Teknologi 7 menit baca

Semua Orang Kini Wajib Pakai AI? Ini Kata Bos Indosat

Bos Indosat: Bukan AI yang Gantikan Manusia, Tapi Pekerja yang Memakainya

LokalStore88 Senin,12 Oktober 2026.

Bayangkan dua karyawan dengan jam kerja yang persis sama, duduk berdampingan, mengerjakan tugas yang setara. Dalam dua belas jam, salah satunya menghasilkan pekerjaan berkali lipat lebih banyak, sementara yang lain sibuk bergelut dengan cara lama. Perbedaannya bukan pada bakat atau jam terbang, melainkan pada satu hal: siapa yang memanfaatkan kecerdasan buatan. Gagasan itu bukan ramalan masa depan, melainkan keyakinan yang disampaikan langsung oleh salah satu eksekutif teknologi di Tanah Air, dan ini alasan penting untuk kita simak bersama.

Vishal Gupta, yang menjabat sebagai Chief TechCo Transformation and Procurement di Indosat, menilai bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI kini semakin menentukan daya saing di dunia bisnis. Menurutnya, perusahaan maupun pegawai yang mampu memakai teknologi ini berpotensi punya keunggulan dibandingkan mereka yang memilih mengabaikannya. Meski begitu, ia menegaskan bahwa keunggulan tersebut bukan berarti AI menjadi kewajiban mutlak bagi setiap orang. Pesannya jelas: manfaatnya nyata, tapi keputusannya tetap ada di tangan kita.

๐Ÿ›’ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »

Bukan Sekadar Ikut-ikutan Tren

Yang menarik, Vishal justru mengingatkan agar orang tidak terjebak memakai AI hanya karena teknologi ini sedang naik daun. Ia menyebut penerapan AI seharusnya berangkat dari tujuan yang jelas dan manfaat yang benar-benar bisa dirasakan. AI bukan alat yang dipakai demi teknologi itu sendiri, melainkan sarana yang memberdayakan seseorang untuk berbuat lebih banyak dengan sumber daya yang sama. Pandangan ini penting, karena banyak perusahaan terjebak membeli perangkat canggih tanpa tahu mau dipakai untuk apa.

Pernyataan itu ia sampaikan di sela peluncuran Indosat Intelligence Suite di Singapura. Dalam kesempatan tersebut, Vishal menggambarkan bagaimana AI bekerja seperti pengganda tenaga, bukan pengganti otak. Dengan bantuan perangkat AI, seseorang tetap memegang kendali atas pekerjaannya, hanya saja kapasitas yang bisa ia keluarkan jauh lebih besar. Jadi, esensi penggunaan AI sebenarnya bukan soal mengganti manusia, melainkan memperbesar kemampuan manusia itu sendiri.

Salah satu contoh paling konkret yang ia paparkan berkaitan dengan durasi kerja. Ambil gambaran seseorang yang bekerja sepuluh hingga dua belas jam sehari. Tanpa bantuan AI, output yang dihasilkan terbatas pada rentang waktu tersebut. Namun jika ia memanfaatkan perangkat AI, hasil yang dikerjakan dalam jumlah jam yang sama bisa jauh lebih banyak. Artinya, nilai yang ia ciptakan bagi perusahaan pada kurun waktu yang identik menjadi jauh lebih besar dibandingkan bekerja dengan cara konvensional.

Menariknya, tambahan manfaat itu tidak hanya berbicara soal kuantitas. AI juga dinilai mampu mendongkrak kualitas hasil kerja seseorang. Sebagai ilustrasi, teknologi ini bisa membantu pekerja menjalankan analisis yang jauh lebih mendalam ketimbang jika hanya mengandalkan kemampuan pribadi. Analisis yang lebih dalam artinya keputusan yang diambil bisa lebih tepat, risiko lebih terukur, dan hasil akhirnya pun lebih rapi. Kombinasi antara lebih banyak dan lebih baik inilah yang membuat AI sulit diabaikan begitu saja.

Kendati demikian, ia tetap bersikap tegas soal kewajiban. Ketika ditanya apakah pekerja harus memakai AI, jawabannya adalah tidak. Namun ia langsung menambahkan bahwa teknologi ini jelas membantu meningkatkan efektivitas kerja. Dengan kata lain, AI bersifat opsional secara aturan, tetapi bisa jadi penentu secara hasil. Di sinilah letak dilemanya bagi banyak pekerja yang masih ragu atau merasa cukup dengan cara kerja lama mereka.

Persaingan Dunia Kerja yang Mulai Bergeser

Dari situ, Vishal membawa pembicaraan ke ranah yang lebih sensitif: persaingan di dunia kerja. Menurutnya, yang akan menggantikan manusia bukanlah AI secara langsung, melainkan karyawan yang mampu memanfaatkan AI. Mereka yang menguasai teknologi ini berpotensi menggeser posisi rekan kerja yang memilih bertahan tanpa AI. Pernyataan ini tentu terasa menohok, karena mengubah cara kita memandang ancaman otomatisasi selama ini.

Gagasan tersebut sejalan dengan apa yang ia sebut sebagai keunggulan efektivitas. Logikanya sederhana namun tajam: jika seseorang menjadi lebih efektif dengan bantuan AI, maka ia berada di posisi yang lebih menguntungkan dibandingkan rekan yang bekerja tanpa alat bantu serupa. Efektivitas yang lebih tinggi membuat pekerjaan selesai lebih cepat, lebih akurat, dan lebih bernilai. Dalam iklim kompetisi yang ketat, selisih kecil seperti ini bisa berdampak besar pada karier seseorang.

Bos Indosat: Bukan AI yang Gantikan Manusia, Tapi Pekerja yang Memakainya (2)
Foto: Detik Inet

Bagi perusahaan, kesimpulan Vishal juga tak kalah penting. Ia menilai setiap perusahaan berpeluang meraih manfaat dari AI asalkan mulai menerapkannya sesuai kebutuhan bisnis. Artinya, adopsi teknologi ini sebaiknya tidak dilakukan serampangan atau sekadar mengikuti arus industri. Perusahaan perlu memetakan masalah nyata yang ingin diselesaikan, lalu memilih perangkat AI yang paling sesuai. Pendekatan yang terukur seperti ini jauh lebih berkelanjutan ketimbang membeli teknologi mahal tanpa arah.

Dalam konteks Indonesia, pandangan tersebut menyentuh persoalan yang lebih besar. Dunia bisnis nasional tengah dituntut beradaptasi dengan cepat, sementara kesenjangan keterampilan digital antarpegawai masih terasa. Di satu sisi, AI membuka peluang efisiensi yang besar. Di sisi lain, tidak semua pekerja punya akses atau pemahaman yang sama untuk memanfaatkannya. Fenomena ini menciptakan celah antara mereka yang melek teknologi dan yang tertinggal di belakang.

Dampak bagi Pekerja dan Perusahaan

Bagi para pekerja, pesan ini bisa dibaca sebagai panggilan untuk mulai belajar, bukan sebagai ancaman yang menakutkan. Memahami dasar-dasar AI, mencoba berbagai alat bantu, dan melihat bagaimana teknologi itu bisa mempermudah tugas sehari-hari menjadi langkah awal yang masuk akal. Tanpa perlu menjadi ahli, seorang pegawai bisa merasakan manfaatnya perlahan. Yang penting adalah kemauan untuk mencoba, bukan menunggu sampai keadaan memaksa.

Sementara itu, bagi perusahaan, adopsi AI yang bijak menuntut lebih dari sekadar menyediakan perangkat. Dibutuhkan pelatihan, kebijakan yang jelas, dan budaya kerja yang terbuka terhadap perubahan. Tanpa itu, teknologi secanggih apa pun hanya akan jadi pajangan tanpa dampak nyata. Perusahaan perlu memastikan bahwa setiap pegawai punya kesempatan yang setara untuk memanfaatkan AI, agar keunggulan yang dihasilkan tidak hanya dinikmati segelintir orang.

Reaksi publik terhadap isu ini pun beragam. Sebagian menyambut baik karena melihat AI sebagai jalan pintas untuk bekerja lebih cerdas, bukan lebih keras. Sebagian lagi masih menyimpan kekhawatiran soal keamanan data, ketergantungan teknologi, hingga potensi berkurangnya lapangan kerja. Perdebatan semacam ini wajar dan sehat, karena menunjukkan bahwa masyarakat tidak menerima teknologi secara buta. Yang terpenting, diskusi tetap berjalan dengan data dan pemahaman yang memadai.

Sudut pandang Vishal pada akhirnya menawarkan cara berpikir yang menenangkan sekaligus memacu semangat. Ia tidak menakut-nakuti dengan narasi kiamat pekerjaan, tetapi juga tidak meninabobokan dengan janji manis. Pesannya terletak di tengah: AI bukan wajib, tapi mereka yang memanfaatkannya akan lebih siap menghadapi perubahan. Kesadaran semacam ini jadi modal penting bagi siapa pun yang ingin tetap relevan di dunia kerja yang terus bergerak.

Melangkah Tanpa Kehilangan Kendali

Ke depan, garis besar arah teknologi ini sepertinya tak akan surut. AI akan terus menyusup ke berbagai lini pekerjaan, dari administrasi hingga pengambilan keputusan strategis. Yang membedakan bukan lagi soal apakah kita memakai AI atau tidak, melainkan seberapa cerdas kita memakainya. Mereka yang mampu menempatkan AI sebagai alat bantu, sambil tetap memegang kendali dan penilaian manusiawi, berpeluang besar menuai hasil terbaik.

Pada akhirnya, pesan dari sang eksekutif Indosat ini sederhana namun bermakna. AI tidak dirancang untuk mengambil alih peran manusia, melainkan memperbesar potensi yang sudah ada. Perusahaan dan pegawai yang mau memahami tujuannya dengan jernih akan mendapatkan manfaat nyata, sementara yang abai berisiko tertinggal. Sebab di dunia kerja yang semakin kompetitif, keunggulan kerap dimiliki mereka yang berani beradaptasi lebih dulu, bukan yang menunggu perubahan datang menghampiri.

Sumber: Detik Inet

Perkembangan teknologi bergerak cepat banget, dan kamu pasti nggak mau ketinggalan satu berita pun soal AI, bisnis, dan inovasi terbaru. Yuk, terus pantengin kanal LapakStore88 biar selalu jadi yang pertama tahu update paling penting setiap harinya. Jangan sampai ketinggalan, ya!

๐Ÿ“˜ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini

๐Ÿ’ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini

โœˆ๏ธ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.

Gabung Channel Telegram »

๐Ÿ“ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog

Kata kunci terkait: AI di dunia kerja, Indosat Intelligence Suite, Vishal Gupta Indosat, kecerdasan buatan bisnis, produktivitas dengan AI, AI gantikan manusia, masa depan pekerjaan AI, transformasi digital perusahaan

#LapakStore88

Sumber asli: Detik Inet