
LokalStore88 Selasa,13 Oktober 2026.
Dua rudal meluncur menembus sistem pertahanan udara Arab Saudi dan menghantam Bandara Internasional Riyadh pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Akibatnya, 13 orang tewas dan ratusan lainnya mengalami luka-luka. Serangan susulan pada Ahad berikutnya kembali menelan korban jiwa, dengan satu orang tewas dan hampir lusinan orang terluka. Peristiwa ini sontak mengejutkan banyak pihak, sebab Arab Saudi dikenal memiliki salah satu jaringan pertahanan udara paling canggih di kawasan. Pertanyaannya kini, siapa sebenarnya kelompok yang mampu menembus benteng pertahanan tersebut?
Kelompok itu bernama Houthi, atau yang secara resmi menyebut diri mereka Ansar Allah, yang berarti Penolong Allah. Mereka bukan aktor baru di panggung konflik Timur Tengah, melainkan kekuatan bersenjata yang telah menguasai sebagian besar wilayah Yaman selama bertahun-tahun. Hingga kini, mereka mengendalikan ibu kota Sanaa beserta sejumlah kawasan di bagian barat dan utara Yaman yang berbatasan langsung dengan Arab Saudi. Keberadaan mereka selama ini kerap dipandang sebelah mata, namun serangan rudal ke Riyadh membuktikan bahwa kapasitas militer mereka tidak bisa lagi diabaikan.
๐ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »
Untuk memahami bagaimana Houthi bisa sampai di titik ini, kita perlu menengok ke belakang. Gerakan ini pertama kali muncul pada dekade 1990-an di wilayah utara Yaman, jauh sebelum dunia internasional menyoroti mereka. Mereka berakar dari ajaran Zaidiyah, salah satu cabang Syiah yang dianut oleh minoritas penduduk Yaman dan terkonsentrasi di daerah pegunungan utara. Identitas keagamaan ini menjadi fondasi gerakan sekaligus perekat sosial yang membuat mereka mampu bertahan di tengah tekanan politik dan militer yang bertubi-tubi.
Pada awal kemunculannya, Houthi dipimpin oleh seorang ulama bernama Hussein al-Houthi. Di bawah kepemimpinannya, gerakan ini mulai menegaskan posisi sebagai kekuatan oposisi terhadap pemerintah Yaman saat itu. Namun, jalan mereka tidak pernah mulus. Antara tahun 2004 hingga 2010, Houthi terlibat dalam enam gelombang peperangan melawan pemerintahan Presiden Ali Abdullah Saleh. Konflik berkepanjangan ini menempa mereka menjadi kekuatan militer yang tangguh dan terorganisir, meski harus menanggung kehilangan besar.
Hussein al-Houthi sendiri tewas dalam pertempuran gelombang pertama. Kepemimpinan kemudian berpindah ke tangan saudaranya, Abdul-Malik al-Houthi, yang hingga kini masih memimpin gerakan tersebut. Di bawah Abdul-Malik, Houthi tidak hanya bertahan, tetapi juga memperluas pengaruh dan kendali wilayahnya. Transformasi ini menandai babak baru bagi Houthi, dari gerakan lokal berbasis keagamaan menjadi kekuatan bersenjata yang diperhitungkan di tingkat regional.
Dari Pemberontakan ke Penguasaan Ibu Kota
Titik balik besar terjadi pada 2014. Houthi melancarkan pemberontakan terhadap pemerintah Yaman yang berujung pada penguasaan ibu kota Sanaa pada September tahun itu. Pemerintah yang sah terpaksa mundur, dan negara itu pun terjerumus ke dalam krisis kemanusiaan yang parah. Sejak saat itu, Yaman tidak lagi sekadar negara dengan masalah politik biasa, melainkan medan perang yang menyeret banyak pihak, termasuk kekuatan regional dan internasional.

Respons tidak lama datang. Pada Maret 2015, Arab Saudi memimpin sebuah koalisi militer untuk masuk ke Yaman dengan tujuan mendukung pemerintah yang diakui secara internasional. Pemerintah tersebut sebagian besar menjalankan roda pemerintahannya dari Riyadh dan kota Aden di Yaman selatan. Sejak itulah perang terbuka antara Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi dimulai, menciptakan salah satu konflik paling panjang dan rumit di Timur Tengah modern.
Meski menghadapi kekuatan militer yang jauh lebih besar, Houthi terbukti mampu bertahan. Ketika gencatan senjata akhirnya tercapai pada 2022, mereka menguasai sekitar 30 persen wilayah Yaman. Angka itu mungkin tampak kecil, tetapi wilayah yang mereka kuasai dihuni oleh hampir 80 persen dari total populasi negara tersebut. Artinya, secara demografis dan strategis, Houthi mengendalikan jantung Yaman, bukan sekadar pinggiran yang terisolasi.
Penguasaan atas wilayah padat penduduk ini memberi Houthi legitimasi de facto sebagai penguasa di banyak bagian negara. Mereka mengatur pemerintahan, memungut pajak, dan menjalankan fungsi-fungsi negara lainnya di wilayah yang mereka kuasai. Kondisi ini membuat posisi mereka semakin sulit digoyahkan, baik melalui kekuatan militer maupun tekanan diplomatik. Dalam banyak hal, Houthi telah menjelma menjadi entitas yang tidak bisa diabaikan dalam setiap pembicaraan mengenai masa depan Yaman.
Hubungan dengan Iran dan Mitos Sekadar Proksi
Dalam berbagai laporan internasional, Houthi kerap dikaitkan dengan Iran. Dukungan Iran diyakini menjadi salah satu faktor yang membuat Houthi mampu bertempur melawan koalisi militer pimpinan Arab Saudi selama bertahun-tahun. Bantuan tersebut, menurut sejumlah analis, mencakup aspek logistik, teknologi, hingga pelatihan militer yang meningkatkan kapasitas tempur kelompok ini. Tidak heran jika banyak pihak melihat Houthi sebagai perpanjangan tangan Iran di Semenanjung Arab.
Namun, para analis mengingatkan bahwa menyederhanakan Houthi sebagai sekadar proksi Iran adalah keliru. Kelompok Syiah Zaidiyah ini memiliki basis massa, kepentingan, serta ambisi politiknya sendiri yang tidak selalu sejalan dengan agenda Teheran. Mereka tumbuh dari akar lokal Yaman, dengan sejarah panjang perjuangan melawan pemerintah setempat sebelum Iran masuk ke dalam gambaran. Mengabaikan dimensi lokal ini berarti gagal memahami mengapa Houthi begitu kuat dan bertahan lama.
Hubungan dengan Iran lebih tepat digambarkan sebagai kemitraan strategis yang saling menguntungkan, bukan ketergantungan mutlak. Iran berkepentingan memperluas pengaruhnya di kawasan untuk menekan Arab Saudi dan sekutunya. Sementara Houthi membutuhkan dukungan eksternal untuk menghadapi koalisi militer yang jauh lebih besar. Kedua kepentingan ini bertemu, tetapi Houthi tetap memiliki ruang untuk menentukan arah dan prioritas perjuangannya sendiri. Fleksibilitas inilah yang membuat mereka sulit ditebak dan dikendalikan.
Bagi Arab Saudi dan sekutunya, kemampuan Houthi menembus pertahanan udara mereka merupakan pukulan telak. Arab Saudi telah menggelontorkan dana besar untuk membangun sistem pertahanan canggih, namun serangan rudal ke Bandara Internasional Riyadh membuktikan bahwa tembok pertahanan itu tidak sekokoh yang dibayangkan. Ini menimbulkan pertanyaan serius tentang efektivitas strategi keamanan dan militer yang selama ini diandalkan. Kegagalan menghadang rudal juga berpotensi mengikis kepercayaan publik terhadap kemampuan pemerintah melindungi warganya.

Dampak bagi Kawasan dan Masyarakat Yaman
Serangan terhadap Riyadh juga memperbesar risiko eskalasi konflik di kawasan. Jika dibiarkan, spiral pembalasan bisa menyeret lebih banyak pihak ke dalam pusaran peperangan. Negara-negara tetangga mungkin merasa perlu meningkatkan kewaspadaan dan menggelar langkah-langkah pertahanan tambahan. Di sisi lain, jalur pelayaran internasional di sekitar Yaman, termasuk Selat Bab al-Mandeb, menjadi titik rawan yang bisa mengganggu perdagangan global. Ketegangan ini tidak hanya berdampak pada Yaman dan Arab Saudi, tetapi juga pada stabilitas ekonomi dunia.
Bagi masyarakat Yaman sendiri, konflik berkepanjangan ini telah menciptakan salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Jutaan orang kehilangan tempat tinggal, akses terhadap pangan dan layanan kesehatan sangat terbatas, dan masa depan generasi muda berada di ujung tanduk. Bergantinya kendali wilayah antara Houthi dan pihak lain membuat kehidupan sehari-hari warga penuh ketidakpastian. Perdamaian yang diharapkan belum juga terwujud, dan rakyat Yaman terus menanggung beban terberat dari pertarungan kekuatan yang bukan mereka pilih.
Upaya perundingan damai antara Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi telah berulang kali dilakukan, tetapi selalu menemui jalan buntu. Kedua belah pihak memiliki tuntutan yang sulit dipertemukan, dan kepercayaan di antara mereka sangat tipis. Setiap gencatan senjata yang tercapai sering kali rapuh dan mudah dilanggar. Tanpa terobosan diplomatik yang serius, sulit membayangkan konflik ini bisa diselesaikan dalam waktu dekat. Masyarakat internasional pun tampak belum mampu mendorong kedua pihak ke meja perundingan secara efektif.
Ke depan, posisi Houthi kemungkinan akan semakin diperhitungkan dalam setiap pembicaraan mengenai Yaman. Kemampuan militer mereka yang terbukti menembus pertahanan Arab Saudi memberi mereka kartu tawar yang kuat. Namun, kekuatan militer saja tidak cukup untuk membangun pemerintahan yang stabil dan diakui secara luas. Houthi akan terus menghadapi tantangan besar dalam upaya mendapatkan legitimasi internasional dan memenuhi kebutuhan rakyat yang mereka kuasai. Dinamika ini akan sangat menentukan arah Yaman dalam beberapa tahun mendatang.
Bagi dunia luar, kasus Houthi menjadi pengingat bahwa konflik di Timur Tengah tidak pernah sesederhana hitam dan putih. Kelompok yang awalnya dipandang lemah bisa berubah menjadi kekuatan yang mengguncang kawasan dalam waktu relatif singkat. Kegagalan memahami akar lokal dan dinamika internal sebuah gerakan sering kali membuat strategi politik dan militer tidak berjalan sesuai harapan. Karena itu, pendekatan yang lebih komprehensif dan berbasis pemahaman mendalam menjadi semakin penting untuk mencegah eskalasi yang lebih berbahaya di masa depan.
Serangan rudal ke Riyadh pada Oktober 2026 bukan sekadar insiden militer biasa. Ia menandai babak baru dalam konflik Yaman yang sudah berlangsung lebih dari satu dekade, sekaligus menegaskan bahwa Houthi adalah aktor yang tidak bisa diabaikan. Dunia kini menunggu langkah apa yang akan diambil Arab Saudi dan komunitas internasional dalam merespons. Sementara itu, rakyat Yaman terus berharap bahwa suatu hari nanti mereka bisa hidup tanpa dibayangi perang dan penderitaan yang tak berkesudahan.
Sumber: Republika
Terus ikuti perkembangan berita internasional dan nasional hanya di LapakStore88. Jangan sampai ketinggalan update terbaru dengan mengikuti kanal resmi kami, biar Anda selalu jadi yang pertama tahu. Gabung sekarang dan dapatkan informasi yang cepat, akurat, dan terpercaya setiap hari.
๐ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini
๐ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini
โ๏ธ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.
Gabung Channel Telegram »๐ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog
Baca juga:
Kata kunci terkait: Houthi, Ansar Allah, Yaman, Arab Saudi, Iran, rudal Houthi, konflik Yaman, Zaidiyah
#LapakStore88

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371901/original/010895100_1791848974-1002921272.jpg)
