:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9370789/original/084179000_1791692366-IMG-20260831-WA0074.jpg)
LokalStore88 Minggu,11 Oktober 2026.
Alfian bisa melihat makhluk halus, tapi bukan itu yang membuat hidupnya kacau. Yang mengacaukan justru Maya, arwah seorang influencer yang belum sadar bahwa dirinya sudah meninggal dan terus mengganggu kesehariannya. Premis ganjil inilah yang menjadi mesin cerita film Ghosthing, dan dari situ pula muncul pertanyaan menarik: bagaimana jadinya kalau kemampuan melihat hal tak kasat mata bertemu dengan sosok yang keras kepala soal statusnya sendiri? Bagi Alfian, kemampuan indigo yang ia miliki berubah dari persoalan pribadi menjadi sumber masalah harian yang tak bisa dihindari. Penonton diajak menertawakan situasi itu, sekaligus menebak apa sebenarnya yang terjadi pada Maya.
Ghosthing adalah film garapan sutradara Arie Aziz yang dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 15 Oktober 2026. Di layar lebar nanti, Baskara Mahendra didapuk memerankan Alfian, sementara Yasamin Jasem memainkan Maya. Kombinasi keduanya menjadi tulang punggung cerita, karena hampir seluruh konflik berputar di sekitar interaksi dua tokoh ini. Bagi Baskara, ini bukan sekadar proyek akting biasa, sebab karakternya menuntut keseimbangan antara kelucuan dan kedalaman rasa. Penonton yang menyukai cerita horor dengan bumbu komedi mungkin akan menemukan tontonan yang pas di film ini.
๐ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »
Alfian digambarkan sebagai pria indigo, istilah yang di masyarakat umum merujuk pada orang yang diyakini punya kepekaan khusus terhadap hal-hal tak kasat mata. Kemampuan itu membuatnya bisa melihat makhluk halus, sesuatu yang dalam banyak cerita justru diposisikan sebagai beban alih-alih anugerah. Lewat karakter ini, film berpeluang mengangkat tema kesepian orang yang terpaksa hidup berdampingan dengan dunia yang tidak dilihat orang lain. Namun naskahnya tidak berhenti di situ, karena kehadiran Maya membalik keadaan. Alih-alih menjadi satu-satunya yang melihat, Alfian harus menghadapi sosok yang menolak mengakui kondisinya sendiri.
Maya adalah arwah seorang influencer yang tidak menyadari bahwa dirinya sudah meninggal. Ia merasa masih hidup seperti biasa, dan keyakinan itu membuatnya terus mengganggu keseharian Alfian tanpa rasa bersalah. Situasi ini memberi warna unik: yang seharusnya menjadi sumber ketakutan justru berubah menjadi sumber kekacauan sehari-hari. Perilaku Maya yang riuh dan sulit diatur bertabrakan langsung dengan sifat Alfian yang jauh lebih tenang. Dari benturan itulah film membangun banyak adegan kocak.
Perbedaan sifat keduanya memang dirancang sebagai bahan bakar komedi. Alfian yang pendiam dan terbiasa menyimpan sendiri apa yang ia lihat harus berhadapan dengan Maya yang aktif, banyak bicara, dan merasa berhak mengatur segalanya. Ketika dua kutub itu dipaksa berada di satu ruang, hasilnya bukan sekadar lelucon verbal, melainkan rangkaian situasi yang canggung sekaligus menggelikan. Penonton diajak menikmati kekacauan kecil yang muncul dari hal-hal sepele, seperti rutinitas harian yang terusik. Di sinilah gaya horor komedi film ini terasa paling kentara.
Misi 40 Hari dan Aturan Permainannya
Di tengah kekacauan itu, kedua tokoh punya satu tenggat yang jelas: 40 hari untuk mencari tahu penyebab kematian Maya. Batas waktu ini bukan sekadar angka, karena ia memberi cerita sebuah arah dan tekanan yang membuat penonton terus menunggu. Setiap hari yang lewat berarti kesempatan mereka menyempit, dan itu otomatis menaikkan ketegangan di sisi horornya. Sementara itu, interaksi sehari-hari keduanya tetap menjadi sumber kelucuan. Kombinasi dua nada yang berbeda inilah yang membuat premisnya terasa segar dibanding cerita hantu biasa.
Film horor komedi memang bukan barang baru di Indonesia, tetapi tidak semuanya berhasil menyeimbangkan dua nada yang bertolak belakang. Kalau porsi komedinya terlalu besar, ketegangannya hilang; kalau terlalu serius, humornya terasa dipaksakan. Karena itu, kehadiran dua pemain utama yang mampu bergerak di antara keduanya menjadi penentu. Ghosthing tampaknya mencoba menempatkan komedi pada situasi, bukan pada lelucon yang ditempel begitu saja. Pendekatan seperti itu menuntut permainan akting yang lebih halus, sebab kelucuan lahir dari reaksi, bukan dari kalimat lucu semata.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9370789/original/084179000_1791692366-IMG-20260831-WA0074.jpg)
Tantangan Yasamin dan Baskara
Yasamin Jasem mengaku tantangan terbesarnya adalah membuat komedi situasional Maya terasa natural. Banyak momen lucu dalam film ini lahir dari situasi, termasuk celetukan dan dialog yang dilempar Maya ke sekitarnya. Kalau penyampaiannya kaku, humor seperti itu mudah jatuh dan terasa dipaksakan. Karena itu, ia merasa latihan membaca naskah bersama para pemain lain sangat membantunya. Dari sesi itu, ia bisa menemukan ritme dialog yang pas sebelum syuting dimulai.
Latihan bersama itu penting karena ketika semua pemain berkumpul, percakapan bisa dengan cepat berubah menjadi riuh tanpa arah. Yasamin menyebut dirinya dibantu oleh rekan-rekan di lokasi saat sesi pembacaan naskah berlangsung. Tujuannya sederhana: supaya alur percakapan tetap enak diikuti dan tidak hanya terasa ramai serta berisik. Dalam komedi situasional, tumpukan suara memang bisa menjadi bumerang jika tidak ditata. Penonton perlu tetap bisa menangkap maksud setiap lelucon, sekaligus merasakan kehangatan interaksi antar tokoh.
Tantangan Baskara Mahendra justru berada di sisi yang berbeda. Menurutnya, lucu tidak cukup datang dari dialog, tetapi harus muncul dari cara Alfian bereaksi terhadap situasi yang tidak biasa. Ia menyebut komedi situasional sebagai ujian terbesar, karena yang dituntut bukan kalimat jenaka, melainkan kemampuan membawa suasana. Alfian harus tetap lucu meski berada di antara orang-orang yang tidak bisa diam. Di titik itu, ekspresi, gestur, dan timing menjadi senjata utama seorang aktor.
Dua pengakuan itu memperlihatkan bahwa komedi dalam film ini dibangun dari dua arah sekaligus. Yasamin bekerja pada sisi verbal dan ritme percakapan, sementara Baskara menggarap sisi reaksi dan suasana. Ketika keduanya bertemu, hasilnya adalah dinamika yang tidak bergantung pada satu pemain saja. Pola seperti ini biasanya membuat sebuah adegan terasa lebih hidup, karena lelucon tidak datang dari satu sumber. Bagi penonton, dampaknya sederhana: humor terasa mengalir dari cerita, bukan ditempel di atasnya.
Sisi Emosional yang Baru Terasa di Akhir
Meski berbalut horor dan komedi, Baskara menyebut Alfian memiliki sisi emosional yang kuat. Sisi itu baru terasa jelas ketika film mendekati bagian akhir, bukan di sepanjang cerita. Menurutnya, apa yang dialami Alfian memang cukup dalam, sehingga rasanya butuh waktu untuk muncul ke permukaan. Penonton pun baru akan menyadari bahwa cerita ini tidak sekadar soal komedi. Ada lapisan lain yang sengaja disimpan dan dibuka di momen yang tepat.
Yang menarik, lapisan itu berkaitan dengan rasa kehilangan. Baskara menyebut rasa kangen bisa jadi lebih besar daripada rasa takut, dan justru itu yang menjadi pekerjaan karakternya. Ini semacam pembalikan dari ekspektasi penonton film hantu, yang biasanya datang untuk merasa ngeri. Alih-alih hanya mengejar ketegangan, cerita mengarahkan perhatian pada ikatan emosional antar tokoh. Dengan begitu, elemen horor dan komedi berfungsi sebagai pintu masuk menuju sesuatu yang lebih personal.
Bagi penonton Indonesia, Ghosthing menawarkan sesuatu yang layak ditunggu ketika tayang di bioskop pada 15 Oktober 2026. Perpaduan horor, komedi, dan drama emosional memang menantang, tetapi justru di situ letak daya tariknya. Kalau keseimbangannya berhasil dijaga, film ini bisa menjadi tontonan yang menghibur sekaligus menyentuh. Yang jelas, cerita tentang Alfian dan Maya menunjukkan bahwa kisah hantu tidak selalu harus berakhir dengan ketakutan. Kadang, yang tersisa setelah semuanya selesai justru rasa kehilangan yang sulit dijelaskan.
Sumber: Liputan6 Showbiz
Kalau kamu suka mengikuti kabar film dan dunia hiburan tanah air, jangan kemana-mana ya. Terus pantau LapakStore88 supaya kamu selalu jadi orang pertama yang tahu update terbaru, mulai dari jadwal tayang sampai cerita di balik layar. Yuk, ikuti kanal resmi kami biar tidak ketinggalan berita berikutnya.
๐ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini
๐ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini
โ๏ธ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.
Gabung Channel Telegram »๐ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog
Baca juga:
Kata kunci terkait: film Ghosthing, Baskara Mahendra, Yasamin Jasem, film horor komedi Indonesia, Arie Aziz, pria indigo, film Indonesia 2026, bioskop 15 Oktober 2026
#LapakStore88
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371085/original/070284100_1791736907-HULd--AWUAEJmy3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8415672/original/061801400_1782300506-Harga_GTA_6_01.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/701265/original/Ben3.jpg)