Kesehatan 5 menit baca

Dokter Jiwa Ungkap Gerak-gerik Red Flag Pasangan, Dikaitkan Viral Stop The Wedding

Analisis Psikiater Soal Tanda Bahaya Hubungan di Balik Fenomena Penghentian Pernikahan

LokalStore88 Rabu,14 Oktober 2026.

Ungkapan bahwa seumur hidup adalah waktu yang terlalu lama mendadak ramai diperbincangkan di berbagai platform digital dan menyita perhatian publik. Fenomena yang sering disebut sebagai gerakan menghentikan pernikahan ini rupanya membuka mata banyak orang tentang pentingnya menilai kesiapan pasangan. Di balik kemeriahan pesta resepsi, kenyataan pahit mengenai hubungan yang tidak sehat justru sering kali terabaikan begitu saja. Padahal, keputusan melangkah ke jenjang yang lebih serius menuntut pertimbangan matang agar tidak terjebak dalam penyesalan di kemudian hari. Diskusi hangat di ruang maya pun mengalir deras membahas berbagai perilaku janggal yang dianggap tidak layak dipertahankan. Perdebatan ini tidak hanya berhenti pada opini netizen semata, melainkan menarik perhatian para ahli jiwa untuk memberikan pandangan profesional mereka. Kasus-kasus ekstrem yang mencuat ke permukaan seakan mempertegas bahwa tanda-tanda bahaya dalam hubungan tidak boleh dianggap sepele. Melalui sudut pandang medis dan psikologis, masyarakat diajak untuk lebih jeli melihat realitas di balik romantisme masa pacaran sebelum memutuskan ikatan suci.

Membangun mahligai rumah tangga ternyata jauh lebih kompleks dibandingkan sekadar merajut kisah kasih saat masa penjajakan. Seorang psikiater terkemuka, dr. Lahargo Kembaren, Sp.KJ, menjelaskan bahwa jatuh cinta dan membina keluarga adalah dua dunia yang sangat berbeda. Ketika masih berstatus kekasih, seseorang biasanya hanya menampilkan sisi terbaik dari kepribadian mereka kepada pasangannya. Namun, dinamika kehidupan suami istri akan memaksa kedua belah pihak untuk menghadapi keseluruhan karakter asli pasangannya. Mulai dari kebiasaan sehari-hari, titik kelemahan, cara mengelola emosi, hingga strategi menghadapi konflik pelik akan terkuak secara alami. Oleh karena itu, mengenali pola perilaku tertentu sebelum mengucapkan janji sehidup semati menjadi langkah krusial yang menentukan masa depan. Pemahaman ini membantu setiap individu agar tidak salah langkah dalam memilih pendamping hidup yang tepat untuk jangka panjang.

🛒 LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »

Mengenali Ketidakmatangan Emosi dan Upaya Mengontrol

Salah satu sinyal peringatan dini yang patut diwaspadai adalah tingkat kematangan emosi yang masih rendah pada diri seseorang. Perilaku ini biasanya tampak dari re梘aksi berlebihan saat menghadapi masalah, seperti mudah marah, enggan meminta maaf, atau gemar menyalahkan orang lain. Pertanyaan mendasar yang perlu diajukan bukanlah seberapa sering pasangan marah, melainkan bagaimana cara mereka meredakan amarah tersebut. Kemampuan mengelola emosi sangat menentukan apakah sebuah persoalan dapat diselesaikan dengan kepala dingin atau justru berlarut-larut. Selain itu, kecenderungan untuk memegang kendali secara berlebihan juga menjadi indikator hubungan yang tidak sehat. Kontrol yang toksik sering kali mencakup pengaturan cara berpakaian, pembatasan pertemanan, hingga intervensi terhadap hubungan keluarga. Sikap manipulatif seperti membuat pihak lain merasa bersalah secara terus-menerus juga kerap menyertai pola relasi yang menekan ini. Berbagai ancaman psikologis yang dilontarkan demi memaksakan kehendak tentu mencederai esensi dasar dari sebuah hubungan yang ideal.

Analisis Psikiater Soal Tanda Bahaya Hubungan di Balik Fenomena Penghentian Pernikahan (2)
Foto: Detik Health

Kemitraan yang ideal seharusnya menjadi tempat berlabuh yang aman dan menenangkan, alih-alih sumber ketakutan yang berkepanjangan. Ruang gerak yang sehat semestinya memberikan kebebasan bagi setiap individu untuk tetap menjadi diri mereka sendiri secara utuh. Perbedaan pendapat yang kerap muncul di tengah jalan harus mampu didiskusikan secara terbuka tanpa harus disertai tekanan mental. Aspek penting lainnya yang sering terabaikan adalah tingkat empati dalam memahami perasaan pasangan yang sedang dalam kesulitan. Kurangnya kepekaan ini kerap terlihat saat seseorang meremehkan masalah yang dihadapi oleh pendampingnya sendiri. Ketimpangan dalam hubungan pun terjadi ketika satu pihak dituntut untuk selalu mengalah tanpa ada usaha timbal balik. Padahal, keharmonisan rumah tangga menuntut kerja sama dari kedua belah pihak untuk saling melengkapi dan menguatkan. Hubungan yang pincang akibat minimnya kepedulian hanya akan mengikis kebahagiaan perlahan-lahan dari dalam.

Ujian Kepercayaan, Kejujuran, dan Batasan Agresi

Fondasi utama dalam merajut kehidupan bersama yang langgeng terletak pada tingkat kejujuran serta rasa tanggung jawab yang tinggi. Kebiasaan berbohong, mengingkari janji secara berulang, ataupun menyembunyikan masalah finansial adalah bom waktu yang berbahaya. Masalah terkait utang tersembunyi atau kebiasaan berisiko seperti berjudi wajib dibicarakan secara transparan sebelum ikatan pernikahan terbentuk. Kepercayaan yang telah runtuh akibat ketidakjujuran akan membuat bangunan rumah tangga menjadi sangat rapuh dan mudah goyah. Di sisi lain, tanda bahaya yang paling mutlak untuk dihindari adalah segala bentuk perilaku agresif serta tindakan kekerasan. Bentuk agresi ini tidak selalu berupa kontak fisik semata, melainkan bisa pula berupa makian, hinaan, hingga pengrusakan benda. Memaksakan kehendak dalam urusan privat tanpa menghargai batasan tubuh pasangan juga merupakan pelanggaran serius yang tidak dapat ditoleransi. Berbagai tindakan intimidasi tersebut tidak boleh dimaklumi begitu saja dengan dalih sedang berada di bawah tekanan emosional. Kekerasan dalam bentuk apa pun tidak pernah menjadi bagian yang wajar dari sebuah jalinan kasih sayang yang sehat.

Kesediaan untuk terus belajar dan melakukan evaluasi diri menjadi penentu lain yang tidak kalah krusial bagi kelangsungan hubungan. Seseorang yang selalu merasa benar dan menolak mengakui kesalahan akan menghambat proses resolusi konflik di kemudian hari. Sebaliknya, keterbukaan untuk menerima kritik membangun serta mencari jalan keluar bersama adalah kunci merawat keharmonisan. Jika diperlukan, kedua belah pihak juga hendaknya tidak ragu meminta bantuan profesional untuk mengatasi persoalan pelik yang sulit diselesaikan. Kendati demikian, para ahli mengingatkan agar penilaian terhadap tanda bahaya ini tidak dilakukan secara gegabah dan sembarangan. Sebuah pola perilaku perlu dicermati berdasarkan frekuensi, intensitas, serta dampak nyata yang dirasakan oleh pasangan. Meneliti berbagai indikasi tersebut pada hakikatnya bukan bertujuan mencari-cari kesalahan, melainkan memastikan terwujudnya rasa saling menghormati. Pada akhirnya, persiapan matang sebelum menikah adalah ikhtiar terbaik untuk membangun masa depan yang penuh kedamaian.

Sumber: Detik Health

Jangan lupa untuk terus memantau berbagai informasi dan update berita menarik lainnya agar wawasanmu semakin luas setiap hari. Pastikan kamu selalu menyimak konten-konten seru berikutnya dari kanal berita terpercaya ini.

📘 Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini

💬 Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini

✈️ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.

Gabung Channel Telegram »

📰 Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog

Kata kunci terkait: red flag hubungan, stop the wedding, tips pranikah, kesehatan mental, psikiater lahargo kembaren, tanda bahaya pasangan, psikologi pernikahan

#LapakStore88

Sumber asli: Detik Health