
LokalStore88 Selasa,13 Oktober 2026.
Ratusan batu nisan berwarna putih pucat berdiri lagi di bawah langit Wonogiri, muncul dari dasar waduk yang selama puluhan tahun menyimpannya di bawah air. Bukan karena ada yang membangunnya kembali, melainkan karena air Waduk Gajah Mungkur terus menyusut. Kemarau panjang membuat permukaan waduk di Jawa Tengah itu mundur, memperlihatkan kompleks makam kuno sekaligus jembatan tua peninggalan era kolonial Belanda. Bagi warga sekitar, pemandangan ini lebih dari sekadar fenomena alam. Ini adalah potret kampung yang pernah hilang, lalu tiba-tiba kembali menampakkan diri.
Waduk Gajah Mungkur sendiri bukan cekungan alami yang kosong. Ia menampung air untuk mengairi kawasan Wonogiri dan sekitarnya, sekaligus menyimpan sejarah panjang di bawah permukaannya. Ketika debit air menyusut drastis akibat kemarau, dasar waduk yang biasanya tak terlihat mulai terbuka. Dari situlah berbagai sisa masa lalu muncul ke permukaan, mulai dari batu nisan sampai struktur jembatan. Apa yang tampak sekarang adalah lapisan memori yang biasanya tertutup air, dan itulah yang membuat banyak orang penasaran datang ke lokasi.
๐ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »
Makam Kampung Sentono Kembali Terlihat
Salah satu yang paling mencolok adalah kompleks makam Dusun Sentono, yang dahulu berada di Desa Ngungkingsari, Kecamatan Wuryantoro. Ratusan batu nisan kini terlihat jelas setelah air waduk surut. Menurut Mardi, warga yang tinggal tak jauh dari lokasi, makam itu mulai tampak sejak awal bulan lalu dan terus terbuka seiring air yang semakin menyusut. Kepada detikJateng, ia menyebut kini hampir seluruh bagian makam bisa dilihat. Area itu dulunya bukan tempat sepi, melainkan bagian dari kampung yang hidup.

Pemantauan di lokasi menunjukkan areal makam itu cukup luas. Di ujung barat masih terlihat sisa pondasi yang diduga merupakan tembok pembatas makam. Sebagian dasar waduk di sekitarnya sudah mengering, meski masih ada aliran air yang dimanfaatkan nelayan untuk mencari ikan. Sejumlah kapal nelayan bahkan tampak karam atau terdampar di bagian waduk yang mulai mengering. Pemandangan itu memberi gambaran betapa besar perubahan yang terjadi di kawasan tersebut dalam beberapa bulan terakhir.
Tokoh masyarakat Kelurahan Wuryantoro, Suparso, yang berusia 77 tahun, mengatakan makam tersebut dulunya merupakan makam kampung yang cukup besar. Luasnya diperkirakan mencapai setengah lapangan sepak bola. Nisannya, kata dia, terbuat dari batu keras berwarna putih, sederhana, hanya berbentuk batu panjang. Lokasi itu dikenal sebagai makam dukuh Sentono di wilayah Desa Ngungkingsari. Dari ceritanya, jelas bahwa kawasan itu bukan sekadar tanah kosong sebelum ditenggelamkan puluhan tahun silam.
Kampung yang Ditenggelamkan demi Sebuah Proyek
Kemunculan kembali makam-makam itu bukan sekadar akibat surutnya waduk. Lokasi tersebut menjadi pengingat keberadaan kampung-kampung yang dulu ditenggelamkan untuk pembangunan Waduk Gajah Mungkur. Desa Ngungkingsari termasuk salah satu permukiman yang kini berada di dasar waduk. Warganya mengikuti program transmigrasi atau bedol desa ke sejumlah wilayah di Sumatera. Jadi, ketika batu nisan muncul, yang sesungguhnya muncul adalah jejak kehidupan yang pernah dipindahkan secara massal.
Ketika air waduk surut seperti sekarang, sejumlah warga keturunan atau mantan penduduk desa tersebut kembali untuk melihat kampung halaman mereka. Mardi menuturkan, beberapa waktu lalu ada rombongan yang datang ke lokasi. Menurutnya, mereka dulunya warga Dusun Pondok, salah satu dusun yang ikut ditenggelamkan. Kedatangan itu ia sebut sebagai napak tilas ke kampung halaman mereka dulu. Momen semacam itu menunjukkan ikatan dengan tempat asal tidak benar-benar hilang meski kampungnya sudah lama tak ada di peta.

Suparso menuturkan proses transmigrasi warga berlangsung bertahap mulai 1979 hingga 1982. Mereka diberangkatkan ke sejumlah wilayah, seperti Bengkulu, Baturaja di Sumatera Selatan, Sitiung di Sumatera Barat, hingga Rimbo Bujang di Jambi. Keberangkatan terakhir terjadi pada 1982. Bedol desa berarti hampir seluruh warga satu kampung pindah bersama-sama, bukan sekadar beberapa keluarga. Mereka membangun hidup baru di tanah yang jauh dari tempat mereka dilahirkan, dengan bekal kenangan yang tak bisa dibawa serta.
Menurut Suparso, Desa Ngungkingsari dahulu merupakan kawasan yang cukup besar. Di dalamnya terdapat sejumlah dukuh, termasuk Sentono, Badran, Ngungkingsari, Sawahan, Kertan, Duwet, Klupuk, Kelowong, dan Tumpang. Setiap dukuh dihuni sekitar 150 kepala keluarga. Sebagian besar warga bekerja sebagai petani karena tanah di kawasan tersebut dikenal subur. Saat kemarau, lahan di sana ditanami sayuran, tomat, kacangan, dan singkong; ketika musim hujan tiba, warga menggarap sawah. Hasil sayurnya dijual di Pasar Wuryantoro.
Jejak Era Soeharto dan Jembatan Lengkong
Pembangunan Waduk Gajah Mungkur berlangsung pada 1976-1981, di era Presiden Soeharto. Proyek itu membuat 51 desa di tujuh kecamatan di Wonogiri harus ditenggelamkan. Sebagian warga menerima ganti rugi, sementara sebagian lain mengikuti program transmigrasi bedol desa. Bagi banyak keluarga, keputusan itu bukan pilihan mudah, karena berarti meninggalkan sawah, rumah, dan makam leluhur. Dampaknya masih terasa hingga kini, terutama saat dasar waduk kembali terbuka seperti sekarang.

Suparso, yang saat itu berprofesi sebagai dalang sekaligus guru bahasa Jawa, juga merasakan dampak pembangunan waduk. Wilayah tempatnya mencari penghasilan ikut hilang setelah desa-desa tersebut ditenggelamkan. Ia menyebut tahun 1980 sebagai masa ketika ia kehilangan wilayah pasaran wayang. Pasaran pentasnya dulu berada di sekitar Desa Ngungkingsari hingga Nguntoronadi. Ia biasa mengisi acara seperti khitaman, hajatan, bersih desa, dan ruwahan. Ceritanya memperlihatkan bahwa yang tenggelam bukan hanya bangunan, tetapi juga sumber penghidupan dan tradisi yang melekat padanya.
Selain makam kuno, surutnya waduk juga kembali menyingkap keberadaan Jembatan Lengkong. Jembatan yang telah puluhan tahun terendam itu disebut merupakan peninggalan era kolonial Belanda. Menurut Suparso, jembatan tersebut bisa dilewati saat air surut, meski jalannya jelek. Warga sekitar, Sugimin, mengatakan jembatan Lengkong biasanya berada di bawah air dengan kedalaman lebih dari enam meter. Kini, saat debit waduk menyusut drastis, bagian jembatan bahkan dapat diinjak oleh pemancing. Di bawahnya masih tampak bekas sungai yang dahulu mengalir sebelum kawasan itu menjadi waduk, sebuah anak sungai besar, bukan Bengawan Solo.
Napak Tilas dan Wajah Baru di Tepi Waduk
Kini, area di sekitar Jembatan Lengkong justru dimanfaatkan warga sebagai lokasi memancing, dan sejumlah kapal nelayan terlihat bersandar di dekatnya. Jalan yang dahulu terhubung dengan jembatan itu sudah mulai tampak dari kedua sisi, meski belum seluruh bagian jembatan terlihat dan kondisinya belum aman untuk dilalui kendaraan. Surutnya Waduk Gajah Mungkur dengan demikian menghadirkan dua hal sekaligus: ancaman kekeringan yang perlu diwaspadai, dan kesempatan langka untuk mengenali sejarah kampung yang terkubur. Bagi warga keturunan, momen ini bisa jadi jalan napak tilas; bagi yang lain, pengingat bahwa lanskap buatan selalu menyimpan cerita di bawah permukaannya.
Sumber: Detik Travel
Kalau Saya suka cerita-cerita seperti ini, jangan sampai kelewatan update berikutnya ya. Pantengin terus kanal LapakStore88 biar Saya selalu dapat kabar terkini soal peristiwa menarik di sekitar kita, dari yang sekecil ini sampai yang paling hangat. Yuk, gabung dan ikuti terus, biar tidak ketinggalan cerita selanjutnya.
๐ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini
๐ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini
โ๏ธ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.
Gabung Channel Telegram »๐ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog
Baca juga:
Kata kunci terkait: waduk gajah mungkur, makam kuno wonogiri, jembatan lengkong, waduk gajah mungkur surut, desa ngungkingsari, transmigrasi wonogiri, kemarau panjang wonogiri, sejarah waduk gajah mungkur
#LapakStore88
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372077/original/030644000_1791867251-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_09.42.53.jpeg)


