:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372603/original/092564900_1791884646-IMG_3370.jpeg)
LokalStore88 Selasa,13 Oktober 2026.
Angka 32 ton itu bukan sekadar volume barang yang naik ke pelabuhan. Minyak nilam asal Aceh dengan nilai mencapai Rp 30 miliar kini menembus pasar global, termasuk Prancis, dan menjadi bukti bahwa komoditas daerah mampu berbicara di panggung internasional. Capaian ini lahir dari kerja panjang sebuah program pendampingan usaha mikro dan kecil. Bagi banyak orang, nilam mungkin masih terdengar asing, padahal ia bahan baku penting yang selama ini lebih sering dikirim mentah tanpa jejak nilai tambah. Kisahnya memperlihatkan bagaimana pendampingan yang tepat bisa mengubah posisi petani dari pemasok biasa menjadi bagian dari rantai pasok dunia.
Dalam industri wewangian, nilam atau patchouli dikenal sebagai bahan baku yang sulit digantikan karena aromanya kuat dan tahan lama. Selama bertahun-tahun, Aceh menjadi salah satu daerah penghasil utama komoditas ini, dengan petani yang mengolah daun nilam lewat proses penyulingan sederhana. Masalahnya, rantai pasoknya kerap panjang dan tidak transparan, sehingga nilai yang diterima petani tidak sebanding dengan harga jual di pasar internasional. Di sisi lain, permintaan pasar global terhadap bahan baku alami terus tumbuh. Kondisi itulah yang membuat pendampingan dari hulu sampai hilir menjadi sangat menentukan.
๐ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »
Peran PROMISE II Impact dan Platform MyNilam
Program PROMISE II Impact merupakan inisiatif Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) yang mendapat dukungan Pemerintah Swiss melalui State Secretariat for Economic Affairs (SECO). Dalam pelaksanaannya, program ini menggandeng Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Nama PROMISE sendiri adalah singkatan dari Promoting Micro and Small Enterprises, yang memberi gambaran jelas soal fokusnya, yakni usaha mikro dan kecil. Tujuannya bukan sekadar menyalurkan bantuan, melainkan membangun ekosistem yang membuat UMKM naik kelas. Dari ekosistem itulah minyak nilam menjadi salah satu contoh paling konkret.
Di balik ekspor nilam tersebut berdiri sebuah platform digital bernama MyNilam. Platform ini berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan berbagai pihak dalam satu rantai nilai, mulai dari petani, pemerintah daerah, pusat riset, pengolah, lembaga keuangan, hingga pasar. Dengan begitu, informasi soal kualitas, kebutuhan pasar, dan akses pembiayaan bisa mengalir lebih cepat ke tangan yang membutuhkan. Petani tidak lagi bekerja berdasarkan tebakan, sementara pembeli punya kepastian soal asal dan mutu produk. Pendekatan semacam ini terasa sederhana, tetapi dampaknya besar pada efisiensi dan kepercayaan antar pihak.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372603/original/092564900_1791884646-IMG_3370.jpeg)
Efek lanjutannya terlihat dari tumbuhnya 15 hingga 20 merek parfum lokal yang memanfaatkan minyak nilam sebagai bahan baku. Kehadiran merek-merek ini penting karena menandakan bahwa nilai tambah tidak lagi hanya dinikmati di luar negeri. Ada rantai ekonomi baru yang terbentuk di dalam negeri, mulai dari penyulingan, pengolahan, hingga pengemasan dan pemasaran produk jadi. Jika terus tumbuh, merek-merek lokal ini berpotensi memperkuat identitas wewangian khas Indonesia di pasar domestik maupun regional. Inilah yang membuat cerita nilam bukan lagi sekadar soal ekspor bahan mentah.
Dampak bagi UMKM dan Pelaku Usaha Perempuan
Keberhasilan nilam adalah bagian dari hasil yang jauh lebih luas. Secara keseluruhan, program PROMISE II Impact mencatatkan akses pembiayaan dan tabungan formal senilai Rp 584,3 miliar bagi 25.378 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Angka itu menunjukkan bahwa persoalan utama UMKM sering kali bukan pada ide usaha, melainkan pada akses ke lembaga keuangan resmi. Ketika akses itu terbuka, pelaku usaha bisa merencanakan produksi dan investasi dengan lebih tenang. Bagi banyak keluarga, masuknya mereka ke sistem keuangan formal menjadi titik balik yang tidak kecil.
Selain pembiayaan, program ini juga menyentuh sisi kapasitas manusia melalui pelatihan bagi lebih dari 2.300 wirausahawan. Yang menarik, lebih dari 40 persen peserta pelatihan tersebut adalah perempuan. Angka ini memberi gambaran bahwa ruang usaha di daerah tidak lagi didominasi satu kelompok saja. Pelibatan perempuan dalam rantai nilai berarti pula pelibatan mereka dalam pengambilan keputusan ekonomi rumah tangga. Dampaknya biasanya terasa lebih luas, mulai dari pendidikan anak hingga ketahanan keuangan keluarga. Karena itu, komposisi peserta pelatihan ini layak dibaca sebagai capaian tersendiri.
Manajer Proyek PROMISE II Impact ILO, Djauhari Sitorus, menjelaskan bahwa pendekatan yang dipakai adalah pendekatan rantai nilai. Menurut dia, cara ini tidak hanya memperluas akses pembiayaan dan pasar ekspor, tetapi juga mendorong produktivitas serta efisiensi usaha lewat digitalisasi. Ia menyebut pihaknya mengidentifikasi komoditas unggulan daerah, lalu membantu peningkatan produktivitas, efisiensi, dan akses ke lembaga keuangan dengan integrasi teknologi digital serta pelatihan pengelolaan keuangan. Penjelasan itu menegaskan bahwa yang dibangun bukan proyek sesaat, melainkan cara kerja yang bisa diulang di daerah lain. Fondasinya adalah komoditas yang benar-benar hidup di masyarakat setempat.
Digitalisasi BPR dan Percepatan Akses Kredit
Dampak program ini juga merambah ke sisi penyedia layanan keuangan. Sebanyak enam Bank Perekonomian Rakyat (BPR) memperkuat digitalisasi mereka melalui peningkatan sistem Core Banking dan Loan Origination System (LOS). Perubahan ini terdengar teknis, tetapi hasilnya sangat terasa bagi nasabah. Proses pengajuan kredit yang sebelumnya memakan waktu satu hingga dua minggu kini bisa dipangkas menjadi dua hingga tiga hari saja. Bagi pedagang atau pengrajin yang butuh modal cepat, selisih waktu itu bisa menentukan apakah usaha mereka jalan atau tidak. Di titik inilah teknologi keuangan menunjukkan nilai praktisnya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372602/original/068044000_1791884600-IMG_3378.jpeg)
Bagi masyarakat luas, kisah ini relevan karena menyentuh hal yang dekat dengan keseharian, yaitu akses modal, lapangan kerja, dan pendapatan daerah. Ketika komoditas lokal punya jalur pasar yang jelas, petani dan pengolah tidak perlu lagi bergantung pada perantara dengan harga yang tidak menentu. Pemerintah daerah pun punya alasan lebih kuat untuk membenahi infrastruktur dan data komoditas unggulan. Industri wewangian global, sementara itu, mendapat pemasok yang lebih terorganisasi dan mudah dilacak. Efek berantainya bisa dirasakan mulai dari desa penghasil nilam hingga toko yang menjual produk jadi di kota besar.
Dukungan Pemerintah dan Rencana Fase Ketiga
Dukungan dari sisi kebijakan datang dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Asisten Deputi Peningkatan Inklusi Keuangan, Erdiriyo, menyatakan pihaknya mendukung kelanjutan program ini melalui penerapan pilar-pilar kesejahteraan keuangan. Pilar tersebut mencakup perumusan kebijakan, penguatan hak properti lewat sertifikasi lahan agar bisa dijadikan agunan, serta pengembangan kapasitas sumber daya manusia. Tujuannya agar pelaku usaha lebih tahan menghadapi guncangan keuangan, memiliki tabungan, dan menyiapkan dana pensiun. Kerangka ini melengkapi apa yang sudah dibangun di lapangan melalui pendampingan dan digitalisasi.
Lebih lanjut, kementerian akan mendorong replikasi keberhasilan program ini ke berbagai daerah melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD). Langkah itu diarahkan agar makin banyak UMKM daerah yang mudah mengakses pembiayaan formal dan tersambung ke rantai nilai berbasis digital. Setelah menuntaskan fase kedua, ILO bersama para pemangku kepentingan bersiap melanjutkan ke fase ketiga. Pada tahap ini, pendekatan rantai nilai akan diperluas ke komoditas kopi di Lampung, minyak nilam di Sumatera Selatan, dan susu sapi perah di Jawa Timur. Fase ketiga juga akan mereplikasi sistem Enterprise Resource Planning (ERP) dan memperkuat infrastruktur digital BPR di lebih banyak wilayah Indonesia.
Dengan semua capaian itu, minyak nilam Aceh menjadi contoh bagaimana sebuah komoditas yang jarang disorot bisa menembus pasar Prancis dan memberi manfaat nyata di kampung halamannya. Kuncinya ada pada kombinasi pendampingan, teknologi, dan akses ke lembaga keuangan yang berjalan bersamaan, bukan sendiri-sendiri. Ke depan, tantangannya adalah menjaga konsistensi mutu dan pasokan ketika permintaan meningkat, sekaligus memastikan manfaatnya benar-benar sampai ke petani kecil. Jika fase ketiga berjalan seperti yang direncanakan, bukan tidak mungkin komoditas daerah lain menyusul jejak nilam ke pasar global.
Sumber: Liputan6 Bisnis
Cerita seperti ini menunjukkan bahwa kabar baik dari daerah sering luput dari perhatian, padahal dampaknya besar. Supaya tidak ketinggalan perkembangan berikutnya, ada baiknya terus memantau kanal resmi LapakStore88 dan menjadikannya rujukan bacaan harian. Siapa tahu, update selanjutnya justru datang dari komoditas di daerah Anda sendiri.
๐ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini
๐ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini
โ๏ธ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.
Gabung Channel Telegram »๐ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog
Baca juga:
Kata kunci terkait: minyak nilam, ekspor minyak nilam, PROMISE II Impact, ILO, UMKM, MyNilam, digitalisasi BPR, Aceh
#LapakStore88

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372883/original/027490900_1791901134-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_9.14.28_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9368403/original/086776600_1791433026-email-attachment_2026_10_08_ariefhakim-at-klyid_menkeu-suahasil-fiskal-dan-danantara-saudara-kembar_1000466330.jpg)
