Olahraga 7 menit baca

Indonesia bidik perolehan emas Thailand di Asian Para Games

Selisih 15 Emas dengan Thailand Jadi Pacuan Indonesia Menuju Asian Para Games 2026

LokalStore88 Rabu,14 Oktober 2026.

76 berbanding 91. Selisih itulah yang kini menjadi ukuran jarak antara Indonesia dan Thailand di panggung Asian Para Games, sebuah angka yang terdengar kecil tetapi menuntut kerja keras bertahun-tahun untuk dipangkas. Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir pun menyoroti hal ini secara langsung, mendorong agar perolehan emas Indonesia terus naik. Bagi publik yang biasanya hanya melihat klasemen akhir, selisih 15 emas mungkin tampak seperti urusan statistik belaka. Padahal di baliknya ada cerita panjang soal pembinaan, fasilitas, dan seberapa besar perhatian negara terhadap atlet disabilitas. Perbandingan ini menjadi pijakan penting menjelang kejuaraan berikutnya.

Perhatian terhadap selisih tersebut bukan tanpa alasan. Asian Para Games bukan sekadar ajang empat tahunan; ia adalah panggung tempat kualitas pembinaan atlet disabilitas sebuah negara diuji dan diukur. Setiap tambahan emas menunjukkan ada ekosistem yang bekerja, mulai dari pencarian bakat di daerah hingga pemusatan latihan. Sebaliknya, stagnasi perolehan bisa menjadi sinyal bahwa ada mata rantai yang belum tersambung. Karena itu, dorongan untuk menyalip Thailand sebaiknya dibaca sebagai upaya membenahi sistem, bukan sekadar mengejar angka di papan klasemen.

๐Ÿ›’ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »

Bukan Sekadar Papan Klasemen

Asian Para Games merupakan pesta olahraga multicabang bagi atlet penyandang disabilitas dari negara-negara Asia. Di dalamnya ada banyak nomor pertandingan dengan sistem klasifikasi yang membagi atlet berdasarkan jenis dan tingkat disabilitasnya, sehingga persaingan tetap setara. Keragaman cabang ini membuat perolehan medali sangat bergantung pada luasnya basis atlet yang dibina. Negara yang mampu menjangkau banyak daerah dan banyak jenis disabilitas cenderung mengumpulkan medali lebih banyak. Inilah mengapa peringkat di ajang ini sering dianggap cerminan seberapa inklusif sistem olahraga sebuah negara. Bagi Indonesia, posisi di daftar itu bukan hanya soal gengsi, melainkan potret nyata dari kerja pembinaan sehari-hari.

Indonesia sendiri bukan pendatang baru. Dalam empat edisi yang telah diikuti, kontingen Merah Putih mengumpulkan 76 medali emas. Jumlah itu sebuah capaian yang tidak kecil, tetapi masih berada di bawah Thailand yang mengoleksi 91 emas. Selisih 15 emas menjadi pembanding yang terus disebut ketika membicarakan peta kekuatan di kawasan. Thailand dikenal memiliki pembinaan olahraga disabilitas yang panjang dan konsisten, sehingga wajar bila mereka bertahan di posisi atas. Sementara itu, Indonesia masih berupaya menjaga konsistensi penampilan dari satu edisi ke edisi berikutnya.

Membaca selisih 15 emas perlu kehati-hatian. Angka itu bukan sesuatu yang bisa ditutup hanya dengan menambah satu dua nomor pertandingan, karena setiap emas adalah hasil akumulasi latihan bertahun-tahun. Seorang atlet disabilitas biasanya menempuh perjalanan panjang sebelum sampai ke level Asia, mulai dari klub lokal, kejuaraan nasional, hingga seleksi tim nasional. Artinya, untuk menambah emas, yang perlu ditambah lebih dulu adalah jumlah atlet yang berlatih serius di banyak daerah. Tanpa itu, target menyalip Thailand akan sulit terwujud dalam waktu singkat. Yang dibutuhkan adalah kesabaran sekaligus keseriusan dalam mengurus prosesnya.

Dorongan dari Kursi Menteri

Dorongan itu datang dari level tertinggi pembinaan olahraga nasional. Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir secara terbuka meminta agar perolehan medali emas Indonesia ditingkatkan demi mengejar Thailand. Arahan semacam ini penting karena memberi sinyal kepada jajaran pembina bahwa target kawasan menjadi prioritas. Namun, arahan di ruang rapat baru bermakna bila diterjemahkan menjadi program di lapangan. Di sinilah peran kementerian, pengurus cabang, dan pemerintah daerah saling terkait dan tidak bisa bekerja sendiri-sendiri.

Target tersebut sekaligus menjadi dorongan bagi pembinaan atlet menjelang Asian Para Games 2026 yang akan digelar di Jepang. Ajang itu menjadi tonggak penting karena menjadi kesempatan berikutnya untuk mengukur seberapa jauh jarak dengan Thailand bisa dipangkas. Persiapan menuju 2026 tidak bisa dimulai setahun sebelum keberangkatan; atlet butuh siklus latihan panjang, termasuk kejuaraan-kejuaraan pendahuluan sebagai uji coba. Maka, arahan untuk menambah emas pada dasarnya adalah perintah untuk mempercepat kerja pembinaan sejak sekarang. Waktu yang tersedia sebenarnya tidak sesempit yang dibayangkan banyak orang, tetapi juga tidak bisa dibuang begitu saja.

Menariknya, mengejar Thailand tidak selalu berarti harus memenangi setiap nomor yang biasa dikuasai Thailand. Strategi yang lazim ditempuh adalah memperkuat cabang-cabang andalan sekaligus membuka peluang di nomor yang belum banyak diikuti atlet Indonesia. Menambah peserta di nomor tertentu, misalnya, bisa menjadi jalan realistis untuk menambah peluang medali. Namun, strategi ini hanya berjalan jika ada cukup atlet yang lolos kualifikasi dan cukup pelatih yang mendampingi. Karena itu, pembahasan soal target emas tidak bisa dipisahkan dari pembahasan soal jumlah atlet dan kualitas pendampingan.

Tantangan yang Harus Diatasi

Di balik target yang terdengar jelas, ada sejumlah pekerjaan rumah yang tidak sederhana. Sistem klasifikasi disabilitas menuntut pemahaman teknis yang teliti, karena atlet harus ditempatkan pada kelas yang tepat agar bisa bersaing secara adil. Kekurangan tenaga klasifikator atau pelatih yang memahami kebutuhan spesifik atlet bisa membuat potensi besar terbuang percuma. Belum lagi persoalan akses latihan, mulai dari transportasi hingga fasilitas yang ramah bagi pengguna kursi roda. Semua itu adalah bagian dari ekosistem yang menentukan apakah tambahan emas benar-benar bisa diraih, bukan hanya direncanakan.

Karena itu, upaya ini jelas bukan tugas satu lembaga. Kementerian, komite olahraga nasional, pengurus cabang, pemerintah daerah, sekolah luar biasa, hingga klub-klub akar rumput memiliki peran masing-masing. Pencarian bakat di daerah, misalnya, hanya berjalan jika ada pihak yang aktif menyisir dan mendampingi anak-anak berbakat sejak dini. Sementara di tingkat pusat, kebutuhan pemusatan latihan, jadwal uji coba, dan dukungan pembinaan harus disiapkan dengan perencanaan yang rapi. Kolaborasi semacam inilah yang membuat target tidak berhenti sebagai wacana di atas kertas.

Dampaknya pun tidak hanya soal peringkat. Setiap atlet yang tampil dan meraih medali di Asian Para Games membawa pesan tentang inklusivitas ke ruang publik. Ketika prestasi atlet disabilitas mendapat sorotan yang layak, persepsi masyarakat terhadap penyandang disabilitas berangsur berubah. Anak-anak yang tumbuh dengan disabilitas melihat bahwa ada jalur prestasi yang bisa mereka tempuh, bukan hanya jalur keterbatasan. Efek semacam ini jauh melampaui nilai medali, meski sering luput dari perhitungan. Panggung olahraga dengan demikian berfungsi sebagai ruang edukasi sosial yang dampaknya terasa panjang.

Dari sisi publik, dorongan untuk menyalip Thailand umumnya disambut positif. Harapan agar Indonesia naik peringkat memang besar, terlebih karena selisihnya tidak terlalu jauh. Meski begitu, sebagian pengamat mengingatkan agar target prestasi dibarengi dengan perbaikan tata kelola, mulai dari transparansi pembinaan hingga kesejahteraan atlet. Target yang tinggi tanpa dukungan yang memadai berisiko menimbulkan kekecewaan, baik bagi atlet maupun publik yang menunggu hasil. Karena itu, cara pencapaiannya sama pentingnya dengan hasil akhirnya.

Bagi pembaca, ada beberapa hal yang bisa dilakukan tanpa harus menjadi bagian dari tim pelatih. Mengikuti perkembangan atlet disabilitas, menonton pertandingan, hingga memberi ruang di media sosial adalah bentuk dukungan yang nyata. Sorotan publik juga sering menjadi pendorong bagi sponsor untuk ikut terlibat lebih jauh. Semakin banyak pihak yang peduli, semakin besar kemungkinan pembinaan berjalan lebih baik dan lebih merata. Dengan begitu, upaya mengejar Thailand bukan hanya beban atlet dan pengurus, melainkan agenda bersama yang bisa dirasakan manfaatnya.

Menjelang Asian Para Games 2026 di Jepang, selisih 76 berbanding 91 emas itu akan menjadi salah satu ukuran paling mudah dibaca untuk menilai kemajuan. Bisa tidaknya jarak itu dipangkas bergantung pada apa yang dikerjakan dari sekarang, bukan pada apa yang diumumkan menjelang keberangkatan. Yang jelas, target yang disampaikan Erick Thohir menandai bahwa olahraga disabilitas ditempatkan dalam pembicaraan besar olahraga nasional. Bila pembinaan berjalan konsisten, bukan mustahil urutan di papan klasemen kawasan berubah pada edisi berikutnya.

Sumber: Antara News

Kalau Saya boleh jujur, cerita soal pembinaan atlet disabilitas ini akan terus bergulir sampai Asian Para Games 2026 nanti, dan sering ada perkembangan baru yang sayang banget kalau terlewat. Makanya, yuk terus pantengin berita terkini dari LapakStore88 dan gabung ke kanal resminya biar Saya bisa langsung kabari setiap update berikutnya. Jangan sampai ketinggalan, ya.

๐Ÿ“˜ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini

๐Ÿ’ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini

โœˆ๏ธ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.

Gabung Channel Telegram »

๐Ÿ“ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog

Kata kunci terkait: asian para games, erick thohir, medali emas indonesia, asian para games 2026, atlet disabilitas, menpora, pembinaan atlet, thailand

#LapakStore88

Sumber asli: Antara News