LokalStore88 Minggu,11 Oktober 2026.
Tiga jam, sembilan lagu, dan seorang drummer yang baru duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar. Itulah gambaran penampilan Shelyn Adlyani Hendroharto di sebuah kafe di Sorong, Papua, pada Sabtu malam 10 Oktober. Bocah berusia delapan tahun itu duduk di belakang drum set, mengiringi band yang seluruh personelnya jauh lebih tua darinya. Bagi penonton yang hadir malam itu, pemandangan tersebut jelas bukan hal biasa. Di usianya yang masih belia, Shelyn sudah dipercaya mengisi posisi yang biasanya ditempati musisi dewasa.
Namanya kini mulai dikenal sebagai drummer cilik dari Sorong. Kemampuannya memainkan drum sejak usia dini membuat sejumlah band lokal meliriknya dan menawarkan kesempatan tampil bersama. Dari panggung kecil di kafe hingga acara komunitas, Shelyn perlahan membangun reputasi sebagai anak yang serius menekuni alat musik perkusi itu. Bagi banyak orang, pencapaian semacam ini terasa mengejutkan. Namun bagi Shelyn dan orang-orang di sekitarnya, semua ini adalah buah dari latihan yang dijalani bertahun-tahun.
๐ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »
Tiga Jam Mengiringi Band Dewasa
Penampilan terbaru Shelyn terjadi saat ia diundang bermain drum bersama grup band Selagi Atmost. Acara itu berlangsung di sebuah kafe di Sorong, Papua, pada Sabtu malam 10 Oktober. Ia tampil sebagai bagian dari formasi band, bukan sekadar atraksi selingan. Sepanjang penampilan, Shelyn terlihat percaya diri mengikuti dinamika lagu yang dibawakan. Penonton yang hadir pun memberi perhatian lebih pada sosoknya di belakang drum set.
Saat itu, Shelyn masih berstatus siswi kelas 3 SD Golden Gate Sorong. Usianya delapan tahun, sementara para personel Selagi Atmost jauh lebih dewasa. Perbedaan usia itu tidak membuatnya kaku atau kehilangan tempo. Ia justru mampu mengikuti arahan dan irama yang dimainkan rekan-rekannya di panggung. Pemandangan seorang anak kecil di tengah band dewasa inilah yang membuat penampilannya mencuri perhatian.
Penampilan tersebut berlangsung kurang lebih tiga jam. Dalam rentang waktu itu, Shelyn memainkan drum untuk sederet lagu populer yang akrab di telinga penonton. Baginya, malam itu menjadi pengalaman berharga yang menambah jam terbang. Lebih dari itu, penampilan tersebut menunjukkan bahwa usia bukan halangan untuk mengembangkan bakat. Yang dibutuhkan adalah keberanian tampil di depan publik dan kemauan berlatih.
Repertoar yang dibawakan pun cukup beragam. Ada Tabola Bale, Tor Monitor, Pergi Pagi Pulang Pagi, Ngapain Mo Repot, dan Cari Jodoh. Shelyn juga mengiringi lagu Puspa, 4 Mata, Ojo Dibandingke, hingga Cari Pacar Lagi. Daftar lagu itu memperlihatkan bahwa ia tidak hanya menghafal satu atau dua tembang. Ia dituntut mengikuti perubahan tempo dan suasana lagu selama pertunjukan berlangsung. Kemampuan seperti itu biasanya baru dimiliki musisi yang sudah terbiasa tampil.
Kemampuan Shelyn rupanya menarik perhatian para personel band. Di sela-sela penampilan, sang vokalis menyempatkan diri berbincang dengannya. Ia bertanya sejak kapan Shelyn mulai belajar bermain drum. Dengan santai, Shelyn menjawab bahwa ia mulai bermain drum pada usia enam tahun dan kini genap delapan tahun. Jawaban singkat itu sontak membuat sang vokalis kagum.
Vokalis Selagi Atmost kemudian melontarkan pujian. Menurutnya, luar biasa melihat anak sekecil itu sudah bisa tampil ngeband bersama mereka. Pujian tersebut bukan sekadar basa-basi panggung. Para musisi yang tampil bersamanya memang menyaksikan langsung bagaimana Shelyn menjaga ritme sepanjang pertunjukan. Momen itu sekaligus memperlihatkan bagaimana kemampuannya diterima dengan baik oleh musisi yang jauh lebih berpengalaman.
Meski masih duduk di bangku sekolah dasar, Shelyn mampu mengikuti irama lagu dan mengiringi penampilan band dalam waktu yang cukup lama. Ini bukan hal mudah, karena bermain drum menuntut stamina, konsentrasi, dan kepekaan terhadap permainan musisi lain. Sambutan positif dari para personel band menjadi semacam pengakuan atas kerja kerasnya selama ini. Bagi Shelyn sendiri, pengalaman itu jelas menjadi bekal berharga untuk penampilan berikutnya.
Latihan Sejak Dini di Purwacaraka Sorong
Kemampuan Shelyn tentu tidak muncul begitu saja. Ia lahir di Sorong pada 5 Maret 2018. Sebelum jatuh hati pada drum, Shelyn sempat menyentuh beberapa alat musik lain dan mencoba mengenalnya satu per satu. Perjalanan itu menunjukkan bahwa minatnya pada musik tumbuh secara bertahap. Drum bukan pilihan yang muncul mendadak, melainkan hasil dari proses mencoba dan menekuni.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9370765/original/026097700_1791690338-ShelynAdlyani.jpg)
Untuk mengasah kemampuannya, Shelyn rutin berlatih di Purwacaraka Music Sorong. Di sana ia dibimbing oleh Yada Simamora. Latihan rutin menjadi bagian dari kesehariannya di tengah jadwal sekolah. Bimbingan seorang guru membuat proses belajarnya lebih terarah dibandingkan hanya meniru dari video. Kombinasi antara latihan mandiri dan arahan guru inilah yang perlahan membentuk tekniknya.
Di tempat latihan itu, Shelyn belajar dasar-dasar teknik drum, termasuk cara menjaga tempo saat mengiringi sebuah lagu. Dua hal tersebut merupakan fondasi penting bagi seorang drummer, terutama ketika bermain dalam formasi band. Tanpa ritme yang stabil, permainan drum bisa membuat lagu terasa goyah. Karena itu, latihan yang dijalaninya bukan sekadar memukul drum, melainkan belajar mendengarkan dan menjaga ketukan.
Kisah Shelyn memberi gambaran tentang pentingnya pendidikan musik bagi anak-anak. Lewat bimbingan yang tepat, minat yang masih kecil bisa tumbuh menjadi keterampilan yang lebih serius. Peran guru dan tempat latihan menjadi kunci dalam proses tersebut. Selain itu, dukungan keluarga juga menentukan sejauh mana seorang anak bisa konsisten berlatih di tengah kesibukan sekolah.
Keseriusan Shelyn dalam berlatih mulai membuka berbagai kesempatan. Ia pernah diundang menjadi bintang tamu di sejumlah podcast dan media. Selain itu, ia juga tampil bersama beberapa grup musik. Pengalaman-pengalaman tersebut membuat namanya semakin dikenal di kalangan penikmat musik di Sorong dan sekitarnya. Dari panggung ke panggung, ia belajar beradaptasi dengan berbagai situasi pertunjukan.
Tabola Bale dan Pertemuan dengan Idola
Nama Shelyn semakin dikenal berkat kemampuannya memainkan lagu Tabola Bale. Lagu itu seolah menjadi semacam tanda pengenal baginya di kalangan musisi lokal. Ketika orang mendengar seorang anak kecil memainkan lagu tersebut dengan percaya diri, perhatian pun otomatis tertuju padanya. Dari situ, berbagai undangan tampil dan wawancara mulai berdatangan. Bagi seorang anak seusianya, pencapaian itu jelas tidak biasa.
Salah satu momen istimewa dalam perjalanannya adalah bertemu langsung dengan Juan Reza, salah satu musisi yang menjadi inspirasinya. Pertemuan itu menjadi pengalaman berharga bagi Shelyn. Terlebih ketika Juan mengetahui bahwa Shelyn kerap memainkan lagu Tabola Bale. Ia pun menyebut Shelyn sebagai drummer Tabola Bale dan melontarkan pujian. Momen sederhana itu tampaknya meninggalkan kesan mendalam bagi sang drummer cilik.
Kisah Shelyn bisa menjadi cermin bagi banyak orang tua yang melihat anaknya memiliki minat di bidang tertentu. Bakat memang perlu dipupuk, tetapi juga butuh ruang untuk tumbuh. Memberi anak kesempatan tampil di depan publik, tentu dengan pendampingan yang tepat, bisa membangun rasa percaya diri. Di sisi lain, prestasi Shelyn menunjukkan bahwa kesempatan tidak selalu harus datang dari kota besar.
Dari sisi industri musik, fenomena drummer cilik seperti Shelyn turut menghidupkan panggung-panggung lokal. Band-band di daerah kerap mencari musisi yang bisa diajak tampil secara rutin. Kehadiran pemain muda membawa warna tersendiri, baik bagi band maupun penonton. Kesempatan manggung yang datang kepadanya juga menandakan bahwa ekosistem musik di Sorong cukup aktif. Panggung kafe, acara komunitas, hingga kegiatan sekolah menjadi ruang belajar yang nyata.
Ke depan, tawaran manggung yang terus berdatangan menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Shelyn. Di satu sisi, ia bisa terus mengasah kemampuan dan menambah pengalaman. Di sisi lain, ia tetap perlu menyeimbangkan jadwal sekolah dan latihan. Selama dukungan dari keluarga, guru, dan lingkungan sekitarnya terjaga, perjalanan musiknya berpeluang terus berkembang. Yang jelas, usia delapan tahun bukan lagi penghalang untuk berdiri sejajar dengan musisi dewasa.
Sumber: Liputan6 Showbiz
Kalau kamu suka cerita-cerita inspiratif seperti ini, jangan sampai ketinggalan update berikutnya. Gabung dan ikuti terus kanal resmi LapakStore88 biar kamu selalu jadi yang pertama tahu kabar terbaru, baik dari dunia musik maupun berita lainnya. Sampai jumpa di artikel selanjutnya, ya!
๐ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini
๐ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini
โ๏ธ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.
Gabung Channel Telegram »๐ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog
Baca juga:
Kata kunci terkait: drummer cilik, Shelyn Adlyani, drummer Sorong, bakat musik anak, Purwacaraka Sorong, band lokal Papua, Tabola Bale, musik Sorong
#LapakStore88
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9370765/original/026097700_1791690338-ShelynAdlyani.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371085/original/070284100_1791736907-HULd--AWUAEJmy3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8415672/original/061801400_1782300506-Harga_GTA_6_01.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/701265/original/Ben3.jpg)