
LokalStore88 Jumat,9 Oktober 2026.
Bagi Sivia Azizah, alarm jadwal padat tidak selalu berbunyi lewat badan yang lemas. Pelantun lagu “Serene” itu justru lebih cepat menyadari ada yang berubah ketika kulit wajahnya mulai terlihat capek dan kusam. Syuting, podcast, sampai sesi olahraga yang datang beruntun membuat kulitnya ikut kelelahan. Cerita ini penting bukan hanya karena ia seorang figur publik, tetapi karena hampir semua orang yang harinya penuh agenda bisa mengalami hal serupa. Kulit sering jadi penanda pertama bahwa ritme harian sudah terlalu padat.
“Kalau jadwal lagi padat, aku paling gampang notice saat kulit mulai kelihatan capek dan kusam,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (9/10/2026). Kalimat itu sederhana, tetapi menggambarkan pengalaman yang cukup umum. Ketika agenda menumpuk, dua hal yang paling sering dikorbankan adalah waktu tidur dan rutinitas perawatan. Kulit lalu memberi sinyalnya sendiri, mulai dari tampilan yang tidak lagi fresh hingga warna yang terlihat kurang merata. Bagi Sivia, sinyal tersebut bukan alasan panik, melainkan pengingat untuk kembali menengok kebutuhan tubuhnya.
🛒 LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »
Perawatan Kulit yang Tidak Berdiri Sendiri
Yang menarik, Sivia tidak melihat perawatan kulit sebagai urusan satu botol produk. “Buat aku, menjaga kulit itu bukan cuma soal satu produk, tapi juga bagaimana aku mengatur tidur, aktivitas, dan rutinitas skincare,” tuturnya. Ketiga hal itu, menurutnya, saling terhubung dan tidak bisa dipisahkan begitu saja. Kalau tidur berantakan sementara aktivitas terus menumpuk tanpa jeda, produk perawatan terbaik pun sulit bekerja maksimal. Sebaliknya, ketika ritme harian lebih tertata, perawatan dari luar punya ruang untuk melengkapi, bukan menutupi masalah.
Pendekatan yang dipilih Sivia juga mencerminkan cara pandang yang lebih sabar terhadap kulit. Ia mengaku menyukai pendekatan yang membuat seseorang lebih memahami kebutuhan kulitnya sendiri. Prinsip ini sederhana, tapi cukup relevan di tengah banjirnya informasi dan produk kecantikan baru setiap bulan. Alih-alih berpindah-pindah produk setiap kali ada yang sedang tren, ia menekankan pentingnya mengenali kondisi dan kebiasaan diri. Dari sana, perawatan bisa disusun lebih masuk akal, terukur, dan berkelanjutan dalam jangka panjang.
Kulit punya “baterai” sendiri
Pandangan itu sejalan dengan pendekatan Skin Longevity yang dibawa Wardah. Dalam konsep ini, kesehatan kulit tidak dibaca terpisah dari gaya hidup, termasuk pola tidur, aktivitas, dan kebiasaan sehari-hari. Wardah juga memperkenalkan konsep skin energy lewat analogi Your Skin Has A Battery. Analogi tersebut mengajak konsumen membayangkan kulit seperti perangkat dengan daya terbatas: ia bisa terkuras oleh aktivitas, dan perlu diisi ulang. Dengan cara pandang itu, istirahat berubah status dari sekadar kemewahan menjadi bagian penting dari perawatan.
Dalam pendekatan tersebut, REST menjadi salah satu pilar penting untuk menjaga kesehatan kulit, berdampingan dengan EAT dan MOVE. “Kami melihat semakin banyak konsumen yang memperhatikan apa yang mereka makan, bagaimana mereka bergerak, dan kapan mereka beristirahat,” ujar Hana Namira selaku Wardah Brand Representative. Namun, kebiasaan baik itu tetap butuh dukungan dari luar. Di sinilah skincare diposisikan sebagai pelengkap, bukan solusi tunggal yang bekerja sendirian. Kombinasi keduanya dinilai lebih masuk akal daripada mengandalkan salah satu saja.

Yang dibicarakan Sivia sebenarnya bukan hal yang eksklusif milik artis. Pekerja kantoran dengan tenggat menumpuk, pelaku usaha yang mengurus bisnis sendirian, atau siapa pun yang jam tidurnya bergeser karena pekerjaan bisa mengalami hal yang sama. Kulit yang mendadak kusam sering kali merupakan tanda bahwa tubuh sedang kehabisan jeda. Menambah produk baru tanpa memperbaiki kebiasaan hanya akan menyelesaikan gejala, bukan sumbernya. Karena itu, membaca sinyal kulit bisa jadi cara sederhana untuk mengevaluasi ulang jadwal harian.
NAD+ dan pendekatan cellular-level brightening
Dari sisi produk, Wardah menghadirkan NAD+ Glow Energy Booster Serum sebagai salah satu jawabannya. Serum ini membawa pendekatan cellular-level brightening lewat Cellular-Energy Actives, dengan NAD+ sebagai hero ingredient. NAD+ dipadukan dengan sejumlah bahan lain, yakni Carnosine, Cysteamine, dan EGCG Glucoside. NAD+ sendiri dikenal sebagai molekul yang berkaitan dengan energi sel, sehingga penggunaannya sejalan dengan gagasan kulit yang perlu “diisi daya”. Pendekatan ini menyasar cara kerja kulit dari dalam, bukan hanya tampilan permukaannya.
Lewat serum tersebut, pendekatan cellular-level brightening diarahkan untuk membantu kulit tampak lebih cerah, fresh, dan radiant. Sasaran utamanya adalah keluhan yang akrab di kehidupan sehari-hari, seperti kulit kusam, dark spots, dan warna kulit yang terlihat tidak merata. Klaim ini disampaikan sebagai upaya membantu penampilan kulit, bukan janji hasil instan dalam semalam. Pemakaian yang konsisten sambil memperbaiki pola tidur dan aktivitas dinilai lebih masuk akal. Dengan begitu, produk bekerja sebagai pendukung kebiasaan, bukan pengganti kebiasaan itu sendiri.
Percakapan skin science yang lebih membumi
Perubahan cara bicara soal kulit ini juga terasa di tingkat industri. Konsumen kini lebih teliti menanyakan apa yang ada di dalam produk dan bagaimana cara kerjanya, bukan sekadar membeli karena tampilan kemasan. Wardah sendiri menyebut ingin membuat percakapan tentang skin science lebih dekat dengan rutinitas nyata konsumen, termasuk lewat Skin Longevity Clinic dan NAD+ Glow Energy Booster Serum. Artinya, edukasi dan produk coba diletakkan dalam satu paket. Pendekatan seperti ini membuat pembahasan soal kulit tidak berhenti di laboratorium, tetapi turun ke kebiasaan harian.
Dari sudut pandang konsumen, kombinasi itu cukup masuk akal. Banyak orang sudah mulai memperhatikan apa yang mereka makan, seberapa sering bergerak, dan kapan mereka benar-benar beristirahat. Skincare lalu berperan sebagai lapisan tambahan yang menjaga hasil dari kebiasaan baik tersebut. Namun, tetap ada catatan wajar: tidak semua orang punya waktu dan anggaran yang sama untuk merawat kulit secara ideal. Karena itu, pesan Sivia soal tidur, aktivitas, dan rutinitas justru relevan karena bisa dimulai dari hal paling sederhana.
Pengalaman Sivia Azizah menunjukkan satu hal yang mudah dilupakan: kulit bukan bagian terpisah dari tubuh yang lelah. Ketika jadwal menumpuk, kondisi kulit bisa jadi indikator paling jujur bahwa ada yang perlu disesuaikan. Perawatan yang seimbang, mulai dari tidur yang cukup, aktivitas yang teratur, sampai rutinitas skincare yang konsisten, tampaknya memang bukan sekadar soal penampilan. Ke depan, percakapan soal kesehatan kulit diperkirakan akan makin erat dengan gaya hidup dan kebiasaan harian. Bagi siapa pun yang sedang sibuk, mungkin sudah waktunya membaca ulang sinyal dari kulit sendiri.
Sumber: Detik Hot
Cerita soal kulit dan gaya hidup seperti ini bakal terus berkembang, jadi sayang kalau ketinggalan. Pantau terus berita terkini dan ulasan ringan lainnya hanya di LapakStore88, biar kamu selalu dapat informasi terbaru lebih dulu. Yuk, simpan kanal resminya dan ikuti terus update berikutnya.
📘 Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini
💬 Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini
📰 Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog
Baca juga:
Kata kunci terkait: Sivia Azizah, kulit kusam, perawatan kulit, skin longevity, NAD+, serum wajah, gaya hidup sehat, kesehatan kulit
#LapakStore88
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9359580/original/055879500_1790564637-Gemini_Generated_Image_wj78pxwj78pxwj78.jpg)


