
LokalStore88 Minggu,11 Oktober 2026.
Angka dari World Economic Forum itu terdengar seperti teka-teki: sekitar 170 juta pekerjaan baru diproyeksikan muncul di seluruh dunia hingga 2030, sementara 92 juta pekerjaan lain harus rela tergeser. Setelah dikurangi, tersisa tambahan bersih sekitar 78 juta lapangan kerja — kabar yang sekaligus melegakan dan menggelisahkan, tergantung dari sudut mana kita membacanya. Bagi Generasi Z yang sebentar lagi mengetuk pintu dunia kerja, pertanyaannya bukan lagi apakah kecerdasan buatan akan mengubah pekerjaan mereka, melainkan seberapa siap mereka menghadapi perubahan itu. Dari kegelisahan itulah lahir sebuah forum diskusi bertajuk “Kerja 2030: Masih Ada Kerja Buat Kita?”
Pertanyaan tersebut menjadi tema utama Taman Asik – Taman Talks, forum yang digelar DPP Taruna Merah Putih lewat Bidang Jaminan Sosial dan Tenaga Kerja. Kegiatan ini dirangkai sebagai bagian dari rangkaian menyambut Hari Sumpah Pemuda, momen yang secara historis meneguhkan arah kebangsaan. Kalau Sumpah Pemuda dulu menyatukan tekad generasi muda untuk satu tanah air, forum kali ini mengajak mereka bersiap menghadapi medan yang jauh berbeda: pasar kerja yang bergerak cepat dan mudah berubah. Semangatnya kurang lebih sama, yakni soal kesiapan dan keberanian mengambil peran. Yang berubah hanya bentuk tantangannya.
🛒 LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »
Ketua Umum DPP TMP, Pinka Hapsari, mengarahkan agar acara ini tidak berhenti sebagai seremoni. Ia meminta panitia menjadikannya ruang strategis untuk mendorong Generasi Z melakukan upskilling dan reskilling, mengembangkan kreativitas, serta memperkuat karakter dan kemampuan beradaptasi. Arahan itu menyiratkan satu hal penting: keterampilan yang dikuasai hari ini belum tentu cukup untuk sepuluh tahun ke depan. Karena itu, kemampuan belajar ulang menjadi sama pentingnya dengan pengetahuan itu sendiri. Generasi muda dituntut tidak sekadar mengejar nilai, tetapi juga melatih kepekaan terhadap perubahan zaman.
Bonus Demografi Tak Otomatis Jadi Berkah
Indonesia saat ini berada dalam fase bonus demografi, ketika jumlah penduduk usia produktif jauh lebih besar dibandingkan penduduk usia non-produktif. Kondisi ini sering disebut sebagai peluang emas, tetapi ia tidak datang dengan jaminan apa pun. Bonus demografi tidak otomatis berubah menjadi bonus kesejahteraan. Potensi itu hanya bisa diwujudkan kalau generasi muda punya akses ke pendidikan berkualitas, keterampilan yang relevan, dan lapangan pekerjaan yang layak. Tanpa tiga syarat itu, ledakan usia produktif justru bisa berbalik menjadi beban.
Dalam diskusi itu, Charles Honoris, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, menyoroti tantangan yang muncul ketika besarnya angkatan kerja berhadapan dengan perkembangan AI dan otomatisasi. Menurutnya, teknologi memang bisa menaikkan produktivitas dan melahirkan jenis pekerjaan baru, tetapi pada saat yang sama berpotensi menggantikan sejumlah pekerjaan yang selama ini dikerjakan manusia. Ia menyebut otomatisasi dapat menjadi ancaman nyata. Indonesia punya angkatan kerja besar, sementara ketersediaan lapangan pekerjaan terbatas. Dari situ muncul risiko ketidakseimbangan antara jumlah pencari kerja dan lapangan kerja yang tersedia.
Meski begitu, Charles mengingatkan bahwa perkembangan teknologi tidak sepenuhnya membawa kabar buruk. Ia merujuk pada Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum yang memproyeksikan lahirnya banyak pekerjaan baru hingga 2030, sekaligus pergeseran pada pekerjaan yang sudah ada. Artinya, lanskap kerja tidak runtuh begitu saja, melainkan berubah bentuk. Yang dibutuhkan kemudian adalah kebijakan yang membuat generasi muda siap menghadapi tantangan zaman. Tanpa persiapan itu, peluang yang terbuka bisa lewat begitu saja tanpa sempat dimanfaatkan.
Perlu dicatat, proyeksi itu bersifat global dan tidak otomatis berlaku sama di setiap negara. Indonesia memiliki karakteristik sendiri, mulai dari struktur industri hingga kualitas pendidikan dan sebaran lapangan kerja. Karena itu, angka pertambahan pekerjaan di tingkat dunia sebaiknya dibaca sebagai arah, bukan jaminan. Yang lebih menentukan adalah seberapa cepat ekosistem keterampilan dan kebijakan ketenagakerjaan di dalam negeri menyesuaikan diri. Di titik inilah diskusi seperti Taman Talks menemukan urgensinya.
Karakter, Modal yang Tak Bisa Digantikan Mesin
Perspektif dunia usaha datang dari Pieter Setiawan, CEO Wahyono Group. Ia tidak hanya berbicara soal dunia kerja, tetapi juga soal pentingnya memanusiakan manusia. Menurutnya, manusia perlu belajar menjadi manusia seutuhnya di tengah era kecerdasan buatan. Ia menekankan kemampuan bersosialisasi, berkomunikasi, berperilaku, dan menjadi pekerja yang baik. Kemampuan intelektual tetap penting, tetapi harus disertai karakter dan etos kerja. Pesan ini menyentuh sisi yang sering terlupakan dalam diskusi teknologi.
Alasannya cukup masuk akal. Mesin bisa menghitung lebih cepat, menganalisis lebih banyak data, dan bekerja tanpa lelah. Tapi kemampuan memahami orang lain, bekerja dalam tim, menjaga kepercayaan, dan mengambil keputusan dengan pertimbangan etis masih sulit digantikan. Justru ketika tugas-tugas rutin diambil alih otomatisasi, sisi manusiawi inilah yang menjadi pembeda. Bagi Generasi Z, artinya upaya mengasah keterampilan teknis perlu berjalan seiring dengan pembentukan sikap. Kombinasi keduanya yang membuat seseorang tetap relevan di pasar kerja yang berubah.
Senada dengan itu, Bendahara Umum DPP Taruna Merah Putih, Stephanie Octavia, menegaskan bahwa mempersiapkan generasi muda tidak boleh berhenti pada pelatihan keterampilan. Ia menekankan pentingnya memastikan ketersediaan lapangan pekerjaan yang layak. Dalam sesi pembuka kegiatan, ia mewakili Ketua Umum TMP menyampaikan pesan kepada Generasi Z yang baru memasuki dunia kerja. Menurutnya, generasi ini tidak boleh hanya menjadi penonton ketika masa depan sedang ditulis. Mereka harus berani belajar, tekun mengasah keterampilan, dan mengubah tantangan menjadi kesempatan.
Aspek perlindungan sosial juga menjadi sorotan. Ady Hendratta, Kepala Kanwil BPJS Ketenagakerjaan DKI Jakarta, mengingatkan bahwa jaminan sosial ketenagakerjaan adalah cara membangun jaring pengaman bagi diri sendiri dan keluarga. Pesan itu penting karena dunia kerja yang fleksibel membuat banyak orang berpindah-pindah pekerjaan atau menjalani kerja lepas. Tanpa perlindungan, risiko yang muncul saat terjadi hal tak terduga harus ditanggung sendirian. Bagi pekerja muda, memahami hal ini sejak awal sama pentingnya dengan mengejar karier itu sendiri.
Taman yang Hidup, Ruang Belajar yang Dekat
Menariknya, forum ini juga membawa perspektif tentang ruang publik. Mangatta Toding Allo, ketua panitia kegiatan, menekankan pentingnya menghidupkan taman sebagai bagian dari upaya membangun ruang publik yang aktif dan bermanfaat. Salah satu pendekatannya adalah menghadirkan pelatihan keterampilan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Ia menyebut pelatihan membuat kopi, digital marketing, dan keterampilan mekanik sebagai contoh. Arahan Gubernur soal menghidupkan taman pun dijadikan pijakan. Dengan begitu, taman bukan lagi sekadar tempat duduk, tetapi ruang belajar yang terbuka.
Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik, Abdul Khalit, melengkapi gambaran itu dengan menjelaskan bahwa taman adalah ruang sosial yang terbuka, inklusif, dan kreatif. Taman, katanya, berperan mendukung kualitas lingkungan dan membantu pengendalian limpasan air hujan. Keberadaannya juga penting sebagai ruang hijau bagi kehidupan kota. Dari sudut pandang ini, taman memiliki fungsi ganda: ekologis dan sosial. Kegiatan yang digelar di dalamnya jadi cara mengisi fungsi sosial itu dengan hal-hal produktif.
Rangkaian kegiatan Taman Talks sendiri tidak berhenti pada diskusi. Acara ini melibatkan Dinas PPKUKM Provinsi DKI Jakarta melalui bazaar UMKM, sekaligus menyediakan berbagai pelatihan bagi orang muda bersama PPKD Dinas Tenaga Kerja Jakarta Barat. Kolaborasi lintas lembaga itu menunjukkan bahwa persoalan kerja bukan urusan satu pihak saja. Bagi pembaca, terutama yang berusia muda, ini menjadi pengingat bahwa ruang untuk belajar dan membangun jaringan sebenarnya cukup banyak, asalkan mau mencari. Yang diperlukan tinggal kemauan untuk melangkah masuk dan memanfaatkannya.
Pada akhirnya, pertanyaan “masih ada kerja buat kita?” tidak bisa dijawab dengan satu kalimat. Teknologi memang mengubah banyak hal, tetapi ia juga membuka peluang yang tidak ada sebelumnya. Kuncinya ada pada kesiapan: keterampilan yang terus diperbarui, karakter yang kuat, dan keberanian mengambil peran. Generasi muda diajak memandang masa depan dengan kesiapan, daya kritis, dan kemauan ikut menulis perubahan. Dari sebuah taman di Jakarta, percakapan soal masa depan kerja itu setidaknya sudah dimulai.
Sumber: Republika
Perubahan dunia kerja bergerak cepat, jadi jangan sampai ketinggalan kabar terbarunya. Pantau terus LapakStore88 untuk update berita terkini dan pembahasan yang enak diikuti. Sampai jumpa di artikel berikutnya, ya!
📘 Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini
💬 Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini
✈️ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.
Gabung Channel Telegram »📰 Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog
Baca juga:
Kata kunci terkait: taruna merah putih, taman talks, gen z dunia kerja, ai dan otomatisasi, bonus demografi indonesia, upskilling dan reskilling, pekerjaan 2030, sumpah pemuda
#LapakStore88



