
LokalStore88 Senin,12 Oktober 2026.
Bayangkan sedang melaju di jalan raya, lalu tiba-tiba satu roda lepas dari porosnya. Itulah yang terjadi pada sebuah Chery Omoda 5 di Johor Bahru, Malaysia, dan dampaknya kini terasa sampai ke meja birokrasi. Departemen Transportasi Jalan Raya Malaysia memutuskan menangguhkan sementara pendaftaran model tersebut. Keputusan ini bukan sekadar kabar teknis biasa: bagi siapa pun yang sedang menimbang membeli mobil itu, atau sudah memarkirnya di garasi rumah, langkah regulator ini menentukan apakah kendaraan mereka boleh terus dipakai dengan tenang atau perlu diperiksa lebih dulu.
Inti dari kebijakan itu ada pada VTA atau Persetujuan Tipe Kendaraan. Dokumen inilah yang menjadi dasar hukum sebuah model boleh dijual dan didaftarkan di Malaysia; tanpa VTA yang aktif, unit baru tidak bisa memperoleh pelat nomor. Karena itu, penangguhan VTA otomatis menghentikan laju pendaftaran unit baru Chery Omoda 5. Efeknya praktis dan langsung terasa di diler: mobil boleh saja masih terpajang, tetapi proses serah terima ke pembeli tidak bisa berjalan seperti biasa sampai ada kejelasan.
๐ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »
Respons Regulator dan Kronologi Insiden
Direktur Jenderal JPJ, Datuk Aedy Fadly Ramli, menegaskan pihaknya tidak menanggap remeh kejadian tersebut. Menurut dia, insiden yang ramai dibicarakan di dunia maya itu memicu kekhawatiran publik soal keselamatan kendaraan. Karena itu, JPJ memilih mengambil langkah pencegahan dini ketimbang menunggu penyelidikan tuntas. Penangguhan VTA dipandang sebagai cara paling cepat untuk menghentikan peredaran unit baru selama risiko keselamatan belum teridentifikasi. Nada pernyataan itu jelas: keselamatan pengguna jalan berada di atas kepentingan komersial.
Insidennya sendiri terjadi di Johor Bahru pada pekan sebelumnya. Sebuah Omoda 5 dilaporkan kehilangan as rodanya saat tengah berjalan, momen yang kemudian tersebar luas di media sosial. Rekaman semacam itu cepat memicu reaksi karena menyentuh hal paling dasar dalam berkendara, yakni kepercayaan bahwa komponen vital tidak akan lepas begitu saja. Begitu sebuah video viral, tekanan publik biasanya berpindah dari kolom komentar ke ruang rapat regulator. Itulah yang tampaknya terjadi di kasus ini, sehingga respons resmi datang tak lama setelahnya.
Penting dicatat, penangguhan ini tidak menyasar seluruh lini Chery di Malaysia. JPJ menyebut langkah tersebut ditujukan pada model dan varian yang berpotensi terlibat dalam insiden. Pendekatan selektif seperti ini lazim dalam pengawasan otomotif: regulator berusaha membatasi dampak pada kendaraan yang benar-benar relevan, tanpa melumpuhkan operasi merek secara keseluruhan. Meski begitu, bagi konsumen, pertanyaan besarnya tetap sama, yakni varian mana saja yang masuk kategori berpotensi terdampak itu. Jawabannya baru akan jelas setelah produsen menuntaskan pemetaan teknis.
Di sinilah produsen diminta turun tangan. Chery Malaysia diwajibkan mengidentifikasi semua kendaraan yang berpotensi terdampak, dan tidak boleh sekadar menebak. Ada sejumlah parameter yang harus ditelusuri: nomor komponen, batch produksi, nomor identifikasi kendaraan atau VIN, serta parameter teknis lain yang relevan. Kombinasi data itu memungkinkan penelusuran mundur sampai ke titik produksi tertentu. Dalam praktiknya, ketelitian pada tahap ini menentukan apakah penarikan kendaraan berjalan tepat sasaran atau justru menimbulkan kepanikan yang tidak perlu di kalangan pemilik.
Selain memetakan, JPJ juga meminta produsen melakukan penarikan kembali atau recall terhadap seluruh kendaraan yang teridentifikasi berisiko. Recall bukan sekadar formalitas; ia adalah mekanisme agar perbaikan dilakukan secara terpusat dan terdokumentasi. Dengan cara itu, komponen yang bermasalah bisa diganti atau diperbaiki sebelum memicu kejadian serupa di jalan. Bagi pemilik kendaraan, recall biasanya berarti mereka akan dihubungi dan diarahkan ke bengkel resmi. Karena itu, memperbarui data kepemilikan menjadi hal sederhana yang bisa berdampak besar.
Audit Teknis Sampai ke Pemasok Komponen
Tidak berhenti pada unit yang sudah terjual, JPJ juga menjalankan audit teknis terhadap proses produksi dan perakitan Chery Omoda 5. Sasaran berikutnya adalah pemasok komponen as roda yang terkait dengan insiden tersebut. Mengaudit pemasok penting karena satu komponen bisa dipakai di banyak unit, bahkan lintas batch. Jika akar masalah ada di rantai pasok, perbaikan di lini perakitan saja tidak cukup. Pendekatan hulu ke hilir semacam ini menunjukkan bahwa penyelidikan tidak hanya mengejar gejala, tetapi juga mencari penyebabnya.

Ruang lingkup auditnya pun cukup spesifik. JPJ menyebut pemeriksaan mencakup kepatuhan terhadap praktik manufaktur yang baik, sistem pengendalian mutu, prosedur pemeriksaan sambungan las, hingga standar keselamatan komponen yang digunakan. Sambungan las menjadi sorotan wajar karena kekuatan sambungan ikut menentukan apakah sebuah komponen mampu menahan beban dan getaran selama dipakai. Sementara itu, pengendalian mutu berbicara soal konsistensi: apakah setiap unit diproduksi dengan standar yang sama. Dari daftar itu, terlihat bahwa yang dinilai bukan hanya hasil akhir, melainkan juga proses di belakangnya.
Pada akhirnya, tanggung jawab utama memang berada di tangan produsen. JPJ menegaskan bahwa setiap kendaraan yang dijual wajib memenuhi standar keselamatan dan persyaratan teknis yang berlaku. Pernyataan itu bukan hal baru dalam industri otomotif, tetapi pengingatnya relevan ketika sebuah insiden viral membuat publik mempertanyakan pengawasan. Bagi produsen, kepatuhan bukan hanya soal menghindari sanksi, melainkan menjaga kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun. Sekali kepercayaan itu tergores, memulihkannya jauh lebih mahal daripada biaya perbaikan komponennya sendiri.
Penangguhan ini juga tidak dirancang sebagai hukuman permanen. JPJ menyatakan status itu akan dicabut setelah semua tindakan dilaksanakan sepenuhnya dan regulator memberi konfirmasi bahwa risiko keselamatan sudah ditangani. Artinya, ada jalur keluar yang jelas bagi produsen, asalkan langkah-langkah perbaikan dijalankan tuntas. Syarat semacam ini menempatkan JPJ sebagai penentu akhir: bukan produsen yang menyatakan dirinya aman, melainkan otoritas yang memverifikasi. Bagi pasar, kepastian soal kapan penangguhan berakhir akan menjadi sinyal penting mengenai kapan pasokan unit baru kembali normal.
Dampak bagi Pemilik dan Calon Pembeli
Bagi pemilik Omoda 5 yang sudah memakai kendaraannya sehari-hari, situasi ini tentu memunculkan tanda tanya. Namun kepanikan berlebihan tidak membantu; yang perlu dilakukan adalah mengikuti informasi resmi dari produsen dan otoritas terkait. Pemilik bisa memastikan nomor identifikasi kendaraannya dan menunggu pengumuman apakah unit mereka termasuk dalam daftar yang perlu diperiksa. Jika ada surat atau panggilan untuk perbaikan, sebaiknya ditindaklanjuti tanpa ditunda. Sementara itu, bagi calon pembeli, kabar ini menjadi alasan kuat untuk menunggu kejelasan sebelum mengambil keputusan.
Di sisi pasar, penangguhan pendaftaran jelas mengganggu ritme penjualan. Unit yang sudah tiba di diler tidak bisa langsung diserahkan kepada pembeli, sementara stok terus menumpuk. Ketidakpastian seperti ini biasanya juga berdampak pada persepsi merek, terutama di segmen yang bersaing ketat. Bagi merek yang tengah membangun pangsa pasar, momentum sangat berharga, dan gangguan selama proses penyelidikan bisa memakan waktu. Sebaliknya, cara produsen menangani masalah ini bisa menjadi ujian sekaligus peluang untuk menunjukkan keseriusan mereka soal mutu dan keselamatan.
Reaksi publik terhadap insiden semacam ini biasanya bergerak cepat. Video yang beredar membuat kekhawatiran menyebar jauh lebih cepat daripada penjelasan teknis apa pun. Di satu sisi, tekanan warganet bisa mempercepat respons regulator dan produsen. Di sisi lain, ia juga berisiko melahirkan spekulasi yang tidak berdasar. Karena itu, keseimbangan antara transparansi dan kehati-hatian menjadi penting: publik butuh penjelasan, tetapi penjelasan itu harus berbasis temuan, bukan dugaan. Di titik inilah komunikasi resmi memainkan peran besar.
Yang tersisa sekarang adalah menunggu hasil penyelidikan dan melihat seberapa cepat langkah-langkah perbaikan dijalankan. Bagi JPJ, kasus ini menjadi ujian konsistensi dalam mengawasi kendaraan yang beredar di jalan raya. Bagi produsen, ini pembuktian apakah mereka mampu merespons masalah keselamatan dengan cepat dan terbuka. Dan bagi konsumen, insiden ini semacam pengingat bahwa di balik desain yang menarik, ada komponen-komponen kecil yang menopang keselamatan. Semua pihak berharap penangguhan ini berakhir bukan karena tekanan waktu, melainkan karena risikonya benar-benar sudah ditangani.
Sumber: Detik Oto
Kalau kamu ingin terus mengikuti perkembangan kasus ini sampai tuntas, jangan lewatkan update terbaru dari LapakStore88. Kami rutin menyajikan berita otomotif dan peristiwa penting lainnya dengan bahasa yang ringan tapi tetap akurat. Pantau terus kanal kami supaya tidak ketinggalan informasi berikutnya.
๐ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini
๐ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini
โ๏ธ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.
Gabung Channel Telegram »๐ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog
Baca juga:
Kata kunci terkait: chery omoda 5, as roda copot, jpj malaysia, recall chery, vta malaysia, insiden chery omoda 5, keselamatan kendaraan, berita otomotif
#LapakStore88
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9370969/original/065988700_1791712436-byd_seagull_pre-orders-1-1500x844.webp)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9368800/original/084182000_1791448981-IMG-20261008-WA0208.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371269/original/017976100_1791780980-IMG-20261012-WA0002.jpg)
