:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372520/original/076307600_1791881365-Data_center_facility_in_Surabaya__included_in_the_transaction.jpg)
LokalStore88 Rabu,14 Oktober 2026.
Setelah meneken satu perjanjian definitif, PT SMPlus Digital Investama (SM+) menambah lima fasilitas data center sekaligus ke dalam portofolionya. Tambahan itu membawa perusahaan mengoperasikan total 31 fasilitas infrastruktur yang tersebar di 25 kota di Indonesia. Di pasar yang sedang berlomba menyediakan kapasitas komputasi, lompatan ini bukan sekadar soal jumlah. Sebab, siapa yang punya jangkauan fisik paling luas, dialah yang paling siap menampung lonjakan kebutuhan data korporasi. Itulah taruhan besar di balik langkah akuisisi terbaru SM+.
Perjanjian definitif itu diteken SM+ untuk mengakuisisi bisnis data center enterprise milik Princeton Digital Group (PDG) di Indonesia. Kedua belah pihak menyepakati transaksi yang menyentuh lini bisnis yang selama ini melayani kebutuhan korporasi. Bagi SM+, langkah ini bukan ekspansi kecil-kecilan, melainkan fondasi untuk membangun platform infrastruktur digital nasional. Pilihan menyasar segmen enterprise juga masuk akal, karena pelanggan jenis ini biasanya menuntut standar keandalan tinggi dan kontrak jangka panjang. Kombinasi keduanya memberi pemasukan yang lebih stabil dibanding melayani pasar ritel.
๐ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »
Lima fasilitas yang masuk ke dalam kesepakatan tersebar di empat wilayah berbeda. Ada yang berlokasi di kawasan Jabodetabek, lalu Bandung, Surabaya, dan Pekanbaru. Sebaran itu penting karena tidak semua perusahaan data center berani keluar dari pulau Jawa. Dengan menyentuh Pekanbaru dan Surabaya, SM+ menempatkan dirinya di jalur pertumbuhan di luar pusat bisnis utama. Artinya, pelanggan di daerah pun bisa mendapat layanan dengan kedekatan fisik yang lebih baik, sesuatu yang berpengaruh pada kecepatan dan latensi.
Konteksnya jelas: konsumsi data di dalam negeri tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir. Adopsi cloud di kalangan perusahaan juga makin lazim, seiring percepatan transformasi digital di sektor korporasi. Ketika layanan publik, perbankan, ritel, dan manufaktur memindahkan operasinya ke ranah digital, kebutuhan akan ruang penyimpanan dan pemrosesan data ikut meledak. Data center berubah dari sekadar fasilitas pendukung menjadi tulang punggung ekonomi digital. Karena itu, kepemilikan aset fisik di banyak titik menjadi nilai tawar tersendiri.
Menurut President Director & Group CEO SM+ Holdings, Herson Suindah, akuisisi ini merupakan tonggak sejarah penting dalam perjalanan perusahaan membangun platform infrastruktur digital nasional. Ia menilai langkah tersebut sejalan dengan ambisi perusahaan menjadi pemain terdepan di sektor ini. Pernyataan itu disampaikan dalam keterangan resmi perusahaan kepada media. Nada optimistis yang sama juga muncul saat ia membahas dampaknya bagi pelanggan. Menurutnya, transaksi ini memperkuat kemampuan perusahaan melayani kebutuhan yang terus berkembang.
Yang paling terasa dari penambahan lima fasilitas ini adalah jangkauan nasional yang makin luas. Herson menyebut, dengan bertambahnya fasilitas di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Pekanbaru, perusahaan bisa menjangkau lebih banyak wilayah. Perluasan itu juga ia kaitkan dengan komitmen mendukung ekonomi digital Indonesia. Bagi pelanggan korporasi, artinya sederhana: pilihan lokasi dan kapasitas yang lebih beragam. Bagi perusahaan, artinya peluang kontrak baru yang lebih besar.
Mengapa Kapasitas Data Center Jadi Rebutan
Pertumbuhan konsumsi data, adopsi cloud, dan akselerasi transformasi digital di sektor korporasi menjadi tiga pendorong utama yang membuat pasar data center Indonesia bergerak cepat. Ketiganya saling menguatkan. Semakin banyak layanan dipindahkan ke cloud, semakin besar kebutuhan kapasitas fisik yang menopangnya. Di sisi lain, perusahaan yang beralih ke digital biasanya tidak ingin bergantung pada satu lokasi saja. Mereka mencari penyedia yang bisa menyediakan cadangan dan jangkauan di beberapa kota sekaligus. Inilah celah yang ingin diisi SM+ lewat strategi akuisisinya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372520/original/076307600_1791881365-Data_center_facility_in_Surabaya__included_in_the_transaction.jpg)
Pasca-transaksi, SM+ bakal mengoperasikan total 31 fasilitas infrastruktur di 25 kota. Angka itu menempatkan perusahaan pada posisi yang cukup mapan dalam peta penyedia infrastruktur digital nasional. Sebaran di 25 kota juga menunjukkan bahwa strateginya tidak terpusat di Jakarta saja. Bagi pelanggan di kota-kota besar di luar Jawa, kehadiran fasilitas yang lebih dekat bisa memangkas ketergantungan pada koneksi jarak jauh. Dampaknya terasa pada kecepatan layanan dan keandalan sistem secara keseluruhan.
Integrasi aset baru itu diproyeksikan meningkatkan kualitas layanan yang diberikan perusahaan. Selain itu, langkah ini diyakini membuka peluang pertumbuhan bisnis di masa depan. Perusahaan juga menyebut tujuannya menyediakan infrastruktur digital yang andal sekaligus scalable alias mudah dikembangkan sesuai kebutuhan. Dua kata terakhir itu penting, karena permintaan kapasitas biasanya melonjak tidak beraturan. Penyedia yang tidak siap menambah kapasitas dengan cepat akan kehilangan pelanggan. Karena itu, menggabungkan aset yang sudah beroperasi dianggap lebih praktis ketimbang membangun semuanya dari nol.
Strategi PDG: Masuk, Lalu Melebar
Dari sisi Princeton Digital Group, keputusan melepas bisnis data center enterprise di Indonesia bukan tanda mundur. Chief Operating Officer & Co-Founder PDG, Varoon Raghavan, menegaskan Indonesia tetap menjadi pasar kunci bagi perusahaan sejak awal kedatangannya. Fasilitas kelas enterprise yang kini dijual itu memang ia sebut sebagai bagian dari strategi memasuki pasar. Setelah pintu masuk itu terbuka, PDG memilih memperbesar skala di segmen yang berbeda. Jadi, penjualan ini lebih tepat dibaca sebagai pergeseran fokus ketimbang pengurangan komitmen.
Varoon menjelaskan, PDG mengakuisisi fasilitas kelas enterprise itu sebagai bagian dari strategi enter-and-expand untuk masuk ke pasar Indonesia. Sejak saat itu, perusahaan mengembangkan portofolio data center hyperscale sekitar 400 MW di dalam negeri. Angka itu memberi gambaran bahwa segmen yang dibidik PDG kini jauh lebih besar dan padat modal. Fasilitas hyperscale umumnya melayani penyedia layanan cloud raksasa dan perusahaan digital berskala besar. Karena itu, wajar bila perusahaan memilih memusatkan energi pada segmen yang dianggap paling menjanjikan pertumbuhan.
Ke depan, PDG akan memfokuskan lini bisnisnya pada pengembangan kampus data center, termasuk JC2, JC3, dan JC4. Langkah itu disebut demi memperkuat kepemimpinannya di segmen hyperscale. Dengan kata lain, dua perusahaan ini sama-sama menempuh jalur ekspansi, hanya saja di ceruk pasar yang berbeda. SM+ memperkuat jangkauan lewat aset enterprise yang tersebar di banyak kota. PDG memperdalam kapasitas pada kampus besar yang melayani kebutuhan skala raksasa. Pembagian fokus semacam ini lazim terjadi ketika pasar tumbuh cepat dan tiap pemain mencari posisi paling kuat.
Transaksi Belum Tuntas Sepenuhnya
Meski perjanjian definitif sudah diteken, proses transaksi masih menyelesaikan pemenuhan syarat-syarat penutupan atau customary closing conditions yang berlaku umum. Artinya, sejumlah ketentuan administratif dan regulatif masih harus dipenuhi sebelum kepemilikan resmi berpindah. Tahap ini biasa dalam transaksi berskala besar dan bisa memakan waktu. Dalam kesepakatan tersebut, UBS AG Singapore Branch bertindak sebagai penasihat keuangan eksklusif bagi SM+. Kehadiran penasihat keuangan internasional menunjukkan skala transaksi ini cukup signifikan.
Bila semua syarat rampung, SM+ akan menguasai kombinasi aset yang menempatkannya di antara pemain infrastruktur digital terbesar di tanah air. Lima fasilitas baru di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Pekanbaru melengkapi jaringan yang sudah ada. Bagi pasar, langkah ini menandai babak baru konsolidasi di sektor data center yang selama ini tumbuh organik. Bagi pengguna layanan digital, dampaknya mungkin tidak langsung terasa, tetapi perlahan muncul dalam bentuk layanan yang lebih cepat dan andal. Yang jelas, persaingan memperebutkan kapasitas dan pelanggan korporasi akan semakin ketat ke depan.
Sumber: Liputan6 Tekno
Kalau Anda ingin terus mengikuti perkembangan bisnis dan teknologi seperti ini, jangan ke mana-mana. LapakStore88 selalu menyajikan berita terkini yang ringkas, tajam, dan enak dicerna setiap hari. Pantau terus kanal resmi kami supaya tidak ketinggalan kabar penting berikutnya.
๐ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini
๐ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini
โ๏ธ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.
Gabung Channel Telegram »๐ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog
Baca juga:
Kata kunci terkait: data center Indonesia, akuisisi data center, SMPlus Digital Investama, Princeton Digital Group, infrastruktur digital, transformasi digital, ekonomi digital Indonesia, bisnis data center
#LapakStore88

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372883/original/027490900_1791901134-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_9.14.28_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9368403/original/086776600_1791433026-email-attachment_2026_10_08_ariefhakim-at-klyid_menkeu-suahasil-fiskal-dan-danantara-saudara-kembar_1000466330.jpg)
