Nasional 5 menit baca

Geger Dosen Diduga Cabuli Belasan Mahasiswa di Universitas Pasundan

Skandal Pelecehan Seksual Guncang Kampus Hukum Unpas, Ratusan Mahasiswa Turun Jalan Tuntut Pemecatan Dosen

LokalStore88 Jumat,16 Oktober 2026.

Suasana akademik yang semestinya menjadi ruang aman untuk menimba ilmu mendadak tercoreng oleh laporan mengejutkan mengenai dugaan asusila yang melibatkan tenaga pengajar. Belasan mahasiswi Fakultas Hukum sebuah universitas swasta ternama di Kota Bandung diduga menjadi korban pelecehan seksual oleh oknum dosen mereka sendiri. Kasus yang awalnya berhembus kencang di ruang digital ini seketika memantik kemarahan kolektif di kalangan civitas akademika setempat. Situasi tersebut mendorong ratusan mahasiswa turun langsung ke area kampus untuk menyuarakan tuntutan keadilan secara terbuka. Peristiwa ini tidak sekadar menjadi persoalan pelanggaran etika biasa, melainkan sebuah alarm darurat bagi perlindungan kelompok rentan di institusi pendidikan tinggi.

Gelombang kemarahan yang berujung pada aksi unjuk rasa ini berakar dari serangkaian laporan rahasia yang masuk melalui platform media sosial. Informasi awal yang berseliweran di dunia maya tersebut menceritakan pengalaman pahit para korban yang mengalami tindakan tidak senonoh dari pihak yang seharusnya mengayomi. Menanggapi desas-desus yang telanjur viral tersebut, lembaga kemahasiswaan tingkat fakultas langsung bergerak cepat melakukan verifikasi. Mereka membuka ruang pengaduan guna menampung seluruh keluhan dari para korban yang selama ini memilih bungkam karena ketakutan. Dari proses penelusuran itulah terungkap bahwa jumlah korban ternyata tidak sedikit, melainkan mencapai belasan orang dengan keterlibatan beberapa oknum pengajar.

๐Ÿ›’ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »

Aksi Protes Massal dan Suara Kritis Mahasiswa

Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam elemen Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum langsung memadati halaman kampus yang berlokasi di kawasan Lengkong untuk menggelar mimbar bebas. Kehadiran mereka di tengah terik matahari merupakan bentuk nyata perlawanan terhadap segala bentuk penyimpangan kekuasaan di lingkungan akademik. Para peserta aksi membentangkan berbagai atribut protes yang intinya mendesak pihak birokrasi kampus segera menjatuhkan sanksi terberat kepada para pelaku. Mereka menilai tindakan asusila tersebut telah mencederai marwah institusi pendidikan tinggi yang selama ini menjunjung tinggi nilai moral. Aksi massa ini berjalan dengan pengawalan ketat namun tetap tertib karena menjadi wadah resmi penyampaian aspirasi seluruh warga kampus.

Pimpinan organisasi kemahasiswaan yang memimpin jalannya aksi menegaskan bahwa langkah turun ke jalan diambil setelah pihak rektorat terkesan lambat merespons laporan awal. Sebelum aksi demonstrasi besar-besaran ini dilangsungkan, pengurus BEM telah terlebih dahulu mengeluarkan siaran pers resmi untuk mengajak seluruh mahasiswa bersatu. Mimbar bebas sengaja diselenggarakan agar para korban mendapatkan ruang aman untuk bersuara tanpa ada intervensi dari pihak manapun. Melalui forum terbuka tersebut, para mahasiswa bersepakat untuk mengawal penuntasan kasus ini hingga tuntas tanpa ada kompromi. Solidaritas antarmahasiswa ini sekaligus membuktikan bahwa civitas akademika tidak akan tinggal diam melihat ketidakadilan terjadi di depan mata.

Skandal Pelecehan Seksual Guncang Kampus Hukum Unpas, Ratusan Mahasiswa Turun Jalan Tuntut Pemecatan Dosen (2)
Foto: Detik News

Deretan Angka Korban dan Ironi Dunia Hukum

Berdasarkan data terakhir yang dihimpun oleh lembaga kemahasiswaan, jumlah laporan dugaan pelecehan seksual yang masuk telah menyentuh angka tiga belas korban. Angka tersebut tentu saja bukan jumlah yang sedikit dan mencerminkan adanya pola tindakan menyimpang yang sudah berlangsung cukup lama. Lebih mengejutkannya lagi, dari belasan laporan yang masuk, terdapat empat hingga enam orang oknum dosen yang diduga kuat terlibat dalam skandal ini. Fakta bahwa pelaku merupakan tenaga pengajar yang mengajar ilmu hukum membuat situasi terasa jauh lebih memilukan. Ruang kelas yang seharusnya mengajarkan keadilan justru berubah menjadi tempat terjadinya penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan moral.

Para pengurus mahasiswa menyampaikan rasa prihatin mendalam sekaligus kekecewaan besar terhadap oknum-oknum yang mencoreng nama baik almamater tercinta. Ironi terbesar dari kasus ini adalah kenyataan bahwa pelanggaran hukum justru terjadi di dalam institusi yang mengajarkan cara menegakkan hukum itu sendiri. Nilai-nilai integritas yang selalu didengungkan dalam setiap perkuliahan seakan runtuh seketika oleh ulah segelintir oknum yang tidak bertanggung jawab. Para korban yang sebagian besar adalah mahasiswi harus menanggung beban psikologis berat akibat tindakan tercela yang merusak masa depan mereka. Situasi ini menuntut adanya perombakan sistem pengawasan internal agar kejadian serupa tidak pernah terulang kembali di masa mendatang.

Respons Tegas Birokrasi Kampus dan Langkah Kedepan

Menyadari gelombang protes yang semakin membesar serta atensi publik yang begitu tinggi, pihak rektorat akhirnya angkat bicara untuk meredakan situasi. Wakil Rektor bidang akademik secara terbuka menyatakan sikap tegas institusi terhadap segala bentuk kekerasan maupun pelecehan seksual di lingkungan kampus. Pihak universitas menegaskan bahwa mereka tidak akan memberikan toleransi sedikit pun kepada siapapun yang mencoba merusak keamanan psikologis mahasiswa. Sebagai langkah awal penanganan, manajemen kampus bergegas memproses penonaktifan oknum dosen yang namanya kerap disebut dalam berbagai laporan korban. Keputusan ini diambil untuk mempermudah proses investigasi lanjutan sekaligus mencegah terjadinya potensi intimidasi baru terhadap para pelapor.

Pihak rektorat juga mencatat bahwa informasi awal mengenai skandal ini sebenarnya mulai ramai diperbincangkan di dunia maya sejak tanggal sepuluh bulan Oktober lalu. Pernyataan resmi tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa institusi pendidikan berkomitmen untuk memberantas segala bentuk penyalahgunaan relasi kuasa yang kerap menjerat korban lemah. Perlindungan terhadap korban menjadi prioritas utama agar mereka mendapatkan keadilan serta pemulihan trauma yang memadai. Ke depan, seluruh elemen masyarakat tentu berharap agar proses investigasi ini dapat berjalan secara transparan dan berkeadilan bagi semua pihak. Kasus ini harus menjadi pelajaran berharga bagi dunia pendidikan tinggi di tanah air untuk senantiasa menciptakan lingkungan belajar yang aman dan bebas dari ancaman kekerasan seksual.

Sumber: Detik News

Jangan lewatkan berbagai pembaruan informasi terkini dan berita mendalam lainnya yang kami sajikan khusus untuk Anda. Terus pantau kanal berita kami agar selalu selangkah lebih maju dalam mengetahui perkembangan isu-isu penting di sekitar kita.

๐Ÿ“˜ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini

๐Ÿ’ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini

โœˆ๏ธ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.

Gabung Channel Telegram »

๐Ÿ“ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog

Kata kunci terkait: dosen unpas cabuli mahasiswa, pelecehan seksual unpas bandung, bem fh unpas, kasus asusila kampus unpas, protes mahasiswa unpas lengkong, rektorat unpas nonaktifkan dosen

#LapakStore88

Sumber asli: Detik News