:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3499950/original/004590200_1625285832-tobias-tullius-JdJrqv7BzhM-unsplash_Fotor.jpg)
LokalStore88 Minggu,11 Oktober 2026.
Pernahkah kamu mendengar sebuah lagu, lalu tiba-tiba merasa seolah liriknya ditulis khusus tentang hidupmu? Perasaan campur aduk antara haru, lega, dan sedikit kaget itu ternyata bukan kebetulan semata. Setiap 10 Oktober, dunia memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia, dan tahun ini momen tersebut menjadi pengingat bahwa hal-hal sederhana di sekitar kita—termasuk musik—bisa punya peran besar dalam menjaga kesehatan jiwa. Bagi siapa pun yang pernah merasa sulit menjelaskan apa yang sedang dirasakan, fenomena ini penting untuk dipahami lebih dalam.
Musik memang sering dianggap sekadar hiburan pengisi waktu luang. Padahal, di balik alunan nada dan rangkaian liriknya, ada proses psikologis yang cukup rumit dan menarik. Banyak orang yang kesulitan mengenali atau menamai emosi yang sedang berkecamuk dalam diri mereka. Dalam kondisi seperti itu, sebuah lagu bisa hadir bak cermin yang memantulkan perasaan yang sebelumnya samar-samar. Itulah mengapa diskusi soal musik dan kesehatan mental selalu relevan, bukan cuma saat peringatan tahunan saja.
🛒 LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »
Ketika Kata-Kata Tak Cukup, Nada Bicara
Tidak semua orang punya kemampuan alami untuk mengurai emosinya sendiri. Ada yang merasa bingung, ada pula yang malah tidak menyadari sedang tertekan. Psikolog Klinis Dewasa Larasati Margaretha Soetrisno menjelaskan bahwa dalam situasi semacam ini, lagu bisa menjadi jembatan yang membantu seseorang menemukan bentuk dari perasaannya. Lirik, nada, hingga instrumen yang terdengar akrab mampu merepresentasikan apa yang sulit diterjemahkan ke dalam kata-kata. Ketika menemukan lagu yang pas dengan suasana hati, seseorang bisa lebih mudah memahami apa yang sebenarnya sedang ia rasakan.
Proses mengenali emosi ini bukan hal sepele. Tanpa kesadaran akan perasaan sendiri, seseorang cenderung kesulitan mengambil langkah berikutnya, termasuk mencari bantuan. Musik, dalam hal ini, berfungsi sebagai pintu masuk yang lembut. Ia tidak memaksa, tidak menghakimi, hanya menemani. Dari titik itu, seseorang mulai bisa memberi nama pada apa yang dirasakannya, entah itu sedih, marah, kecewa, atau rindu yang terpendam lama.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3499950/original/004590200_1625285832-tobias-tullius-JdJrqv7BzhM-unsplash_Fotor.jpg)
Bukan Hanya Mendengar, Tapi Juga Berkarya
Setelah emosi berhasil dikenali, tahap selanjutnya adalah mengekspresikannya. Di sinilah musik menawarkan beragam jalur yang bisa dipilih sesuai kenyamanan masing-masing orang. Mendengarkan lagu bisa membuat seseorang merasa terwakili, seolah ada pihak lain yang memahami tanpa perlu penjelasan panjang. Sementara itu, kegiatan bernyanyi, memainkan alat musik, atau menulis lagu menjadi sarana aktif untuk menuangkan perasaan sekaligus melepaskan tekanan yang menumpuk.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Psychology of Music pada 2024 turut mengulas dampak aktivitas bermusik terhadap kemampuan seseorang mengelola emosi. Temuan ini memperkuat gagasan bahwa musik bukan sekadar pengalih perhatian, melainkan alat yang bisa membantu proses regulasi emosi. Meski demikian, perlu dicatat bahwa manfaat yang dirasakan setiap orang bisa berbeda-beda. Tidak ada resep tunggal yang berlaku untuk semua, karena pengalaman emosional tiap individu sangat unik.
Yang menarik, keterlibatan aktif dalam musik—bukan cuma mendengarkan—sering memberi efek yang lebih terasa. Menyanyi misalnya, melibatkan pernapasan, suara, dan tubuh secara bersamaan, sehingga bisa menjadi pelepasan stres yang cukup efektif. Begitu pula menulis lagu, yang memungkinkan seseorang mengolah pengalaman pahit menjadi sesuatu yang bermakna. Bagi sebagian orang, proses kreatif ini bahkan terasa seperti terapi yang tidak memerlukan ruang praktik khusus.
Musik sebagai Teman di Saat Sepi
Ada kalanya seseorang merasa tidak punya tempat untuk bercerita. Lingkungan sekitar mungkin tidak memahami, atau justru menghakimi. Dalam kondisi seperti itu, musik bisa menjadi alternatif yang membuat seseorang merasa tidak sendirian. Larasati menegaskan bahwa peran ini bukan berarti musik menggantikan hubungan sosial dengan orang lain. Namun, ketika tidak ada yang bisa mendengarkan, lagu bisa menjadi teman yang setia menemani perasaan sulit.
Perasaan terhubung dengan sebuah lagu sering digambarkan sebagai koneksi emosional. Momen ketika lirik terasa mewakili pengalaman pribadi bisa memicu rasa lega yang mendalam. Seolah ada seseorang di luar sana yang pernah merasakan hal serupa, dan itu cukup untuk membuat beban terasa sedikit lebih ringan. Bagi banyak orang, pengalaman ini menjadi salah satu bentuk validasi emosi yang jarang mereka dapatkan dalam kehidupan sehari-hari.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2887563/original/071119000_1566309942-bruno-gomiero-jp7J14W9sSg-unsplash.jpg)
Selain sebagai teman, musik juga kerap masuk ke dalam kategori coping strategy, yaitu cara seseorang menghadapi tekanan atau situasi berat. Mendengarkan lagu yang menenangkan bisa membantu seseorang merasa lebih nyaman untuk sementara waktu. Strategi ini wajar dan manusiawi, karena setiap orang punya caranya sendiri untuk bertahan. Namun, penting untuk memahami batasannya agar tidak keliru menempatkan musik sebagai solusi tunggal.
Batas Antara Bertahan dan Butuh Bantuan
Larasati mengingatkan bahwa musik memang bisa menjadi bagian dari coping, tetapi sifatnya sementara. Ia mampu membantu seseorang bertahan pada momen sulit, namun tidak selalu menyelesaikan akar masalah yang mendasarinya. Tekanan emosional yang terus berlanjut tetap membutuhkan penanganan yang lebih serius. Karena itu, mengenali kapan musik tidak lagi cukup menjadi keterampilan penting yang perlu dimiliki setiap orang.
Ada sejumlah tanda yang bisa menjadi penanda bahwa seseorang perlu mempertimbangkan bantuan profesional. Misalnya ketika tekanan emosional terasa berat atau berkepanjangan, aktivitas sehari-hari mulai terganggu, atau muncul pikiran dan perilaku yang berisiko membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Pada titik ini, berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental menjadi langkah yang bijak untuk memahami kondisi dan memperoleh dukungan yang sesuai.
Sayangnya, masih banyak orang yang menunda mencari pertolongan karena rasa malu, takut, atau ragu. Perasaan-perasaan itu sebenarnya wajar dan dialami banyak orang. Namun, Larasati menekankan agar hal tersebut tidak sampai menghalangi seseorang mendapatkan bantuan yang memang dibutuhkan. Mengakui bahwa diri sendiri memerlukan dukungan adalah bagian dari upaya menjaga diri, bukan tanda kelemahan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3560971/original/060392800_1630719685-claude-gabriel-yvEVMyTzMO4-unsplash_1_.jpg)
Ketika Pengalaman Pribadi Jadi Karya
Hubungan antara musik dan pengalaman emosional bisa dilihat dari karya sejumlah musisi yang terbuka soal pergulatan batinnya. YE, yang sebelumnya dikenal sebagai Kanye West, misalnya, mengeksplorasi kerentanan dan pergulatan emosional dalam lagu-lagunya. Dalam Ghost Town dari album ye (2018), ia mengangkat pergulatan emosi dan keinginan menemukan kebebasan. Sementara Reborn, kolaborasinya dengan Kid Cudi dalam album KIDS SEE GHOSTS (2018), bercerita tentang menghadapi masa sulit dan menemukan kembali harapan.
Kedua lagu tersebut menunjukkan bagaimana musik dapat menjadi medium untuk mengungkapkan pengalaman emosional yang kompleks. Bagi pendengar, lagu semacam ini bisa menjadi ruang refleksi, tempat mereka memproses perasaan sendiri tanpa tekanan. Pengalaman mendengarkan karya yang jujur dan personal sering kali memberi efek berbeda dibanding lagu-lagu bertema ringan. Ia menyentuh lapisan emosi yang lebih dalam dan mengajak pendengar berdamai dengan kisahnya sendiri.
Pengalaman semacam itu juga bisa dirasakan secara langsung dalam pertunjukan musik. "YE Live in Jakarta" yang dijadwalkan digelar di Gelora Bung Karno pada 24 Oktober 2026 menghadirkan Globe Stage dengan panggung 360 derajat. Didukung tata cahaya, audio, dan efek piroteknik, konser ini dirancang menyatukan musik dan visual dalam pengalaman pertunjukan yang imersif. Bagi banyak penonton, konser bukan sekadar tontonan, melainkan ruang kolektif untuk merayakan dan merenungkan emosi bersama-sama.
Pada akhirnya, Hari Kesehatan Mental Sedunia menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan jiwa tidak selalu memerlukan langkah besar. Mendengarkan lagu favorit, menulis lirik sederhana, atau bernyanyi sepenuh hati bisa menjadi awal yang baik untuk lebih memahami diri sendiri. Tema yang diangkat WHO tahun ini, "Lived experiences heard: real voices, real change", menegaskan pentingnya mendengarkan pengalaman nyata mereka yang hidup dengan kondisi kesehatan mental. Aktivitas seni, termasuk musik, disebut dapat membantu seseorang memahami dan mengomunikasikan emosi serta mendukung kesejahteraan secara keseluruhan. Namun, musik tetap bukan pengganti bantuan profesional. Ia adalah teman perjalanan, bukan tujuan akhir—dan mengenali kapan perlu bantuan tambahan adalah bentuk kasih sayang pada diri sendiri.
Sumber: Liputan6 Kesehatan
Jangan lewatkan berita-berita menarik dan bermanfaat lainnya seputar kesehatan, gaya hidup, dan isu terkini. Yuk, terus pantau kanal resmi LapakStore88 biar kamu selalu jadi yang pertama tahu setiap update terbaru. Ada banyak informasi segar yang sayang banget kalau dilewatkan!
📘 Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini
💬 Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini
✈️ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.
Gabung Channel Telegram »📰 Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog
Baca juga:
Kata kunci terkait: Hari Kesehatan Mental Sedunia, musik dan kesehatan mental, psikolog kesehatan mental, regulasi emosi musik, coping strategy stres, WHO kesehatan mental, konsultasi psikolog, terapi musik
#LapakStore88



