Bisnis 4 menit baca

Zulkifli Hasan: Nelayan Masuk Kategori Termiskin, Gak Bisa Makan Tanpa Bantuan

Potret Suram Kesejahteraan Pesisir: Menko Pangan Ungkap Realitas Nelayan Masuk Kategori Sangat Miskin

LokalStore88 Senin,12 Oktober 2026.

Sembilan puluh sembilan rupiah dari modal seratus rupiah adalah gambaran tipisnya margin yang didapatkan oleh para pencari ikan di Nusantara setiap harinya. Angka tersebut bukan sekadar statistik di atas kertas, melainkan cerminan nyata dari himpitan ekonomi yang mencekik kehidupan komunitas pesisir dari waktu ke waktu. Ketika sebagian masyarakat menikmati hasil pembangunan yang semakin maju, kelompok pekerja laut ini justru masih berjuang sekadar untuk memenuhi kebutuhan dapur harian mereka. Situasi pelik ini memaksa pemerintah untuk membuka mata lebar-lebar terhadap jurang pemisah kesejahteraan yang selama ini luput dari perhatian publik secara luas.

Pernyataan mengejutkan datang langsung dari jajaran menteri kabinet yang secara terbuka menempatkan para penggaris ombak tersebut ke dalam golongan masyarakat paling bawah. Berdasarkan data indikator ekonomi yang dirilis resmi, posisi mereka dikategorikan kedalam kelompok desil satu atau lapisan terendah dari strata kemiskinan nasional. Kondisi ini menunjukkan bahwa tanpa adanya uluran tangan berupa subsidi pangan maupun Bantuan Langsung Tunai, dapur keluarga di kawasan pesisir terancam tidak bisa mengepul. Realitas pahit ini sekaligus memukul kesadaran kolektif bangsa bahwa pahlawan protein laut justru hidup dalam bayang-bayang kerentanan finansial yang sangat mengkhawatirkan.

๐Ÿ›’ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »

Potret Suram Kesejahteraan Pesisir: Menko Pangan Ungkap Realitas Nelayan Masuk Kategori Sangat Miskin (2)
Foto: Liputan6 Bisnis

Indikator Ekonomi dan Perbandingan Kesejahteraan

Tolok ukur utama yang digunakan untuk menilai tingkat kelayakan hidup masyarakat pesisir adalah angka Nilai Tukar Nelayan yang tercatat pada posisi 103,9. Angka tipis ini mengindikasikan bahwa pendapatan yang diperoleh nyaris habis terserap oleh biaya operasional melaut seperti bahan bakar dan perbekalan. Dengan margin keuntungan yang sangat minim tersebut, mustahil bagi keluarga nelayan untuk membiayai pendidikan anak hingga jenjang tinggi tanpa sokongan dana dari negara. Situasi darurat ini menuntut intervensi kebijakan yang tidak biasa agar siklus kemiskinan struktural tersebut dapat segera diputus secara permanen demi masa depan generasi penerus di pesisir.

Jika dibandingkan dengan sektor agraris melalui instrumen Nilai Tukar Petani yang mampu menyentuh angka 131, ketimpangan yang terjadi terlihat begitu kontras dan menyayat hati. Petani dinilai sudah memiliki daya topang hidup yang relatif memadai, sementara para pencari ikan terus bergulat dengan ketidakpastian cuaca dan hasil tangkapan yang menyusut. Ironisnya, mereka yang selama puluhan tahun selalu berada di garis depan dalam berbagai situasi genting justru menduduki tangga terbawah dalam hal kesejahteraan hidup. Kesenjangan angka indikator ini menjadi bukti otentik bahwa sektor kelautan memerlukan perhatian khusus yang jauh lebih masif dari para pemangku kebijakan.

Langkah Strategis dan Target Pemerintah

Menanggapi potret buram tersebut, kepala negara secara tegas memberikan instruksi langsung kepada jajaran kementerian terkait untuk mengambil aksi nyata di lapangan. Target ambisius pun dipasang agar angka indikator kesejahteraan pekerja laut dapat terdongkrak minimal menyentuh level 120 pada periode mendatang. Berbagai program terobosan seperti penyediaan kampung khusus serta perbaikan infrastruktur penunjang mulai dirumuskan secara matang oleh instansi teknis. Pemerintah bertekad mengubah wajah kawasan pesisir agar tidak lagi identik dengan kemiskinan ekstrem yang telah berlangsung turun-temurun sejak era kemerdekaan.

Potret Suram Kesejahteraan Pesisir: Menko Pangan Ungkap Realitas Nelayan Masuk Kategori Sangat Miskin (3)
Foto: Liputan6 Bisnis

Selain masalah daya beli, tantangan besar lain yang dihadapi oleh para penggiat sektor kelautan nasional adalah maraknya aktivitas kapal penangkap ikan ilegal dari luar negeri. Kehadiran puluhan ribu armada asing di perairan nusantara setiap malam telah merampas potensi kekayaan laut yang seharusnya dinikmati oleh rakyat sendiri. Sebagai respons atas kebocoran sumber daya alam tersebut, negara menyiapkan program pembangunan ribuan armada kapal modern khusus bagi warga lokal. Kebijakan afirmatif ini diharapkan mampu mengembalikan kedaulatan laut sekaligus mendongkrak volume hasil tangkapan nelayan tradisional secara signifikan.

Perhatian khusus yang diberikan oleh pemerintah terhadap nasib komunitas pesisir merupakan sebuah langkah korektif yang sudah sangat dinantikan setelah sekian lama terabaikan. Dengan menguasai wilayah perairan yang mencakup sebagian besar teritorial negara, sudah sewajarnya apabila kesejahteraan mereka ditempatkan pada urutan prioritas utama pembangunan nasional. Berbagai program strategis mulai dari revitalisasi dermaga hingga pembangunan kawasan hunian terpadu terus digenjot demi memulihkan harkat hidup mereka. Seluruh rangkaian upaya terpadu ini diharapkan mampu membawa angin segar bagi transformasi ekonomi masyarakat pesisir secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Sumber: Liputan6 Bisnis

Jangan lewatkan berbagai informasi aktual dan menarik lainnya seputar kebijakan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat. Pastikan Anda selalu memantau pembaruan berita terbaru agar tidak ketinggalan setiap perkembangan penting.

๐Ÿ“˜ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini

๐Ÿ’ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini

โœˆ๏ธ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.

Gabung Channel Telegram »

๐Ÿ“ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog

Kata kunci terkait: kesejahteraan nelayan, nilai tukar nelayan, zulkifli hasan, presiden prabowo, kementerian kelautan dan perikanan, kapal asing, kemiskinan ekstrem

#LapakStore88

Sumber asli: Liputan6 Bisnis