LokalStore88 Jumat,9 Oktober 2026.
Gedung Kesenian Jakarta berdiri jauh sebelum kata runway menjadi bagian percakapan sehari-hari. Namun baru pada Rabu malam, 7 Oktober 2026, bangunan bersejarah itu untuk pertama kalinya dipakai sebagai lokasi peragaan busana. Yang tampil malam itu bukan koleksi biasa: lima puluh set busana dari rumah batik Iwan Tirta, dikemas dalam sebuah koleksi bertajuk SMERTI. Di antara gulungan kain dan permainan cahaya, siluet badak dan harimau Sumatra muncul sebagai motif yang mengikat seluruh pertunjukan. Bagi penonton, malam itu jadi pengingat bahwa batik bukan sekadar warisan yang dipajang, melainkan bahan hidup yang bisa terus dibaca ulang.
Pilihan nama SMERTI bukan tanpa alasan. Kata itu berasal dari bahasa Sanskerta dan berarti memori, sebuah kata kunci yang menjelaskan seluruh arah koleksi. Sebanyak lima puluh tampilan diperkenalkan malam itu, terdiri dari dua puluh lima busana pria dan dua puluh lima busana wanita. Penyajiannya tidak berdiri sendiri: busana bertemu dengan musik, pencahayaan, gerak model, dan karakter ruang pertunjukan yang sudah dihitung sejak awal. Hasilnya, peragaan terasa seperti satu komposisi utuh ketimbang deretan tampilan yang berdiri terpisah.
๐ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »
Membaca Ulang Arsip
Di balik koleksi ini ada cara pandang tertentu terhadap arsip. Widiyana Sudirman, yang memimpin Iwan Tirta, menyebut memori sebagai sesuatu yang hidup, bukan tumpukan dokumen yang sudah selesai. Karya dan pemikiran Iwan Tirta dijadikan pijakan untuk menjelajahi kemungkinan batik di konteks hari ini. Ia menegaskan bahwa tujuan koleksi ini bukan mengulang masa lalu, melainkan meneruskan semangat penciptaannya dalam bentuk yang baru. Pendekatan semacam itu menempatkan arsip sebagai titik tolak, bukan tujuan akhir.
Penerjemahan arsip berlangsung lewat sejumlah intervensi teknis. Ukuran motif diubah, komposisinya disusun ulang, repetisinya diatur, penempatannya digeser, dan warnanya digarap kembali. Ada motif yang muncul utuh, tapi ada pula bagian yang sengaja dipotong hingga hanya tersisa sebagai fragmen visual. Cara itu membuat mata penonton tidak bisa membaca kain secara sekilas; motif menuntut perhatian lebih lama. Hasilnya, khazanah lama tetap terasa akrab, tetapi tampil dengan logika visual yang baru.
Perubahan berikutnya datang dari bahan yang dipakai. Batik berbahan seratus persen katun dan TENCEL dipadukan dengan sutra serta denim, sehingga setiap tampilan punya karakter permukaan yang berbeda. Perbedaan tekstur itu membuat satu kain tidak pernah benar-benar seragam dengan kain di sebelahnya. Sentuhan konstruksi yang disebut soft architectural menjaga bentuk busana tetap terarah tanpa membuatnya terasa kaku. Efeknya, motif yang sama bisa terbaca berbeda ketika diletakkan di atas katun, sutra, atau denim.
Hampir Setahun di Balik Layar
Koleksi ini tidak dikerjakan dalam hitungan minggu. Prosesnya memakan waktu hampir setahun, dimulai dari pengembangan konsep dan desain motif sebelum satu pun potongan busana dijahit. Setelah motif selesai digarap, barulah pembuatan busana berjalan. Tahap berikutnya adalah penyusunan tampilan lewat proses mix and match, mencari komposisi yang cocok dengan karakter keseluruhan koleksi. Urutan kerja semacam itu menjelaskan kenapa perubahan kecil pada satu motif bisa memengaruhi tampilan secara menyeluruh.
Tantangan terbesar justru muncul di tahap pewarnaan. Karena batik dikerjakan dengan tangan, hasil akhir kain tidak bisa diprediksi sepenuhnya. Cuaca ikut menentukan; saat hujan dan panas, warna yang dihasilkan akan berbeda, seperti dijelaskan Rindu Melati Pradnyasmita dari sisi pemasaran Iwan Tirta. Artinya, produksi tidak bisa berjalan dalam kondisi yang sepenuhnya seragam. Ketidakpastian itu bukan cacat, melainkan bagian dari watak batik tulis yang menerima jejak alam sebagai bagian dari hasil akhirnya.
Ruang yang Ikut Berbicara
Pemilihan tempat menjadi babak tersendiri dalam cerita SMERTI. Gedung Kesenian Jakarta belum pernah menjadi lokasi peragaan busana sebelumnya, dan justru itu yang membuatnya menarik. Rindu Melati Pradnyasmita menyebut keinginan menciptakan memori baru sebagai alasan di balik keputusan tersebut. Alih-alih mencari venue yang netral, tim memilih ruang yang punya sejarah panjang dan karakter kuat. Pilihan itu membuat peragaan bukan sekadar presentasi koleksi, tetapi juga peristiwa yang menempel pada tempatnya.
Konsekuensinya, ruang tidak diperlakukan sebagai latar belakang pasif. Shadtoto Prasetio dari Shadtoto Studio, yang menangani arah artistik SMERTI, menyusun elemen pertunjukan dengan mendengarkan karakter gedung sejak awal. Ia tidak ingin sekadar memindahkan format runway ke dalam gedung pertunjukan. Sebaliknya, presentasi dibangun merespons ruang lewat gerak, pencahayaan, musik, dan ritme. Cara berpikir itu membuat peragaan terasa menyatu dengan bangunan, bukan ditempelkan begitu saja.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9368996/original/039285800_1791456278-Efek_Rumah_Kaca_di_Smerti_-_Iwan_Tirta_Runway_Collection_2027.jpeg)
Musik memegang peran penting dalam komposisi itu. Efek Rumah Kaca tampil langsung sepanjang peragaan, memberi irama pada langkah model sekaligus mengisi jeda antarpenampilan. Bunyi tidak hanya jadi pengiring, tapi juga penjaga tempo pertunjukan. Kehadiran musik live ini menyambung perhatian Iwan Tirta pada musik sebagai bagian dari pengalaman fashion show jenama tersebut. Dengan begitu, tradisi yang dibawa bukan hanya soal motif, melainkan juga cara sebuah koleksi dipresentasikan.
Dimensi lain datang dari kehadiran WWF dalam acara itu. Dukungan lembaga lingkungan tersebut memberi konteks lebih luas pada penggunaan motif fauna. Badak dan harimau Sumatra yang tercetak di atas kain membawa bentuk satwa ke dalam busana sekaligus mengingatkan pada kekayaan alam yang menjadi bagian identitas Indonesia. Lewat cara itu, koleksi ini berbicara soal konservasi tanpa harus berbentuk kampanye terbuka. Pesannya hadir dalam bentuk yang lebih halus: kain yang dipakai sehari-hari pun bisa menjadi pengingat tentang apa yang perlu dijaga.
Dampak dan Relevansinya
Bagi industri batik, langkah semacam ini menawarkan satu jalur yang bisa ditiru. Alih-alih selalu memulai dari nol, sebuah jenama bisa menggali arsipnya sendiri dan menafsirkan ulang warisan yang sudah ada. Pendekatan itu menjaga kesinambungan sekaligus memberi ruang bagi eksperimen bahan dan siluet. Untuk pasar yang lebih luas, koleksi seperti ini menunjukkan batik tidak harus selalu hadir dalam format formal atau seragam. Denim dan TENCEL, misalnya, membuka kemungkinan batik masuk ke gaya berpakaian yang lebih santai. Di situ letak relevansinya bagi pembaca: batik berhenti jadi pilihan seremonial dan kembali jadi pakaian sehari-hari.
Reaksi yang muncul biasanya berkisar pada dua hal: kejutan estetika dan pertanyaan tentang makna. Penonton dibuat memperhatikan detail motif karena potongan dan lipatan kain terus mengubah cara gambar terbaca. Di sisi lain, muncul pertanyaan yang lebih mendasar soal peran fauna dalam busana, apakah sekadar ornamen atau benar-benar pesan. Jawabannya tentu bergantung pada cara koleksi itu dipakai dan dibicarakan setelah panggung selesai. Yang jelas, peragaan malam itu berhasil membuat motif lama kembali menjadi bahan perbincangan baru.
Ketika lampu menyapu permukaan kain dan model bergerak melewati ruang, motif arsip itu berubah mengikuti langkah, lipatan, tekstur, serta jatuhnya bahan. Di antara siluet kontemporer dan dinding tua Gedung Kesenian Jakarta, badak dan harimau Sumatra kembali muncul sebagai gambar yang akrab, hanya kali ini dalam bentuk yang berbeda. Perjalanan SMERTI belum berhenti di panggung malam itu; ia menyisakan pertanyaan tentang bagaimana arsip akan terus dibaca pada koleksi berikutnya. Kalau memori memang diperlakukan sebagai sesuatu yang hidup, batik Iwan Tirta tampaknya masih punya banyak cerita yang belum selesai dituturkan.
Sumber: Liputan6 Lifestyle
Kalau kamu suka cerita-cerita seperti ini, jangan buru-buru tutup halaman ya. Pantau terus kanal LapakStore88 biar kamu nggak ketinggalan kabar terbaru soal fashion, budaya, dan tren yang sedang berkembang. Update berikutnya bisa jadi jauh lebih menarik dari yang ini.
๐ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini
๐ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini
๐ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog
Baca juga:
Kata kunci terkait: SMERTI Iwan Tirta, koleksi batik Iwan Tirta, batik kontemporer, fashion show Gedung Kesenian Jakarta, motif harimau sumatra, batik tulis, motif fauna batik, Iwan Tirta 2027
#LapakStore88
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9368983/original/080108800_1791455733-WhatsApp_Image_2026-10-07_at_22.09.53.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9359580/original/055879500_1790564637-Gemini_Generated_Image_wj78pxwj78pxwj78.jpg)


