
LokalStore88 Senin,12 Oktober 2026.
Bayangkan deretan pedagang kaki lima yang menjajakan jajanan langka, dikelilingi pepohonan pinus rapat di lereng Gunung Wilis, Trenggalek. Pemandangan itu bukan sekadar rekaan, melainkan suasana asli yang bisa Anda temui di Pasar Pangupojiwo. Tempat ini bukan pasar biasa yang berjubel dengan barang modern, melainkan semacam kampung kuliner yang sengaja menghadirkan nuansa tempo dulu. Bagi Anda yang bosan dengan mall dan kafe instagramable, destinasi ini menawarkan pengalaman berbeda: menyantap camilan tradisional sambil menghirup udara sejuk pegunungan. Momen seperti ini jarang ditemui di kota besar, sehingga wajar jika Pasar Pangupojiwo mulai dilirik wisatawan yang mencari ketenangan dan keaslian.
Lokasinya berada di kawasan hutan pinus yang masuk wilayah lereng Gunung Wilis, Trenggalek, Jawa Timur. Untuk mencapainya, pengunjung harus melewati jalan berkelok dengan pemandangan hijau yang menyejukkan mata. Begitu tiba, Anda akan disambut gapura sederhana dan deretan warung beratap anyaman bambu. Suasana desa yang kental langsung terasa, apalagi karena tidak ada gedung beton menjulang. Justru itu daya tariknya: kesederhanaan yang jarang ditemui di tempat wisata komersial. Pasar ini mengingatkan pada pasar tradisional zaman dahulu, di mana interaksi antara penjual dan pembeli terjalin akrab.
๐ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »
Mengapa Pasar Pangupojiwo Disebut Wisata Nostalgia?
Kata "nostalgia" memang tidak lepas dari Pasar Pangupojiwo. Pasalnya, hampir semua yang dijajakan di sini adalah kuliner klasik yang mulai sulit ditemukan di kota-kota besar. Mulai dari jajanan pasar seperti klepon, getuk, tiwul, hingga minuman tradisional seperti wedang jahe dan jamu beras kencur. Rasanya otentik, tanpa tambahan bahan pengawet atau pemanis buatan yang berlebihan. Bagi generasi muda, ini bisa jadi cara mengenal cita rasa nenek moyang. Bagi orang tua, suasana ini membangkitkan kenangan masa kecil saat jajan di pasar desa. Tidak heran jika banyak pengunjung datang hanya untuk bernostalgia sambil bernostalgia bersama keluarga.
Selain makanan, Pasar Pangupojiwo juga menawarkan pemandangan alam yang memanjakan mata. Hutan pinus di sekitarnya menjadi latar belakang alami yang instagramable, cocok untuk berfoto tanpa perlu filter berlebihan. Udara sejuk khas dataran tinggi membuat siapa pun betah berlama-lama duduk di gazebo sederhana yang tersedia. Suara gemerisik daun pinus dan kicau burung menjadi musik latar yang menenangkan. Ini bukan wisata kuliner biasa, melainkan perpaduan antara rekreasi alam dan edukasi budaya. Dalam satu kunjungan, Anda bisa mengisi perut sekaligus menyegarkan pikiran dari penatnya rutinitas.
Keberadaan Pasar Pangupojiwo sebenarnya bukan fenomena instan. Ia lahir dari kesadaran masyarakat setempat untuk mengangkat potensi daerah sekaligus melestarikan kuliner tradisional. Awalnya, kawasan ini hanyalah hutan pinus biasa yang dikelola oleh Perhutani. Namun, seiring waktu, warga sekitar berinisiatif membuka lapak-lapak kecil yang menjual makanan rumahan. Kini, pasar ini dikelola secara swadaya oleh kelompok masyarakat desa. Mereka bergotong royong menjaga kebersihan dan kenyamanan pengunjung. Semangat gotong royong inilah yang membuat Pasar Pangupojiwo terasa berbeda dari destinasi wisata komersial lainnya.
Daya Tarik Kuliner yang Bikin Lidah Bergoyang
Menyusuri setiap sudut Pasar Pangupojiwo, Anda akan menemukan beragam jajanan yang mungkin sudah jarang dijumpai. Ada kue putu yang dimasak dengan cetakan bambu, menghasilkan aroma pandan yang khas. Ada juga lupis yang disajikan dengan gula merah cair dan kelapa parut. Belum lagi aneka gorengan seperti pisang goreng, tempe mendoan, dan bakwan sayur yang masih hangat. Semua dijual dengan harga terjangkau, mungkin karena target pasarnya adalah wisatawan lokal. Anda bisa mencoba banyak jenis camilan tanpa khawatir kantong terkuras. Sensasi menyantapnya di alam terbuka menambah kenikmatan yang sulit dilupakan.
Minuman tradisional juga tidak kalah menarik. Wedang jahe hangat bisa menjadi penyelamat saat udara pegunungan mulai dingin. Ada pula wedang uwuh, minuman rempah khas Yogyakarta yang konon berkhasiat menghangatkan tubuh. Es kelapa muda dan es dawet ayu juga tersedia untuk melepas dahaga di siang hari. Semua minuman disajikan dalam gelas kaca atau mangkuk tanah liat, semakin menguatkan nuansa jadul. Beberapa pedagang bahkan masih menggunakan kayu bakar untuk memasak, sehingga aroma asapnya menambah sensasi autentik. Inilah pengalaman kuliner yang tidak bisa didapat di restoran modern.
Selain makanan dan minuman, Pasar Pangupojiwo juga menjadi ajang interaksi sosial yang hangat. Pedagangnya ramah dan sering mengajak pembeli berbincang ringan. Mereka dengan senang hati menjelaskan bahan dan cara pembuatan jajanan yang dijual. Sesekali terdengar tawa lepas saat pembeli mencoba menawar harga dengan gaya khas pasar tradisional. Suasana kekeluargaan ini yang membuat pengunjung merasa seperti pulang ke kampung halaman. Tidak ada kesan transaksional yang dingin, semuanya berjalan alami. Mungkin inilah yang membuat wisatawan kembali lagi meski harus menempuh perjalanan jauh.
Dampak bagi Masyarakat dan Potensi ke Depan
Kehadiran Pasar Pangupojiwo membawa dampak positif bagi perekonomian warga sekitar. Banyak ibu-ibu yang dulunya hanya mengurus rumah tangga kini memiliki penghasilan tambahan dari berjualan. Anak-anak muda juga terlibat sebagai pengelola parkir atau pemandu wisata lokal. Pendapatan asli desa pun meningkat, yang bisa digunakan untuk pembangunan infrastruktur. Meski skalanya masih kecil, geliat ekonomi ini menunjukkan bahwa wisata berbasis komunitas bisa menjadi solusi. Pemerintah daerah diharapkan terus mendukung dengan memperbaiki akses jalan dan fasilitas umum. Jangan sampai potensi yang sudah tumbuh ini justru terhambat oleh kurangnya perhatian.
Bagi Anda yang berencana berkunjung, ada baiknya datang pada pagi atau sore hari saat cuaca tidak terlalu terik. Jangan lupa membawa jaket karena udara di lereng Gunung Wilis cukup dingin, terutama saat musim kemarau. Siapkan uang tunai secukupnya karena tidak semua pedagang menerima pembayaran digital. Bawalah juga kantong ramah lingkungan untuk mengurangi sampah plastik. Dengan begitu, Anda tidak hanya menikmati wisata, tetapi juga ikut menjaga kelestarian alam. Etika wisata seperti ini penting agar Pasar Pangupojiwo tetap lestari untuk generasi mendatang.
Dari sudut pandang wisatawan, Pasar Pangupojiwo menawarkan alternatif liburan yang murah meriah namun kaya makna. Tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk tiket masuk, cukup bayar parkir dan uang jajan. Anda bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya dengan duduk bersantai menikmati pemandangan. Cocok untuk keluarga, pasangan, atau bahkan solo traveling. Bagi fotografer, momen golden hour di antara pohon pinus bisa menghasilkan bidikan artistik. Jadi, tidak salah jika tempat ini disebut sebagai hidden gem-nya Trenggalek. Sayang rasanya melewatkan pengalaman seperti ini saat berkunjung ke Jawa Timur.
Namun, seperti destinasi wisata lainnya, Pasar Pangupojiwo juga menghadapi tantangan. Salah satunya adalah menjaga keseimbangan antara jumlah pengunjung dan kapasitas lingkungan. Jika terlalu ramai, suasana tenang yang menjadi daya tarik utama bisa hilang. Selain itu, perlu ada standarisasi kebersihan dan keamanan pangan agar pengunjung tetap nyaman. Edukasi kepada pedagang tentang pentingnya higienitas juga tidak boleh diabaikan. Dengan pengelolaan yang baik, Pasar Pangupojiwo bisa menjadi contoh wisata kuliner tradisional yang berkelanjutan. Ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan peluang untuk melestarikan budaya bangsa.
Melihat antusiasme pengunjung, bukan tidak mungkin Pasar Pangupojiwo akan semakin dikenal. Media sosial berperan besar dalam memperkenalkan keunikan tempat ini. Foto-foto jajanan tradisional dengan latar hutan pinus kerap viral di berbagai platform. Hal ini tentu menjadi promosi gratis yang efektif. Tetapi, pengelola perlu tetap waspada agar tidak terjebak dalam komersialisasi berlebihan. Esensi nostalgia dan kesederhanaan harus tetap dijaga. Jangan sampai modernisasi mengubah wajah asli pasar ini. Justru keaslian itulah yang membuatnya istimewa.
Pada akhirnya, Pasar Pangupojiwo adalah bukti bahwa wisata tidak selalu identik dengan kemewahan. Kadang, hal-hal sederhana seperti jajanan pasar dan suasana pedesaan justru mampu menyentuh hati. Tempat ini mengajak kita untuk melambat, menikmati momen, dan menghargai warisan kuliner nusantara. Jika Anda mencari pengalaman wisata yang berbeda, pertimbangkan untuk menjelajah ke Trenggalek. Siapa tahu, Anda pulang dengan kenangan manis dan perut kenyang. Selamat berwisata kuliner!
Sumber: Detik Travel
Seru banget kan menjelajahi surga kuliner tersembunyi seperti Pasar Pangupojiwo? Biar nggak ketinggalan cerita menarik lain dari berbagai penjuru daerah, yuk terus pantau update terbaru dari LapakStore88. Gabung dan ikuti kanal resminya supaya kamu selalu jadi yang pertama tahu info wisata dan berita seru lainnya!
๐ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini
๐ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini
โ๏ธ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.
Gabung Channel Telegram »๐ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog
Baca juga:
Kata kunci terkait: Pasar Pangupojiwo, wisata kuliner Trenggalek, kuliner tradisional, hutan pinus, Gunung Wilis, wisata nostalgia, jajanan jadul, wisata Jawa Timur
#LapakStore88
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371149/original/061310100_1791769913-1.jpeg)


