Bisnis 7 menit baca

Menteri LH Ingatkan Pengusaha, Biaya Urus Lingkungan Hidup Bukan Beban!

Jumhur Hidayat: Biaya Kelola Lingkungan Bukan Pengeluaran Sia-sia, tapi Modal Bersaing

LokalStore88 Rabu,14 Oktober 2026.

"Good environmental governance is good business governance." Kalimat berbahasa Inggris itu meluncur dari mulut Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat di hadapan para pemilik modal dan pengusaha yang berkumpul di Jakarta. Ia tidak sedang berfilsafat. Ia sedang menjelaskan aturan main baru dunia usaha, di mana cara sebuah perusahaan memperlakukan air, udara, dan tanah di sekitarnya ikut menentukan apakah bisnisnya masih dilirik pasar. Bagi siapa pun yang menjalankan usaha, dari pabrik besar sampai pemasok kecil di rantai pasok, pesan ini bukan sekadar wacana lingkungan. Ini soal bertahan atau tersingkir.

Panggungnya adalah Rapat Koordinasi Nasional Bidang Investasi, Hilirisasi, Energi dan Lingkungan Hidup yang digelar Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia 2026. Acara itu berlangsung di The Langham, Jakarta Selatan, pada Selasa, 13 Oktober 2026. Forum semacam ini mempertemukan pemerintah dan dunia usaha untuk membicarakan arah investasi, pengolahan bahan mentah di dalam negeri, energi, hingga isu lingkungan. Kehadiran Menteri Lingkungan Hidup di ruang yang penuh pemilik modal itu sendiri sudah menjadi sinyal tersendiri. Isu lingkungan kini duduk di meja yang sama dengan isu bisnis.

๐Ÿ›’ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »

Dalam kesempatan itu, Jumhur menyampaikan pesan yang mungkin terdengar berlawanan dengan kebiasaan lama berbisnis. Ia menegaskan bahwa uang yang dikeluarkan perusahaan untuk mengelola lingkungan bukanlah beban yang menggerus keuntungan. Menurutnya, pengeluaran itu justru berfungsi sebagai investasi untuk memperkuat daya saing. Logikanya sederhana, perusahaan yang tertib lingkungan lebih mudah dipercaya, dan kepercayaan itulah yang kini menjadi mata uang utama di pasar global. Cara pandang ini menggeser posisi biaya lingkungan dari sekadar pos pengeluaran menjadi bagian dari strategi jangka panjang.

Jumhur juga mengingatkan bahwa ukuran daya saing sebuah perusahaan sudah bergeser. Kalau dulu kualitas produk menjadi penentu utama, sekarang cara produk itu dibuat, termasuk seberapa besar jejak lingkungan dari proses produksinya, ikut dihitung. Pembeli, investor, dan lembaga keuangan tidak lagi hanya melihat harga dan spesifikasi barang. Mereka mulai menanyakan asal bahan baku, jumlah emisi, dan bagaimana limbah diperlakukan. Perubahan standar penilaian inilah yang membuat pengelolaan lingkungan tak lagi bisa ditunda atau dianggap urusan belakangan.

Dari situ Jumhur menarik kesimpulan yang tegas. Pasar global, katanya, tidak lagi membeli produk yang tidak memberi kepercayaan. Investor membeli kepastian, lembaga keuangan membeli kemampuan mengelola risiko, dan masyarakat memberi penilaian atas dampak lingkungan sebuah usaha. Karena itu ia menegaskan bahwa pengelolaan lingkungan hidup adalah investasi untuk memenangkan persaingan global. Pernyataan itu ia sampaikan bukan sebagai imbauan moral semata, melainkan sebagai gambaran praktis tentang cara pasar bekerja hari ini.

Lima Keuntungan yang Disebut Menteri

Keuntungan pertama yang disebut Jumhur adalah terbukanya akses pasar ekspor. Sejumlah negara dan perusahaan global kini menerapkan persyaratan keberlanjutan dalam rantai pasok mereka. Artinya, pemasok yang tidak bisa membuktikan kinerja lingkungan yang baik berisiko tersaring sebelum sempat menawarkan barangnya. Sebaliknya, perusahaan dengan rekam jejak lingkungan yang rapi akan lebih cepat diterima dan diloloskan ke pasar-pasar tersebut. Bagi eksportir, tuntutan lingkungan berubah menjadi tiket masuk, bukan penghalang yang harus dilewati dengan susah payah.

Keuntungan kedua menyangkut akses pembiayaan. Bank, investor institusional, dan lembaga pembiayaan internasional makin sering memasukkan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola atau ESG ke dalam keputusan mereka. Perusahaan yang punya kebijakan lingkungan jelas cenderung mendapat biaya modal yang lebih kompetitif. Selain itu, peluang mengakses pembiayaan hijau menjadi lebih besar. Sinyal semacam itu membuat perusahaan dengan risiko lingkungan tinggi berpotensi menghadapi biaya pinjaman yang lebih mahal, atau bahkan kesulitan mendapat pendanaan sama sekali.

Keuntungan ketiga bersifat langsung ke dapur produksi. Jumhur menyebut pengelolaan lingkungan yang baik mendorong efisiensi, mulai dari penggunaan energi yang lebih hemat, pemakaian air yang lebih terkendali, hingga pemanfaatan kembali limbah yang dihasilkan. Penerapan ekonomi sirkular, yakni memutar kembali material bekas menjadi bahan baku baru, ikut menekan biaya produksi. Dengan kata lain, langkah yang sering dianggap sebagai biaya tambahan justru bisa memangkas pengeluaran rutin yang selama ini tidak disadari. Efisiensi inilah yang membuat investasi lingkungan perlahan membayar dirinya sendiri.

Jumhur Hidayat: Biaya Kelola Lingkungan Bukan Pengeluaran Sia-sia, tapi Modal Bersaing (2)
Foto: Detik Finance

Keuntungan keempat adalah berkurangnya konflik sosial. Ketika masyarakat di sekitar wilayah perusahaan percaya bahwa operasinya tidak merusak lingkungan dan memberi manfaat nyata, gesekan yang bisa mengganggu jalannya usaha menjadi lebih kecil. Kepercayaan warga ini, menurut Jumhur, merupakan modal penting untuk menjaga keberlanjutan investasi. Pengalaman di banyak daerah menunjukkan bahwa protes warga dan penolakan komunitas bisa menghentikan operasi lebih cepat daripada sanksi resmi. Karena itu, hubungan baik dengan lingkungan sekitar sejatinya adalah bentuk pengamanan operasional sehari-hari.

Keuntungan kelima menyangkut pengurangan biaya mitigasi dan risiko hukum. Sengketa lingkungan, penghentian operasional, sampai rusaknya reputasi bisa menimbulkan biaya yang jauh lebih besar dibandingkan biaya pencegahan sejak awal. Karena itu, menurut Jumhur, kepatuhan terhadap aturan lingkungan sesungguhnya merupakan bentuk perlindungan terhadap kelangsungan bisnis itu sendiri. Perhitungan ini penting, terutama bagi perusahaan yang beroperasi di sektor yang rawan bersinggungan dengan isu lingkungan. Menunda perbaikan tata kelola hanya memindahkan biaya ke masa depan dengan jumlah yang lebih besar.

Gelombang Tuntutan yang Tidak Lagi Bisa Dihindari

Apa yang disampaikan Jumhur sejalan dengan pergeseran yang sudah berlangsung di pasar global beberapa tahun terakhir. Pemilik modal semakin selektif dan mencari perusahaan yang mampu membuktikan bahwa bisnisnya dikelola secara berkelanjutan, bukan sekadar menjual janji di laporan tahunan. Tekanan datang dari berbagai arah, mulai dari pembeli di negara maju, lembaga keuangan, hingga konsumen yang mulai menelusuri asal produk. Akibatnya, persyaratan lingkungan merembes ke rantai pasok dan menimpa juga pemasok di negara berkembang. Tidak ada lagi ruang bagi bisnis yang hanya mengandalkan harga murah tanpa memperhatikan prosesnya.

Beberapa istilah yang muncul dalam diskusi itu perlu dipahami agar tidak terasa sebagai jargon belaka. ESG adalah kerangka penilaian yang melihat kinerja lingkungan, sosial, dan tata kelola sebuah perusahaan. Ekonomi sirkular berarti model produksi yang meminimalkan limbah dengan memakai ulang sumber daya yang ada. Sementara pembiayaan hijau merujuk pada pinjaman atau investasi yang disalurkan khusus untuk proyek ramah lingkungan. Ketiga hal ini kini menjadi bahasa sehari-hari di ruang rapat direksi, bukan lagi bahan diskusi akademik yang jauh dari urusan operasional.

Bagi pelaku usaha di Indonesia, pesan ini punya konsekuensi praktis yang tidak bisa diabaikan. Perusahaan besar dengan sumber daya memadai mungkin lebih mudah menyesuaikan diri karena bisa merekrut tenaga ahli dan menyusun laporan keberlanjutan. Namun pemasok kecil dan usaha menengah di rantai pasok mereka tetap dituntut memenuhi standar serupa jika ingin tetap dipakai. Di sinilah tantangannya, karena biaya kepatuhan terasa berat di awal sementara manfaatnya baru terlihat dalam jangka menengah. Pendampingan dan insentif menjadi krusial agar transisi ini tidak mematikan usaha kecil di tengah jalan.

Di kalangan pelaku usaha, tanggapan atas pesan semacam ini biasanya terbelah. Sebagian menyambut karena melihat peluang pasar baru dan kemudahan akses pembiayaan di depan mata. Sebagian lain mengeluh karena menilai aturan lingkungan menambah beban operasional, terutama saat margin sedang tipis. Pengamat ekonomi umumnya menilai arah kebijakan ini sudah sulit dibalik karena tuntutan datang dari pasar, bukan hanya dari pemerintah. Yang menjadi perdebatan bukan lagi perlu atau tidak, melainkan seberapa cepat kesiapan itu dibangun dan dukungan apa yang tersedia.

Ke depan, garis pemisah antara perusahaan yang bertahan dan yang tertinggal tampaknya akan semakin ditentukan oleh cara mereka mengelola dampak lingkungan. Pasar, pembiayaan, dan masyarakat bergerak ke arah yang sama, yakni menuntut bukti dan bukan sekadar pernyataan di atas kertas. Bagi pelaku usaha, pilihan yang tersedia bukan antara untung dan lingkungan, melainkan bagaimana menjadikan keduanya berjalan seiring. Pesan Jumhur di forum Kadin itu pada akhirnya adalah pengingat sederhana, bahwa dalam bisnis hari ini menjaga lingkungan berarti menjaga masa depan usaha itu sendiri.

Sumber: Detik Finance

Kalau Anda ingin terus mengikuti perkembangan kebijakan lingkungan dan dunia usaha seperti ini, jangan sampai ketinggalan update berikutnya. Yuk, ikuti terus kanal resmi LapakStore88 supaya setiap berita penting soal bisnis, investasi, dan regulasi terbaru bisa langsung Anda baca tanpa tertinggal. Tetap pantau, karena perubahan aturan main pasar sering datang lebih cepat dari yang kita duga.

๐Ÿ“˜ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini

๐Ÿ’ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini

โœˆ๏ธ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.

Gabung Channel Telegram »

๐Ÿ“ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog

Kata kunci terkait: Menteri Lingkungan Hidup, biaya pengelolaan lingkungan, investasi hijau, ESG, daya saing industri, ekonomi sirkular, Kadin Indonesia, pembiayaan hijau

#LapakStore88

Sumber asli: Detik Finance