
LokalStore88 Minggu,11 Oktober 2026.
Angka Rp 25.000 per lembar kain itu nyaris tidak masuk akal untuk sebuah karya yang lahir dari ketekunan tangan manusia. Itulah yang dulu diterima sebagian penenun di Desa Sukarara, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Kini, setelah modal kain diperhitungkan, penghasilan mereka bisa menembus minimal Rp 750.000 per lembar. Lonjakan ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan perubahan hidup bagi perempuan-perempuan yang selama ini menggantungkan nafkah dari helai benang dan alat tenun tradisional. Bagi pembaca, kisah ini menunjukkan bagaimana intervensi tepat sasaran bisa mengangkat derajat ekonomi sekaligus melestarikan budaya.
Desa Sukarara memang dikenal sebagai sentra tenun di Lombok. Hampir setiap rumah di sana memiliki alat tenun dan keterampilan menenun yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, keterampilan itu tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan. Banyak penenun terjebak dalam rantai pasok yang tidak menguntungkan, di mana mereka hanya mendapat upah kecil setelah kain selesai, dan sering kali harus menunggu pembayaran hingga produk terjual ke konsumen akhir. Kondisi ini menciptakan siklus kemiskinan yang sulit diputus.
๐ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »
Persoalan utama yang dihadapi para penenun adalah akses modal dan pemasaran. Untuk memulai satu lembar kain, mereka memerlukan bahan baku seperti benang dan pewarna. Karena tidak punya uang tunai, banyak yang bergantung pada pengepul yang mau memberikan bahan baku dengan sistem utang, lalu membeli hasil kain dengan harga rendah. Akibatnya, posisi tawar penenun lemah. Mereka tidak bisa menentukan harga, dan pembayaran pun kerap tertunda karena menunggu kain laku di pasaran. Ketidakpastian ini membuat mereka sulit merencanakan produksi berikutnya, apalagi menabung.
Galeri Mina Tenun dan Terobosan Pembayaran
Kehadiran Galeri Mina Tenun yang digagas PT Pertamina Patra Niaga melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Bandara Internasional Lombok (BIL) membawa angin segar. Program ini tidak hanya membantu dari sisi bahan baku dan pengembangan motif, tetapi juga menyediakan alat tenun gedogan serta akses pemasaran. Yang paling revolusioner adalah skema pembayaran: penenun kini menerima upah setelah kain selesai diproduksi, tanpa harus menunggu produk terjual kepada konsumen akhir. Ini memutus ketergantungan pada pengepul dan memberikan kepastian penghasilan.
Dengan sistem baru ini, seorang penenun bisa langsung mengantongi uang tunai begitu kain selesai ditenun. Uang itu bisa dipakai untuk membeli bahan baku berikutnya, memenuhi kebutuhan rumah tangga, atau bahkan menabung. Dampaknya terasa pada peningkatan pendapatan yang signifikan, dari yang sebelumnya hanya sekitar Rp 25.000 per lembar menjadi minimal Rp 750.000 per lembar. Angka ini sudah memperhitungkan modal kain, sehingga laba bersih yang diterima penenun jauh lebih besar dari sebelumnya.
Selain aspek ekonomi, program ini juga menyentuh kebutuhan dasar masyarakat yang sering terabaikan: air bersih. Desa Sukarara, seperti banyak wilayah di NTB, kerap dilanda kekeringan. Saat musim kemarau datang, sebagian rumah tangga harus mencari sumber air alternatif atau membeli air untuk kebutuhan sehari-hari. Kondisi ini menambah beban pengeluaran keluarga dan mengurangi waktu produktif, terutama bagi perempuan yang biasanya bertanggung jawab mengurus rumah tangga.
Pertamina Patra Niaga menjawab tantangan itu dengan pendekatan yang tidak biasa. Mereka mengembangkan alat tenun bukan mesin (ATBM) yang dimodifikasi. Ketika digunakan, gerakan mekanis dari menenun menghasilkan energi listrik. Energi ini kemudian dimanfaatkan untuk mengoperasikan pompa air dan sistem filtrasi. Jadi, aktivitas menenun tidak hanya menghasilkan kain, tetapi juga membantu menghadirkan air bersih bagi warga. Inovasi ini didukung oleh pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang terpasang di area program.
Sinergi Budaya, Energi, dan Kemandirian Ekonomi
VP Community Involvement Development Pertamina Patra Niaga, Dian Hapsari Firasati, menjelaskan bahwa program ini bertujuan membuka akses ekonomi yang lebih baik bagi perempuan penenun sekaligus mengembangkan potensi lokal. Menurutnya, inovasi yang dihadirkan mengintegrasikan budaya dan energi terbarukan. "Kami ingin perempuan penenun memiliki peluang untuk meningkatkan penghasilan dan membangun kemandirian ekonomi, sementara masyarakat juga dapat merasakan manfaat program dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui dukungan akses air bersih," ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa pendekatan yang dipakai tidak parsial, melainkan menyentuh berbagai dimensi kehidupan warga.
Dian juga menambahkan bahwa inovasi sosial bukan hanya tentang menghadirkan teknologi baru, tetapi memastikan teknologi tersebut menjawab kebutuhan masyarakat. Melalui Mina Tenun, aktivitas menenun yang menjadi bagian dari budaya lokal dikembangkan untuk mendukung penghidupan perempuan sekaligus menghadirkan solusi bagi kebutuhan air bersih. Harapannya, program ini dapat memberikan manfaat berkelanjutan, baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan. Pernyataan ini mencerminkan filosofi pemberdayaan yang berbasis pada kebutuhan nyata, bukan sekadar proyek simbolis.

Bagi para penenun, perubahan ini terasa sangat nyata. Mereka tidak lagi harus berutang untuk membeli benang, dan tidak perlu menunggu berbulan-bulan untuk mendapatkan uang. Dengan penghasilan yang lebih pasti, mereka bisa mengatur keuangan keluarga dengan lebih baik. Beberapa di antaranya bahkan mulai berani bermimpi untuk menyekolahkan anak ke jenjang yang lebih tinggi atau memperbaiki rumah. Meski tidak ada angka pasti, indikasi peningkatan kesejahteraan ini menjadi bukti bahwa akses pasar dan pembayaran yang adil adalah kunci.
Dari kacamata industri, program seperti Mina Tenun menunjukkan bahwa sektor energi dan pertambangan bisa berperan besar dalam pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya. Selama ini, tenun sering dianggap sebagai produk kerajinan yang kurang menguntungkan secara bisnis. Namun, dengan manajemen yang tepat, mulai dari pengadaan bahan baku, pengembangan desain, hingga pemasaran, tenun bisa menjadi komoditas bernilai tinggi. Hal ini membuka peluang bagi daerah lain untuk meniru model serupa, tentu dengan penyesuaian potensi lokal masing-masing.
Selain itu, inovasi ATBM yang menghasilkan listrik merupakan contoh nyata bagaimana kearifan lokal bisa bertemu dengan teknologi tepat guna. Alat tenun tradisional yang biasanya hanya berfungsi sebagai alat produksi kini memiliki fungsi ganda sebagai pembangkit energi skala kecil. Gagasan ini tidak hanya kreatif, tetapi juga relevan dengan kebutuhan masyarakat yang tinggal di daerah rawan kekeringan. Pendekatan semacam ini bisa menjadi model bagi desa-desa lain yang menghadapi masalah serupa, terutama di wilayah timur Indonesia.
Dukungan terhadap akses air bersih sendiri bukan hal sepele. Ketersediaan air bersih berdampak langsung pada kesehatan, sanitasi, dan kualitas hidup. Ketika perempuan tidak perlu lagi berjalan jauh untuk mencari air, mereka punya lebih banyak waktu untuk menenun, mengurus keluarga, atau beristirahat. Efek berganda ini penting untuk dicatat: intervensi di satu sektor, yaitu energi, bisa memicu perbaikan di sektor lain, seperti kesehatan dan ekonomi. Inilah yang disebut sebagai pembangunan berkelanjutan yang sesungguhnya.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Keberlanjutan program setelah pendampingan berakhir menjadi pertanyaan penting. Apakah penenun akan tetap bisa mengakses pasar dan bahan baku secara mandiri? Apakah galeri akan terus beroperasi tanpa intervensi pihak ketiga? Untuk menjawabnya, perlu ada penguatan kelembagaan di tingkat desa, misalnya koperasi atau kelompok usaha bersama yang dikelola oleh para penenun sendiri. Dengan begitu, mereka tidak sepenuhnya bergantung pada program eksternal.
Selain itu, regenerasi penenun menjadi isu krusial. Banyak anak muda di Desa Sukarara yang mungkin enggan menekuni profesi menenun karena dianggap kuno atau tidak menjanjikan. Padahal, dengan pendapatan yang kini bisa mencapai Rp 750.000 per kain, prospeknya jauh lebih menarik. Perlu ada upaya untuk memperkenalkan tenun sebagai bisnis kreatif yang menjanjikan, misalnya melalui pelatihan desain modern, pemasaran digital, atau kolaborasi dengan perancang busana. Jika tidak, keterampilan menenun bisa punah seiring bertambahnya usia para penenun saat ini.
Dari sisi pemasaran, Galeri Mina Tenun telah membantu menjangkau pembeli yang lebih luas. Namun, untuk benar-benar mandiri, penenun perlu dibekali kemampuan memasarkan produk secara langsung, termasuk melalui platform digital. Pelatihan fotografi produk, penulisan deskripsi, dan pengelolaan toko online bisa menjadi langkah lanjutan yang bermanfaat. Dengan demikian, mereka tidak hanya bergantung pada galeri, tetapi juga bisa menjual sendiri dengan harga yang lebih baik.
Pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lain juga diharapkan bisa mengambil peran. Misalnya, dengan memasukkan tenun Sukarara sebagai warisan budaya tak benda yang dilindungi, atau memberikan insentif bagi pelaku usaha yang mau bermitra dengan penenun lokal. Kolaborasi lintas sektor ini akan memperkuat fondasi ekonomi kerakyatan yang berbasis pada kearifan lokal. Program Mina Tenun bisa menjadi pemicu, tetapi keberlanjutannya membutuhkan dukungan semua pihak.
Bagi pembaca, kisah ini memberikan pelajaran berharga bahwa pemberdayaan yang berhasil selalu berpijak pada pemahaman mendalam tentang kebutuhan masyarakat. Tidak cukup hanya memberikan modal atau pelatihan, tetapi juga memastikan ada akses pasar, kepastian pembayaran, dan solusi untuk masalah mendasar seperti air bersih. Pendekatan holistik inilah yang membedakan program Mina Tenun dari sekadar proyek bantuan sosial biasa. Semoga semakin banyak inisiatif serupa yang lahir di berbagai daerah, membawa perubahan nyata bagi kehidupan perempuan dan masyarakat luas.
Sumber: Detik Finance
Kalau kamu suka cerita-cerita inspiratif seperti ini, jangan lewatkan update berita terkini lainnya. Yuk, ikuti terus kanal resmi LapakStore88 biar kamu selalu jadi yang pertama tahu perkembangan program pemberdayaan dan isu ekonomi terbaru. Jangan sampai ketinggalan, ya!
๐ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini
๐ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini
โ๏ธ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.
Gabung Channel Telegram »๐ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog
Baca juga:
Kata kunci terkait: tenun Lombok, Galeri Mina Tenun, Pertamina Patra Niaga, penenun Sukarara, pemberdayaan perempuan, TJSL Pertamina, kain tenun NTB, akses air bersih
#LapakStore88



