Kesehatan 6 menit baca

IDAI: Telur Mentah Bukan Makanan yang Sesuai untuk Bayi

IDAI Ingatkan Bahaya Telur Mentah untuk Bayi, Bukan Sekadar Isu Gizi

LokalStore88 Senin,12 Oktober 2026.

Bayi di bawah lima tahun sama sekali tidak boleh diberi telur mentah. Bukan tanpa alasan, peringatan ini datang langsung dari Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang menekankan bahwa telur mentah maupun setengah matang bukanlah pilihan makanan yang sesuai untuk si kecil. Bagi orang tua yang mungkin pernah mendengar mitos bahwa telur mentah bisa mempercepat pertumbuhan anak, informasi ini penting untuk diluruskan. Sebab, di balik kebiasaan tersebut tersimpan risiko kesehatan yang serius dan nyata.

Risiko Bakteri yang Mengintai

Ketua PP IDAI, DR Dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA, Subsp Kardio(K), mengungkapkan bahwa telur mentah berpotensi mengandung bakteri Salmonella. Bakteri ini merupakan penyebab infeksi saluran cerna yang dikenal dengan nama salmonelosis. Infeksi tersebut dapat memicu berbagai gejala tidak nyaman seperti diare, demam, nyeri perut, muntah, hingga dehidrasi. Pada bayi dan anak kecil, kondisi ini bisa berkembang jauh lebih berat dibandingkan orang dewasa. Komplikasi serius pun bukan hal yang mustahil terjadi jika tidak ditangani dengan tepat.

๐Ÿ›’ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »

Salmonelosis pada anak-anak memang perlu mendapat perhatian ekstra. Sistem kekebalan tubuh bayi yang belum sepenuhnya matang membuat mereka lebih rentan terhadap serangan infeksi. Itulah sebabnya IDAI terus mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam memilih dan mengolah makanan untuk kelompok usia ini. Risiko infeksi bukanlah hal yang bisa dianggap remeh, terutama ketika menyangkut buah hati yang masih dalam masa pertumbuhan.

Tidak Ada Keuntungan Gizi yang Sebanding

Selain risiko infeksi, ada alasan lain yang memperkuat larangan pemberian telur mentah pada bayi. Piprim menegaskan bahwa telur mentah atau setengah matang tidak memberikan keuntungan gizi yang sebanding dengan risiko yang ditimbulkan. Dengan kata lain, tidak ada manfaat istimewa yang bisa didapat dari menyajikan telur dalam kondisi belum matang sempurna. Justru sebaliknya, bahaya yang mengintai jauh lebih besar daripada manfaat yang mungkin diperoleh.

Pandangan ini penting untuk dicatat oleh para orang tua yang mungkin tergoda mencoba berbagai metode pemberian makanan alternatif. Dalam dunia gizi anak, keamanan pangan harus selalu menjadi prioritas utama. Tidak ada gunanya mengejar manfaat tertentu jika pada saat yang sama membuka pintu bagi masuknya penyakit. Prinsip inilah yang tampaknya ingin ditekankan oleh IDAI melalui pernyataan terbaru mereka.

Telur Matang, Sumber Protein Berkualitas

Pesan ini bukan berarti telur sama sekali tidak boleh diberikan kepada anak. Justru sebaliknya, telur yang dimasak hingga matang merupakan sumber protein berkualitas tinggi yang sangat bermanfaat bagi pertumbuhan anak. Di dalamnya terkandung berbagai zat gizi penting yang dibutuhkan oleh tubuh si kecil untuk berkembang optimal. Kuncinya terletak pada cara pengolahan yang benar dan tepat.

IDAI Ingatkan Bahaya Telur Mentah untuk Bayi, Bukan Sekadar Isu Gizi (2)
Foto: Liputan6 Kesehatan

Piprim menjelaskan bahwa proses pemasakan yang tepat akan meningkatkan keamanan pangan sekaligus daya cerna protein telur. Artinya, memasak telur sampai matang bukan hanya soal membunuh bakteri berbahaya, tetapi juga membuat nutrisi di dalamnya lebih mudah diserap oleh tubuh anak. Dengan begitu, manfaat gizi telur bisa didapatkan secara maksimal tanpa harus mengambil risiko yang tidak perlu.

Faktor Keamanan, Tekstur, dan Penyajian

Ketika memberikan makanan kepada bayi, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dengan cermat. Piprim mengingatkan bahwa keamanan, tekstur, dan cara penyajian makanan harus disesuaikan dengan usia serta kemampuan makan bayi. Ini bukan sekadar soal apa yang diberikan, tetapi juga bagaimana makanan tersebut diolah dan disajikan. Setiap tahapan usia memiliki kebutuhan dan kapasitas yang berbeda-beda.

Tekstur makanan misalnya, harus disesuaikan dengan kemampuan bayi dalam mengunyah dan menelan. Bayi yang baru mulai makan tentu membutuhkan tekstur yang jauh berbeda dibandingkan anak yang lebih besar. Begitu pula dengan aspek keamanan, yang mencakup kebersihan bahan, cara pengolahan, hingga penyajian akhir. Semua faktor ini saling berkaitan dan tidak bisa diabaikan satu per satu.

Kapan MPASI Sebaiknya Dimulai?

Dalam kesempatan yang sama, Piprim juga membahas mengenai usia yang tepat untuk memulai Makanan Pendamping ASI atau MPASI. Menurutnya, MPASI umumnya dimulai pada usia enam bulan. Pada usia tersebut, kebutuhan energi dan zat gizi bayi sudah mulai melampaui apa yang bisa dipenuhi oleh ASI saja. Inilah momen di mana makanan tambahan mulai diperlukan untuk mendukung pertumbuhan yang semakin pesat.

Namun, ada pula kemungkinan MPASI dimulai lebih awal, yakni sejak bayi berusia empat bulan atau sekitar 17 minggu. Pemberian di usia tersebut hanya bisa dilakukan apabila ada pertimbangan klinis tertentu dan bayi telah menunjukkan kesiapan perkembangan untuk menerima makanan. Artinya, ini bukanlah rekomendasi umum yang bisa diterapkan pada semua bayi, melainkan keputusan yang harus didasarkan pada penilaian individual.

Lalu, apakah boleh memberikan MPASI sebelum usia empat bulan? Jawabannya tegas: tidak dianjurkan. Piprim menekankan bahwa pemberian MPASI sebelum usia empat bulan bukanlah praktik yang dibenarkan. Bahkan, pemberian MPASI sejak usia empat bulan pun bukan merupakan rekomendasi rutin, melainkan pertimbangan individual dalam kondisi tertentu saja. Orang tua perlu memahami perbedaan ini agar tidak salah langkah.

IDAI Ingatkan Bahaya Telur Mentah untuk Bayi, Bukan Sekadar Isu Gizi (3)
Foto: Liputan6 Kesehatan

ASI Tetap yang Terbaik

Untuk anak yang belum memasuki fase MPASI, makanan terbaik tetaplah Air Susu Ibu (ASI). Tidak ada yang bisa menggantikan peran ASI dalam hal pemenuhan nutrisi dan perlindungan imun bagi bayi. Namun, apabila pemberian ASI tidak memungkinkan atau terdapat indikasi medis tertentu, susu formula bayi dapat menjadi alternatif. Pemberiannya pun harus sesuai dengan penilaian dan anjuran tenaga kesehatan.

Pesan tegas dari Piprim adalah jangan pernah memberikan MPASI sebelum usia empat bulan. Ini termasuk telur mentah, telur setengah matang, bubur, atau makanan lain yang tidak sesuai dengan usia bayi. Aturan ini dibuat bukan untuk menyulitkan orang tua, melainkan untuk melindungi kesehatan dan keselamatan si kecil. Kepatuhan terhadap panduan ini akan sangat menentukan kualitas tumbuh kembang anak di masa depan.

Dampak bagi Orang Tua dan Praktik Pemberian Makan

Peringatan IDAI ini seharusnya menjadi pengingat bagi para orang tua dan pengasuh untuk lebih berhati-hati dalam memilih makanan bagi bayi. Di tengah arus informasi yang begitu deras, tidak jarang muncul saran-saran yang tidak berdasar atau bahkan menyesatkan. Mitos seputar telur mentah sebagai booster pertumbuhan hanyalah salah satu contohnya. Penting bagi orang tua untuk selalu merujuk pada sumber informasi yang kredibel dan terpercaya.

Selain itu, praktik pemberian makanan pada bayi juga perlu disesuaikan dengan tahapan usia dan perkembangan. Setiap anak memiliki keunikan dan kebutuhan masing-masing. Namun, prinsip dasar keamanan pangan dan kecukupan gizi tetap berlaku universal. Orang tua tidak perlu ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila memiliki pertanyaan seputar pola makan si kecil. Bimbingan profesional akan membantu menghindari kesalahan yang tidak diinginkan.

Dari sudut pandang tenaga kesehatan, imbauan seperti yang disampaikan IDAI ini menjadi panduan penting dalam mengedukasi masyarakat. Sosialisasi mengenai bahaya telur mentah dan pentingnya pengolahan makanan yang benar harus terus digaungkan. Dengan begitu, kesadaran akan keamanan pangan bagi bayi dapat meningkat secara menyeluruh. Pada akhirnya, tujuan utamanya adalah memastikan setiap anak mendapatkan asupan terbaik untuk tumbuh sehat dan kuat.

Ke depan, diharapkan semakin banyak orang tua yang memahami pentingnya menyajikan makanan yang aman dan bergizi bagi anak. Telur matang yang diolah dengan benar bisa menjadi bagian dari menu MPASI yang sehat dan lezat. Sementara telur mentah, sudah sepatutnya dihindari sepenuhnya. Mari jadikan kesehatan anak sebagai prioritas utama dalam setiap keputusan yang kita ambil.

Sumber: Liputan6 Kesehatan

Jangan lewatkan informasi penting seputar kesehatan si kecil dan berita terkini lainnya. Yuk, terus pantau kanal resmi LapakStore88 supaya kamu selalu dapat update terbaru yang sayang kalau ketinggalan. Gabung sekarang dan jadilah yang pertama tahu!

๐Ÿ“˜ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini

๐Ÿ’ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini

โœˆ๏ธ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.

Gabung Channel Telegram »

๐Ÿ“ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog

Kata kunci terkait: telur mentah untuk bayi, MPASI bayi, bahaya salmonella, IDAI, makanan pendamping ASI, gizi bayi, telur matang, keamanan pangan bayi

#LapakStore88

Sumber asli: Liputan6 Kesehatan