Kesehatan 6 menit baca

Viral Bayi 28 Hari Meninggal Usai Dicekoki Telur Mentah, Ini Kata IDAI

Tragis: Bayi 28 Hari Wafat Setelah Disuapi Telur Mentah, IDAI Tegas Meluruskan Miskonsepsi Gizi

LokalStore88 Senin,12 Oktober 2026.

Sebuah adegan yang seharusnya menjadi momen penuh kasih sayang berubah menjadi tragedi mengerikan ketika seorang bayi berusia hanya 28 hari kehilangan nyawanya akibat kesalahan fatal dalam pemberian makan. Kejadian ini tidak terjadi karena kelalaian medis di rumah sakit, melainkan karena tindakan seorang anggota keluarga yang tidak menyadari bahaya serius dari makanan yang ia berikan. Kasus ini mengguncang publik dan memecah tanda tanya besar tentang batas antara tradisi pengobatan rumahan dan keamanan gizi modern. Bagi para orang tua baru, insiden di Surabaya ini menjadi tamparan keras untuk lebih teliti dalam memahami apa yang boleh dan tidak boleh masuk ke perut buah hati mereka yang masih sangat rentan.

Kronologi menyedihkan ini bermula dari dugaan kuat bahwa bayi Alena, yang tinggal di Surabaya, diberi makan telur mentah oleh neneknya. Tindakan tersebut dilakukan dengan niat baik untuk menurunkan demam yang dialami si kecil, sebuah praktik yang masih sering dianggap ampuh di beberapa kalangan. Namun, niat tulus tersebut justru berujung pada kondisi kritis yang mengancam jiwa bayi yang belum genap satu bulan itu. Sumber informasi ini datang dari akun media sosial seorang tante Alena yang merasa terpanggil untuk berbagi kisah pilu tersebut agar dunia luar turut prihatin. Ia mengungkapkan keputusasaan keluarganya saat harus berjuang melawan konsekuensi dari asupan yang sama sekali tidak sesuai dengan usia bayi.

🛒 LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »

Alarm Bahaya dari Sosial Media

Lewat platform Threads, kerabat dekat bayi tersebut menuliskan pesan penuh tangis yang mencantumkan detail spesifik tentang kejadian tersebut. Ia dengan tegas menekankan bahwa yang diberikan adalah telur mentah, bukan telur matang, dan kondisi kritis Alena adalah akibat langsung dari hal itu. Tulisan ini menarik simpati warganet yang kemudian memulai doa dan dukungan moral untuk keluarga yang sedang berduka. Dua hari setelah kabar kritis tersebut diumumkan, akun yang sama kembali muncul dengan kabar duka bahwa Alena telah berpulang. Penerimaan empati dari masyarakat siber menunjukkan betapa dalamnya empati kolektif terhadap jiwa-jiwa kecil yang menjadi korban ketidakpahaman atau miskomunikasi dalam pengasuhan.

Konfirmasi Medis dan Upaya Penyelamatan

Pihak rumah sakit turut memberikan klarifikasi resmi mengenai perawatan yang telah diberikan kepada pasien kecil tersebut. Kepala Bagian Umum RSUD Dr Soetomo Surabaya, Robeth Jabbar, membenarkan bahwa Alena sempat mendapatkan penanganan medis intensif di fasilitas tersebut. Tim medis menyatakan telah melakukan upaya terbaik sesuai dengan standar pelayanan kesehatan tertinggi untuk menyelamatkan nyawa bayi itu. Sayangnya, upaya maksimal tersebut tidak mampu menahan laju kondisi kritis yang dialami Alena yang sangat muda. Bayi tersebut dinyatakan meninggal dunia pada Minggu pagi, 11 Oktober 2026, tepat pada pukul 07.10 WIB, mengakhiri perjuangannya yang singkat namun penuh makna bagi keluarga.

Kematian bayi yang baru berusia 28 hari ini memicu perhatian serius dari organisasi profesi kedokteran anak di Indonesia. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) segera angkat bicara untuk meluruskan berbagai miskonsepsi yang beredar di tengah masyarakat. Menurut Ketua Pengurus Pusat IDAI, DR Dr. Piprim Basarah Yanuarso, pemberian makan pada bayi adalah proses kompleks yang tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Setiap pemberian nutrisi harus mempertimbangkan empat pilar utama: usia bayi, kebutuhan gizi spesifik, kesiapan perkembangan saluran cerna, serta aspek keamanan pangan yang ketat. Kelalaian pada salah satu aspek saja, terutama keamanan pangan, bisa berakibat fatal bagi organ-organ vital bayi yang belum matang sempurna.

IDAI menekankan kembali prinsip dasar yang telah lama menjadi konsensus medis, yaitu pentingnya ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan. Piprim menegaskan bahwa Air Susu Ibu adalah nutrisi paling sempurna dan aman untuk bayi dalam rentang usia tersebut. Jika memang ada kendala dalam pemberian ASI, penggunaan susu formula harus dilakukan dengan indikasi medis yang jelas dan disesuaikan dengan anjuran dokter. Hal ini menegaskan bahwa mengenalkan makanan padat atau semi-padat sebelum waktu yang ditentukan bukanlah pilihan, melainkan risiko yang harus dihindari. Konsistensi dalam memberikan nutrisi yang tepat di fase awal kehidupan adalah kunci pembentukan sistem imun yang kuat di masa depan.

Tragis: Bayi 28 Hari Wafat Setelah Disuapi Telur Mentah, IDAI Tegas Meluruskan Miskonsepsi Gizi (2)
Foto: Liputan6 Kesehatan

Aturan Main MPASI dan Risiko Telur Mentah

Mengenalkan Makanan Pendamping ASI atau MPASI memiliki jendela waktu yang sangat spesifik dan tidak bisa dipercepat tanpa alasan klinis yang kuat. Rekomendasi umum dari para ahli adalah memulai MPASI ketika bayi sudah berusia enam bulan. Dalam kondisi sangat tertentu, di mana ada pertimbangan klinis yang matang, MPASI bisa dipertimbangkan lebih awal, yaitu pada usia empat bulan atau 17 minggu. Namun, Piprim meluruskan bahwa pemberian MPASI sebelum usia empat bulan sama sekali tidak dianjurkan oleh哪家 lembaga medis manapun. Keputusan untuk memulai MPASI lebih awal harus didasarkan pada penilaian kesiapan perkembangan bayi secara individual, bukan sekadar keinginan orang tua atau mitos turun-temurun.

Salah satu kesalahan fatal dalam kasus ini adalah pemberian telur mentah, yang secara medis dinilai sangat berbahaya bagi bayi. Telur mentah atau setengah matang memiliki potensi tinggi untuk mengandung bakteri Salmonella yang ganas. Bakteri ini dapat menyebabkan infeksi saluran cerna berat yang dikenal sebagai salmonelosis. Gejala yang ditimbulkan sangat mengerikan bagi tubuh kecil bayi, termasuk diare parah, demam tinggi, nyeri perut, muntah, dan dehidrasi yang cepat. Pada orang dewasa, infeksi ini mungkin hanya menyebabkan ketidaknyamanan, tetapi pada bayi, sistem kekebalan yang belum sempurna membuat infeksi ini bisa berujung pada komplikasi serius yang mengancam nyawa.

Meluruskan Mitos Gizi Tradisional

Tidak ada keuntungan gizi yang dapat membenarkan risiko kesehatan yang begitu besar dari pemberian telur mentah kepada bayi. Klaim bahwa telur mentah lebih bergizi atau mampu menyembuhkan demam adalah mitos yang tidak didukung oleh bukti ilmiah modern. Justru sebaliknya, proses memasak telur dengan benar adalah cara terbaik untuk memastikan keamanannya. Pemasakan yang tepat tidak hanya membunuh bakteri patogen, tetapi juga meningkatkan daya cerna protein dalam telur sehingga lebih mudah diserap oleh tubuh bayi. Oleh karena itu, keamanan pangan harus selalu menjadi prioritas utama sebelum mempertimbangkan nilai gizi dari suatu makanan.

Untuk bayi yang sudah memasuki masa MPASI, telur yang dimasak hingga matang sempurna merupakan sumber protein berkualitas tinggi yang sangat baik. Telur matang mengandung berbagai zat gizi penting yang mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak. Namun, cara penyajiannya harus disesuaikan dengan kemampuan makan bayi agar tidak terjadi tersedak atau masalah pencernaan lain. Tekstur makanan harus halus dan lembut pada tahap awal, lalu secara bertahap diperkenalkan tekstur yang sedikit lebih kasar seiring dengan berkembangnya kemampuan mengunyah bayi. Penyesuaian tekstur ini sama pentingnya dengan pemilihan bahan makanan itu sendiri.

Kasus tragis di Surabaya ini menjadi pengingat penting bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk selalu menggunakan akal sehat dan ilmu pengetahuan dalam mengasuh anak. Jangan mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi atau tradisi yang tidak sesuai dengan perkembangan medis saat ini. Konsultasi dengan dokter anak atau ahli gizi adalah langkah bijak yang harus dilakukan sebelum memberikan jenis makanan baru kepada bayi. Keselamatan dan kesehatan anak adalah aset paling berharga yang harus dijaga dengan penuh kehati-hatian. Harapan terbesar dari kejadian pilu ini adalah terlahirnya kesadaran kolektif untuk lebih cermat, teliti, dan kritis dalam setiap keputusan pengasuhan, demi mencegah tragedi serupa terulang di masa mendatang.

Sumber: Liputan6 Kesehatan

Jangan sampai ketinggalan informasi kesehatan yang krusial untuk keluarga Anda. Yuk, ikuti kanal resmi LapakStore88 agar setiap update berita penting langsung sampai ke genggaman Anda kapan pun.

📘 Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini

💬 Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini

✈️ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.

Gabung Channel Telegram »

📰 Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog

Kata kunci terkait: telur mentah bayi, berbahaya untuk bayi, IDAI MPASI, ASI eksklusif, salmonela bayi, gizi bayi baru lahir, makanan pendamping ASI

#LapakStore88

Sumber asli: Liputan6 Kesehatan