LokalStore88 Senin,12 Oktober 2026.
Menjajakan penganan tradisional di halaman sekolah dasar mungkin tampak seperti aktivitas harian yang lumrah bagi anak-anak dari kalangan sederhana di masa lalu. Namun, bagi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, ingatan tentang kudapan manis tersebut menyimpan lembaran sejarah hidup yang sangat emosional. Rutinitas pagi hari yang dijalaninya bertahun-tahun silam menjadi fondasi mental baja yang membawanya menembus berbagai keterbatasan ekonomi. Kenangan itu begitu melekat kuat dalam ingatannya, bahkan ia meyakini bahwa memori tersebut baru akan sirna ketika usianya di dunia benar-benar telah berakhir kelak.
Kisah bermula dari sebuah rumah sederhana di mana sang ibu mulai menyalakan tungku dapur saat fajar masih menyingsing untuk menyiapkan adonan. Selepas menunaikan ibadah subuh, tangan-tangan terampil sang ibunda langsung mencetak penganan lokal berpori yang dikenal sebagai kue cucur. Tugas kecil namun penuh tanggung jawab kemudian diemban oleh Bahlil kecil yang harus membawa dagangan tersebut ke sekolah. Sambil membawa harapan agar dapur tetap ngebul, ia menawarkan makanan tradisional itu kepada teman-teman sekelasnya demi menyambung hidup keluarga yang sangat pas-pasan.
๐ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »
Menghadapi kenyataan pahit sebagai anak dari keluarga prasejahtera sama sekali tidak pernah menjadi alasan bagi Bahlil untuk merasa rendah diri di hadapan orang lain. Ia secara terbuka mengakui bahwa penganan sederhana buatan ibunya tersebut memegang peran krusial dalam mempertahankan eksistensi keluarganya di tengah himpitan kemiskinan. Setiap koin yang dihasilkan dari penjualan kudapan tersebut merupakan napas buatan bagi dapur rumah mereka yang kerap kekurangan. Pengalaman batin ini membentuk karakternya menjadi pribadi yang tangguh serta menghargai setiap butir keringat usaha orang tua.
Melanjutkan Asa ke Tanah Papua
Roda kehidupan terus berputar dan membawa pemuda asal Maluku tersebut melangkah ke jenjang pendidikan tinggi di kota Jayapura, Papua. Keputusan merantau ini diambil dengan tekad bulat untuk mengubah nasib meskipun tanpa dukungan finansial yang memadai dari keluarga di kampung halaman. Tanpa adanya kerabat yang bisa diandalkan di tanah rantau, ia harus memutar otak demi membiayai seluruh kebutuhan kuliahnya seorang diri. Prinsip mandiri ini dipegangnya erat-erat agar tidak membebani pundak orang tua yang sudah berjuang mati-matian sebelumnya.
Perjalanan laut menuju tanah Papua pun meninggalkan cerita tersendiri yang menguji kesabaran fisik maupun mental seorang mahasiswa perantauan. Selama kurang lebih dua pekan, ia harus berbagi ruang di atas kapal perintis dengan berbagai muatan mulai dari hasil bumi hingga hewan ternak. Suasana kabin kapal yang padat dan bercampur baur dengan bau ternak serta bahan pangan menjadi saksi bisu perjuangan awalnya. Tantangan geografis dan kerasnya perjalanan laut tersebut seolah menjadi gerbang pembuka bagi ujian-ujian hidup berikutnya yang jauh lebih berat di daratan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371093/original/091790300_1791737986-Screenshot_2026-10-11_235313.jpg)
Setibanya di kota tujuan, fase bertahan hidup yang sesungguhnya baru benar-benar dimulai bagi sang pemuda tanpa sanak saudara tersebut. Jadwal kuliah yang padat harus ia imbangi dengan upaya konstan untuk mencari sumber makanan agar perutnya tetap terisi setiap hari. Keterbatasan finansial membuatnya tidak memiliki banyak pilihan menu makanan layak seperti mahasiswa pada umumnya di asrama tempatnya tinggal. Situasi pelik ini sering kali memaksanya untuk berkompromi dengan keadaan demi bisa terus mengenyam pendidikan tinggi di tanah Papua.
Menghadapi Ancaman Nyata Busung Lapar
Puncak dari krisis finansial dan pangan tersebut terjadi ketika persediaan logistik di asrama tempatnya menetap benar-benar habis tanpa tersisa. Dalam kondisi terjepit akibat rasa lapar yang mendera setiap pagi, ia terpaksa mengandalkan buah-buahan liar di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Mangga muda yang jatuh dari pohon kerap dijadikan menu sarapan darurat sebelum ia melangkah pergi menuntut ilmu di kampus. Siklus harian yang serba kekurangan ini berlangsung terus-menerus tanpa ada kepastian kapan situasi ekonomi akan membaik.
Dampak buruk dari pola makan yang sangat tidak memadai itu akhirnya mulai menggerogoti ketahanan fisik tubuhnya secara perlahan namun pasti. Suatu hari, ia merasakan keanehan pada bagian perutnya yang mendadak membuncit dan mengeras disertai rasa sakit yang teramat sangat. Mengira dirinya hanya terserang penyakit malaria biasa yang lazim di daerah tropis, ia sempat mencoba menyembuhkannya dengan ramuan tradisional. Daun sambiloto yang direbus dalam air panas diminumnya secara rutin dengan harapan kondisi kesehatannya segera pulih seperti sediakala.
Namun, ramuan tradisional tersebut tidak memberikan efek penyembuhan apa pun karena akar masalahnya jauh lebih kompleks daripada dugaan awal. Teman-teman asrama yang melihat kondisinya semakin memburuk akhirnya berinisiatif melarikannya segera ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan medis. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, vonis mengejutkan pun diterima bahwa ia sebenarnya sedang menderita penyakit busung lapar akut. Keputusan cepat untuk membawanya ke fasilitas kesehatan tersebut menjadi garis batas tipis antara keselamatan nyawa dan tragedi kematian yang merenggut rekan seperjuangannya.
Sumber: Liputan6 News
Jangan lewatkan berbagai informasi menarik dan kisah inspiratif lainnya untuk menemani waktu luang Anda setiap hari. Pastikan Anda selalu memantau perkembangan berita terbaru dan terpercaya bersama kami agar tidak ketinggalan informasi penting.
๐ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini
๐ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini
โ๏ธ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.
Gabung Channel Telegram »๐ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog
Baca juga:
Kata kunci terkait: Bahlil Lahadalia, kisah masa kecil Bahlil, jual kue cucur, busung lapar, perjalanan hidup pejabat, menteri ESDM, perjuangan kuliah di Jayapura
#LapakStore88
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371093/original/091790300_1791737986-Screenshot_2026-10-11_235313.jpg)



