:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,45,304,0)/kly-media-production/medias/9372010/original/075899200_1791862847-IMG_9123.JPG)
LokalStore88 Selasa,13 Oktober 2026.
Bayangkan sebuah embung air di pedesaan Wonogiri yang tidak hanya berfungsi sebagai penampungan irigasi, tetapi juga berubah menjadi pusat kuliner dan wisata yang didayakan sepenuhnya oleh cahaya matahari. Di sinilah letak keunikan Embung Doho, sebuah kawasan yang kini menjadi contoh nyata bagaimana infrastruktur pertanian dapat bertransformasi menjadi ruang ekonomi ramah lingkungan. Perpaduan antara teknologi energi terbarukan dan pemberdayaan UMKM ini menciptakan ekosistem yang saling menguatkan, di mana kemajuan teknologi tidak mengesampingkan nilai sosial masyarakat lokal. Transformasi ini membuktikan bahwa pembangunan infrastruktur di daerah tidak harus mengorbankan aspek ekologis, melainkan justru bisa menjadi katalisator untuk pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan warga sekitar.
Latar belakang perubahan ini berakar dari kemarau panjang yang sering melanda wilayah Jawa Tengah, di mana ketersediaan air menjadi isu krusial bagi para petani. Embung Doho dibangun pada tahun 2017 melalui kolaborasi antara The Coca-Cola Foundation dan Yayasan Obor Tani untuk mengatasi kelangkaan air di musim kemarau. Awalnya, fokus utama adalah menyediakan cadangan air yang cukup untuk mengairi lahan sawah di sekitarnya saat debit sungai menurun drastis. Namun, seiring berjalannya waktu, keberadaan air yang melimpah dan suasana alam yang asri mulai menarik perhatian pengunjung dari luar desa. Hal ini menjadi titik balik ketika warga menyadari potensi ekonomi yang dapat digali dari keindahan alam dan ketersediaan air tersebut.
๐ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »
Sebelum adanya penataan khusus, aktivitas wisata di sekitar embung masih bersifat organik dan belum terstruktur dengan baik. Pengunjung umumnya datang hanya untuk menikmati pemandangan, berfoto, atau sekadar melepas penat dari rutinitas kota. Namun, potensi ini belum tergarap maksimal karena kurangnya fasilitas pendukung yang nyaman dan tertata rapi. Para pedagang makanan yang sudah lama berjualan di pinggir jalan pun belum memiliki titik kumpul yang terpusat, sehingga pengalaman berbelanja bagi pengunjung menjadi kurang nyaman. Kondisi ini menjadi tantangan bagi pemerintah desa dan kelompok sadar wisata untuk menemukan solusi yang tepat guna mengoptimalkan potensi wisata yang ada tanpa merusak keseimbangan alam.
Pemilihan tiga UMKM lokal untuk ditempatkan di taman kuliner baru ini didasarkan pada่้ kesesuaian produk dengan kebutuhan pengunjung. Bakso seharga sepuluh ribu rupiah, cilok, dan aneka makanan instan dipilih karena harganya yang terjangkau serta proses penyajiannya yang relatif cepat. Menu-menu ini sangat cocok untuk dinikmati sambil menunggu matahari terbenam atau setelah beraktivitas di luar ruangan. Dengan lokasi yang strategis di sudut kawasan kuliner, pedagang kini memiliki tempat berjualan yang lebih terorganisir dan mudah ditemukan oleh mata pengunjung. Penataan ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha mikro, tetapi juga memberikan kenyamanan visual bagi mereka yang datang untuk bersantai di tepi embung.
Transformasi Energi dalam Pengelolaan Air
Satu aspek paling menarik dari pengembangan Embung Doho adalah integrasi teknologi energi surya dalam sistem irigasi dan operasional wisata. Coca-Cola Foundation Indonesia memfasilitasi pemasangan empat unit panel surya dengan kapasitas puncak masing-masing 585 watt, sehingga total output listriknya mencapai 2.340 watt peak. Angka ini mungkin terdengar tidak terlalu besar bagi industri, tetapi sangat signifikan untuk skala operasional embung dan taman kuliner di pedesaan. Panel-panel ini dirancang untuk menghasilkan listrik secara optimal antara pukul 10.00 hingga 14.00 WIB, saat intensitas matahari di wilayah Jawa Tengah berada di titik puncaknya. Efisiensi energi ini menjadi kunci utama dalam mengurangi ketergantungan pada sumber listrik grid atau diesel yang biayanya lebih mahal dan berpolusi.
Dibandingkan dengan sistem sebelumnya yang menggunakan delapan panel dengan efisiensi yang lebih rendah, instalasi baru ini jauh lebih hemat dalam penggunaan sumber daya. Meskipun jumlah panelnya berkurang, daya listrik yang dihasilkan tetap setara atau bahkan lebih baik karena efisiensi teknologi yang lebih mutakhir. Listrik yang dihasilkan dari panel surya ini digunakan untuk menggerakkan pompa air yang mengalirkan air dari embung ke lahan pertanian. Dengan beralih ke energi surya, biaya operasional yang sebelumnya dibebankan pada pembelian pulsa listrik atau bahan bakar dapat ditekan secara signifikan. Penghematan biaya ini pada akhirnya dapat dialihkan untuk perawatan infrastruktur lainnya atau peningkatan layanan bagi petani dan pengunjung.
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,45,645,0)/kly-media-production/medias/9372010/original/075899200_1791862847-IMG_9123.JPG)
Terdapat dua titik instalasi panel surya yang memiliki fungsi spesifik berbeda di kawasan Embung Doho. Titik pertama difokuskan pada penggerak pompan air yang memasok kebutuhan irigasi bagi persawahan dan kebun warga di sekitarnya. Sementara itu, titik kedua menyediakan daya listrik untuk operasional Taman Kuliner Doho, termasuk penerangan, pemutar musik, dan fasilitas pendukung lainnya. Pemisahan ini memungkinkan manajemen energi yang lebih tepat sasaran, di mana kebutuhan listrik untuk irigasi yang berat dan penggunaan listrik untuk fasilitas wisata dapat dikelola secara terpisah. Strategi ini memastikan bahwa ketersediaan listrik untuk kebutuhan pokok pertanian tidak terganggu oleh aktivitas hiburan, dan sebaliknya, pengunjung tetap menikmati fasilitas yang memadai.
Dampak Ekonomi dan Sosial bagi Warga Doho
Keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari aspek teknis instalasi, tetapi juga dari dampak nyata yang dirasakan oleh masyarakat Desa Doho. Kepala Desa Doho, Agus Suhartono, menyatakan bahwa embung telah menjadi aset vital, terutama saat menghadapi ancaman kekeringan yang dapat gagal panen. Pompa tenaga surya memastikan bahwa pasokan air tetap mengalir stabil ke lahan pertanian, sehingga produktivitas petani terjaga sepanjang tahun. Selain sektor pertanian, pusat kuliner memberikan ruang baru bagi warga untuk mengembangkan jiwa kewirausahaan mereka. Banyak warga yang sebelumnya hanya menjadi buruh tani kini memiliki penghasilan tambahan dari hasil berjualan makanan di kawasan wisata.
Budaya wisata di Embung Doho juga telah berevolusi dari sekadar objek foto menjadi destinasi wisata alam yang lebih interaktif. Ketua Pokdarwis Desa Doho, Sudarmin, mengamati peningkatan jumlah pengunjung yang datang untuk jogging, berkemah, dan menikmati panorama alam. Gunung Lawu yang terlihat jelas pada cuaca cerah menjadi daya tarik utama yang membuat pengunjung betah berlama-lama. Aktivitas bumi perkemahan yang mulai marak di kawasan ini juga membawa multiplier effect yang positif bagi ekonomi lokal. Sekolah-sekolah dari berbagai daerah mulai menjadikan Embung Doho sebagai lokasi kegiatan outbond atau study tour, yang tentunya meningkatkan omzet pedagang dan membantu promosi desa secara organik.
Pemerintah Kabupaten Wonogiri juga memberikan perhatian penuh terhadap pengembangan kawasan ini sebagai bagian dari strategi pembangunan daerah. Dalam sambutan yang dibacakan oleh Asisten Sekda Bidang Pemerintahan dan Kesra, pembangunan embung seluas 1,5 hektare ini dianggap berhasil memberikan manfaat ganda. Selain fungsi irigasinya yang krusial, embung kini menjadi magnet pariwisata yang mendorong roda ekonomi lokal. Pesan yang disampaikan kepada masyarakat adalah pentingnya merawat fasilitas yang telah dibangun bersama ini agar manfaatnya dapat dinikmati secara berkelanjutan. Pemeliharaan rutin menjadi tanggung jawab kolektif pemerintah desa, pengelola, dan masyarakat untuk menjaga kebersihan serta keandalan infrastruktur.
Pendekatan Coca-Cola Foundation Indonesia dalam mendukung program ini bersifat jangka panjang dan berbasis pada prinsip keberlanjutan. Triyono Prijosoesilo, Ketua Pelaksana, menjelaskan bahwa mereka tidak hanya menyerahkan peralatan lalu pergi, tetapi juga melakukan pemantauan dampak secara berkala. Data dari pemantauan ini digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan masyarakat yang berubah dari waktu ke waktu. Bentuk dukungan lanjutan kemudian disesuaikan dengan hasil identifikasi tersebut, memastikan bahwa program tetap relevan dan efektif. Model kemitraan seperti ini memberikan ketentraman bagi warga bahwa mereka tidak akan dibiarkan sendirian dalam mengelola aset berharga yang telah mereka miliki bersama.
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,45,285,0)/kly-media-production/medias/9372009/original/016641200_1791862756-IMG_9107.jpg)
Manajemen Air dan Tanggung Jawab Lingkungan
Aspek keberlanjutan lain yang tidak kalah penting adalah pengelolaan sumber daya air secara holistik di kawasan Embung Doho. Inisiatif ini mencakup penampungan dan penyaringan air hujan untuk kebutuhan non-konsumsi, seperti kebersihan fasilitas publik dan penyiraman tanaman hias. Sistem ini mengurangi beban air baku yang harus dialihkan untuk keperluan rutin, sehingga persediaan air untuk irigasi pertanian tetap terjaga. Selain itu, pengelolaan air limbah dari area kuliner juga dilakukan dengan cara yang ramah lingkungan. Pengelolaan limbah cair ini bertujuan untuk mencegah pencemaran air embung yang merupakan sumber kehidupan utama bagi pertanian di sekitarnya.
Dengan adanya sistem pengolahan air yang baik, kualitas air di Embung Doho tetap terjaga meskipun aktivitas wisata semakin meningkat. Hal ini krusial karena embung juga berfungsi sebagai tempat resapan air dan cadangan air bagi masyarakat saat musim kemarau. Jika air embung tercemar oleh limbah dari area kuliner, maka fungsi utamanya sebagai sumber irigasi akan terganggu dan dapat menimbulkan konflik sosial antar warga. Oleh karena itu, edukasi kepada pedagang dan pengunjung tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan menjadi bagian integral dari operasional taman kuliner. Kesadaran kolektif ini merupakan fondasi utama agar sinergi antara pariwisata dan pertanian dapat terus berjalan harmonis.
Konsep taman kuliner ramah lingkungan ini juga sejalan dengan tren global tentang pariwisata berbasis komunitas dan ekowisata. Pengunjung kini semakin peduli terhadap dampak lingkungan dari aktivitas liburan mereka, sehingga memilih destinasi yang bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan. Embung Doho dengan inovasi panel surya dan pengelolaan airnya menyasar segmen pasar ini secara tepat. Kota-kota besar di sekitar Wonogiri memiliki banyak warga yang mencari tempat rekreasi akhir pekan yang tenang dan bersih. Dengan citra sebagai destinasi yang peduli lingkungan, Embung Doho semakin memperkuat posisinya sebagai tujuan wisata favorit bagi keluarga dan komunitas.
Masa depan Embung Doho terlihat cerah dengan adanya fondasi infrastruktur yang kuat dan dukungan institusional yang solid. Keberhasilan menggabungkan efisiensi energi surya dengan pemberdayaan UMKM menjadi template yang dapat ditiru oleh daerah lain di Indonesia. Banyak desa yang memiliki potensi alam serupa namun gagal mengoptimalkannya karena kendala teknis atau kurangnya modal. Model Embung Doho menunjukkan bahwa dengan perencanaan yang matang dan kemitraan yang tepat, potensi lokal dapat diangkat menjadi kekuatan ekonomi yang besar. Inovasi ini tidak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga menciptakan rasa bangga dan memiliki di kalangan warga Desa Doho.
Proses transformasi ini juga mengajarkan pentingnya adaptasi terhadap perubahan iklim melalui teknologi tepat guna. Dengan memanfaatkan energi matahari yang melimpah di Indonesia, ketergantungan pada energi fosil dapat dikurangi secara signifikan di tingkat komunitas. Ini adalah langkah kecil namun bermakna besar dalam upaya mitigasi perubahan iklim secara global. Selain itu, pengelolaan air yang efisien menjadi jaminan ketahanan pangan di tengah frekuensi kemarau yang semakin tidak menentu. Kombinasi keduanya menjadikan Embung Doho bukan sekadar taman rekreasi, tetapi juga laboratorium sosial-ekologis yang hidup.
Reaksi positif dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga masyarakat adat setempat, menjadi indikator keberhasilan program ini. Tidak ada protes atau penolakan signifikan karena manfaatnya jelas dirasakan langsung oleh semua pemangku kepentingan. Petani mendapat air, pedagang dapat berjualan, dan pengunjung memiliki tempat bersantai yang nyaman. Penguatan kapasitas SDM lokal dalam mengoperasikan panel surya dan sistem irigasi juga dilakukan secara paralel. Dengan demikian, ketika pendampingan dari pihak ketiga dihentikan nanti, masyarakat Doho sudah siap mandiri dalam mengelola asetnya. Kemandirian ini adalah tujuan akhir dari setiap program pembangunan berbasis komunitas yang baik.
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,45,285,0)/kly-media-production/medias/9372012/original/068065900_1791862902-IMG_9137.jpg)
Secara lebih luas, inisiatif di Embung Doho membuka cakrawala baru bagi policymakers di Indonesia tentang pengelolaan sumber daya air di tingkat desa. Tradisi pembangunan embung yang biasanya hanya berfokus pada infrastruktur sipil kini dapat diperluas dengan menambahkan komponen ekonomi dan lingkungan. Investasi awal dalam teknologi energi terbarukan mungkin terlihat mahal di awal, tetapi biaya operasinya yang rendah akan menghemat anggaran daerah dalam jangka panjang. Hemat tersebut dapat dialokasikan untuk program pendidikan, kesehatan, atau pengembangan infrastruktur lainnya yang juga penting bagi kesejahteraan warga. Efisiensi anggaran di satu sektor dapat mendanai perbaikan kualitas hidup di sektor lain, menciptakan siklus pembangunan yang positif.
Kedepannya, pengembangan Embung Doho mungkin akan mencakup lebih banyak jenis kegiatan rekreasi yang ramah lingkungan. Potensi untuk menambah jalur sepeda, area piknik, atau pusat edukasi pertanian terbuka lebar. Namun, prioritas utama tetaplah menjaga keseimbangan ekologis dan kelestarian air. Setiap penambahan fasilitas harus dievaluasi dampaknya terhadap debit air dan kualitas lingkungan. Jika keseimbangan ini terganggu, maka esensi keberlanjutan program akan hilang. Oleh karena itu, pendekatan konservatif namun progresif akan terus diterapkan dalam setiap rencana pengembangan kawasan di masa depan.
Artikel ini menyoroti bagaimana satu embung di Wonogiri dapat menjadi simbol perubahan paradigma pembangunan di pedesaan Indonesia. Dari sekadar penampungan air menjadi pusat ekonomi yang didayakan energi surya, Embung Doho membuktikan bahwa kemajuan dan kelestarian bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Dengan dukungan yang tepat dan partisipasi aktif masyarakat, potensi lokal dapat diubah menjadi kekuatan strategis. Cerita Embung Doho adalah pengingat bahwa solusi untuk masalah lokal seringkali terletak pada inovasi yang sederhana namun diterapkan dengan konsisten. Semoga kisah sukses ini dapat menginspirasi daerah lain untuk berani bereksperimen dengan model pembangunan yang lebih kreatif dan bertanggung jawab.
Penutup dari pembahasan ini menegaskan bahwa keberhasilan Embung Doho terletak pada sinergi antara teknologi, budaya, dan ekonomi. Ketiganya saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Teknologi surya menyediakan daya, budaya wisata menyediakan pasar, dan ekonomi lokal menyediakan tenaga kerja. Jika salah satu elemen melemah, maka keseluruhan sistem akan terganggu. Maka dari itu, pemeliharaan dan pengembangan harus dilakukan secara simultan dan berkelanjutan. Warisan yang ditinggalkan oleh program ini bukan hanya bangunan fisik, tetapi juga pengetahuan dan keterampilan baru bagi warga Doho. Aset tak berwujud ini merupakan investasi terbesar untuk masa depan desa tersebut.
Secara keseluruhan, inisiatif Coca-Cola Foundation di Embung Doho Wonogiri merupakan studi kasus yang sukses dalam penerapan pembangunan berkelanjutan. Kombinasi antara irigasi pertanian, energi terbarukan, dan pariwisata berbasis komunitas menciptakan model yang replicable di berbagai wilayah lain. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa sektor swasta dapat berperan aktif dalam menyelesaikan masalah sosial dan lingkungan di pedesaan. Dengan terus memantau dampak dan menyesuaikan strategi, program ini diharapkan dapat terus memberikan manfaat optimal.Embun Doho kini bukan hanya embung, melainkan denyut nadi ekonomi dan sosial baru bagi masyarakat Wonogiri.
Sumber: Liputan6 Lifestyle
Bagaimana menurut Anda tentang inovasi keberlanjutan di daerah seperti ini? Ceritakan pengalaman Anda di kolom komentar di bawah. Jangan lupa untuk terus mengikuti LapakStore88 agar tidak ketinggalan informasi terbaru seputar gaya hidup, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat di berbagai penjuru Indonesia.
๐ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini
๐ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini
โ๏ธ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.
Gabung Channel Telegram »๐ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog
Baca juga:
Kata kunci terkait: Embung Doho, Wonogiri, Coca-Cola Foundation, energi surya, UMKM lokal, pariwisata berkelanjutan, pengelolaan air
#LapakStore88
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372417/original/072399800_1791879335-776918.jpg)


