Bisnis 4 menit baca

Anjlok 33%, Ini Mobil PHEV yang Masih Banyak Diburu Orang RI

Penurunan Penjualan Mobil PHEV di Indonesia, Namun Tertutup Peningkatan Besar Tahun Ini

LokalStore88 Jumat,16 Oktober 2026.

Di tengah gemuruh pasar mobil listrik, data Gaikindo menunjukkan penurunan drastis 33,9% penjualan plug‑in hybrid (PHEV) pada bulan September 2026. Angka ini menggeser total distribusi ke 1.279 unit, turun dari 1.935 unit bulan lalu. Meski menurun, tren ini menandakan perubahan pola konsumen yang menarik untuk dianalisa. Bagaimana dinamika ini memengaruhi industri otomotif Indonesia, dan apa yang harus diantisipasi oleh dealer serta pembeli?

Penurunan ini bukanlah fenomena pertama dalam sejarah PHEV di Indonesia. Sejak diluncurkan, mobil hybrid plug‑in telah mengalami lonjakan penjualan, dipacu oleh insentif pemerintah dan minat konsumen akan efisiensi bahan bakar. Namun, ketidakpastian ekonomi dan fluktuasi harga minyak global menambah tekanan pada penjualan akhir tahun ini.

🛒 LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »

Data distribusi untuk September 2026 mencatat 1.279 unit PHEV terdistribusi, dibandingkan dengan 1.935 unit pada Agustus. Penurunan ini mencerminkan 33,9% drop, menandai penurunan signifikan yang menimbulkan pertanyaan tentang daya tarik produk tersebut di pasar konsumen. Selama periode ini, banyak dealer melaporkan penurunan permintaan yang lebih besar di segmen PHEV.

Model BYD M6 DM tetap menjadi favorit, namun jumlah kirimannya menurun tajam menjadi 698 unit pada September, turun dari 1.161 unit di bulan sebelumnya. Angka ini menjadi yang terendah sejak Juni 2026, menandai titik balik bagi produsen asal China. Penurunan ini dapat disebabkan oleh peningkatan persaingan atau perubahan preferensi konsumen.

Berbeda dengan BYD, Jetour T2 dan T1 i‑DM menunjukkan peningkatan distribusi. Totalnya mencapai 272 unit, naik dari 177 unit di bulan lalu. Kenaikan ini menegaskan bahwa variasi model Jetour masih menarik bagi konsumen yang mencari alternatif hybrid dengan harga kompetitif.

Brand Jaecoo juga mengalami lonjakan kecil, mengirim 123 unit pada September dibandingkan 83 unit di bulan sebelumnya. J7 dan J8 masing-masing mengirim 54 dan 69 unit, menandai peningkatan yang stabil bagi produsen asal China. Hal ini menunjukkan bahwa meski pasar menurun, ada segmen kecil yang tetap tumbuh.

Chery tidak ketinggalan, dengan Tiggo 8 CSH mengirim 67 unit dan Tiggo 9 CSH mengirim 53 unit. Kedua model ini menempati posisi keempat dan keenam dalam daftar terdistribusi, menunjukkan keberlanjutan pasar Chery di Indonesia. Sementara itu, Geely Starray menurunkan distribusinya menjadi 30 unit, turun dari 39 unit bulan sebelumnya.

Penurunan Penjualan Mobil PHEV di Indonesia, Namun Tertutup Peningkatan Besar Tahun Ini (2)
Foto: Detik Oto

Walaupun penurunan bulanan, total penjualan PHEV sepanjang Januari‑September 2026 mencapai 10.264 unit, naik 209,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menegaskan bahwa meski ada fluktuasi bulanan, tren jangka panjang masih menguntungkan bagi produsen PHEV.

Berikut ini rangkuman 10 mobil PHEV terdistribusi terbanyak di bulan September 2026: 1) BYD M6 DM 698 unit, 2) Jetour T2 i‑DM 130 unit, 3) Jetour T1 i‑DM 142 unit, 4) Jaecoo J8 83 unit, 5) Jaecoo J7 54 unit, 6) Chery Tiggo 8 CSH 67 unit, 7) Chery Tiggo 9 CSH 53 unit, 8) Geely Starray 30 unit, 9) Mazda CX‑80 16 unit, dan 10) Wuling Darion PHEV 9 unit. Data ini mencerminkan dominasi merek China di pasar Indonesia.

Pengaruhnya terhadap konsumen cukup signifikan. Harga PHEV cenderung lebih tinggi dibandingkan mobil konvensional, namun insentif pemerintah dan efisiensi bahan bakar menjadi nilai tambah. Penurunan distribusi dapat menimbulkan kekhawatiran tentang ketersediaan spare part dan layanan purna jual, sehingga konsumen harus berhati-hati dalam memilih model.

Industri otomotif Indonesia merespons dengan memodifikasi strategi pemasaran. Dealer menambah promosi diskon, sementara produsen meningkatkan investasi pada teknologi baterai dan infrastruktur pengisian. Sementara itu, pemerintah meninjau kembali kebijakan insentif untuk menjaga daya tarik PHEV.

Beberapa faktor penyebab penurunan distribusi antara lain perubahan regulasi pajak kendaraan bermotor, fluktuasi harga minyak, dan ketidakpastian ekonomi global. Selain itu, persaingan yang semakin ketat dari mobil listrik murni (BEV) juga mempengaruhi minat konsumen terhadap PHEV.

Reaksi produsen menunjukkan campuran optimisme dan kekhawatiran. Produsen asal China melaporkan bahwa meskipun penjualan menurun, pasar masih terbuka luas di Indonesia. Sementara produsen lokal menekankan perlunya inovasi teknologi untuk bersaing dengan model import.

Kesimpulannya, penurunan penjualan PHEV di bulan September 2026 menandakan perubahan dinamika pasar yang perlu dipantau. Meski terjadi penurunan bulanan, tren jangka panjang masih positif, dan produsen serta dealer harus menyesuaikan strategi pemasaran mereka. Dengan kebijakan pemerintah yang terus berubah, masa depan PHEV di Indonesia tetap menjadi topik menarik bagi para pemangku kepentingan otomotif.

Sumber: Detik Oto

Terus ikuti pembaruan terkini tentang mobil dan teknologi otomotif di LapakStore88! Kami selalu siap menyajikan informasi terbaru yang membantu Anda membuat keputusan cerdas.

📘 Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini

💬 Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini

✈️ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.

Gabung Channel Telegram »

📰 Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog

Kata kunci terkait: mobil PHEV, penjualan mobil hybrid, BYD M6 DM, Jetour T2, Chery Tiggo, mobil listrik, Indonesia, Gaikindo

#LapakStore88

Sumber asli: Detik Oto