kecepatan, bukan pada kualitas armada. Dengan regulasi yang menekankan perawatan, aplikator didorong untuk bersaing dalam hal standar keselamatan. Ini bisa menjadi pembeda yang positif bagi konsumen. Pada akhirnya, industri ojol yang lebih sehat akan menguntungkan semua pihak, termasuk pengemudi yang mendapatkan lingkungan kerja yang lebih profesional.

Tantangan Implementasi di Lapangan

Meski gagasan ini terdengar baik, implementasinya tidak tanpa hambatan. Salah satu tantangan terbesar adalah memastikan kepatuhan mitra pengemudi yang jumlahnya sangat besar dan tersebar di berbagai daerah. Tidak semua pengemudi memiliki kesadaran atau akses mudah ke bengkel resmi. Aplikator perlu merancang sistem yang sederhana, misalnya dengan mitra bengkel terdekat atau layanan servis keliling. Tanpa kemudahan akses, aturan ini bisa menjadi beban administratif yang justru memberatkan mitra.

Selain itu, verifikasi bukti perawatan juga menuntut kesiapan teknologi dan sumber daya manusia. Aplikator harus memastikan bahwa proses unggah bukti, validasi, dan pemantauan berjalan lancar. Jika tidak, bisa muncul celah manipulasi, seperti bukti servis palsu. Di sisi lain, regulator perlu mengawasi agar aplikator benar-benar menjalankan kewajiban ini, bukan sekadar formalitas. Kolaborasi antara Kemenhub, Komdigi, dan aplikator menjadi kunci agar kebijakan tidak berhenti di atas kertas.

Aspek lain yang tak kalah penting adalah sosialisasi dan edukasi kepada mitra. Banyak pengemudi mungkin belum memahami pentingnya perawatan berkala, atau merasa waktu dan biaya menjadi kendala. Program pelatihan yang disebut Dudy bisa menjadi sarana untuk meningkatkan kesadaran. Jika pengemudi memahami bahwa perawatan rutin melindungi mereka sendiri, bukan hanya penumpang, tingkat kepatuhan akan lebih tinggi. Pendekatan persuasif dan insentif bisa lebih efektif daripada sanksi semata.

Reaksi Berbagai Pihak

Secara umum, kalangan pengemudi ojol menyambut baik wacana ini asalkan tidak memberatkan. Mereka berharap aplikator turut membantu, misalnya dengan menyediakan bengkel rekanan atau potongan biaya servis. Sementara itu, aplikator diperkirakan akan menyesuaikan sistem mereka untuk mendukung pemantauan perawatan. Sebagian pihak mungkin mengkhawatirkan tambahan biaya operasional, tetapi jika dikelola dengan baik, ini bisa menjadi investasi jangka panjang. Regulator sendiri menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah keselamatan, bukan mencari-cari kesalahan.

Kemenhub Ingin Aplikator Ojol Ikut Awasi Perawatan Motor Mitra, Tak Cukup Andalkan Pengemudi (4)
Foto: Liputan6 Bisnis

Pengamat transportasi menilai langkah ini sebagai kemajuan, karena ojol selama ini berada di wilayah abu-abu antara transportasi informal dan formal. Dengan diperlakukan sebagai angkutan umum, ojol dituntut memenuhi standar yang lebih tinggi. Namun, mereka juga mengingatkan agar regulasi tidak tumpang tindih dan membingungkan. Harmonisasi antara Perpres, Kepmenhub, dan aturan turunan lainnya perlu dipastikan. Jika tidak, pengemudi dan aplikator bisa kesulitan menafsirkan kewajiban mereka.

Dari sisi konsumen, responsnya cenderung positif. Penumpang menginginkan kendaraan yang aman dan nyaman, terutama untuk perjalanan yang cukup jauh. Mereka berharap kebijakan ini benar-benar dijalankan, bukan hanya menjadi pengumuman tanpa tindak lanjut. Kepercayaan publik terhadap ojol akan meningkat jika bukti perawatan bisa diakses atau diverifikasi. Transparansi menjadi kunci untuk membangun keyakinan bahwa standar keselamatan benar-benar diterapkan.

Melihat ke Depan

Ke depan, pengawasan perawatan armada ojol berpotensi menjadi standar baru di industri transportasi digital. Jika berhasil, model ini bisa diadopsi untuk layanan lain, seperti pengiriman barang dan makanan. Kemenhub sudah menyinggung bahwa tarif ojol akan menjadi rujukan bagi pengaturan layanan tersebut. Artinya, ekosistem transportasi digital secara keseluruhan akan semakin tertata. Perawatan kendaraan hanyalah salah satu bagian dari mozaik besar tersebut.

Yang perlu diingat, kebijakan sebagus apa pun bergantung pada pelaksanaannya. Diperlukan pengawasan berkelanjutan, evaluasi berkala, dan komunikasi yang intensif antara semua pihak. Pengemudi, aplikator, regulator, dan konsumen memiliki peran masing-masing. Jika semua bersinergi, ojol bukan lagi sekadar layanan cepat dan murah, tetapi juga aman dan profesional. Keselamatan penumpang tidak boleh menjadi kompromi.

Pada akhirnya, permintaan Menhub Dudy Purwagandhi agar aplikator mengawal perawatan berkala motor mitra adalah pengingat bahwa transportasi publik apa pun, termasuk ojol, menuntut tanggung jawab bersama. Motor yang terawat bukan hanya soal estetika, tetapi soal nyawa. Dengan skema pengingat, laporan bukti perawatan, dan dukungan aplikator, diharapkan angka kecelakaan akibat kelalaian teknis bisa ditekan. Semua pihak tinggal menunggu bagaimana aturan ini dioperasionalkan. Yang jelas, arahnya sudah benar: keselamatan dulu, baru yang lain.

Sumber: Liputan6 Bisnis

Nah, itu tadi cerita soal perawatan motor ojol yang bakal makin diawasi. Kalau kamu nggak mau ketinggalan update kebijakan transportasi dan berita penting lainnya, terus pantau aja LapakStore88. Jangan sampai kudet, ya!

๐Ÿ“˜ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini

๐Ÿ’ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini

โœˆ๏ธ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.

Gabung Channel Telegram »

๐Ÿ“ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog

Kata kunci terkait: ojol, perawatan motor ojol, aplikator ojol, Menhub Dudy Purwagandhi, Kemenhub, tarif ojol, biaya platform 8 persen, transportasi online

#LapakStore88

Sumber asli: Liputan6 Bisnis