:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371696/original/069192000_1791799986-mitathevirgin_1790768627_3997568678744348027_27389548.jpg)
LokalStore88 Rabu,14 Oktober 2026.
Sudah hampir satu setengah tahun Mita The Virgin melewati hari tanpa sosok yang paling rutin ia hubungi sebelum naik panggung. Kebiasaan mengabari mama, meminta doa, lalu berpesan agar sang mama menonton penampilannya, kini hanya tinggal kenangan. Bagi banyak orang ritual sesederhana itu mungkin terdengar sepele, bahkan sering dianggap angin lalu. Padahal justru hal-hal kecil semacam itulah yang paling terasa hilang saat seseorang sudah tidak ada. Pengakuan Mita soal rasa kehilangan yang belum juga surut membuat banyak orang ikut merenung tentang cara mereka sendiri menghargai orang tua.
Nama Mita The Virgin sendiri sudah lama dikenal penikmat musik tanah air. Ia terbiasa tampil di panggung, muncul di berbagai acara televisi, dan berbicara di depan banyak orang. Di balik kesibukan itu, ia ternyata menyimpan luka yang belum sembuh. Dalam sebuah kesempatan di kawasan Kapten Tendean, Jakarta Selatan, ia berbagi cerita tentang perasaannya belakangan ini. Cerita itu sederhana, tapi cukup membuat ruangan terasa hening.
๐ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »
Yang paling sering ia rasakan bukan sekadar rindu, melainkan kesepian. Mita mengaku masih merasa kosong ketika ada hal yang ingin ia bagikan tetapi tak lagi punya tempat untuk bercerita. Terlebih karena sosok mama adalah orang pertama yang ia cari ketika ada kabar baik maupun buruk. Hampir dua tahun berjalan, waktu ternyata belum cukup membuat semuanya terasa biasa. Ia menilai duka tidak bisa diukur dengan hitungan bulan atau tahun, dan fase ini termasuk yang paling berat untuk dilewati.
Saat Umrah, Rasa Kehilangan Itu Datang Lagi
Ada satu momen yang membuat rasa kehilangan itu terasa jauh lebih tajam: ketika Mita menjalani ibadah umrah. Di tempat yang seharusnya membawa ketenangan, ia justru semakin merasa ditinggal. Ia mengaku perasaan itu muncul begitu kuat, seolah sosok mamanya seharusnya ada di sana bersamanya. Baginya, momen-momen sakral memang sering jadi pemicu munculnya rindu yang selama ini ia tahan. Tidak heran jika ia menyebut pengalaman itu sebagai salah satu yang paling membekas.
Hal serupa terjadi ketika ia harus membahas sosok mamanya di acara televisi. Mita mengaku hampir selalu menangis setiap kali topik itu muncul. Ia tidak berusaha menyembunyikan air matanya, meski sadar sedang berada di depan kamera dan banyak orang. Baginya, menangis bukan tanda kelemahan, melainkan cara tubuh merespons rasa sayang yang belum selesai. Ia pun mengakui bahwa sampai sekarang ia belum benar-benar bisa menerima kepergian sang mama.
Mita juga menyadari bahwa duka tidak mengenal waktu. Menurutnya, orang yang sudah puluhan tahun ditinggal orang tua pun masih banyak yang merasakan kehilangan mendalam. Kalau mereka saja masih begitu, bagaimana dengan dirinya yang baru berjalan belum genap dua tahun? Perbandingan itu ia sampaikan bukan untuk mengeluh, melainkan untuk menjelaskan mengapa rasa sedihnya masih sering muncul. Baginya, kehilangan bukan sesuatu yang bisa dituntaskan lalu dilupakan begitu saja.
Kebiasaan yang Kini Tak Bisa Diulang
Ada satu kebiasaan lama yang paling ia rindukan. Sebelum manggung, Mita selalu mengabari mamanya lebih dulu dan meminta doa. Ritual itu ia lakukan bukan karena wajib, tapi karena ia percaya doa orang tua memberi ketenangan. Dengan mengabari sang mama, ia merasa ada yang menantikan penampilannya dengan bangga. Kebiasaan itu sederhana, namun menjadi semacam jangkar sebelum ia melangkah ke atas panggung. Sekarang, jangkar itu tidak ada lagi.
Permintaan agar mamanya menonton juga menjadi bagian yang tak terpisahkan. Setiap kali ada jadwal tampil di televisi, ia biasa berpesan singkat supaya sang mama menyaksikan penampilannya. Pesan-pesan itu kini tak lagi bisa dikirim ke tujuan yang sama. Mita mengaku bingung harus mengabari siapa ketika ada kabar baik soal pekerjaannya. Ia menyebut dirinya benar-benar merasa kesepian karena kehilangan sosok yang paling setia mendengarkan ceritanya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356505/original/072523700_1790177454-SaveClip.App_796497609_18635304589061549_8136613191413067625_n.jpg)
Meski begitu, hidup harus tetap berjalan. Mita bersyukur masih memiliki orang-orang terdekat yang menemaninya melewati hari-hari sulit. Ia menyebut ada Dara, ada teman-teman, dan ada adiknya yang terus mendukung. Dukungan itu tidak menghapus rasa kehilangan, tapi setidaknya membuatnya tidak sendirian. Dengan modal itu, ia memilih untuk menjalani hidup apa adanya sambil terus belajar berdamai dengan keadaan.
Cara Mita menghadapi duka juga tercermin dari perubahan sikapnya. Ia mengaku jadi lebih hati-hati dalam bertindak karena ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Ingatan tentang mamanya menjadi pengingat setiap kali ia tergoda melakukan hal yang kurang tepat. Ia membayangkan betapa sedihnya sang mama jika sampai mengetahui kelakuannya yang buruk. Pikiran itu cukup untuk menahan langkahnya. Baginya, menjadi lebih baik adalah bentuk penghormatan kepada orang tua yang telah pergi.
Kalimat semacam itu mungkin terdengar sederhana, tapi menunjukkan bagaimana sosok mama tetap hadir dalam keputusan sehari-harinya. Mita tidak hanya mengenang, ia juga menjadikan kenangan itu sebagai kompas. Ia sadar tidak ada lagi yang bisa ia telepon untuk sekadar meminta pendapat. Karena itu, ia berusaha menebak sendiri apa yang akan dikatakan mamanya. Cara seperti ini sering dilakukan orang yang kehilangan figur penting dalam hidupnya, dan bagi Mita, itulah yang membantunya bertahan.
Ketika Duka Artis Dibagikan ke Publik
Kisah Mita bukan hal baru di dunia hiburan. Banyak publik figur memilih berbagi duka secara terbuka, dan tidak sedikit yang justru merasa terbantu karena bisa bercerita. Di sisi lain, keterbukaan seperti ini juga membawa tantangan tersendiri. Mereka harus berduka sekaligus menghadapi sorotan, komentar, dan ekspektasi publik. Menjaga keseimbangan antara jujur soal perasaan dan melindungi ruang pribadi bukan perkara mudah. Mita tampaknya memilih jalan tengah: bicara saat siap, diam saat butuh waktu.
Bagi penggemar, cerita semacam ini sering menjadi pengingat bahwa artis juga manusia biasa. Mereka punya luka, kehilangan, dan hari-hari berat yang tidak selalu terlihat di layar. Rasa simpati biasanya mengalir lewat komentar dan pesan dukungan, meski bentuknya berbeda-beda. Yang paling dibutuhkan bukan nasihat panjang, melainkan ruang untuk berduka tanpa dihakimi. Dalam banyak kasus, dukungan kecil yang konsisten justru lebih berarti daripada perhatian yang datang sekali lalu hilang.
Ada pula pelajaran yang bisa diambil pembaca dari kisah ini. Hal-hal kecil yang kita lakukan bersama orang tua sering dianggap biasa, padahal itulah yang nanti paling dirindukan. Mengabari, meminta doa, atau sekadar berpesan agar mereka menonton bisa jadi kenangan paling berharga. Mita membuktikan bahwa yang paling membekas bukan peristiwa besar, melainkan kebiasaan sehari-hari yang berjalan tanpa banyak diucapkan. Karena itu, tidak ada salahnya mulai lebih sering menghubungi orang tua selagi masih ada kesempatan.
Ke depan, Mita tampaknya akan terus menata langkah sambil membawa kenangan tentang mamanya. Ia sudah menyebut ingin menjadi pribadi yang lebih baik, dan itu bisa jadi arah baru dalam hidupnya. Duka mungkin belum hilang sepenuhnya, tapi cara ia bertahan menunjukkan proses yang berjalan. Dukungan dari keluarga, sahabat, dan penggemar akan menjadi bekal penting. Bagi publik, yang perlu dilakukan sederhana: menghargai perasaannya dan tidak menuntut ia cepat pulih.
Yang jelas, kisah Mita mengingatkan bahwa kehilangan tidak punya jadwal selesai. Setiap orang punya tempo sendiri untuk berdamai dengan kenangan, termasuk mereka yang setiap hari tampil di depan kamera. Ia memilih terus berjalan, meski kadang harus menangis di tengah jalan. Itu sudah cukup untuk disebut berani. Semoga langkahnya makin ringan, dan kenangan tentang mamanya tetap menjadi alasan untuk terus tumbuh. Dan bagi kita yang masih punya orang tua, cerita ini layak jadi pengingat untuk tidak menunda kabar baik.
Sumber: Liputan6 Selebritis
Kalau Anda suka cerita-cerita hangat dan kabar terbaru dari dunia hiburan, jangan lupa mampir terus ke kanal resmi LapakStore88. Di sana kami rangkum update yang enak dibaca dan selalu baru, biar Anda tidak ketinggalan cerita berikutnya. Sampai jumpa di berita selanjutnya, ya.
๐ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini
๐ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini
โ๏ธ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.
Gabung Channel Telegram »๐ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog
Baca juga:
Kata kunci terkait: Mita The Virgin, Mita The Virgin mama meninggal, The Virgin band, Mita The Virgin umrah, artis kehilangan ibu, kabar artis terkini, Mita The Virgin menangis, duka artis Indonesia
#LapakStore88
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362397/original/040519300_1790778147-1200.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372887/original/069273200_1791903236-SaveClip.App_844105336_18092960819660515_6001307950495393265_n.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9304326/original/020378300_1784712765-IMG-20260722-WA0121.jpg)
