:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2269517/original/068433600_1530766531-Warga-Uruguay2.jpg)
LokalStore88 Rabu,14 Oktober 2026.
Nama Portugal selama bertahun-tahun nyaris selalu menempel di puncak daftar tujuan pensiun paling ramah di dunia. Tahun ini, posisi itu direbut Uruguay, negara kecil di Amerika Selatan yang jarang masuk perbincangan soal masa tua yang tenang. Pergeseran ini bukan sekadar urusan gengsi antarnegara. Bagi siapa pun yang sedang menghitung ulang rencana pensiunnya, termasuk soal biaya hidup, pajak, dan akses kesehatan, hasil pemeringkatan terbaru ini bisa mengubah arah pencarian. Pasalnya, keputusan pensiun kini makin sering dibicarakan sebagai pilihan lintas negara, bukan lagi sekadar pindah kota atau pulang kampung.
Pemeringkatan tersebut disusun Global Citizen Solutions, organisasi yang berbasis di London dan berfokus pada layanan kewarganegaraan global, visa, serta relokasi di kawasan Eropa dan Karibia. Dalam laporannya, mereka membandingkan 46 program pensiun dan penghasilan pasif dari sejumlah negara. Hasilnya kemudian dirangkum dan dikutip sejumlah media, salah satunya VnExpress. Yang menarik, penilaiannya tidak berhenti pada besaran biaya hidup semata, melainkan mencoba memotret pengalaman tinggal secara menyeluruh. Artinya, negara yang menang bukan otomatis yang paling murah, tetapi yang paling seimbang dalam banyak hal.
๐ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »
Bagi pembaca di Indonesia, hasil ini relevan karena tren pensiun lintas negara terus tumbuh. Semakin banyak orang mencari tempat dengan udara bersih, layanan kesehatan terjangkau, dan proses administrasi yang tidak berbelit. Persoalannya, informasi yang beredar sering hanya sepotong: satu sumber menyebut biaya hidup murah, sumber lain menonjolkan pajaknya, sementara urusan izin tinggal dan kewarganegaraan jarang dibahas tuntas. Pemeringkatan seperti ini mencoba menyatukan semua variabel itu dalam satu gambaran. Karena itu, hasilnya layak dibaca lebih dari sekadar daftar urutan negara.
Cara mereka menilai
Ada sejumlah indikator utama yang dipakai untuk menyusun peringkat. Mereka menimbang kualitas hidup, kebebasan bepergian, hingga jalur menuju kewarganegaraan di negara tujuan. Prosedur pendaftaran juga dinilai, termasuk seberapa rumit dokumen yang harus disiapkan dan berapa lama prosesnya berjalan. Faktor biaya tentu tidak dilupakan, karena inilah yang paling sering jadi pertimbangan pertama calon pensiunan. Kombinasi indikator ini membuat penilaiannya lebih menyeluruh dibanding daftar negara termurah untuk pensiun yang banyak beredar di internet.
Selain itu, masih ada beberapa faktor tambahan yang masuk hitungan. Keamanan dan kualitas lingkungan menjadi salah satu pertimbangan penting, terutama bagi mereka yang mencari ketenangan di usia lanjut. Kewajiban penghasilan bulanan, waktu proses pengajuan, dan perlakuan pajak juga diperhitungkan. Yang tak kalah menentukan adalah jalur menuju hak tinggal permanen hingga kewarganegaraan, karena inilah yang memberi kepastian jangka panjang. Dengan bobot seperti ini, sebuah negara harus tampil baik di banyak aspek sekaligus, bukan hanya unggul di satu sisi.
Pendekatan tersebut masuk akal. Ketika seseorang memutuskan pindah ke negara lain untuk menikmati masa pensiun, yang dicari bukan cuma penghematan. Ada kebutuhan akan rasa aman, akses layanan kesehatan yang bisa diandalkan, serta kejelasan status hukum saat tinggal bertahun-tahun di sana. Tanpa kepastian itu, biaya hidup murah bisa jadi tidak berarti banyak. Di titik inilah pemeringkatan seperti ini membantu: ia memaksa calon pensiunan melihat gambaran besar, bukan hanya angka di brosur.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2269517/original/068433600_1530766531-Warga-Uruguay2.jpg)
Apa yang membuat Uruguay menang
Uruguay dikenal sebagai salah satu negara dengan politik dan ekonomi paling stabil di dunia. Stabilitas ini bukan hal sepele bagi pensiunan, karena berkaitan langsung dengan keamanan aset, nilai mata uang, dan keberlanjutan layanan publik. Ketika situasi politik dan ekonomi sebuah negara mudah berubah, rencana jangka panjang jadi sulit dipegang. Sebaliknya, kondisi yang relatif tenang membuat orang lebih berani menetap dalam waktu lama. Kombinasi inilah yang tampaknya mengangkat Uruguay ke posisi teratas tahun ini.
Satu hal yang membuat Uruguay menonjol adalah jalur hak tinggal permanennya. Pemohon dapat langsung mengajukan hak tinggal permanen tanpa harus melewati status hak tinggal sementara terlebih dahulu. Bagi banyak orang, ini memangkas tahapan yang biasanya panjang dan melelahkan. Tidak perlu menunggu bertahun-tahun hanya untuk naik ke status berikutnya. Kepastian sejak awal semacam ini jelas menarik bagi mereka yang ingin segera menata hidup di tempat baru. Proses yang sederhana juga mengurangi beban administratif yang sering jadi sumber stres.
Meski begitu, ada catatan soal pendapatan. Laporan menyebut adanya kewajiban pendapatan bulanan sebesar US$ 1.700, atau sekitar Rp 17,9 juta dengan asumsi kurs di kisaran Rp 17.920 per dolar AS. Namun, Uruguay dikabarkan tidak menetapkan angka pendapatan minimal khusus untuk hak tinggal permanen. Yang diminta adalah bukti bahwa pemohon mampu menyokong hidupnya secara finansial. Artinya, penilaian lebih ditekankan pada kemampuan bertahan hidup, bukan pada patokan angka yang kaku.
Yang juga menarik, Uruguay punya jalur naturalisasi terpendek dalam peringkat tersebut. Untuk mereka yang sudah menikah, masa menuju kewarganegaraan bisa dicapai dalam tiga tahun. Sementara yang belum menikah menempuh jalur lima tahun. Angka ini relatif singkat dibanding banyak negara lain yang biasa meminta waktu jauh lebih lama. Bagi pensiunan yang ingin punya status kewarganegaraan penuh, jalur cepat ini menjadi nilai tambah tersendiri. Kepastian status membuat perencanaan jangka panjang jadi lebih mudah, termasuk soal properti dan warisan.
Layanan kesehatan juga menjadi salah satu daya tarik. Warga negara asing diberi akses ke layanan kesehatan umum maupun swasta. Akses itu sering kali tersedia melalui paket layanan kesehatan lokal yang harganya terjangkau. Bagi pensiunan, faktor ini sering menjadi penentu utama, karena kebutuhan medis biasanya meningkat seiring usia. Tersedianya pilihan antara fasilitas publik dan swasta memberi keleluasaan menyesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing. Ditambah lagi, biaya pengobatan yang lebih ringan membuat dana pensiun terasa lebih aman.
Peta persaingan dan dominasi kawasan
Uruguay tidak sendirian di jajaran atas. Posisi kedua ditempati Mauritius, disusul Spanyol dan Kosta Rika. Sementara Portugal, yang tahun sebelumnya memimpin, kini harus puas berada di peringkat kelima. Pergeseran ini menunjukkan persaingan antarnegara dalam menarik pensiunan asing semakin ketat. Negara-negara yang dulu dianggap unggul tidak bisa berpuas diri, karena penilaian terus berkembang mengikuti perubahan kebijakan dan kondisi lokal. Bagi calon pensiunan, ini justru kabar baik karena pilihan semakin beragam.
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/8782651/original/090515900_1782893322-lansia__3_.jpeg)
Menariknya, Eropa masih menjadi kawasan dengan perwakilan terbanyak. Enam negara dari benua itu berhasil masuk sepuluh besar. Sebaliknya, kawasan Asia tidak memiliki satu pun perwakilan dalam daftar tersebut. Ketimpangan ini menggambarkan bagaimana faktor seperti akses kesehatan, stabilitas, dan kemudahan izin tinggal masih jadi pekerjaan rumah bagi banyak negara di Asia. Padahal, secara biaya hidup, sejumlah negara Asia justru jauh lebih bersaing. Kesenjangan inilah yang membuat hasil pemeringkatan terasa penting untuk dicermati.
Pola ini memberi petunjuk bahwa pensiunan asing cenderung mencari keseimbangan, bukan hanya harga murah. Negara-negara yang berhasil masuk jajaran atas biasanya menawarkan kombinasi stabilitas, layanan, dan kepastian hukum yang mapan. Faktor cuaca dan lingkungan juga ikut berperan, terutama bagi mereka yang ingin menghindari musim dingin ekstrem. Di sisi lain, dominasi kawasan tertentu menandakan bahwa membangun ekosistem ramah lansia butuh kerja panjang, bukan sekadar promosi wisata. Karena itu, daftar semacam ini sering dibaca sebagai cermin kesiapan sebuah negara.
Indonesia punya cerita sendiri
Di tengah persaingan itu, Indonesia juga punya argumennya sendiri. Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Kependudukan, dan Ketenagakerjaan Bappenas, Maliki, menilai Indonesia adalah tempat yang baik bagi lansia dan para pensiunan. Menurutnya, cuaca di Indonesia cenderung hangat namun tidak terlalu panas. Ia juga menyoroti bahwa Indonesia tidak mengalami musim dingin bersalju, sehingga dianggap lebih nyaman bagi mereka yang punya masalah tulang. Pandangan ini menegaskan bahwa daya tarik sebuah negara tidak selalu diukur dari infrastruktur semata.
Maliki menambahkan, jika dibangun sebuah kawasan yang ramah lansia, minat dari pensiunan mancanegara berpotensi besar. Ia mencontohkan model rumah pensiun yang berkembang di Florida, Amerika Serikat. Menurutnya, Indonesia bisa membangun sejumlah area dengan konsep serupa. Gagasan ini menyiratkan bahwa peluang ekonomi dari sektor pensiun lintas negara masih terbuka lebar. Namun tentu saja, konsep semacam itu memerlukan perencanaan matang, mulai dari fasilitas kesehatan hingga aksesibilitas harian.
Di dalam negeri, sebenarnya sudah ada contoh kawasan yang identik dengan para pensiunan. Kabupaten Majalengka di Jawa Barat dikenal sebagai daerah yang banyak dihuni pensiunan. Hal itu disampaikan anggota Komisi VIII DPR, Selly Andriany Gantina, dalam kesempatan yang sama. Ia menilai bukan tidak mungkin suatu saat Indonesia menciptakan daerah yang khusus diperuntukkan bagi pensiunan. Wacana ini memperlihatkan bahwa gagasan kota atau kawasan pensiun bukan hal yang sepenuhnya asing bagi Indonesia.
Pada akhirnya, pergeseran di puncak peringkat pensiunan dunia menunjukkan satu hal: pilihan tempat menua tidak lagi tunggal. Uruguay kini memimpin, disusul Mauritius, Spanyol, dan Kosta Rika, sementara Portugal harus rela turun ke posisi kelima. Bagi calon pensiunan, informasi seperti ini membantu menyusun prioritas, apakah soal biaya, kesehatan, pajak, atau kepastian status tinggal. Sementara bagi negara-negara yang ingin menarik minat serupa, termasuk Indonesia, pekerjaan rumahnya jelas: membangun ekosistem yang benar-benar nyaman dan aman bagi lansia. Persaingan ini akan terus bergerak, dan daftar tahun depan bisa jadi berbeda lagi.
Sumber: Liputan6 Bisnis
Nah, kalau Saya sendiri penasaran daftar tahun depan bakal berubah lagi atau tidak. Biar tidak ketinggalan berita-berita menarik seperti ini, mampir terus ya ke kanal LapakStore88 dan ikuti update terbarunya. Siapa tahu negara idaman untuk masa pensiun justru muncul dari informasi yang Anda baca hari ini.
๐ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini
๐ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini
โ๏ธ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.
Gabung Channel Telegram »๐ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog
Baca juga:
Kata kunci terkait: uruguay, negara terbaik untuk pensiun, pensiunan, portugal, global citizen solutions, pensiun di luar negeri, lansia, pindah ke luar negeri
#LapakStore88



