Nasional 5 menit baca

Parkiran Depan Masjid Sheikh Zayed Kini Steril, Warga Sempat Menolak

Parkir Depan Masjid Sheikh Zayed Solo Kini Steril, Warga Rejosari Menanti Solusi yang Dijanjikan

LokalStore88 Minggu,11 Oktober 2026.

Penutup rambu larangan parkir di depan pintu masuk sisi timur Masjid Raya Sheikh Zayed, Solo, dibuka. Aksi kecil itu menandai satu babak baru: area parkir di Jalan Mentawai 1 sisi barat resmi steril dan tidak lagi boleh dipakai menambat kendaraan. Bagi pengunjung masjid, ini kabar yang mengubah rutinitas, terutama mereka yang selama ini harus membayar jukir sebelum sampai ke halaman ibadah. Tapi bagi sebagian warga Rejosari, pembukaan rambu itu justru penanda dimulainya masa yang belum pasti. Sebab, tak lama sebelum sterilisasi dijalankan, mereka sempat memasang spanduk sebagai bentuk penolakan.

Sterilisasi itu menyasar Jalan Mentawai 1 sisi barat, tepat di depan kawasan masjid. Sebelum kebijakan ini berlaku, warga Rejosari RW 13, Gilingan, Banjarsari, sempat menolak keras rencana tersebut. Penolakan diwujudkan lewat pemasangan sejumlah spanduk di lokasi. Bagi mereka, area itu bukan sekadar ruang kosong, melainkan sumber penghidupan yang sudah bertahun-tahun dijalankan. Karena itu, keputusan Pemerintah Kota Solo untuk tetap melanjutkan penataan jelas bukan perkara sepele bagi warga.

๐Ÿ›’ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »

Akar persoalannya bisa dilacak ke masa pembangunan Masjid Raya Sheikh Zayed. Menurut Ketua Paguyuban Warga Rejosari, Lanyono, pihak pengelola masjid kala itu menyerahkan pengelolaan parkir kepada warga sekitar. Warga merasa dilibatkan karena mereka memang terdampak langsung oleh keberadaan masjid. Lanyono juga menegaskan bahwa paguyuban yang ia pimpin adalah kumpulan warga, bukan organisasi massa. Dari situ, rasa memiliki atas area parkir itu tumbuh cukup kuat dan sulit dilepaskan begitu saja.

Alasan Pemkot Mensterilkan Area Parkir

Wali Kota Solo, Respati Ardi, menyebut langkah ini sebagai upaya mencari titik tengah. Ia ingin parkir di kawasan masjid jauh lebih tertib, tanpa mengorbankan siapa pun. Ada tiga hal yang ia soroti: kenyamanan orang beribadah, kehidupan UMKM di sekitar, dan ketimpangan yang selama ini terlihat di Masjid Zayed. Menurutnya, sterilisasi dilakukan agar tidak ada lagi kendaraan yang diparkir di area tersebut. Ia menyampaikan hal itu langsung di Masjid Raya Sheikh Zayed, menegaskan bahwa penataan ini bukan sekadar soal lalu lintas.

Sebagai gantinya, pengunjung diarahkan memanfaatkan fasilitas parkir di halaman Masjid Raya Sheikh Zayed. Respati memastikan parkir tersebut gratis, baik untuk kendaraan roda dua maupun roda empat. Ini poin penting: beban biaya parkir yang biasanya keluar dari kantong pengunjung kini dihapus. Harapannya, uang yang tadinya dipakai membayar jukir bisa dialihkan untuk berbelanja di warung atau usaha kecil di sekitar masjid. Dengan begitu, perputaran uang tetap terjadi, hanya berpindah tujuan.

Berapa Kapasitas Parkir di Halaman Masjid?

Pertanyaannya kemudian: cukupkah lahan di dalam masjid? Respati menyebut halaman masjid mampu menampung sekitar 60 kendaraan roda empat dan lebih dari seratus sepeda motor. Kapasitas itu dinilainya memadai untuk menampung pengunjung yang datang beribadah. Namun, angka tersebut juga menunjukkan daya tampungnya tidak tak terbatas, terutama pada momen ramai seperti akhir pekan atau hari besar. Di titik itulah pengelolaan arus kendaraan dan antisipasi lonjakan pengunjung menjadi ujian tersendiri.

Parkir Depan Masjid Sheikh Zayed Solo Kini Steril, Warga Rejosari Menanti Solusi yang Dijanjikan (2)
Foto: Detik Travel

Pemkot menegaskan tidak akan meninggalkan warga yang terdampak kebijakan ini. Respati menyatakan bantuan untuk pengembangan UMKM akan disiapkan sebagai upaya menjaga penghidupan masyarakat sekitar. Ia juga berulang kali menekankan pentingnya agar pedagang kecil di sekitar masjid tetap ramai. Harapannya, ketimpangan yang selama ini dirasakan bisa diselesaikan dengan baik. Kalimat 'tidak ada yang kami tinggalkan' menjadi pegangan yang kini ditunggu buktinya di lapangan.

Suara Warga: Kecewa, tapi Mengikuti

Di sisi warga, perasaan kecewa belum sepenuhnya hilang. Lanyono mengakui hal itu secara terbuka, namun ia memilih mengikuti kebijakan penataan sambil menunggu solusi yang dijanjikan pemerintah. Sikapnya cukup pragmatis: berpikir positif dan mengoordinasikan persoalan ke wali kota. Ia menyebut pihaknya akan melakukan pendataan terhadap para juru parkir yang terdampak. Pendataan itu akan mempertimbangkan kondisi masing-masing, mulai dari usia produktif hingga warga yang sudah lanjut usia.

Lanyono berharap penanganan bisa berjalan cepat. Ia menyadari menunggu terlalu lama akan memberatkan warga yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas parkir. Karena itu, koordinasi dengan pemerintah kota menjadi jalan yang ia tempuh, bukan sekadar menolak di depan. Bagi warga, yang paling penting bukan hanya janji, melainkan kepastian kapan dan dalam bentuk apa bantuan itu datang. Ketidakpastian itulah yang membuat rasa kecewa sulit benar-benar hilang.

Dilema Ruang Publik dan Ekonomi Kecil

Kasus parkir di depan Masjid Raya Sheikh Zayed sebenarnya mencerminkan dilema klasik penataan ruang publik. Di satu sisi, kawasan ibadah butuh ketertiban dan kenyamanan bagi jamaah. Di sisi lain, ada warga kecil yang menggantungkan hidup dari aktivitas di sekitarnya. Mensterilkan area parkir memang menyelesaikan persoalan ketertiban, tetapi sekaligus memindahkan persoalan ekonomi ke meja lain. Karena itu, kebijakan semacam ini jarang bisa dinilai hanya dari satu sisi saja.

Bagi pengunjung, perubahan ini relatif menguntungkan. Mereka tak lagi perlu berurusan dengan pembayaran parkir dan bisa langsung masuk ke halaman masjid. Uang yang tersisa pun bisa dibelanjakan di pedagang sekitar, sejalan dengan harapan Pemkot. Namun, manfaat itu baru terasa penuh jika warung dan UMKM di sekitar benar-benar hidup, bukan sekadar ada. Jika arus pengunjung tidak terkelola baik, bisa muncul persoalan baru, misalnya kendaraan yang berhenti di titik lain di luar area yang ditata.

Ke depan, yang perlu dijaga adalah keseimbangan antara ketertiban dan keadilan bagi warga terdampak. Pemkot sudah menyiapkan skema parkir gratis dan menjanjikan pendampingan UMKM, sementara warga memilih mengikuti proses sambil menunggu. Bola sekarang ada di tangan pemerintah untuk memastikan janji itu tidak berhenti di seremoni pembukaan rambu. Jika realisasinya cepat dan terukur, sterilisasi ini bisa menjadi contoh penataan yang manusiawi. Jika tidak, kekecewaan yang sempat muncul lewat spanduk bisa kembali mencuat dengan bentuk lain.

Sumber: Detik Travel

Kalau kamu ingin terus mengikuti perkembangan kebijakan publik dan berita terkini lainnya, jangan sampai ketinggalan update berikutnya. Yuk, ikuti terus kanal resmi LapakStore88 supaya setiap kabar baru bisa langsung kamu baca tanpa telat. Terus pantengin ya, karena informasi terbaru selalu kami sajikan buat kamu.

๐Ÿ“˜ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini

๐Ÿ’ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini

โœˆ๏ธ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.

Gabung Channel Telegram »

๐Ÿ“ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog

Kata kunci terkait: parkir masjid sheikh zayed, masjid raya sheikh zayed solo, sterilisasi parkir solo, wali kota solo respati ardi, warga rejosari gilingan, umkm sekitar masjid, parkir gratis masjid zayed, jalan mentawai solo

#LapakStore88

Sumber asli: Detik Travel