Bisnis 7 menit baca

Asuransi Sinar Mas dan Primaya Hospital Integrasikan Layanan

Asuransi Sinar Mas Sambungkan Sistem Digital ke Primaya Hospital demi Klaim Cashless

LokalStore88 Rabu,14 Oktober 2026.

Angka 75 persen, 175 persen, dan 250 persen mungkin terdengar seperti jargon teknis yang jauh dari urusan sehari-hari. Kenyataannya, tiga angka itu kini ikut menentukan seberapa besar tagihan rumah sakit yang bisa ditanggung saat seseorang harus dirawat. Bagi pemegang asuransi kesehatan tambahan, angka-angka tersebut adalah wajah baru dari cara klaim bekerja. Dan perubahan itu datang lewat skema Koordinasi Antar Penyelenggara Jaminan, yang mulai banyak disepakati antara perusahaan asuransi dan jaringan rumah sakit. Langkah paling anyar datang dari kerja sama antara Asuransi Sinar Mas dan Primaya Hospital Group.

PT Asuransi Sinar Mas (ASM) resmi memperkuat kolaborasi dengan Primaya Hospital Group. Bentuknya dua dokumen sekaligus: kesepakatan koneksi digital serta Perjanjian Kerja Sama (PKS) Koordinasi Antar Penyelenggara Jaminan (KAPJ). Penandatanganan ini menjadi penanda bahwa integrasi antara penyelenggara asuransi dan fasilitas kesehatan bukan lagi wacana, melainkan agenda yang dijalankan bertahap. Tujuannya satu: membuat administrasi, koordinasi penjaminan, dan akses layanan kesehatan lebih mudah bagi nasabah.

๐Ÿ›’ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »

Lewat koneksi digital itu, kedua pihak mendorong agar proses verifikasi kepesertaan, penjaminan, hingga pelayanan tanpa uang tunai atau cashless berjalan dalam satu alur yang saling terhubung. Artinya, petugas rumah sakit tidak perlu lagi menelusuri data nasabah secara manual satu per satu. Sistem diharapkan bisa saling bicara, sehingga pertukaran informasi antara perusahaan asuransi dan rumah sakit berlangsung lebih lancar. Kalau koordinasi berjalan rapi, antrean administrasi yang biasanya menyita waktu di depan loket bisa dipangkas. Bagi pasien, hasil akhirnya adalah pengalaman berobat yang lebih tenang.

Direktur PT Asuransi Sinar Mas, Dumasi Marisina M. Samosir, menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi digital menjadi salah satu aspek penting dalam memperkuat layanan asuransi kesehatan. Menurutnya, kebutuhan nasabah terus berkembang dan perusahaan tidak bisa berhenti pada cara lama. Melalui koneksi digital dengan Primaya Hospital Group, ia berharap proses administrasi dan koordinasi penjaminan berjalan lebih efektif dan terintegrasi. Harapan berikutnya, nasabah merasakan langsung kemudahan dari layanan yang selama ini mereka bayar.

Jejak Langkah yang Sudah Dibangun

Kerja sama ini bukan langkah pertama Asuransi Sinar Mas di ranah koordinasi jaminan. Sebelumnya, perusahaan telah menandatangani PKS KAPJ dengan BPJS Kesehatan pada 15 September 2026. Komitmen itu kemudian berlanjut lewat kerja sama dengan RS Sentra Medika Group di Bogor pada 6 Oktober 2026. Pola yang terbentuk jelas: satu per satu mitra fasilitas kesehatan dirangkul agar ekosistemnya makin rapat. Primaya Hospital Group menjadi mata rantai berikutnya dalam rangkaian tersebut.

Apa sebenarnya KAPJ? Skema ini dirancang untuk memperkuat koordinasi antara penyelenggara asuransi kesehatan tambahan dan fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk bagi peserta aktif Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sesuai ketentuan yang berlaku. Selama ini, peserta sering berhadapan dengan dua meja berbeda ketika hendak berobat: satu untuk JKN, satu lagi untuk asuransi tambahan. KAPJ berupaya merapikan pembagian peran itu agar tidak ada tumpang tindih pembiayaan. Dengan begitu, rumah sakit punya kepastian siapa yang menanggung apa.

Dalam skema pertama, peserta mengikuti prosedur JKN seperti biasa. BPJS Kesehatan menanggung 75 persen tarif INA-CBG, sementara asuransi kesehatan tambahan menutup selisih biaya hingga maksimal 175 persen tarif INA-CBG sesuai ketentuan yang berlaku. Skema ini cocok bagi peserta yang tetap ingin memanfaatkan hak JKN-nya. Kombinasi keduanya membuat biaya yang harus ditanggung sendiri bisa ditekan. Namun, besaran penanggungan tetap bergantung pada ketentuan yang berlaku dan isi polis masing-masing peserta.

Skema kedua memberi jalur berbeda. Peserta dapat mengakses rumah sakit yang berada dalam jaringan asuransi kesehatan tambahan tanpa mengikuti prosedur JKN. Biaya pelayanan dijamin oleh asuransi kesehatan tambahan hingga maksimal 250 persen tarif INA-CBG, atau sesuai manfaat dan ketentuan polis. Dalam skema ini, BPJS Kesehatan tidak bertindak sebagai pembayar pelayanan kesehatan. Pilihan ini memberi keleluasaan lebih besar, meski konsekuensinya peserta melepas mekanisme JKN pada kunjungan tersebut. Karena itu, pemahaman atas isi polis menjadi kunci.

Dumasi menyebut Asuransi Sinar Mas mendukung implementasi KAPJ sebagai upaya meningkatkan koordinasi antara penyelenggara jaminan kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan. Dukungan itu diwujudkan lewat integrasi sistem, mekanisme penagihan yang terkoordinasi, serta kejelasan pembiayaan sesuai masing-masing skema. Bagi perusahaan, kerapian alur ini penting agar tidak muncul persoalan di kemudian hari. Bagi rumah sakit, kepastian pembayaran sama pentingnya dengan kecepatan layanan. Dan bagi nasabah, semuanya bermuara pada satu hal: proses berobat yang tidak melelahkan.

Aturan Baru yang Mengubah Peta

Penguatan kerja sama ini sejalan dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 36 Tahun 2025 tentang Penguatan Ekosistem Asuransi Kesehatan. Regulasi tersebut mengatur berbagai aspek penyelenggaraan asuransi kesehatan, mulai dari manajemen risiko hingga peran para pihak dalam ekosistem kesehatan. Koordinasi antarpenyelenggara jaminan juga menjadi salah satu poin yang ditekankan. Kehadiran aturan ini menandai bahwa pemerintah ingin ekosistem asuransi kesehatan ditata lebih serius, bukan sekadar dibiarkan tumbuh sendiri. Bagi pelaku industri, ini semacam rambu sekaligus peta jalan.

Ada sejumlah tuntutan yang harus dipenuhi perusahaan yang menyelenggarakan lini usaha asuransi kesehatan. POJK tersebut menekankan pentingnya kapabilitas medis, sistem informasi digital, serta keberadaan Dewan Penasihat Medis (DPM). Ketiga hal itu bukan pelengkap, melainkan bagian dari fondasi tata kelola. Kapabilitas medis memastikan perusahaan memahami risiko kesehatan yang dijaminnya. Sistem informasi digital memungkinkan data mengalir cepat dan akurat. Sementara DPM berperan memberi pertimbangan dari sisi medis.

Regulasi itu juga mewajibkan perusahaan memperoleh izin dari OJK untuk menyelenggarakan lini usaha asuransi kesehatan. Tenggatnya paling lambat satu tahun sejak peraturan diundangkan pada 22 Desember 2025. Artinya, jendela waktu bagi pelaku industri untuk menyesuaikan diri tidaklah panjang. Konsekuensinya, perusahaan yang ingin tetap bermain di lini ini harus bergerak cepat menyiapkan dokumen, sistem, dan sumber daya manusia. Bagi yang lambat, pilihan yang tersedia tinggal sedikit.

Asuransi Sinar Mas sendiri telah memperoleh izin dari Otoritas Jasa Keuangan untuk menyelenggarakan lini usaha asuransi kesehatan pada 12 Oktober 2026. Dumasi menilai perolehan izin tersebut mencerminkan komitmen perusahaan memperkuat tata kelola dan mendukung keberlanjutan bisnis asuransi kesehatan. Izin itu sekaligus menjadi modal untuk menjalin kerja sama lanjutan dengan jaringan fasilitas kesehatan. Tanpa legalitas yang jelas, kolaborasi semacam ini sulit dibangun dalam jangka panjang. Karena itu, langkah Primaya Hospital Group terasa sejalan dengan arah perusahaan.

Apa Artinya bagi Nasabah dan Industri

Bagi nasabah, dampak paling terasa adalah berkurangnya urusan administratif saat berobat. Verifikasi kepesertaan yang dulu bisa memakan waktu kini diharapkan selesai lebih cepat karena sistem saling terhubung. Layanan cashless juga mengurangi kebutuhan membawa uang tunai dalam jumlah besar ketika menghadapi perawatan mendesak. Namun, kemudahan ini tetap bergantung pada cakupan manfaat dan ketentuan polis yang dimiliki. Karena itu, membaca ulang detail polis sebelum berobat tetap langkah bijak.

Dari sisi industri, kolaborasi semacam ini menunjukkan arah baru persaingan. Asuransi kesehatan tidak lagi hanya soal premi dan luas jaringan rumah sakit, tetapi juga soal seberapa mulus pengalaman digital yang ditawarkan. Rumah sakit pun diuntungkan karena alur penjaminan yang lebih pasti membantu mengelola arus kas dan mengurangi risiko piutang. Integrasi data yang rapi juga mempermudah audit internal dan pelaporan. Pada akhirnya, efisiensi di kedua sisi berpotensi menekan biaya layanan secara keseluruhan.

Secara umum, langkah integrasi antara penyelenggara asuransi dan fasilitas kesehatan mendapat sambutan positif dari kalangan pemangku kepentingan. Koordinasi antarpenyelenggara jaminan memang lama dianggap sebagai salah satu simpul yang perlu dirapikan agar peserta tidak terjebak kebingungan saat mengurus pembiayaan. Harapannya, semakin banyak rumah sakit dan perusahaan asuransi menempuh jalur serupa. Dengan begitu, skema ini tidak berhenti sebagai proyek percontohan di beberapa jaringan saja. Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada konsistensi implementasi di lapangan.

Tentu, ada sejumlah catatan yang perlu dicermati. Integrasi sistem menuntut kesiapan teknologi dan pelatihan petugas di garda depan, mulai dari admisi hingga kasir. Jika sosialisasi kurang, nasabah bisa tetap merasa bingung meski sistemnya sudah canggih. Selain itu, perbedaan cakupan manfaat antarproduk menuntut kejelasan komunikasi sejak awal. Di sinilah peran penjelasan dari petugas asuransi maupun rumah sakit menjadi penting. Tanpa itu, teknologi secanggih apa pun tidak otomatis menghapus keluhan.

Ke depan, kerja sama Asuransi Sinar Mas dan Primaya Hospital Group akan menjadi salah satu tolok ukur seberapa jauh integrasi layanan kesehatan digital berjalan di Indonesia. Jika alur verifikasi, penjaminan, dan pembayaran bisa berjalan mulus, manfaatnya akan terasa luas, bukan hanya bagi pemegang polis tetapi juga bagi rumah sakit dan ekosistem kesehatan secara keseluruhan. Yang menarik ditunggu adalah bagaimana pola serupa menyebar ke jaringan fasilitas kesehatan lain. Sebab pada akhirnya, tujuan besarnya sederhana: memastikan orang bisa fokus pada pemulihan, bukan pada urusan administrasi.

Sumber: Liputan6 Bisnis

Kalau Saya boleh jujur, berita soal asuransi dan layanan kesehatan seperti ini sering luput dari perhatian, padahal dampaknya langsung terasa ke kantong dan kenyamanan kita saat berobat. Supaya tidak ketinggalan perkembangan berikutnya, mampir terus ke LapakStore88 dan ikuti kanal resminya, ya. Siapa tahu update selanjutnya justru yang paling mengubah cara kita mengakses layanan kesehatan.

๐Ÿ“˜ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini

๐Ÿ’ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini

โœˆ๏ธ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.

Gabung Channel Telegram »

๐Ÿ“ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog

Kata kunci terkait: asuransi sinar mas, primaya hospital, asuransi kesehatan, layanan cashless, KAPJ, BPJS Kesehatan, POJK 36 Tahun 2025, klaim asuransi

#LapakStore88

Sumber asli: Liputan6 Bisnis