Nasional 6 menit baca

Pencalonan BGS Jadi Dirjen WHO Diyakini Untungkan Negara Berkembang

Indonesia Tantang Kursi Dirjen WHO: Budi Gunadi Sadikin Bersaing di Antara Tujuh Kandidat

LokalStore88 Selasa,13 Oktober 2026.

Tujuh nama kini bersaing memperebutkan satu kursi paling berpengaruh di dunia kesehatan global, dan salah satunya berasal dari Indonesia. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin resmi masuk daftar kandidat Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam pemilihan yang dijadwalkan Mei 2027. Artinya, posisi Indonesia tidak lagi sekadar peserta yang mengikuti aturan, melainkan penantang yang ingin ikut menulis aturannya. Bagi pembaca, taruhannya terasa jauh di Jakarta, padahal keputusan WHO menyentuh hal-hal paling dekat: harga obat, akses vaksin, dan kesiapan menghadapi wabah berikutnya. Karena itu, langkah ini layak dicermati lebih dari sekadar berita protokol.

Kursi yang diperebutkan saat ini diduduki Tedros Adhanom Ghebreyesus, yang masa jabatannya akan berakhir pada 15 Agustus 2027. Pemilihan pemimpin baru WHO menjadi salah satu agenda paling menentukan dalam arah organisasi tersebut untuk periode berikutnya. WHO bukan lembaga kecil; keputusannya memengaruhi kebijakan kesehatan di hampir semua negara, termasuk yang paling miskin. Siapa yang memimpinnya akan menentukan seberapa cepat dunia bergerak saat krisis datang, dan seberapa adil beban itu dibagi. Di titik inilah pencalonan Budi menjadi relevan.

๐Ÿ›’ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »

Dukungan paling jelas datang dari Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir. Dalam pernyataan pers perdana usai serah terima jabatan Menlu dari Sugiono di Jakarta, Senin, ia menyebut pencalonan Menkes sebagai bagian dari upaya Indonesia mendorong tata kelola kesehatan global yang lebih adil, terutama bagi negara berkembang. Pernyataan itu bukan sekadar basa-basi diplomatik. Ia disampaikan tepat di momen pertama sang menteri memperkenalkan arah kebijakan luar negerinya, sehingga pesannya jelas: isu kesehatan kini masuk ke jantung diplomasi Indonesia.

Menurut Arrmanatha, sistem multilateral yang berlaku sekarang dinilai belum sepenuhnya berpihak kepada negara-negara berkembang. Indonesia karena itu mendorong reformasi agar sistem tersebut lebih kuat dan lebih seimbang. Keluhan ini sebetulnya bukan hal baru; banyak negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin lama merasa suara mereka kurang didengar dalam pengambilan keputusan internasional. Namun, kali ini Indonesia memilih jalur yang lebih menantang: ikut memperbaiki dari dalam, bukan hanya mengkritik dari luar.

Arrmanatha menegaskan Indonesia tidak akan berhenti pada menyuarakan aspirasi dari luar. Negara ini, katanya, berupaya melakukan perbaikan dari dalam melalui keterlibatan aktif di berbagai organisasi internasional. Pencalonan Budi untuk memimpin WHO disebut sebagai salah satu bentuk nyata dari upaya itu. Pendekatan semacam ini memang lebih lambat hasilnya, tetapi berpotensi lebih tahan lama karena mengubah aturan main, bukan sekadar menambah keluhan.

Di balik dukungan itu tersimpan perhitungan yang lebih panjang. Kesehatan, dalam beberapa tahun terakhir, bergeser dari urusan teknis medis menjadi isu geopolitik penuh. Ketika pandemi melanda, pertanyaan siapa mendapat vaksin lebih dulu berubah menjadi pertanyaan politik antarnegara. Maka, memiliki orang di kursi pimpinan WHO berarti memiliki pengaruh pada bagaimana sumber daya, perhatian, dan perlindungan global dibagi.

Peta Persaingan yang Tidak Ringan

Jalan Budi tidak akan mulus. Ia harus bersaing dengan enam kandidat lain dalam pemilihan yang dijadwalkan Mei 2027. Sejumlah nama yang sudah muncul adalah tokoh kesehatan internasional dengan rekam jejak panjang. Ada Hans Kluge, mantan Direktur Regional WHO untuk Eropa yang diusulkan Belgia. Ada pula Hanan Al-Kuwari, mantan Menteri Kesehatan Qatar, dan Hanan Balkhy, Direktur Regional WHO untuk Mediterania Timur.

Membandingkan profil para kandidat memberi gambaran bahwa pertarungan ini bukan hanya soal kapasitas, tetapi juga soal dukungan politik. Kandidat dari Eropa biasanya datang dengan mesin diplomasi kawasan yang rapi, sementara nama dari Timur Tengah punya pengaruh kuat di bloknya sendiri. Indonesia, di sisi lain, membawa modal berbeda: pengalaman menangani pandemi di negara berpenduduk besar dan posisi sebagai jembatan antara negara maju dan berkembang. Kombinasi itu bisa jadi nilai jual, tetapi juga harus diyakinkan kepada banyak negara pemilih.

Indonesia Tantang Kursi Dirjen WHO: Budi Gunadi Sadikin Bersaing di Antara Tujuh Kandidat (2)
Foto: Detik Health

Agenda yang Diperjuangkan Indonesia

Selain soal siapa yang duduk di kursi Dirjen, Indonesia membawa agenda yang lebih luas. Arrmanatha menegaskan Indonesia akan terus mendorong PBB dan lembaga multilateral lain, termasuk WHO, agar bekerja lebih efektif, efisien, dan representatif sesuai aspirasi masyarakat global. Tiga kata itu terdengar sederhana, tetapi maknanya besar. Efektif berarti keputusan tidak berhenti di dokumen, efisien berarti anggaran tidak terbuang, dan representatif berarti suara negara kecil pun didengar.

Ada satu penekanan lain yang tak kalah penting: penerapan hukum dan kesepakatan internasional harus adil bagi semua negara, bukan hanya menguntungkan pihak tertentu. Prinsip ini menyentuh banyak hal, mulai dari aturan perdagangan obat hingga kesepakatan kesiapsiagaan pandemi. Ketika aturan terasa timpang, kepercayaan negara berkembang kepada sistem global ikut tergerus. Karena itu, memperjuangkan keadilan dalam penerapan aturan sama pentingnya dengan memperjuangkan isi aturannya sendiri.

Upaya itu tidak hanya lewat jalur kesehatan. Indonesia juga mencalonkan diri sebagai anggota Badan Auditor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dengan tujuan meningkatkan akuntabilitas dan transparansi organisasi internasional. Langkah ini mungkin kurang menarik dibanding pidato politik besar, tetapi justru menyentuh fondasi kepercayaan. Tanpa pengelolaan keuangan yang bisa diaudit dan dipertanggungjawabkan, tuntutan reformasi hanya akan menjadi slogan. Dari sisi ini, pencalonan ke badan audit melengkapi strategi yang lebih besar.

Ambisi yang Lebih Luas

Semangat serupa mendasari pencalonan Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB untuk periode 2029-2030. Arrmanatha menyatakan Indonesia akan memperjuangkan Dewan Keamanan yang lebih efektif, representatif, transparan, dan demokratis. Bagi Indonesia, dua pencalonan ini bukan proyek terpisah. Keduanya adalah bagian dari satu pola: masuk ke ruang pengambilan keputusan dan mendorong perubahan dari dalam. Pola itu terlihat konsisten, meski hasilnya baru bisa dinilai bertahun-tahun kemudian.

Dari sudut pandang negara berkembang secara umum, langkah Indonesia ini wajar disambut positif. Selama ini banyak negara merasa sistem internasional lebih banyak melayani kepentingan yang sudah kuat sejak awal. Kehadiran sosok dari kawasan selatan di kursi pimpinan organisasi global dianggap bisa membuka ruang dialog yang lebih seimbang. Meski begitu, dukungan tidak datang otomatis. Setiap negara pemilih punya kepentingan sendiri, dan perundingan di balik layar biasanya lebih menentukan daripada pernyataan resmi.

Bagi Indonesia sendiri, hasil pemilihan ini punya dampak yang cukup nyata. Jika berhasil, posisi negara di peta diplomasi global akan naik, dan akses terhadap informasi serta jaringan kesehatan internasional ikut terbuka lebih lebar. Dampaknya bisa terasa di sektor kesehatan dalam negeri, misalnya dalam kerja sama riset, produksi obat, dan kesiapan menghadapi wabah. Namun, kalaupun belum berhasil, proses pencalonan tetap memberi manfaat berupa pengalaman berdiplomasi di level tertinggi.

Yang jelas, perjalanan menuju pemilihan Mei 2027 masih panjang dan penuh dinamika. Tedros akan mengakhiri masa jabatannya pada 15 Agustus 2027, dan sampai saat itu lobi, negosiasi, serta adu gagasan akan terus berjalan. Indonesia tampaknya memilih bermain dalam jangka panjang: membangun reputasi sebagai negara yang tidak hanya hadir, tetapi juga ikut merancang aturan. Apakah strategi itu membuahkan kursi, atau sekadar memperkuat posisi tawar, keduanya tetap langkah maju. Yang perlu dicermati justru bagaimana Indonesia menjaga konsistensi setelah panggung internasional ini selesai.

Sumber: Detik Health

Kalau Anda ingin terus mengikuti perkembangan pencalonan ini sampai pemilihan Mei 2027, jangan lewatkan update berikutnya dari LapakStore88. Kami akan terus menyajikan berita terkini yang ringkas, jelas, dan mudah dicerna. Pantau terus kanal resmi kami supaya tidak ketinggalan informasi penting berikutnya.

๐Ÿ“˜ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini

๐Ÿ’ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini

โœˆ๏ธ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.

Gabung Channel Telegram »

๐Ÿ“ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog

Kata kunci terkait: pencalonan budi gunadi sadikin, dirjen who, menkes budi gunadi sadikin, who 2027, menlu arrmanatha nasir, tata kelola kesehatan global, dewan keamanan pbb 2029, reformasi who

#LapakStore88

Sumber asli: Detik Health