:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375147/original/066526900_1792132746-tesla-roadster-flying-car.jpg)
LokalStore88 Sabtu,17 Oktober 2026.
Sepuluh nosel udara bertekanan tinggi, satu mobil sport listrik, dan sebuah lompatan yang membuat mata terbuka lebar. Itulah pemandangan yang tersaji saat Elon Musk memperlihatkan prototipe Tesla Roadster generasi terbaru di fasilitas pengembangan SpaceX di Texas, Amerika Serikat. Mobil tersebut bukan sekadar melaju kencang di lintasan, melainkan mampu terangkat ke udara dengan bantuan teknologi pendorong yang biasanya diasosiasikan dengan roket. Kalau ini benar-benar sampai ke jalan raya, cara kita memandang mobil performa tinggi bisa berubah total.
Peristiwa ini mencuri perhatian karena menggabungkan dua dunia yang jarang bertemu: industri mobil listrik dan teknologi antariksa. Elon Musk memang dikenal doyan membuat gebrakan, tetapi kali ini ia membawa ambisinya ke level yang berbeda. Roadster bukan lagi sekadar mobil cepat; ia diproyeksikan sebagai kendaraan yang mampu melakukan manuver yang selama ini hanya kita lihat di film fiksi ilmiah. Publik pun dibuat bertanya-tanya, seberapa nyata teknologi ini dan kapan kita bisa melihatnya di jalanan biasa.
๐ LapakStore88 - Toko Produk Aplikasi Premium Termurah — Kunjungi Toko »
Kekuatan di Balik Lompatan
Kemampuan melompat tersebut tidak datang dari mesin biasa, melainkan dari sepuluh nosel udara bertekanan sangat tinggi yang terhubung dengan tangki udara terkompresi di dalam kendaraan. Teknologi yang disebut cold-gas thrusters ini bekerja dengan menyemburkan gas untuk menghasilkan daya dorong. Hasilnya, mobil bisa menempel di lintasan curam berkat daya isap dari bagian bawah, bergerak dalam posisi terbalik, hingga melompat melewati deretan mobil Tesla yang terparkir. Saat berada di udara, semburan gas terkompresi juga membantu memperlambat pendaratan agar tetap aman.
Menariknya, demonstrasi ekstrem ini dilakukan secara otonom, tanpa pengemudi di dalamnya. Langkah itu diambil murni untuk menjaga keselamatan, mengingat risiko yang terlibat cukup tinggi. Meski tanpa sosok di balik kemudi, aksi tersebut tetap berhasil memukau siapa pun yang menyaksikannya. Ini menunjukkan bahwa Tesla tidak hanya menguji batas performa kendaraan, tetapi juga keberanian dalam mengambil risiko teknologi yang belum lazim.
Klaim Performa yang Bikin Geleng-Geleng
Di atas kertas, angka-angka yang disebutkan Elon Musk terdengar nyaris tidak masuk akal. Roadster versi produksi diklaim sanggup berakselerasi dari 0 hingga 96 km/jam dalam waktu kurang dari satu detik, sebuah pencapaian yang bahkan sulit dibayangkan untuk mobil jalan raya. Bantuan teknologi pendorong roket menjadi kunci di balik klaim tersebut. Jika terealisasi, ini akan menjadi salah satu akselerasi tercepat yang pernah ada pada kendaraan produksi.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375147/original/066526900_1792132746-tesla-roadster-flying-car.jpg)
Bukan hanya soal akselerasi, sektor performa lain juga tidak kalah fantastis. Roadster generasi terbaru mengusung sistem penggerak semua roda atau all-wheel drive, dengan torsi yang diklaim mencapai 10.000 Nm. Angka torsi sebesar itu menjanjikan tenaga yang luar biasa besar, jauh melampaui kebanyakan mobil sport yang ada saat ini. Ditambah lagi, mobil ini dikatakan mampu menempuh jarak hingga 998 kilometer dalam sekali pengisian daya, angka yang sangat tinggi untuk ukuran mobil listrik performa tinggi.
Kecepatan maksimumnya pun diklaim melampaui 402 km/jam, menempatkannya di jajaran kendaraan paling cepat di dunia. Kombinasi antara jarak tempuh jauh, tenaga raksasa, dan kecepatan ekstrem membuat Roadster ini seperti paket lengkap yang menantang batas fisika. Tentu saja, semua klaim ini masih menunggu pembuktian di dunia nyata. Namun, sebagai gambaran ambisi Tesla, angka-angka tersebut sudah cukup membuat industri otomotif menoleh.
Kolaborasi Lintas Industri dan Target Produksi
Elon Musk menyebut proyek ini sebagai hasil kolaborasi mutakhir antara produsen mobil listrik dan perusahaan roket terbaik di dunia. Pernyataan itu merujuk langsung pada sinergi antara Tesla dan SpaceX, dua perusahaan yang ia pimpin. Pendekatan lintas disiplin semacam ini jarang terjadi di industri otomotif konvensional, di mana pengembangan mobil biasanya berjalan terpisah dari teknologi antariksa. Kolaborasi ini membuka kemungkinan baru tentang bagaimana komponen dan ide dari dunia roket bisa diterapkan pada kendaraan sehari-hari.
Dari sisi harga, Tesla Roadster terbaru ini diperkirakan dibanderol mulai dari 50 ribu dolar AS atau sekitar Rp 885 juta. Angka tersebut menempatkannya di segmen mobil sport premium, tetapi masih lebih terjangkau dibandingkan banyak supercar Eropa. Jika sesuai rencana, Tesla menargetkan Roadster generasi anyar ini masuk lini produksi pada 2028 mendatang. Artinya, masih ada beberapa tahun lagi sebelum konsumen bisa benar-benar memilikinya.
Dampak bagi Dunia Otomotif dan Publik
Kemunculan Roadster dengan teknologi pendorong roket ini bisa memicu gelombang inovasi di industri otomotif. Produsen lain mungkin akan terdorong untuk mengeksplorasi teknologi yang sebelumnya dianggap mustahil, seperti sistem pendorong udara atau kontrol traksi yang lebih canggih. Di sisi lain, ini juga menimbulkan pertanyaan tentang regulasi. Mobil yang bisa melompat dan bergerak terbalik tentu membutuhkan aturan keselamatan jalan yang benar-benar baru, yang belum ada di banyak negara.
Bagi masyarakat umum, demonstrasi ini lebih dari sekadar tontonan. Ia memperlihatkan bagaimana batas antara fiksi dan realitas semakin tipis, dan bagaimana teknologi yang dulu hanya ada di film sci-fi perlahan menjadi kenyataan. Meski demikian, ada pula yang menyoroti aspek praktis: apakah kemampuan melompat benar-benar dibutuhkan di jalan raya, atau hanya menjadi gimmick untuk menarik perhatian? Perdebatan semacam ini wajar muncul setiap kali ada terobosan yang menantang norma.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375148/original/075104700_1792132746-IE-40.webp)
Dari kacamata lingkungan, Roadster listrik dengan jarak tempuh hampir 1.000 kilometer bisa memperkuat argumen bahwa kendaraan listrik mampu bersaing dengan mobil berbahan bakar fosil, bahkan di segmen performa tinggi. Jika teknologi ini terbukti efisien, ia dapat membantu mempercepat transisi menuju transportasi yang lebih bersih. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam hal infrastruktur pengisian daya dan biaya produksi yang tidak murah.
Reaksi dan Pandangan dari Berbagai Pihak
Reaksi terhadap demonstrasi ini beragam. Sebagian pengamat teknologi mengapresiasi keberanian Tesla dalam mendobrak batas, melihatnya sebagai langkah menuju era baru kendaraan otonom dan bertenaga tinggi. Mereka menilai kolaborasi Tesla-SpaceX sebagai contoh nyata bagaimana dua industri berbeda bisa saling memperkaya. Namun, tidak sedikit pula yang skeptis, mengingat klaim performa yang luar biasa sering kali butuh waktu panjang untuk dibuktikan dalam produksi massal.
Di kalangan konsumen, antusiasme tetap tinggi. Banyak yang penasaran ingin melihat langsung bagaimana rasanya berada di dalam mobil yang bisa melompat. Meski demikian, pertanyaan soal keamanan dan keandalan di jalan sehari-hari masih menggantung. Tesla sendiri tampaknya sadar akan hal ini, terlihat dari keputusan menguji prototipe secara otonom untuk mengurangi risiko. Ke depannya, bagaimana perusahaan menjawab keraguan ini akan menentukan penerimaan pasar.
Melihat ke Depan
Dengan target produksi pada 2028, masih ada jalan panjang yang harus dilalui Tesla sebelum Roadster bertenaga roket ini benar-benar meluncur ke jalan. Mulai dari pengujian keamanan, sertifikasi regulasi, hingga kesiapan lini produksi, semuanya perlu dipersiapkan dengan matang. Jika berhasil, ini bisa menjadi tonggak sejarah dalam dunia otomotif, mengubah cara kita mendefinisikan mobil sport listrik. Namun, jika ada hambatan, proyek ini bisa menjadi pengingat bahwa tidak semua ide brilian mudah diwujudkan.
Apa pun hasil akhirnya, satu hal yang jelas: Elon Musk kembali berhasil membuat dunia membicarakannya. Demonstrasi di Texas itu bukan sekadar pameran teknologi, melainkan sebuah pernyataan tentang ambisi dan batas yang berani ditantang. Bagi para penggemar otomotif dan teknologi, tahun-tahun mendatang akan menjadi periode yang menarik untuk mengikuti perkembangan Roadster ini. Kita tunggu saja apakah lompatan di udara itu akan benar-benar terjadi di jalanan, atau tetap menjadi momen spektakuler di atas lintasan uji.
Sumber: Liputan6 Otomotif
Momen seperti ini bikin kita sadar kalau dunia otomotif dan teknologi bergerak cepat banget, kadang di luar dugaan. Supaya kamu tidak ketinggalan kabar-kabar seru berikutnya, mampir terus ke LapakStore88 dan ikuti kanal resminya biar setiap update terbaru langsung sampai ke kamu. Sampai jumpa di artikel selanjutnya!
๐ Follow Fanspage kami di Facebook: klik di sini
๐ฌ Gabung Saluran WhatsApp kami: klik di sini
โ๏ธ Update berita tercepat ada di Channel Telegram kami. Gabung sekarang, gratis, tanpa ketinggalan kabar terbaru.
Gabung Channel Telegram »๐ฐ Baca artikel lainnya di blog kami: kunjungi blog
Baca juga:
Kata kunci terkait: tesla roadster, elon musk, teknologi roket, mobil listrik, spacex, mobil terbang, roadster 2028, inovasi otomotif
#LapakStore88
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375028/original/021544500_1792120766-WhatsApp_Image_2026-10-16_at_09.44.36.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375514/original/005921700_1792152136-intro-1792117060.webp)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5573030/original/000769800_1777878709-WhatsApp_Image_2026-05-04_at_14.07.14.jpeg)