Bisnis 7 menit baca

90% Nilai Tambah Ekonomi Indonesia Berasal dari Sektor Swasta

90% Ekonomi Indonesia Tumpuan Swasta, Apa yang Masih Harus Diperbaiki?

LokalStore88 Selasa,13 Oktober 2026.

Angka 90% mungkin terdengar biasa di atas kertas, tetapi justru di situlah letak kerentanan sekaligus kekuatan struktur ekonomi nasional kita. Hampir seluruh nilai tambah ekonomi Indonesia ternyata bertumpu pada bahu sektor swasta, sebuah fakta yang sering kali tersembunyi di balik narasi megah tentang peran negara. Bagi pembaca yang mengikuti perkembangan bisnis, angka ini bukan sekadar statistik kering, melainkan cerminan nyata dari seberapa besar andil perusahaan-perusahaan non-pemerintah dalam menghidupi perekonomian. Fakta ini memaksa kita untuk berhenti sejenak dan bertanya: apakah fondasi yang menopang 90% kontribusi itu sudah cukup kokoh untuk menghadapi badai ketidakpastian global yang semakin menguat di tahun-tahun mendatang?

Konteks mengenai dominasi sektor swasta ini menjadi semakin relevan ketika kita melihat pergeseran paradigma pembangunan ekonomi di Indonesia. Selama beberapa dekade terakhir, dialog publik sering kali terfokus pada seberapa besar intervensi pemerintah diperlukan, atau seberapa banyak investasi asing yang berhasil ditarik masuk ke dalam negeri. Namun, diskusi tersebut sering kali mengabaikan realitas bahwa mesin utama penggerak roda ekonomi justru berasal dari jutaan entitas bisnis swasta yang tersebar di berbagai pelosok tanah air. Pemahaman ini krusial karena keberhasilan atau kegagagalan pembangunan nasional tidak lagi bisa dipisahkan dari kesehatan dan vitalitas sektor swasta yang menopang mayoritas aktivitas ekonomi.

๐Ÿ›’ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »

Skala Usaha sebagai Kunci Produktivitas

Menurut studi perdana yang dilakukan oleh lembaga think tank Prasasti, saat ini terdapat sekitar 26,4 juta perusahaan yang beroperasi di Indonesia. Jumlah ini memang sangat masif dan menunjukkan betapa dinamisnya ekosistem wirausaha di negara kita. Namun, kuantitas semata tidak menjamin kualitas output ekonomi yang diinginkan. Banyak dari perusahaan-perusahaan tersebut masih terjebak dalam skala usaha kecil atau mikro yang membatasi kapasitas mereka untuk melakukan inovasi mendalam. Tanpa pendongkrakan skala, produktivitas per karyawan sulit untuk dinaikkan secara signifikan, sehingga daya saing produk Indonesia di pasar internasional tetap tertinggal dibandingkan kompetitor dari negara-negara maju atau tetangga regional.

Artinya, masalah utama bukan lagi berapa banyak bisnis yang ada, melainkan bagaimana bisnis-bisnis tersebut bisa tumbuh menjadi 'raksasa' yang mampu bersaing di arena global. Transisi dari usaha kecil ke menengah bahkan besar membutuhkan lebih dari sekadar modal; ia membutuhkan akses ke teknologi, pasar, dan sumber daya manusia yang kompeten. Jika sebagian besar perusahaan tetap stagnan di skala kecil, nilai tambah yang dihasilkan akan tetap datar dan rentan terhadap guncangan eksternal. Oleh karena itu, strategi kebijakan ekonomi harus berfokus pada cara-cara efektif untuk membantu perusahaan melampaui pembatas skala tersebut, bukan hanya sekadar mencatatkan jumlah pelaku usaha baru di statistik resmi.

Latar Belakang Tantangan Industri Nasional

Burhanuddin Abdullah, yang dikenal luas sebagai mantan Gubernur Bank Indonesia dan kini menjabat sebagai Board of Advisor Prasasti, memberikan perspektif tajam mengenai dinamika ini. Ia menegaskan bahwa narasi lama yang beranggapan bahwa tantangan ekonomi Indonesia hanya soal menarik lebih banyak dana investasi asing adalah pandangan yang sudah usang. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak investor, baik domestik maupun asing, yang sudah ada di Indonesia justru kesulitan untuk memperbesar skala operasional mereka. Hambatan ini bukan berasal dari kurangnya minat, melainkan dari lingkungan bisnis yang belum sepenuhnya mendukung ekspansi yang mulus dan berkelanjutan.

Keluhan akan sulitnya memperluas usaha ini sering kali muncul dari kalangan pelaku industri yang menghadapi birokrasi berbelit atau ketidakjelasan aturan main. Ketika sebuah perusahaan ingin membuka cabang baru atau memodernisasi pabriknya, proses yang seharusnya mempercepat pertumbuhan justru menjadi penghalang yang menguras waktu dan biaya. Situasi ini menciptakan semacam 'jebakan skala di mana perusahaan sudah cukup berhasil untuk bertahan, tetapi belum cukup mendapatkan dukungan sistemik untuk melompat ke level berikutnya. Akibatnya, potensi inovasi dan efisiensi yang bisa dihasilkan tidak pernah benar-benar terealisasi secara maksimal, merugikan daya saing agregat ekonomi nasional secara keseluruhan.

Penguatan Institusi dan Regulasi

90% Ekonomi Indonesia Tumpuan Swasta, Apa yang Masih Harus Diperbaiki? (2)
Foto: Liputan6 Bisnis

Untuk memecah kebuntuan tersebut, Burhanuddin Abdullah menekankan pentingnya penguatan institusi dan kepastian regulasi sebagai fondasi utama. Ia berargumen bahwa pemerintah memang memiliki peran penting dalam menetapkan arah kebijakan makro, tetapi tanpa institusi yang kuat dan berintegritas, ambisi tersebut hanya akan menjadi angan-angan belaka. Institusi yang solid adalah jembatan yang menghubungkan niat baik pemerintah dengan pencapaian nyata di lapangan oleh para pelaku usaha. Tanpa jembatan yang kokoh ini, seluruh rencana pembangunan ekonomi akan terbentur oleh realitas eksekusi yang lemah dan tidak konsisten.

Kepastian regulasi menjadi aspek krusial karena pelaku usaha membutuhkan sinyal yang jelas untuk membuat keputusan investasi jangka panjang. Ketika aturan berubah-ubah secara tiba-tiba atau diregulasi dengan cara yang tidak transparan, para investor cenderung memilih untuk menunggu atau akhirnya menarik diri dari pasar. Sebaliknya, lingkungan regulasi yang dapat diprediksi memberikan rasa aman bagi perusahaan untuk merencanakan ekspansi, merekrut talenta, dan berinvestasi dalam teknologi baru. Dengan demikian, reformasi regulasi bukan hanya soal teknis hukum, tetapi merupakan strategi strategis untuk memaksimalkan potensi kontribusi sektor swasta terhadap produk domestik bruto.

Dampak Nyata bagi Masyarakat dan Lapangan Kerja

Keberhasilan pembangunan ekonomi tidak seharusnya diukur semata-mata dari angka pertumbuhan Produk Domestik Bruto yang mencorong di media massa. Burhanuddin mengingatkan bahwa indikator yang lebih substansial adalah kemampuan perusahaan untuk menciptakan lapangan kerja yang produktif dan menawarkan upah yang layak bagi masyarakat. Pertumbuhan ekonomi yang inklusif hanya tercapai jika lebih banyak orang bisa mendapatkan pekerjaan berkualitas, yang pada gilirannya akan meningkatkan daya beli dan putaran ekonomi domestik. Jika sektor swasta terus tumbuh dan memperbesar skalanya, permintaan akan tenaga terampil akan meningkat, menciptakan efek berantai positif bagi sektor pendidikan dan pelatihan vokasi.

Di sisi lain, penguatan rantai pasok domestik juga menjadi faktor penentu keberhasilan transformasi ini. Ketika perusahaan lokal mampu menyuplai komponen atau bahan baku untuk perusahaan lain di dalam negeri, efisiensi biaya akan meningkat dan ketergantungan pada impor bisa dikurangi. Hal ini tidak hanya memperkuat ketahanan ekonomi terhadap volatilitas harga global, tetapi juga menciptakan ekosistem bisnis yang saling menopang. Dengan rantai pasok yang kuat, nilai tambah ekonomi akan lebih banyak terakumulasi di dalam negeri, bukan bocor keluar melalui impor barang jadi atau setengah jadi. Ini adalah prasyarat penting agar pertumbuhan ekonomi benar-benar dirasakan oleh lapisan masyarakat yang lebih luas, bukan hanya segelintir elit ekonomi.

Ruang Dialog dan Masa Depan Kebijakan

Menyadari kompleksitas tantangan ini, Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 hadir sebagai upaya untuk mendiskusikan solusi berbasis bukti dan data. Forum ini dirancang sebagai ruang dialog tahunan yang mempertemukan pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Tujuannya adalah untuk menyelaraskan visi dan misi antara pembuat kebijakan dengan pelaku lapangan, sehingga rekomendasi yang dihasilkan tidak hanya teoritis tetapi juga aplikatif. Melalui dialog yang konstruktif, diharapkan dapat ditemukan titik temu antara kebutuhan regulasi yang ketat untuk perlindungan masyarakat dengan fleksibilitas yang dibutuhkan dunia usaha untuk berinovasi.

Ke depannya, arah kebijakan ekonomi Indonesia perlu bertransformasi dari sekadar menciptakan iklim investasi yang menarik menjadi iklim usaha yang mendukung pertumbuhan skala. Fokus harus diarahkan pada bagaimana perusahaan-perusahaan yang sudah ada bisa didorong untuk naik kelas, baik dari sisi ukuran, teknologi, maupun kualitas produk. Dengan kepastian hukum yang terjaga dan institusi yang berfungsi dengan baik, sektor swasta yang saat ini menopang 90% ekonomi Indonesia siap untuk memberikan kontribusi yang bahkan lebih besar di masa mendatang. Tantangan ini membutuhkan kerja sama lintas sektor dan komitmen jangka panjang, bukan solusi instan yang bersifat elektoral. Hanya dengan pondasi yang kuat, ekonomi Indonesia bisa bersaing di kancah global sambil tetap menjaga keberlanjutan dan inklusivitas bagi seluruh warganya.

Sumber: Liputan6 Bisnis

Jangan sampai ketinggalan info penting lainnya. Yuk, ikuti terus kabar terbaru dan terlengkap dari LapakStore88 agar kamu selalu punya perspektif segar dalam melihat dinamika ekonomi dan bisnis di sekitar kita.

๐Ÿ“˜ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini

๐Ÿ’ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini

โœˆ๏ธ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.

Gabung Channel Telegram »

๐Ÿ“ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog

Kata kunci terkait: ekonomi Indonesia, sektor swasta, investasi Indonesia, kepastian regulasi, BUMN dan SWASTA, pertumbuhan ekonomi

#LapakStore88

Sumber asli: Liputan6 Bisnis