Hiburan 5 menit baca

Yasamin Jasem Jadi Arwah Cerewet di Ghosthing, Ini Kata Sang Produser

Di Balik Ghosthing: Produser Sebut Yasamin Jasem Berubah Total Jadi Arwah Cerewet

LokalStore88 Minggu,11 Oktober 2026.

Di layar lebar, Yasamin Jasem berubah menjadi sosok yang tak pernah kehabisan bicara. Padahal di luar syuting, ia lebih sering dikenal sebagai pribadi pendiam yang jarang bersuara. Kontras itulah yang membuat Peter Surya Wijaya, eksekutif produser Ghosthing, memberi perhatian khusus pada penampilan sang aktris. Lewat Imperial Pictures, ia menyebut kemampuan Yasamin keluar dari zona nyaman sebagai salah satu hal paling memuaskan dari proyek ini. Bagi penonton yang ingin melihat sisi lain sang aktris, transformasi tersebut jadi alasan tersendiri untuk menyimak filmnya.

Ghosthing sendiri bukan film horor biasa. Ceritanya mempertemukan Alfian, seorang perias jenazah yang diperankan Baskara Mahendra, dengan Maya, arwah seorang influencer yang diperankan Yasamin Jasem. Kematian Maya disebut menyimpan misteri yang belum terpecahkan, dan dari situ konflik cerita dibangun. Genre yang dipilih pun bukan horor murni, melainkan horor komedi, sebuah perpaduan yang menuntut keseimbangan antara ketegangan dan kelucuan. Kombinasi inilah yang kemudian menarik perhatian tim produksi untuk mengembangkannya lebih jauh.

๐Ÿ›’ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »

Perbincangan soal film ini mengemuka dalam rangkaian gala premiere di Senayan City XXI, Jakarta Selatan, pada Jumat (9/10/2026). Acara tersebut jadi momen pertama bagi para pemain dan tim produksi mempertemukan hasil kerja mereka dengan penonton. Di sana Peter menyampaikan sejumlah alasan di balik keterlibatannya, termasuk soal mengapa ia merasa cerita ini layak digarap serius. Ia tidak sekadar berbicara soal target pasar, tetapi juga soal pengalaman menonton yang ingin ditawarkan kepada publik.

Alasan Produser Jatuh Hati pada Ceritanya

Ketertarikan Peter bermula dari sesuatu yang sederhana, yakni keunikan cerita. Menurutnya, Ghosthing punya daya tarik yang jarang ditemui, terutama pada sosok arwah yang menjadi pusat cerita. Perpaduan horor dan komedi dinilainya mampu menghadirkan pengalaman menonton yang berbeda dari kebanyakan film sejenis. Ia melihat potensi itu tidak hanya sebagai bahan tertawaan, tetapi juga sebagai cara membangun ketegangan yang tetap ringan dinikmati. Dari situ ia memutuskan ikut mengembangkan proyek ini bersama tim kreatif dan produser lain.

Di Balik Ghosthing: Produser Sebut Yasamin Jasem Berubah Total Jadi Arwah Cerewet (2)
Foto: Liputan6 Showbiz

Yang paling menarik perhatiannya adalah karakter arwahnya. Dalam pandangannya, sosok Maya sanggup membawa unsur lucu tanpa kehilangan nuansa horornya. Karena itu ia menyebut film ini sebagai materi yang sangat menarik untuk dikembangkan lebih lanjut. Keputusan untuk bergabung pun bukan sekadar soal bisnis, melainkan soal keyakinan pada potensi ceritanya. Bersama tim kreatif, ia kemudian mengolah premis tersebut agar bisa berjalan seimbang antara menakutkan dan menghibur.

Tak Cuma Mendanai, Ikut Mengawal Cerita

Peran Peter di balik layar ternyata cukup luas. Ia tidak hanya mendukung pendanaan produksi, tetapi juga terlibat dalam pengembangan cerita. Proses pemilihan pemain hingga penentuan sutradara juga masuk dalam wilayah yang ia ikuti. Bagi seorang eksekutif produser, keterlibatan sedetail itu memang bukan hal wajib, namun ia memilih untuk berada di dalamnya. Alasannya sederhana: ia ingin memastikan premis menarik tidak berhenti sebagai ide, melainkan benar-benar matang saat sampai ke layar.

Pengalaman Peter selama ini lebih banyak berkutat di film drama dan horor. Ghosthing menjadi kesempatan baginya untuk belajar lebih jauh soal komedi. Ia ingin penonton tidak hanya tegang, tetapi juga tertawa dan menikmati cerita dengan lebih santai. Keinginan itu membuatnya memberi perhatian ekstra pada ritme cerita dan cara penyampaian lelucon. Menurutnya, komedi bukan pelengkap, melainkan bagian dari pengalaman menonton yang harus dijaga kualitasnya.

Pujian untuk Yasamin Jasem

Kepuasan terbesar Peter justru datang dari para pemain. Ia mengaku sudah menonton Ghosthing berkali-kali, mulai dari tahap pengembangan hingga hasil akhirnya. Dari sekian banyak elemen, penampilan Yasamin Jasem disebutnya paling menonjol. Menurutnya, aktris tersebut berhasil menghadirkan Maya dengan pembawaan yang jauh berbeda dari kesehariannya. Pujian itu bukan tanpa dasar, karena ia menyaksikan langsung proses perubahan karakter tersebut dari dekat. Bagi tim produksi, itu jadi bukti bahwa pemilihan pemain berjalan tepat.

Di luar kamera, Yasamin dikenal sebagai orang yang lebih pendiam dan tidak banyak bicara. Namun di dalam film, sifat cerewet Maya justru muncul begitu kuat. Peter mengingat sejumlah adegan ketika sang arwah berbicara panjang lebar dengan cara yang mengundang tawa. Perubahan drastis itu dinilainya sebagai bentuk keberanian berakting. Kontras antara keseharian Yasamin dan karakter Maya inilah yang membuat penampilannya terasa hidup di layar.

Di Balik Ghosthing: Produser Sebut Yasamin Jasem Berubah Total Jadi Arwah Cerewet (3)
Foto: Liputan6 Showbiz

Salah satu adegan yang paling membekas adalah ketika arwah Maya masuk ke dalam tubuh Alfian, karakter yang diperankan Baskara Mahendra. Momen itu disebut Peter sebagai salah satu bagian paling lucu dalam film. Perpindahan sosok antara dua karakter menuntut permainan ekspresi dan gestur yang tepat agar tidak terasa berlebihan. Di titik ini, kemampuan Yasamin mengolah dialog cerewet benar-benar diuji. Hasilnya, menurut Peter, cukup menghibur dan berhasil memancing tawa penonton.

Harapan agar Film Indonesia Mendunia

Ke depan, Peter berharap Ghosthing bisa membuka jalan bagi film Indonesia menjangkau penonton internasional. Harapan itu bukan sekadar angan-angan, melainkan dorongan agar industri terus berani tampil dengan identitas sendiri. Menurutnya, cerita yang kuat punya peluang lebih besar untuk diterima di pasar yang lebih luas. Ia juga menyadari perjalanan ke sana tidak instan dan butuh kesiapan dari banyak pihak. Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun fondasi produksi yang rapi sejak awal.

Bagi Peter, ada tiga hal yang harus dijaga agar sebuah premis menarik bisa berkembang matang: kekuatan cerita, sasaran penonton, dan kesiapan tim produksi. Ketiganya harus berjalan seimbang, bukan saling menegasikan. Cerita yang bagus bisa kehilangan daya jika tidak jelas siapa yang ingin disasar. Sebaliknya, target penonton yang besar tidak akan berarti tanpa eksekusi yang siap. Prinsip inilah yang ia bawa dalam setiap proyek yang digarapnya, termasuk Ghosthing.

Setelah Ghosthing, Imperial Pictures masih menyiapkan sejumlah proyek baru. Genre yang digarap beragam, mulai dari drama, horor, hingga komedi. Peter belum mengungkapkan judul-judulnya, tetapi ia berharap karya tersebut bisa tampil lebih kreatif pada tahun depan. Bagi penonton, sinyal ini menandakan pilihan tontonan yang makin beragam dari rumah produksi tersebut. Bagi industri, langkah itu jadi pengingat bahwa keberanian mencoba genre baru adalah bagian dari upaya menjaga denyut perfilman nasional.

Sumber: Liputan6 Showbiz

Kalau kamu memang suka mengikuti kabar seputar film dan dunia hiburan Tanah Air, jangan berhenti di artikel ini saja. Terus pantau kanal resmi LapakStore88 supaya kamu tidak ketinggalan update berikutnya, mulai dari cerita di balik layar sampai rilisan yang sedang jadi sorotan. Sampai jumpa di kabar terbaru berikutnya, ya!

๐Ÿ“˜ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini

๐Ÿ’ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini

โœˆ๏ธ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.

Gabung Channel Telegram »

๐Ÿ“ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog

Kata kunci terkait: film Ghosthing, Yasamin Jasem, Baskara Mahendra, film horor komedi Indonesia, Peter Surya Wijaya, Imperial Pictures, film Indonesia terbaru, gala premiere Ghosthing

#LapakStore88

Sumber asli: Liputan6 Showbiz