Kesehatan 7 menit baca

Kemenkes Ingatkan Bahaya Kabut Asap Karhutla bagi Mata

Kabut Asap Karhutla Bukan Cuma Bikin Sesak, Mata Juga Jadi Sasaran

LokalStore88 Selasa,13 Oktober 2026.

Kabut asap hampir selalu dikaitkan dengan sesak napas dan gangguan paru-paru. Padahal organ yang paling dulu bersentuhan dengan asap justru mata, dan itulah yang kini jadi sorotan Kementerian Kesehatan. Dalam peringatan terbarunya, Kemenkes menegaskan bahwa dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan tidak berhenti di saluran pernapasan saja. Bagi siapa pun yang tinggal atau beraktivitas di daerah terdampak, informasi ini penting karena keluhan pada mata bisa muncul lebih cepat dan lebih sering daripada yang disadari. Mata adalah organ terbuka yang terpapar udara setiap detik, tanpa mekanisme penyaringan sekuat yang dimiliki hidung dan saluran napas.

Peringatan ini relevan karena kabut asap bukan peristiwa sekali lalu selesai. Setiap musim kemarau, sejumlah wilayah kembali bergelut dengan asap yang mengepul dari titik-titik panas. Ketika kualitas udara memburuk, seluruh warga di kawasan terdampak ikut terpapar, tanpa memandang usia maupun pekerjaan. Artinya, keluhan mata bukan hanya soal kelompok tertentu, melainkan persoalan publik yang menuntut perhatian bersama. Karena itu, pesan Kemenkes soal dampak pada mata layak dibaca sebagai pengingat bahwa risiko kesehatan dari kabut asap bersifat menyeluruh.

๐Ÿ›’ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »

Dari Titik Api ke Ruang Keluarga

Kebakaran hutan dan lahan umumnya berkaitan erat dengan musim kemarau. Saat curah hujan menurun dan lahan mengering, api lebih mudah menyala dan cepat menjalar, terutama di area yang memiliki lapisan gambut. Asap yang dihasilkan tidak hanya bertahan di lokasi kebakaran; ia terbawa angin dan menyebar ke permukiman, kadang hingga melewati batas kabupaten atau provinsi. Kondisi inilah yang membuat kualitas udara di kota yang jauh dari titik api tetap bisa terpengaruh. Bagi masyarakat, yang terlihat mungkin hanya langit yang mengabur, tetapi yang terhirup dan menempel di tubuh jauh lebih rumit daripada itu.

Selama ini, pembicaraan soal dampak kesehatan kabut asap lebih sering berpusat pada saluran pernapasan. Keluhan seperti batuk, pilek, tenggorokan kering, hingga sesak napas memang menjadi gambaran yang paling akrab. Infeksi saluran pernapasan akut juga kerap disebut sebagai salah satu risiko utama ketika asap pekat menyelimuti suatu daerah. Namun, fokus yang terlalu kuat pada paru-paru membuat organ lain luput dari perhatian. Padahal mata menghadapi paparan yang sama, bahkan mungkin lebih langsung, karena tidak tertutup pakaian atau alat pelindung apa pun.

Mata, Sasaran yang Sering Terlupakan

Di sinilah Kemenkes memberi penekanan tambahan: kabut asap juga berdampak pada mata. Organ penglihatan ini memiliki permukaan yang lembap dan tipis, sehingga sangat mudah terpengaruh oleh udara yang kotor. Ketika asap bercampur partikel dan zat iritatif menyentuh mata, tubuh merespons dengan cara yang khas. Respons itu bisa berupa rasa perih, produksi air mata yang berlebih, atau keinginan kuat untuk mengucek. Sayangnya, reaksi spontan seperti mengucek mata justru berpotensi memperburuk keadaan.

Secara sederhana, bagian mata yang paling dulu terkena adalah lapisan permukaannya, yakni konjungtiva dan kornea. Konjungtiva adalah selaput tipis yang melapisi bagian putih mata dan bagian dalam kelopak, sementara kornea adalah lapisan bening di depan bola mata. Keduanya dilindungi oleh lapisan air mata yang berfungsi menjaga kelembapan sekaligus membilas kotoran. Ketika udara penuh partikel, lapisan pelindung ini bekerja lebih keras dan produksi air mata pun meningkat. Namun, jika paparan berlangsung terus-menerus, kemampuan perlindungan alami itu bisa kewalahan.

Partikel yang terbawa asap memiliki ukuran yang sangat beragam, dan sebagian di antaranya sangat kecil sehingga mudah menempel di permukaan mata. Partikel halus inilah yang sering disebut sebagai bagian paling mengganggu karena bisa bertahan lebih lama di udara dan menembus perlindungan alami tubuh. Selain partikel, asap juga membawa sisa pembakaran yang bersifat iritatif bagi jaringan lunak. Ketika menempel di mata, zat-zat ini memicu reaksi peradangan ringan yang ditandai rasa tidak nyaman. Jika terus berulang, peradangan ringan itu bisa menumpuk menjadi keluhan yang lebih serius.

Gejala yang muncul biasanya cukup khas dan mudah dikenali. Mata terasa perih, merah, gatal, dan berair, kadang disertai rasa mengganjal seperti ada pasir di dalamnya. Sebagian orang juga mengalami kelopak mata yang sedikit membengkak atau menjadi lebih sensitif terhadap cahaya. Penglihatan bisa terasa kabur, meski umumnya bersifat sementara dan membaik setelah mata beristirahat. Yang perlu dicatat, keluhan ini tidak selalu datang bersamaan dengan gangguan pernapasan; bisa saja seseorang merasa napasnya baik-baik saja, tetapi matanya sudah lebih dulu protes.

Beberapa kelompok berisiko lebih tinggi mengalami keluhan mata saat kabut asap melanda. Anak-anak dan lansia umumnya lebih rentan karena kondisi jaringan serta daya tahan tubuh mereka berbeda. Pengguna lensa kontak juga perlu lebih waspada, sebab lensa dapat menahan partikel agar lebih lama menempel di permukaan mata. Begitu pula pekerja luar ruangan, seperti pengemudi, petugas lapangan, pedagang, dan pekerja konstruksi, yang terpapar udara kotor dalam durasi panjang. Orang dengan riwayat alergi mata atau mata kering pun cenderung merasakan dampak yang lebih mengganggu.

Bukan Sekadar Perih yang Cepat Hilang

Keluhan mata akibat kabut asap sering dianggap sepele karena gejalanya bisa mereda sendiri. Anggapan itu tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya aman. Paparan yang terjadi berulang dalam waktu lama dapat membuat mata terus-menerus berada dalam kondisi teriritasi. Ibarat luka kecil yang digosok setiap hari, jaringan yang seharusnya pulih bisa kesulitan menutup proses peradangannya. Mengabaikannya hanya karena belum terasa parah justru berisiko membuat masalah menumpuk di kemudian hari.

Ada beberapa kemungkinan yang perlu diwaspadai ketika iritasi dibiarkan berlanjut. Permukaan mata yang terus meradang lebih mudah mengalami infeksi sekunder, terutama jika tangan yang mengucek tidak bersih. Bagi mereka yang sebelumnya memiliki mata kering, paparan asap bisa memperparah kekeringan dan membuat keluhan terasa lebih sering. Kebiasaan mengucek mata dengan keras juga berisiko menimbulkan lecet pada lapisan permukaan mata. Semua ini bukan berarti setiap orang akan mengalaminya, tetapi menjadi alasan kuat untuk tidak menyepelekan gejala sejak awal.

Dampak keluhan mata tidak berhenti pada rasa tidak nyaman semata. Mata yang perih dan berair membuat konsentrasi menurun, sehingga pekerjaan yang membutuhkan ketelitian jadi lebih sulit dijalankan. Pengendara, misalnya, bisa terganggu karena pandangan kabur dan dorongan mengucek saat berkendara. Anak-anak yang sedang belajar juga berpotensi kehilangan fokus karena mata terus terasa mengganggu. Dalam skala lebih luas, keluhan yang menyerang banyak orang sekaligus bisa menekan produktivitas dan menambah beban layanan kesehatan di daerah terdampak.

Melindungi Mata di Tengah Udara yang Tidak Bersahabat

Ada sejumlah langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk mengurangi paparan. Ketika kabut asap pekat, sebaiknya kurangi aktivitas di luar ruangan dan tutup ventilasi rumah agar partikel tidak mudah masuk. Jika memang harus keluar, gunakan pelindung mata seperti kacamata, dan hindari memakai lensa kontak pada periode tersebut. Jangan mengucek mata dengan tangan yang belum dibersihkan, dan biasakan mencuci tangan sebelum menyentuh area wajah. Membilas mata dengan air bersih juga bisa membantu mengurangi rasa tidak nyaman akibat partikel yang menempel.

Meski banyak keluhan bisa membaik dengan perawatan sederhana, ada situasi yang sebaiknya tidak ditangani sendiri. Jika rasa nyeri pada mata tidak mereda, penglihatan menurun, atau keluhan justru makin berat setelah beberapa hari, langkah paling bijak adalah memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Penggunaan obat tetes mata secara sembarangan tanpa petunjuk tenaga medis juga sebaiknya dihindari, karena jenis keluhan mata bisa berbeda-beda penyebabnya. Berkonsultasi lebih awal membantu memastikan penanganan yang tepat sekaligus mencegah masalah yang lebih rumit.

Peran Bersama Menjaga Kesehatan Mata

Peringatan Kemenkes ini pada dasarnya menyasar kesadaran publik, bukan sekadar imbauan formal. Dinas kesehatan daerah, puskesmas, sekolah, hingga tempat kerja memiliki peran dalam menyebarkan informasi tentang risiko kabut asap bagi mata. Tenaga kesehatan di lini depan juga berperan memastikan keluhan yang tampak ringan tidak berkembang menjadi masalah yang lebih serius. Dari sisi masyarakat, kesediaan mengubah kebiasaan kecil, seperti memakai pelindung mata dan tidak mengucek mata sembarangan, menjadi kunci. Edukasi yang berulang dinilai lebih efektif daripada sekadar peringatan sesaat.

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan adalah persoalan yang berulang, dan dampaknya menyentuh banyak sisi kehidupan. Selama udara belum sepenuhnya bersih, melindungi diri tetap menjadi langkah paling masuk akal. Yang perlu diingat, menjaga kesehatan tidak cukup berhenti pada paru-paru; mata juga membutuhkan perhatian yang sama. Dengan memahami risikonya sejak awal, masyarakat bisa mengambil tindakan yang tepat tanpa harus menunggu keluhan memburuk. Peringatan Kemenkes ini menjadi pengingat sederhana bahwa organ sekecil mata pun punya batas toleransi terhadap udara yang kotor.

Sumber: Detik Health

Berita soal kabut asap dan kesehatan seperti ini sering luput dari perhatian sampai keluhannya benar-benar terasa. Supaya tidak ketinggalan informasi terbaru seputar kabut asap, kesehatan, dan isu hangat lainnya, yuk terus pantau kanal resmi LapakStore88. Jangan tunggu keadaan memburuk baru mencari kabar โ€” ikuti terus update-nya agar selalu selangkah lebih tahu.

๐Ÿ“˜ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini

๐Ÿ’ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini

โœˆ๏ธ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.

Gabung Channel Telegram »

๐Ÿ“ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog

Kata kunci terkait: kabut asap, karhutla, bahaya kabut asap bagi mata, iritasi mata, kesehatan mata, Kemenkes, ISPA, polusi udara

#LapakStore88

Sumber asli: Detik Health